Responsive Ads Here
Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

Monday, 12 March 2018

Siswa SMPN Satap Malafai mengikuti Rekoleksi yang mengangkat tema tentang media sosial, diselingi permainan -   

WOLOMEZE, vigonews.com  - Sekitar 26 Siswa SMPN Satap 2 Wolomeze dan 40 siswa SDI Malafai, Desa Nginamanu Selatan, Kecamatan Wolomeze, Minggu (11/03/2018) mengikuti kegiatan rekoleksi.

Kegiatan rekoleksi yang diselenggarakan Seksi Pewartawan Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM) Kurubhoko itu mengangkat tema “Memperkenalkan Media Sosial Sejak Dini,” kepada para siswa  di desa, sembari memberi edukasi tentang dampak positf dan negatif media sosial.

Dalam sesi rekoleksi yang dipandu oleh tuan Rumah Literasi Cermat (RLC) Ngada Emanuel Djomba, siswa diperkenalkan dengan jenis-jenis media sosial. Para siswa terlihat serius mendengar penjelasan yang diselengi dengan film animasi tentang medsos.

Pada awal sesi, Djomba yang juga Pemimpin Redaksi Majalah Pendidikan & Literasi Cermat itu mengajukan pertanyaan kepada anak-anak desa yang terlihat lugu. Siapa yang di rumah sudah punya hand phone? Terllihat hanya segelintir yang mengacungkan jari.
 
Siswa SDI dan SMPN Satap Malafai
Para siswa juga belum mengenal media sosial secara baik. Apakah ada yang bisa main facebook? Semua siswa tampak bingung! Namun ketika ditanya lagi hingga ketiga kalinya, dua-tiga orang siswa SMP menjawab, ada. Namun tetap tidak ada yang mengacungkan tangan. Beberapa detik setelah suasana agak hening, Faris salah seorang siswa SMP mengatakan: “Ada pa, tetapi hari ini dia tidak datang.”

Tentu saja ini berbeda dengan anak-anak di kota yang sejak SD kelas tinggi hingga SMP sudah fasih bermain di sosial media. Meski jaringan telekomnukasi hari-hari ini sudah mengjangkau daerah terisolir, namun belum banyak siswa di desa yang mengaksesnya. Kalaupun orang tua yang kebetulan punya HP sering mengakses media sosial, anak-anak hanya mengintip dan taunya melihat foto-foto.

Usai memberi rekoleksi menjawab vigonews.com, Emanuel Djomba mengatakan, tema ini sebenarnya relefan diberikan kepada orang tua sehingga mereka punya pemahaman tentang dampak media sosial, agar dapat memberi edukasi kepada anak-anak di rumah. Banyak juga orang tua yang belum paham menggunakan media sosial

“Meski begitu, diberikan kepada siswa SD dan SMP juga tidak salah, untuk mengenalkan jenis media sosial kepada mereka dengan memberi edukasi terkait dampak penggunaannya. Tentu saja metode yang digunakan tidak seperti orang dewasa – rekoleksi diwarnai permainan dan nonton cuplikan film animasi,” beber Djomba.

Untuk siswa SMP, sesi rekoleksi juga diajak untuk menelisik berbagai kasus kejahatan akibat penggunaan media sosial yang serampangan, tak terukur dan tak bijak. Banyak kasus penipuan, kejahatan seksual terjadi karena penggunaan media sosial yang tidak hati-hati. Siswa SMP secara  berkelompok diarahkan untuk membedah berbagai kasus yang terjadi dari klimping media masa.

Melalui momen refleksi siswa kemudian menyadari dampak negatif  penggunaan media sosial membahayakan kehidupan. Karena itu refleksi dari setiap kelompok, mereka berjanji kelak nanti akan menggunakan media dengan hati-hati dan bijaksana. Tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal, dan baru akan menggunakan media sosial pada waktu yang tepat.
 
Siswa melaporkan diskusi 
Bagian akhir siswa diajak dalam refleksi sederhana tentang penggunaan media sosial dalam terang Injil sebagai bentuk pelayanan kepada orang lain. Melalui sikap dan tindakan yang baik penggunaan media sosial juga bagian dari mewartakan kebaikan.

Penggunaan media sosial memudahkan manusia untuk melakukan komunikasi yang berdayaguna antara satu dengan yang lain, dan bukan sebaliknya. Media sosial harus merupakan wahana komunikasi yang mempu mendekatkan yang jauh dan bukan malah menjauhkan yang dekat, bahkan terasing dengan lingkungan sosial.

