Responsive Ads Here
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Monday, 12 March 2018

Na'a Nepe Koperasi Kredit-nya orang Soa


SOA, vigonews.com – Na’a Nepe tidak asing bagi orang Soa. Salah satu dari sejumlah koperasi kredit yang berkiprah di daerah lumbung padi, Soa. Di Na’a Nepe, secara ekonomi banyak orang  tersangga, mengatasi masalah ekonomi masyarakat.

Na’a Nepe, bukan sekedar nama dari bahasa setempat yang berarti ‘menyimpan sesuatu – harta karun, tetapi menjadi sebuah lembaga ekonomi yang mampu mengatasi persoalan ekonomi bagi orang Soa dari waktu ke waktu sejak berdiri 37 tahun silam. Dari kelompok arisan para guru, kini menjadi koperasi bagi para petani yang tersebar hingga ke luar cekungan Soa.

Minggu (11/03/2018) Kopdit  ‘Na’a Nepe’ menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2017,  Tahun buku 2016 di dengan Tema Urgensitas, Komitmen Aksi Membedah tata Kelola Koperasi Kredit Yang sehat. RAT yang berlangsung di Gedung Koperasi Kredit Naa Nepe, di Desa Libunio, Kecamatan Soa itu dihadiri oleh 300 orang anggota, para pengurus dan manajemen.

Menurut Ketua Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe’ Leonardus Meo, RAT kali ini membahas hal hal yang berkaitan dengan Penyerahan Santunan Daperma,  LPJ pengurus dan pengurus Tahun Buku 2017, tanggapan LPJ pengurus dan pengawas Tahun Buku 2017, pengesahan LPJ Pengurus dan Pengawas Tahun Buku 2017, pengesahan program kerja dan RABKOP Tahun 2018, pemilihan dan pengesahan panitia nominasi, pemilihan calon pengurus, dan pengawas periode 2019-2021, serta  pembacaan berita acara RAT Tahun Buku 2017.

Lipus Lusi yang hadir sebagai pejabat dari Puskopdit  Flores Mandiri dalam sambutannya mengatakan, ada empat tugas utama dalam RAT yang harus diemban dalam keseimbangan hak dan kewajiban kita baik pengurus maupun anggota koperasi kredit. pertama tugas pertanggungjawaban dan evaluasi, kedua tugas perencanaan (Program dan Anggaran). ketiga, tugas pengembangan dan keberlanjutan. keempat, membangun komitmen aksi dalam tata kelola Kopdit menuju visi dan tujuan.

"Namun ada dua halyang paling penting yang menjadi perhatian serius saat ini, yakni membangun komitmen aksi dan tata kelola kopdit menuju pendidikan financial anggota dan keluarga yang lebih,” Philipus Lusi.

Sementara Sekcam Soa, Wilson Siga mengatakan bahwa, Rapat Anggota Tahunan merupakan sebuah kesempatan untuk memperkokoh kedudukan koperasi sebagai wadah untuk menghimpun dan menggerakan potensi ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan prinsip prinsip berkoperasi. Sehingga dengn adanya Kegitan RAT ini tentunya menjadi dorongan tersendiri bagi pengurus, pengawas, manajemen dan segenap anggota Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe’ untuk terus berbenah diri bahu membahu membangun koperasi ini dalam meningkatkan kesejahteraan anggota. Sehingga koperasi kredit ‘Na’a Nepe’ semakin maju dan anggotanya sejahtera dan bertambah banyak setiap tahun.
Dari kiri: Philipus Lusi, Leonardus Meo dan Wilson Siga

“Koperasi Kredit Naa Nepe setiap Tahun mengalami penambahan Jumlah Anggota hal ini karenakan  kehadirannya  bermanfaat bagi masayarakat apalagi para petani. Dulu koperasi ‘Na’a Nepe’ hanya beranggotakan para guru PNS namun berubahnya waktu dan melakukan evaluasi dan pembenahan secara terus menerus demi kesejahteraan masyarakat makanya kopdit ini memberikan ruang kepada siapapun untuk menjadi anggota,” kata Anas Mau, Staf Manajemen Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe.’