Kepala SMPN Satap Malafai, Wisnu Muwa merespons positif rekoleksi dengan tema mengenalkan media sosial kepada para siswa. “Memang siswa di kampung ini belum banyak tau tentang medsos. Mereka juga belum pernah mengaksesnya. Tetapi mengenalkan kepada mereka menyusul dampaknya perlu disampaikan sejak dini. Sehingga kelak nanti menggunakan mereka akan ingat akan bahaya-baya dan keuntungan penggunaan medsos yang pernah mereka peroleh,” beber Wisnu di Malafai.

Dalam rekoleksi ini hadir Kepala SMPN Satap 2 Wolomeze di Malafai, Wisnu Muwa, Kepala SDI Malafai Ona Ngina Deu, Seksi Pewartaann Paroki MRPM Amatus Noy, para pendamping sekami: Mersi Ida, Maksima Mika, Serina dan Ketua Stasi Malafai Emanuel Pa’i. (AL)***

Monday, 5 March 2018

Siswa SMPN Satap Kurubhoko larut dalam diskusi bedah kasus kejahatan media sosial dalam sebuah rekoleksi -  


KURUBHOK0, vigonews.com - Penggunaan media sosial di kalangan remaja merebak juga hingga ke desa. Tidak ada ruang yang benar-benar lekang dari penggunaan wahana komunikasi yang selain membawa manfaat positif tidak sedikit membawa ‘mala pekataka’ ini. Dari orang dewasa, pemuda, remaja, anak-anak bahkan balita pun seperti keranjingan.

Keprihatinan terhadap merebaknya penggunaan media sosial di kalangan remaja desa, membuat wadah gerejani – Paroki Maria Ratu Para Malaikat, Kurubhoko menggelar rekoleksi berbasis literasi media sosial, Minggu (04/03/2018) di Kurubhoko.

Didampingi pelaku media yang juga tuan Rumah Literasi Cermat (RLC), Emanuel Djomba, sekitar 40 siswa SMPN Satap Kurubhoko mengikuti rekoleksi berbasis literasi media yang diselenggarakan menyambut hari raya paskah 2018 mendatang.  Pada momentum rekoleksi ini para siswa berjanji menggunakan media sosial secara bijak – untuk hal-hal yang positif dan menunjang pembelajaran. Janji ini disampaikan oleh siswa dari lima kelompok usai melaporkan hasil diskusi.

Dikatakan Djomba, rekoleksi yang menerapkan metode diskusi dan refleksi itu, menuntun para siswa untuk menemukan sendiri apa dampak media sosial secara ril bagi kehidupan remaja. Siswa membedah sejumlah kasus kejahatan dari pemberitaan media massa, dengan pertanyaan penuntun mengacu pada teknik penulisan berita para jurnalis.  Lalu para siswa memberi kesan dan pesan terhadap masing-masing kasus yang dibedah.  Di bagian akhir secara eksplisit menyatakan janji untuk menggunakan media sosial secara bijak.

Sementara Pastor Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM), Pater Tobias Harman, OFM mengantar siswa pada refleksi dalam terang Injil. Pater Toby dalam rekoleksi bertema “Remaja Bermedia Sosial Secara Sehat dalam Terang Injil,” merefleksikan penggunaan media sosial sebagai bentuk pelayanan kepada orang lain.

Dikatakan Pater Toby, penggunaan media sosial memudahkan manusia untuk melakukan komunikasi yang berdayaguna antara satu dengan yang lain, dan bukan sebaliknya. Media sosial harus merupakan wahana komunikasi yang mempu mendekatkan yang jauh dan bukan malah menjauhkan yang dekat, bahkan terasing dengan lingkungan sosial.
 
Para pendamping Sekami mengisi sesi - ice breaking saat rekoleksi siswa SMPN Satap Kurubhoko
“Jangan sampai engkau dengan teman yang jauh menjadi begitu dekat, tetapi dengan teman-temanmu di sebelahnya engkau tidak kenal, tidak peduli. Karena kalau engkau susah maka teman dekat di sampingmu  yang menolongmu bukan teman yang jauh,” kata Pater Toby.

Bagi remaja yang juga anak missioner, kata Pater Toby, harus memandang media sosial sebagai wahana untuk mewartakan firman Tuhan. Dan penggunaan media sosial diperlukan untuk memperdengarkan suara Kristus suara Kristus secara relevan mengenai soal-soal aktual di sekitar.

Rekoleksi dengan tema media sosial secara sehat dalam terang Injil menyasar siswa SD kelas  IV, V & VI serta siswa SMP di wilayah Paroki MRPM, Kevikepan Bajawa, Keuskupan Agung Ende. Sebelumnya, Minggu (25/02/2018) sekitar 70 siswa dari SDK Tanawolo dan SDI Kurubhoko mengikuti rekoleksi ini. Selanjutnya di SDI dan SMPN Satap  Malafai, Desa Nginamanu Selatan dan SDN Ije di Desa Nginamanu Barat.