Dampak positif dari kehadiran Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe’ dirasakan Veronika Fao yang sudah setia menjadi anggota selama 12 Tahun. Menurut dia, Koperasi Kredit ‘Na’a Nep’ sangat membantu sehingga  bisa menyekolahkan anak saya tiga orang menjadi Sarjana. “Saya petani, penghasilan saya pas pasaan bahkan tidak menentu namun berkat kepercayaan dari Kopdit  ‘Na’a nepe’ berupa painjaman uang, maka saya dapat menyekolahkan anak saya, sehingga saya tetap bertahan selama 12 tahun menjadi anggota koperasi ini dan tidak pernah berpaling intinya kita setia dan jujur,” kata Veronika.

Kelompok Arisan

Kopdit ini didirikan  pada 13 November 1981 dengan jumlah anggota kala itu 45 orang. Namun, cikal bakal Kopdit ini ternyata sudah dirintis sebelumnya. Adalah seorang guru bernama Andreas Ngala yang menginisiatif untuk membentuk kelompok arisan guru-guru pada tahun 1979. Kelompok arisan ini memang bertujuan untuk membantu para guru dalam mengatasi masalah ekonomi kala itu sehingga dapat tetap menjalankan tugas keguruan dengan baik.
 
Anggota Kopdit Na'a Nepe
Tidak kurang dari sembilan orang guru menjadi keompok arisan yang dibidani Andreas Ngala ini. Mereka masing-masing Andreas Ngala, Lambertus Wea, Johanes Adhi Keo, Joseph Dhake dan Leonardus Phodi.

Kemudian kelompok arisan ini berkembang menjadi kelompok studi tabungan (KST) Soa. Setelah sempat berlajan setahun kelompok KST berubah menjadi Credit Union (CU) pada tahun 1981, yang ketika itu langsung diberi nama ‘Na’a Nepe’ dari bahasa Soa oleh Andreas Ngala. Na’a berarti simpan (tabung).  Ungkapan bijak bahasa Soa: “Na’a dhu ebu pu’u d’eka renga, na’a masa dhadi dhoghe dhu olo-olo – yang berarti: simpan sebagai warisan untuk turun-temurun sampai selama-lamanya.

Sebagai sebuah Credit Union, Na’a Nepe memiliki visi: sebagai wadah yang aman untuk menghimpun sega;a sumber daya dan memberdayakan agar dapat menolong diri sendiri, saling percaya agar keselarasan hidup spiritual dan material dapat terwujud.

Guna mewujudkan visi itu, Na’a Nepe mengemban misi: selalu menanggapi kebutuhan anggota, melayani berskala luas yang kooperatif dan inovatif, memberi kontribusi pengembangan sumber daya masyarakat, konsisten terhadap prinsip serta partisipasi aktif dalam kegiatan.

Koperasi kredit Na’a Nepe sudah beranggota lebih dari 1.400 orang dengan aset lebih dari Rp 8 miliar. Kehadiran koperasi kredit ini sudah banyak membantu masyarakat di Soa bahkan hingga keluar Soa.***

Oleh: Soa Bai Narisz

Friday, 9 March 2018

Perempuan di Marotauk, Desa Sambinasi Barat, bentuk poros Hortikultura dengan dukungan Yayasan CASIRA -  


BAJAWA, vigonews.com –  Dengan dukungan dua yayasan solidaritas internasional, penyuluh pertanian swadaya Mikhael Raga  mengembangkan hortikultura berbasis pertanian organik kepada kelompok perempuan di pantai  utara (Pantura) Ngada, tepatnya di kampung Marotauk, Desa Sambinasi Barat, Kecamatan Riung.

Dua lembaga itu masing-masing Rotary Club dan Casira Group dari Quebec, Kanada. Rotary bekerja sama dengan Yayasan Caritas Keuskupan Agung Ende  menyediakan sarana air bersih, sementara Casira mendorong dan membiayai kelompok masyarakat untuk berkebun. Keduanya adalah lembaga internasional yang bergerak dalam kegiatan solidaritas dengan semboyan ‘Terre Sans Fronsierre – Dunia tanpat Batas.  Melayani siapa saja tanpa membedakan suku agama, ras dan antar golongan.

Mikhael menjawab vigonews.com, Sabtu (10/03/2018) mengatakan, Sambinasi Barat menjadi pilihan setelah melakukan survey bersama tim dari Casira Group 27 Februari lalu. Tim yang berjumlah 26 orang itu kemudian menyetujui membiayai dimulainya pengembangan hortikultura di desa tersebut.
 