Selain narasumber dari RLC Bajawa Emanuel Djomba dan Pastor Paroki MRPM Tobias Harman, OFM, rekoleksi melibatkan para pendamping Sekami dari Paroki ini. Mereka adalah Mersi Ida, Petro Nela Maza, Maksima Mika, Regina Meo dan sejumlah pendamping lainnya.***

Thursday, 25 January 2018

Nuansa budaya dalam misa Perdana P. Yoakim Jadi, O.Carm -  

WOLOMEZE, vigonews.com – Keja, sebuah kampung yang terletak di kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada. Bersama kampung Nggurununca dan Ramba, masuk dalam Desa Turaloa. Kampung terpencil 3 km jauhnya dari Mulu – yang terletak di Jalan Soa – Riung.

Sekitar 15 tahun lalu, menuju kampung ini hanya jalan setapak melerengi bukit-bukit terjal. Belum ada infrastruktur jalan yang memadai. Sekarang kondisi jalan sudah cukup lumayan sehingga kendaraan bisa masuk ke kampung ini. Namun,  masyarakat desa ini tetap hidup dalam ‘gelap’ – karena listrik belum ada (masuk).

Berita Terkait:
Sekda Meda Moses, Pada Misa Perdana Imam Baru: “Menjadi Imam Keputusan Penting”

“Yoakim Jadi, Akhirnya Jadi Imam”

Tak berlebihan jika kampung ini ‘nyaris tak ada sentuhan’ dari pemerintah. Karena setelah Indonesia merdeka 70 tahun, warga Keja seperti berjalan di tempat dalam pembangunan fisik. Meski demikian mereka tak sampai mengemis-ngemis diberi perhatian. Mungkin karena mereka tau, resiko kemerdekaan berarti Negara mesti mengurus rakyatnya tanpa diminta.

Masuk kampung ini, tidak ada terdengar deru kendaraan seperti di mata jalan propinsi Soa – Riung yang kini juga hancur. Kata salah seorang tokoh, Anton Tangi menanalogikan kondisi jalan propinsi ini: “Kita sulit membedakan mana jalan hotmix dan mana jalan setapak.” Sindiran halus Anton itu memang miris, meski disambut aplaus ratusan umat yang menghadiri Misa Syukur Tahbisan Imam Baru Pater Yoakim Jadi, O Carm – putra dari kampung keja, Rabu (24/01/2018).

Warna kehidupan masyarakat Keja dari zaman ke zaman seperti potret buram. Tetapi dalam kesederhanaan, mereka menerima warna itu seperti memunculkan spirit lain merenda hidup jengkal demi jengkal dengan nurani tetap bercahaya.
 
Mendoakan para imam
Masuk di kampung kecil terpencil ini bisa dapatkan keheningan, Sebuah gereja di lereng agak tinggi bagai mangayomi warga yang semuanya didiami umat Katolik. Suasana ini memberi warna religiousitas yang kental. Tak heran dari kampung ini Tuhan memilih lima putra terbaik menjadi Imam-Nya. Dari keluarga Katolik yang sederhana dan selalu mengantarkan doa, hidup dengan apa adanya, jauh dari kesan modern, makan dari sawah ladang yang diracik dengan tengannya.

Tidak salah kalau seorang Imam dari kampung ini, Pater Alfons Mana, SVD dalam khotbah misa syukur imam baru, Rabu (24/01/2018) menyinggung, bahwa dari tahun ke tahun dari zaman lampau, kampung ini terpencil. Untuk ke kota kabupaten Bajawa saja jauh, ke Mataloko juga jauh, apalagi ke Ende dan kota propinsi tak terbayangkan jauhnya.

“Tetapi mereka seperti sudah terlatih untuk meraih prestasi – impian  hidup lebih baik melewati kondisi-kondisi yang sulit itu. Keluar dari sini membutuhkan waktu dua hari dengan berjalan kaki,” kata Pater Alfons yang tersirat juga mengisahkan bagaimana dirinya menjadi imam di tengak konsisi sulit untuk pergi mendapatkan ilmu di seberang.

Dikatakan Pater Alfons, sesuatu yang sangat kontradiktif jika dibandingkan hidup di zaman ini yang disuguhkan dengan kemudahan-kemudahan. Namun justru menjadikan generasi baru memilih hidup serba instan. Tidak mau susah. Ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang mudah, dan hasilnya memang tidak mendapatkan apa-apa.

Meski dikenal sebagai kampung terpencil, namun dari sini sudah ‘lahir’ lima imam. Dari keluarga sederhana di Keja mempersembahkan yang terbaik, yakni putra terbaik kepada gereja dan umat.

Peristiwa ini melahirkan perayaan-perayaan iman di kampung ini seperti misa sykur tahbisan imam baru, perayaam perak imamat dan banyak perayaan lainnya. Dan, ternyata perayaan imamat yang selalu mewarnai kampung terpencil ini ikut membuka isolasi kampung Keja dari dunia luar. Semuanya menjadi terbuka sehingga banyak orang mengenal kampung ini.

Sekarang jalan ke kampung Keja sudah bisa dilewati kendaraan dengan mudah, meski belum diaspal. Akses ini juga bisa tembus hingga kampung sebelahnya – Nggurununca. Tahun lalu, pemerintah Ngada membuka akses jalan baru dari Nggurununca ke Lengkosambi. Diharapkan akan menjadi jalan alternatif menuju kawasan wisata Riung dari jalan Soa - Riung yang kini bagai kubangan sepanjang jalan. Sayangnya ruas jalan yang baru dibuka ini belum ditingkatkan, masih merupakan jalan tanah.
 
Anak-anak Keja menyambut imam baru dengan tarian 
Suasana Misa Syukur Imam baru di Keja belum lagi usasi ketika itu, namun hujan sudah mengguyur kampung  dengan lebatnya. Meski begitu tak mengurangi kegembiraan umat  dalam misa yang dihadiri lebih dari 20 imam konselebran.

Ternyata guyuran hujan itu menyebabkan banyak kendaraan tamu dari Pemda Ngada tak bisa keluar karena tanah lapang dengan kontur agak miring tempat parkir kendaraan-kendaraan itu terendam air. Merayappun kendaraan tak bisa, apalagi melaju -  ban mobil hanya berputar di tempat karena licin.

Mobil Puskesmas Natarndang berupaya keras keluar dari tempat licin dengan bantuan dorongan para perawat cantik. Begitu pun mobil yang ditumpangi Sekda Ngada Meda Moses terpaksa terseok-seok menanjak – hanya masih untung kendaraan itu ada Derek-nya. Mobil itu akhirnya yang ikut menarik mobil Ketua PAN Ngada Kristoforus Loko hingga keluar dari jebakan jalan licin.

Melewati lereng-lereng bukit sejauh 3 km hingga mencapai jalan propinsi, Soa – Riung sudah bisa bernafas lega, meski tetap harus ekstra hati-hati. Hanya ruas jalan ini harus ditingkatkan lagi karena medannya sedikit  licin di beberapa tikungan dan tanjakan. Melalui ruas jalan ini menjadi pilihan satu-satunya menuju desa Turaloa. Ini desa terjauh dalam layanan Pemerintah Kecamatan Wolomeze. Jalan ini menjadi akses cepat para bidan dan dokter dari Puskesmas Natarandang melayani kesehatan masyarakat, dan mengatasi gawat darurat dari dan ke desa ini.

Ketika melewati jalan ini, Ketua PAN Ngada Kristoforus Loko menjawab vigonews.com mengatakan, sejak dulu pembangunan akses jalan ini menghadapi masalah karena masuk dalam kawasan hutan lindung. “Karena itu saya sempat beberapa kali menghadap Kementerian Kehutanan RI untuk minta izin membuka jalan. Ini memang menjadi masalah ketika kita harus membuka akses, kecuali setelah memperoleh izin. Dan setelah itu baru jalan ini dibuka,” kata Kristo. (Emanuel Djomba)***  
Yoakim Jadi akhirnya jadi Imam -   

WOLOMEZE, vigonews.com – Anak kampung dari Keja itu, akhirnya jadi imam. Dialah Pater Yoakim Jadi, O.Carm. Tanggal 12 Januari lalu ditahbiskan menjadi  imam dalam persaudaraan O.Carm. Yoakim yang biasa disapa Kim itu adalah salah seorang dari empat imam yang ditahbiskan tahun 2017 dari Komisariat O.Carm Indonesia Timur.

Pater Kim, begitu dia akrab disapa keluarga dan teman-teman, adalah imam kelahiran kampung Keja, desa Turaloa, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, 17 April 1989. Dia lahir dalam keluarga sederhana. Kim adalah anak ketika dari dua saudara – ayah Klemen Dadho dan ibu Maria Mau.

Berita Terkait:
Sekda Meda Moses, Pada Misa Perdana Imam Baru: “Menjadi Imam Keputusan Penting”

Keja, Potret Kampung ‘Terisolasi’ Lahirkan Lima Imam

Klemen dan Maria mempersembahkan Yoakim secara khusus menjadi imam, dalam hidup mereka. Doa untuk panggilan putranya tiada putus-putus. Klemens dan Maria dalam membangun keluarga  memiliki kisah cinta menarik. Karna ternyata, kisah cinta keduanya berawal dari pasangan main drama natal memerankan Peran St. Yosef dan Bunda Maria – Keluarga Kudus Nazaret.