Kunjungan dari Yayasan Casira serangkaian survey di Marotauk
Mikhael sebagai penyuluh pertanian swadaya memilih daerah pantai karena di sana minim ketersediaan sayur-mayur dan buah. Ini menjadi proyek kedua di lahan kering setelah proyek yang sama menyasar salah satu kelompok tani di Keluarahan Foa di Kecamatan Aimere, pantai selatan (Pansel) Ngada. Tak dinyana, Mikhael dengan dukungan dua yayasan ini seperti sedang ‘mengepung’ ngada dengan membuka poros selatan – utara kabupaten Ngada. Karakter kedua wilayah ini adalah daerah kering sehingga masyarakat sulit mendapatkan sayuran.

Setelah melakukan survey, Kamis (08/03/2018) selaku penyuluh pertanian swadaya, Mikhael turun lagi ke Sambinasi Barat. Kegiatan kali ini untuk mendampingi 14 KK yang sebagian besar perempuan (ibu rumah tangga) melakukan persiapan lahan dan pembibitan.

Dikatakan, setiap KK menyiapkan lahan pekarangan sekitar 1,5 are dan bersama-sama juga mengerjakan lahan percontohan sekitar 15 are. Jadi total lahan di kelompok tani baru ini – kelompok karena minat, sekitar 36 are.
 
Pemandangan Marotauk, desa Sambinasi Barat
Di atas lahan-lahan keluarga itu akan ditanami berbagai jenis sayur dan buah seperti; tomat, kangkung, terong, cabe, kacang panjang, sawi, semangka. Lebih dulu akan ditanamin sawi dan kangkung darat. Sementara itu, saat ini bibit sayuran sudah disemai yang semuanya dikerjakan oleh perempuan di kampung itu.

Kelompok tani ini, kata Mikhael hampir semua perempuan, karena para bapa/suami mereka beraktivitas sebagai nelayan. “Ini cukup efektif untuk dikerjakan para ibu saja, karena pekerjaan tidak terlalu berat, Paling-paling hanya siap lahan dibantu bapa-bapa. Proses selanjutnya bisa dikerjakan para ibu dengan persediaan air yang sudah dibangun atas biaya Rotary Club,” kata Mikhael.
 
Rombongan Casira di Sambinasi Barat
Pemilihan tempat ini bukan tanpa alasan. Desa Sambinasi Barat yang berada di Pantura Ngada termasuk kawasaan kering dan langka persediaan sayuran dan air bersih terbatas. Sehingga setelah Rotary menyediakan air bersih, Casira menyusul dengan pengembangan hortikultura bagi warga. Dengan begitu kebutuhan pangan seperti sayuran bisa terpenuhi bagi warga di sana.

“Kita berharap, kelompok ini akan menjadi poros horti di Pantura Ngada. Karena di Ngada selatan sudah ada kelompok (poros) horti juga yang dikembangan di kelurahan Foa, Kecamatan Aimere. Selanjutnya dari poros ini akan tumbuh minat masyarakat sekitar untuk mengembangkan hortikultura di setiap pekarangan rumah demi memenuhi kebutuhan keluarga,” jelas Mikhael.
 
Bak air - sarana air bersih yang sudah dibangun oleh Rotary Club bekerja sama dengan Yayasan Caritas Keuskupa Agung Ende
Untuk diketahui, beberapa tahun sebelumnya, poros horti bergerak di pansel Ngada, melibatkan perempuan di Kelurahan Foa yang tergabung dalam kelompok Mawar. Saat ini sekitar 14 anggota kelompok sedang menikmati (panen) kacang panjang, paria jumbo. Sedangkan terung dan tomat sedang dalam proses persemaian. Semangka sedang berbunga dan akan panen sebentar lagi.

Seperti juga di Kelompok Mawar, Foa, Casira juga membantu Saprodi (Sarana produksi) untuk kelompok tani baru di Marotauk, Desa Sambinasi Barat. Kata Mikhael, selama ini produksi hortikultura identik dengan Bajawa, ternyata di kawasan kering pun asal ada sumber air semua bisa dibudidaya. Itu yang mendorongnya untuk mengembangkan lebih lanjut di pantura setelah sukses di pansel.
 