Tentu Klemens dalam drama natal berperan sebagai St. Yosef dan Maria berperan sebagai Bunda Yesus – Santra Prawan Maria. Dua tahun setelah drama natal itu, ternyata Klemens dan Maria muda menjalin kasih hingga ke pelaminan, dan kemudian pasangan ini dikaruniai tiga anak. Yoakim adalah anak ketiga yang kemudian dalam dirinya membuahkan kerinduan Klemens dan Maria untuk menjadi imam.
P. Yoakim Jadi, O.Carm memberkati orang tua dan seluruh keluarga 

Meski secara khusus mempersembahan Yoakim pada panggilan imam, namun hingga jelang tahbisan, Klemens masih antara percaya dan tidak. Perasaan itu rupanya menghantui Yoakim sendiri. Namun dalam pergulatan panjang dari seminari rendah hingga seminari tinggi – Kim akhirnya memutuskan agar ditahbiskan menjadi imam pada 12 Januari 2018 lalu. Dia memilih motto tahbisan: “Tenanglah! Aku Ini, jangan takut!,” firman Tuhan dari Injil Markus 6:50.

Motto ini menggambarkan pergulatan Kim untuk menjawab panggilan Allah menjadi imam dalam melayani umat Allah dimana saja dia akan bertugas. Di balik perawakan Kim yang tenang, selama perjalanan pendidikan seminari memang terbesit banyak tantangan. Yang Kim sendiri sebutkan diwarnai  ketakutan, keraguan dan kecemasan menerima keputusan menjadi imam atau tidak. Itu juga yang membuat ayahnya ikut ragu dan cemas, “apa mungkin Kim ditahbiskan.” “Sekarang saya tidak takut lagi, karena  berjumpa dengan Tuhan yang memberi kekuatan melalui firman-Nya,” kata Kim ketika menyampaikan pesan dan kesaan.
 
Paduan Suara Stasi Terong meriahkan misa perdana P. Yoakim Jadi, O.Carm
Perjumpaan dengan Allah yang dikuatkan Firman Tuhan, menguatkan Kim dengan memilih motto: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut”,  yang membuat Kim cukup lapang dan segera bergegas menapaki panggilannya secara ril sebagai imam.

Kim menjadi Imam dalam Ordo Karmel pada 12 Januari 2018 di Biara Karmel Bt. Dionysius – Wairklau. Kim menamatkan pendidikan SD di kampungnya sendiri, Keja 2002, lanjut SMP Seminari Mataloko (2002 – 2005), SMA Seminari Mataloko (2005-2008), Novosiat Ordo Karmel Werouret-Nita Maumere (2008-2010), Kaul Pertama (2010), Studi Filsafat STFK Ledalero (2010-2014), Tahun Orientasi Pastoral di Seminari Maria Bunda Segala Bangsa (2014-2015).

Kim kemudian menerima Kaul kekal dalam Ordo Karmel (14 Agustus 2016), Studi S2 di STFK Ledalero (2015-2017), Tahbisan Diakon di Paroki St. Fransiskus Xaverius Habibola oleh Mgr. Kherubin Pareira, SVD (2 Juli 2017), Praktik Diakonat di Paroki Maria Kusuma Karmel Bu Nuaria (7 Juli – Desember 2017), dan ditahbiskan menjadi imam (12 Januari 2018). Dia mengadakan misa Perdana di kampung kelahirannya, Keja 24 Januari 2018. (edj)**
Sekda Ngada Meda Moses menyampaikan selamat kepada Imam Baru di Keja, Pater Yoakim Jadi, O.Carm -  

WOLOMEZE, vigonews.com – Pater Yoakim Jadi, O.Carm merayakan misa perdana, Rabu (24/01/2018), setelah ditahbisan 12 Januari 2018 lalu, sebagai imam dalam persaudaraan O.Carm.

Pater Yoakim Jadi, O.Carm menjadi imam kelima dari kampung Keja, Desa Turaloa, Kecamatan Wolomeze. Perayaan syukur dalam misa konselebran lebih dari 20 imam itu dihadiri Sekda Ngada Meda Moses, Ketua DPD PAN yang juga anggota DPRD Ngada Kristoforus Loko, Camat Wolomeze Kasmin Belo dan Ny. Nurhayat, segenap keluarga besar Riung, Lengkosambi, Terong, Bajawa dan persaudaraan O.Carm dari Maumere dan keluarga besar Kecamatan Wolomeze.

Berita Terkait:
 “Yoakim Jadi, Akhirnya Jadi Imam”

Keja, Potret Kampung ‘Terisolasi’ Lahirkan Lima Imam

Pastor pengkhotbah, P. Alfons Mana, SVD dalam khotbah misa perdana imam baru itu mengatakan, perayaan imamat yang sering dirayakan di kampung ini harus menyatukan kita kepada Allah. “Melihat ke masa lalu dimana kampung-kampung sekitar ini pernah berselisih paham, maka dengan perayaan ini kita mendoakan tetap terjaganya persatuan dan kesatuan. Perayaan ini harus menguatkan persaudaraan seterusnya,” Kata Pater Alfons.

Misa Perdana Tahbisan Imam Baru

Dikatakan, dari perayaan-perayaan imam harus menumbuhkan iman yang diwujudkan dalam buah-buah nyata yakni perbuatan kasih. Supaya terus menghasilkan buah kasih, maka perlu terus mengikat relasi dengan pokok anggur, yakni Kristus sendiri. Ini yang harus jadi modal bagi bagi umat dalam ziarah panjang di dunia ini.

Sekda Ngada Meda Moses dalam sambutan ketika mewakili Bupati Ngada Marianus Sae mengatakan, menjadi imam adalah keputusan terpenting. Karena harus meninggalkan keluarga tercinta. Meninggalkan kesenanangan dan menekan keinginan duniawi dan hanya hidup demi melayni Tuhan melalui panggilan sebagai pelayan umat.

Momen ini, kata Meda Moses harus menjadi wahana untuk menyatukan semua doa kepada imam baru. Dukungan dan doa sangat penting bagi imam baru dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayanan Allah.
 
Meda Moses bersama Pater Yoakim Jadi, O.Carm didampingi Ketua DPD PAN Ngada Kristoforus, Camat Wolomeze Kasmin Belo dan para imam.
Di bagian lain, dikatakan Meda Moses, pemerintah terus memberi perhatian pada berbagai aspek pembangunan meski dengan kemampaun yang terbatas. Salah satu perhatian melalui pendekatan kultral relegius, dan dukungan pembangunan akses ke berbagai tempat yang masih terisolasi. Itu sebabnya pemerintah tentu membutuhakan dukungan dari Gereja.

Pada kesempatan itu Meda Moses menyampaikan apresiasi,  profisiat dan ucapan selamat kepada imam baru dan seluruh keluarga. Kepada panitia yang sdah bekerja keras menyiapkan perasaan besar itu, dan peran kecamatan Wolomeze di bawah pimpinan Camat Kasmin Belo dengan koordinasi yang baik. Perayaan Misa Perdana imam baru juga dihadiri Ketua DPD PAN yang juga anggota DPRD Ngada Kristoforus Loko.

Di akhir sambutan, Meda Moses atas nama Pemerintah Kabupaten Ngada menyerahkan bantuan untuk penyelenggaraan Misa Perdana Imam Baru sebesar Rp 10 juta. (edj)***

Thursday, 11 January 2018

Para frater SVD Ledalero yang berjumlah 36 orang aksi tanam pohon sebagai kepedualian pada lingkungan dan alam - 

KURUBHOKO, vigonews.com  - Sebanyak 36 Frater SVD dari STFK Ledalero  akhiri kegiatan live in di Paroki Maria Ratu Para Malaikat, Kurubhoko dengan aksi tanam pohon untuk penghijaun, Selasa (09/01/2018).


Kegiatan penghijauan para frater dari Unit St. Mikhael itu, dipimpin Koordinator Perfek, Pater Petrus Cristologus Dhogo, SVD. Aksi penghijauan dilaksanakan di lokasi konservasi Yayasan Puge Figo yang berlokasi di bukit Nangge Mba'a, sekitar lima km dari pusat paroki.

Menuju lokasi, para frater membawa serta anakan pohon kaliandra yang akan di tanam. Kegiatan itu dipandu oleh para relawan dari Yayasan Puge Figo.
 
Para fraters di puncak 
Aksi ini disambut antusias dari para frater yang melakukan live ini dari tanggal 3 - 10 Januari 2018 lalu. Beberapa frater yang dimintai komentar mengatakan kegiatan penghijauan ini sebagai rasa cinta kepada alam ciptaan Tuhan. "Kita mencintai Allah dengan mencintai ciptaannya?"  Kata frater Arsenius Nega.

Dikatakan Arsenius, aksi penghijauan ini  sesuai dengan Ensiklik Paus Fransiskus "Laudato Si" - Terpujilah Engkau Tuhan. Ini pesan penting yang mengajak semua umat manusia merawat  ‘Rumah Bersama’ - bumi sebagai rumah bersama. Semua orang dari golongan manapun wajib merawat sehingga bumi tetap terjaga kelestariannya dan tidak sampai rusak.

Sementara, frater Fransiskus Redy Max mengatakan, dirinya menyambut  baik aksi penghijauan ini. Senang juga, sampai di sini (Kurubhoko) ada kegiatan penghijauan, yang sebenarnya tidak direncanakan. "Kami senang  bahwa sampai di sini ada kegiatan penghijauan. Melalui kegiatan ini kita bisa mengimplementasikan Ensiklik Paus Fransiskus," katanya.
 