Rombongan berjalan kaki serangkaian reakreasi saat survey di Sambinasi Bara
Ini semacam poros horti untuk mengikat (menyatukan) Ngada dalam pemenuhan pangan secara merata bagi warga. Dan yang lebih penting kata Mikhael, semua pengembangan horti kita berbasis organik. Pangan tersedia tetapi juga sehat untuk dikonsumsi.***

Oleh:  Emanuel Djomba

Saturday, 23 December 2017

Penanaman perdana padi di lokasi percetakan sawah baru program tahn 2017 - 

WOLOMEZE, vigonews.com – Anggota P3A Pomarera, Desa Denatana Timur Kecamatan Wolomeze giat tanam perdana di lokasi percetakan sawah baru, Kamis (21/12/2017).

Penanaman perdana dilaksanakan  oleh Asisten Ekonomi dan pembangunan Hironimus Reba Watu mewakili Bupati Marianus Sae, Kadis Pertanian Paskalis Wale Bai, Camat Wolomeze Kasmin Belo, diikuti unsur  terkait dari TNI dan Polri serta dan masyarakat setempat.

Penanaman perdana menyasar lahan sawah yang baru cetak tahun 2017 seluas 22,76 ha dari target sebelumnya sekitar 32 ha. Dengan perluasan lahan sawah akan memperkuatkan ketahanan dan swasembada pangan.

Usai penanaman perdana, dilanjutkan dengan dialog antara kelompok tani dengan Asisten Hironimus Reba dan Kadistan Paskalis W. Bai, dipandu Camat Wolomeze Kasmin Belo.

Kesempatan ini tidak disia-siakan warga untuk berdialog. Kepala Desa Denatana Timur Robertus Bea, dalam laporannya menyampaikan beberapa keluhan dan permintaan agar menjadi perhatian pemerintah daerah.
 
Kegiatan penanam perdana padi sawah
Dikatakan Bea, untuk mendukung tingkat kesejahteraan dan menghindari masalah social, pihaknya menitipkan 10 harapan (permintaan)  antara lain: programkan kembali percetakan sawah baru; meningkatkan infrastruktur jalan; mengalokasikan bantuan benih secara rutin; membangun jaringan irigasi dan pengarah arus di lokasi P3A;  bantuan alsintan; alokasi rumah layak huni; dukungan terhadap pencanangan desa organic 2018; pembangunan embung mendukung kegiatan teknologi pajale; dan dukungan terhadap pelaksanaan pertanian konservasi lahan dengan system pola tanam, olah lubang dan olah jalur.

Terkait dengan percetakan sawah baru yang minta dilanjutkan, kata Robertus Bea mengingat di desanya masih ada lebih dari 400 ha lahan potensial siap cetak. Sementara untuk suksesnya program pertanian di desa itu, pihaknya meminta untuk peningkatan jalan sepanjang empat km menuju areal pertanian. Petani sulit memobilisasi berbagai kepentingan pertanian kalau kondisi jalan sangat buruk.

Permintaan tersebut oleh Asisten Hironims Reba diterima dan akan ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi daerah. Soal perluasan percetakan sawah baru jika mungkin akan dilanjutkan. Sementara untuk jalan yang tidak layak, kata Hironimus memang mengalami kendala karena jalan yang ada masuk dalam code line sehingga harus melalui PU.(edj)***


Wednesday, 20 December 2017

Berbagai elemen satukan tekad menuju Ngada yang sehat dan sejahtera berbasiskan pertanian organik -  

BAJAWA, vigonews.com – Tujuh Rencana aksi dihasilkan dalam kegiatan Work Shop bertajuk ‘Rencana Aksi Pertanian Ramah Lingkungan’ dalam rangka menyukseskan program ‘Go Organic’ tahun 2018 mendatang.

Dalam kegiatan yang dibuka Sekda Meda Moses, Selasa (19/12/2017) di Bajawa, hadir berbagai pemangku kepentingan. Kegiatan ini digawangi jajaran Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Ngada serta menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, yaitu: perwakilan kelompok tani, unsur BPP, para PPL, LSM, tokoh agama (para pastor) media massa dan unsur lainnya.

Work Shop yang dipimpin Kadis Pertanian Kabupaten Ngada, Paskalis Wale Bai itu, juga dihadiri Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Hironimus Reba Watu yang secara khususnya menyampaikan kebijakan Pemerintah Daerah dalam pembangunan bidang pertanian, di hadapan sekitar 150 peserta dari berbagai elemen itu.
 
Paskalis Wale Bai - memulai kampanye 'Go Organik' mulai dari pikiran, hati, ucapan dan tindakan agar masyarakat sehat dan sejahtera.
Pada kegiatan work shop itu, juga berlangsung diskusi dan sharing dari para praktisi organic dari berbagai simpul di Kabupaten Ngada. Diskusi juga melibatkan para PPL, kelompok tani, P3A, pastor, wartawan, unsur LSM dan elemen lainnya yang hadir.