Pater Petrus Cristologus Dhogo, SVD bersama para frater di lokasi konservasi
Dibagian lain frater Arsenius menambahkan, melalui penghijauan para frater diberi peran untuk merawat rumah bersama yang sekarang dirusak akibat ulah manusia. Terkait dengan itu dia berharap agar umat setempat  terus merawat ‘rumah bersama’ yang konon tak pernah luput dari  kebakaran hutann. Hal ini bisa diwujudkan melalui pengjijauan di kawasan rawan kebakaran yang kini dikonservasi.

Aksi lain, kata dia dengan menanam pohon sebanyak mungkin di kebun masing-masing dan menghijaukan pekarangan. Mulai dengan kultur pertanian tanpa pestisida berbahaya dan pupuk kimia yang mengancam kesehatan manusia. (edj)***
Para Frater SVD Ledalero live in di Paroki Kurubhoko -  

KURUBHOKO, vigonews.com  - Selama sepekan para frater SVD dari STFK Ledalero live ini di Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM) Kurubhoko. Sebanyak 36 frater yang dipimpin Koordinator Perfek, Pater Petrus Cristologus Dhogo, SVD tiba di paroki yang baru diresmikan September tahun 2017 lalu itu, Rabu (03/01/2018). Live in baru berakhir pada, Rabu (10/01/2018).

Kedatangan para calon imam itu disambut oleh Pastor Paroki Kurubhoko, Pater Thobias Harman, OFM dan Pastor Rekan Leonardus Hambur, OFM. Kemudian 36 frater dari Unit St. Mikhael  berbagai tingkat itu tersebar di 36 komunitas umat basis (KUB) di tiga wilayah pusat paroki, Stasi Malafai, Lingkungan Maladhawi dan Stasi Ije.

Baca juga: Lestarikan Alam, Para Frater SVD Ledalero Aksi Tanam Pohon

Selama live ini, para calon imam tinggal bersama umat di KUB, belajar bersama umat, menghidupkan kehidupan umat, merasakan kondisi ril umat. Live ini semacam ini bagi para calon imam untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang realitas kehidupan umat di kelompok basis gerejani, dan apa yang bisa dilakukan serta menjadi dasar pilihan hidup sebagai seorang imam kelak.
 
Umat Kurubhoko menyaksikan pentas seni para calon imam
Sebagaimana dikemukakan Koordinator Perfek, Pater Petrus Cristologus Dhogo, SVD, para frater melalui live ini agar lebih dekat dengan umat. “Mereka tidak jauh dari kehidupan umat dan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan bersama umat,” kata pastor yang akrab disapa Pater Ito itu.

Zaman sekarang, kata Pater Ito, pendampingan massal tidak cukup efektif karena terkadang tidak menjawab kebutuhan umat yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu perlu sentuhan layanan pendampingan yang  diwujudkan melalui live in, mulai dari kegiatan doa, katekese umat hingga bersama-sama melakukan aktivitas sehari-hari.
 
Salah satu atraksi - fragmen berjudul "Mencari Bintang"
Menjawab vigonews.com, Pater Ito mengatakan, live in yang sudah menjadi agenda tahunan, untuk kali ini mengangkat tema tentang berbagai isu yang menjadi keprihatinan SVD selama tiga tahun terakhir. Dalam katekese di berbagai KUB, para frater mengimplementasikan tema:  tentang HIV/AIDS, human traficking, dan tentang ‘keluarga sebagai dapur iman anak’.

Dikatakan Pater Ito, Isu-isu yang diangkat dalam live in  ini diartikulasikan melalui kegiatan katekese bersama umat selama sepekan. Tentang tema-tema itu, Pater Ito menegaskan: “kita harus omong terus seperti Yohanes Pembaptis dengan suara yang berseru-seru di pandang gurun.”
Pater Petrus Cristologus Dhogo, SVD
Live in selalu memberi pengalaman baru dan berbeda kepada para calon imam. Frater Fransiskus Redy Max yang live ini di KUB St. Klara ini, mengatakan, “dari live ini saya mendapat nilai melalui pengalaman baru bersama umat seperti: menjadi pekerja keras. Saya ikut dengan umat pergi ke sawah, ikut bajak, tanam padi. Saya belajar mengoperasikan hand tracktor. Melalui kegiatan ini saya dilatih bagaimana harus menjadi pekerja keras dan penuh rasa tanggung jawab.”

Sementara Frater Arsenius Nega punya kesan terhadap pendidikan anak-anak. Menurut dia ada sedikit kendala dengan keteladanan jika dikaitkan dengan keluarga sebagai dapur iman anak. Anak punya iman kalau dididik dalam keluarga yang memiliki keteladanan yang baik, tentu akan baik. “Misalnya di keluarga yang selalu memberi teladan berbuat baik. Anak rajin berdoa karena melihat teladan dalam keluarga,” katanya.
 