Dari dialektika para peserta tentang berbagai hal berhubungan dengan kampanye ‘Go Organic’ di forum itu, dihasilkan 7 rencana aksi yang dikukuhkan dalam kesepakatan bersama guna mengikat komitmen yang kuat dalam kerja-kerja praktis mulai tahun 2018 mendatang. Berikut tujuh rencana aksi yang disepakati.

Pertama: Saatnya pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Ngada dilakukan dengan prinsip-prinsip organic yang ramah lingkungan sebagai wujud kesadaran yang sungguh untuk menjaga kelestarian alam, menjamin keberlanjutan penyediaan pangan yang aman bagi konsumsi masyarakat, meningkatkan mutu dan daya saing produk komoditi pertanian kabupaten Ngada.

Kedua: Guna mewujudkan pertanian kabupaten Ngada yang ramah lingkungan, membutuhkan dukungan dan keterlibatan berbagai pihak sebagai ‘Gerakan Moral Bersama’ melalui keterlibatan aktif  berbagai elemen dalam kegiatan pertanian organic.
 
RD. Gerardus Janga, Pr menandatangi kesepakatan rencana aksi mewujudkan Kabupaten Ngada berbasis pertanian organik. 
Ketiga: Berkomitmen untuk mendukung pencapaian pengembangan pertanian organic kabupaten Ngada dengan cara mensinergiskan rencana dan integrasi berbagai kegiatan sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing peserta.

Keempat: Aktivitas pembangunan pertanian organic dilakukan melalui introduksi inovasi teknologi organic yang dikelola petani dengan melibatkan praktisi organic di Kabupaten Ngada dan dirancang sebagai wahana untuk peningkatan kapasitas kemandirian dan kesejahteraan petani, serta keberlanjutan guna menjamin kesinambungan ekosistem wilayah kabupaten Ngada.

Kelima: Dinas Pertanian Kabupaten Ngada mulai memetakan wilayah sebagai pilot project pertanian organic. Keenam: Advokasi kebijakan anggaran melalui dana desa yang pro organic. Dan, ketujuh: Penyiapan regulasi tentang pembatasan penggunaan pupuk dan pestisida anorganik.

Tujuh rencana aksi yang dituangkan dalam kesepakatan bersama ini ditandatangi oleh wakil dari berbagai elemen, yakni: Darius Meo, Ketua Poktan Cendrawasih Desa Bodosare; Theodorus Oba, Ketua P3A Tiwu Kela Wogowela; Leonardus Naru, Ketua MPIG Kopi AFB Golewa Barat; Rikardus Nuga, Ketua Lapmas Ngada; RD Gerardus Janga, Ketua Tim Pastoral PSE Kevikepan Bajawa; Cresensiana E.U Rani, Kabid Persampahan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Ngada; Mikhael Raga, praktisi pertanian organic dari Poktan Pado Sama; dan Emanuel Djomba, Ketua Asosiasi Wartawan Ngada.

Penandatanganan tujuh butir kesepakatan rencana aksi pertanian berbasis organic di Kabupaten Ngada itu disaksikan Kadis Pertanian Kabupaten Ngada Paskalis Wale Bai, Sekretaris Distan Hubert Jelalu, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Ermelinda Moi, dan Kabid Perkebunan Stanislaus Fernandes. Ngada ‘Go Organik’ tahun 2018 – 2021! (ch)***

Jelang Tahun ‘Go Organic’ 2018, Distan Ngada & Berbagai Elemen Siapkan Rencana Aksi

Tuesday, 12 December 2017


BAJAWA, vigonews.com – Wakil Bupati Ngada, Paulus Soliwoa, Selasa (12/12/2017) membuka kegiatan uji petik sub sektor unggulan ekonomi kreatif Kabupaten Ngada. Kegiatan yang berlangsung tiga hari itu melibatkan tim dari Badan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata berjumlah tujuh orang.

Kegiatan ini diikuti 44 sanggar yang terdiri atas sanggar tari, sanggar krya (karya kerajinan tangan) dan sanggar seni pertunjukkan.

Yuliana Rini, selaku Tim Penilai Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia, dalam sapaan pembukanya berharap, ekonomi kreatif mampu menggerakan ekonomi lokal sehingga dapat membuka peluang kerja bagi tenaga kerja lokal.

Sementara Wakil Bupati Ngada dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini merupakan momentum yang tepat untuk menggali potensi, inovasi dan kreasi yang ada di kabupaten Ngada. “Saya yakin ekonomi kreatif kelak menjadi tulang punggung perekonomian, karena kegiatannya mendorong pemanfaatan potensi lokal,” katanya.

Wabup berharap bahwa peluang ekonomi kreatif berbasis potensi lokal mampu meningkatkan perekonomian masyarakat di pedesaan. Ini, tambah Wabup Soliwoa, sejalan dengan fokus pembangunan yang dimulai dari desa. “Kita harus mulai memanfaatkan apa yang kita punya di desa untuk meningkatkan pendapatan masyarakat,” paparnya.

Karena itu, kata Soliwoa, masing-masing desa perlu pemetaan potensi yang dimiliki, sehingga mana yang unggul bisa dikembangkan dengan memanfaatkan sumberdaya di desa. Jika ini dapat diidentifikasi, maka selain meningkatan pendapatan ekonomi, juga mampu mengatasi persoalan bangsa, yakini: mengatasi pengangguran.

“Desa-desa supaya mendorong kaum mudanya menjadi pelaku ekonomi kreatif yang berbasis potensi lokal. Kalau sektor ini didorong intensif, maka akan ikut terdorong tumbuhnya sektor pariwisata,” kata Wabup Soliwoa.

Dikatakannya, Kabupaten Ngada sudah mulai menjawab beberapa permasalahan yang dihadapi masyarakat, antara lain: penciptaan terhadap karya ekonomi kreatif yang selama ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan ritual dan seremonial adat kini dikembangkan untuk peningkatan ekonomi.

Selain itu, kata Wabup Soliwoa, sektor pariwisata perlu didukung dengan sektor lain, seperti ekonomi kreatif sehingga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan. Hanya diakui bahwa kini diperlukan sarana berupa pusat penjualan cinderamata atau pusat ole-ole yang mendorong adanya iklim dan ekosistem ekonomi kreatif melalui tahapan kreasi, produksi, distribusi, konsumsi dan konservasi.
 
Diskusi yang dihadiri utusan sanggar didampingi tim Badan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata
Kegiatan uji petik sub sektor ekonomi kreatif bertujuan agar dapat membentuk ekosistem ekonomi kreatif yang kondusif; mengintegrasikan hubungan produsen, distributor, dan konsumen ekonomi kreatif di wilayah destinasi; dan menciptakan nilai lebih dari suatu produk.

Sementara kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai potensi lapangan kerja baru bagi masyarakat, menjadikan karya souvenir dan hiburan seni pertunjukkan bagi masyarakat dan para wisatawan; dan menjadikan sektor ekonomi kreatif salah satu sumber pendapaan masyarakat.

Pelaku ekonomi kreatif (krya) dari Desa Manubhara Markus Lina di sela-sela kegiatan mengatakan pihaknya sudah mulai mengembangkan krya lima tahun terakhir ini dengan mengembangkan potensi lokal yang ada di desa. Potensi lokal yang dimaksudkannya seperti sumber daya alam sebagai bahan baku krya dan mendorong tenaga kerja di desa.

Di sanggar yang diberi nama Manubhara Bamboo Community (MBC), Markus Lina mengembangkan berbagai produk souvenir dari bambu dan kayu seperti perabot rumah tangga, mebel, anyaman dan berbagai souvenir lainnya. Di sanggar MBC itu, Markus mempekerjakan tenaga kerja lokal yang sebelumnya sudah dimagangkan ke Bandung.

Ketertarikannya untuk mengembangkan ekonomi kreatif, kata Markus Lina, melihat potensi desa itu yang belum dikembangkan sama sekali. Potensi yang dimaksudkannya adalah bambu di desa itu yang selama ini hanya untuk bahan diding rumah, pagar atau kandang hewan. Tetapi setelah berkreasi lima tahun ini, mambu Manubhara di tangan Markus Lina dan tenaga di sanggarnya justru menjadi produk souvenir yang punya nilai artistik dan ekonomi tinggi.(ch)***

Foto: Wakil Bupati Ngada Paulus Soliwoa ketika membuka kegiatan uji petik sub sektor unggulan ekonomi kreatif Kabupaten Ngada.