Bersama anak-anak Sekami Kurubhoko
Dalam rangkaian live ini selama sepekan, para frater juga menggelar pentas seni menghibur umat. Kegiatan yang dipentaskan sesuai dengan semangat budaya setempat yang ditandai dengan nyanyian dan atraksi bercitarasa lokal. Melalui kegiatan pentas seni ini, para frater melibatkan OMK dan Sekami di paroki setempat. Nuansa budaya lokal juga nampak pada perayaan ekaristi yang diwarnai nyanyian liturgi inkulturatif

Selain pentas seni, juga melakukan pendampingan sekami dan aksi panggilan dengan mengunjungi sejumlah sekolah yang ada di wilayah Paroki Kurubhoko, yaitu: SMPN Satap Kurubhoko, SDK Tanawolo, SDI kurubhoko, SDI Malafai, SMPN Satap Malafai dan SDN Ije.

Para frater yang live in di Kurubhoko merupakan bagian dari 250 frater SVD yang sedang kuliah di STFK Ledalero, Flores. Calon-calon imam dari enam tingkat itu dibagi dalam tujuh unit, dan yang ke Kurubhoko adalah Unit St. Mikhael. Sedangkan enam unit melakukan kegiatan live ini di sejumlah paroki di daratan Flores. Live in di Paroki Kurubhoko diakhiri dengan rangkaian aksi tanam pohon sebagai dukungan penghijauan pada kawasan konservasi Yayasan Puge Figo.(edj)***


Saturday, 30 December 2017

TP.PKK Gelar Malam Renungan AIDS dengan Tema: 'Menyongsong Hari Esok Tanpa AIDS' -  

WOLOMEZE, vigonews.com – Guna mencegah penyebaran virus HIV/AIDS di Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, tokoh-tokoh masyarakat kecamatan itu tandatangani komitmen bersama.

Pendandatangan komitmen bersama itu berlangsung di Kantor Camat Wolomeze, Jumat (22/12/2017) belum lama ini. Komitmen itu dicapai dalam acara Malam Renungan AIDS dalam rangka memperingatihari hari AIDS yang jatuh pada 1 Desember dalam semangat peringatan Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember.

Malam renungan ini digelar oleh Ibu-ibu PKK Kecamatan Wolomeze, terdorong oleh keprihatinan munculnya kasus virus mematikan di wilayah yang sebenarnya tergolong kampung. “Ini menunjukkan bahwa virus HIV/AIDS tidak mengenal tempat dan bisa kena siapa saja,” papar Ny. Nurhayat Belo, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Wolomeze dalam sambutan jelang renungan.
Ketua TP. PKK Kecamatan Wolomeze Ny. Nurhayat dan Camat Wolomeze Kasmin Belo membuka penandatangan komitmen para tokoh Wolomeze memberantas AIDS
Nurhayat mengingatkan agar masyarakat Wolomeze lebih waspada, karena  penyebaran virus berbahaya ini tidak mengenal siapapun. Yang bekerja jauh dari keluarga supaya memeriksa kesehatannya baik saat meninggalkan kampung maupun saat kembali. Ini sebagai tindakan pengamanan sehingga dapat terdeteksi lebih dini.

Malam renungan bertema: “Menyongsong Hari Esok Tanpa AIDS” baru pernah dilaksanakan di kecamatan ini. Bahkan dalam catatan vigonews.com, kegiatan semacam ini belum pernah digelar di tingkat kabupaten Ngada. Ini dilakukan mengingat di Wolomeze dalam hal penyebaran virus ini harus jadi perhatian, karena sampai saat ini sudah terdeteksi lima kasus. “Kita tidak tahu yang belum terdeteksi,” kata Nurhayat.

Camat Wolomeze, Kasmin Belo memberi apresiasi sebesar-besarnya kepada PKK di Kecamatan yang dipimpimpinya yang telah berinisiatif menggelar malam renungan ini. Kegiatan ini, kata dia sebagai ruang refleksi atas terjadinya kasus HIV/AIDS maupun upaya pencegahan.

“Kita berharap, dari kasus yang ada memberi gambaran yang jelas bagi kita untuk terus mewaspadainya, dan berupaya bahu-membahu mencegah dengan melibatkan berbagai elemen,” pinta Kasmin.

Baik Camat Kasmin Belo maupun Ketua TP.PKK Kecamatan Wolomeze Ny. Nurhayat, mengatakan bahwa kegiatan ini setidaknya menjadi ruang efektif untuk memberi pemahaman kepada masyarakat tentang AIDS. Dan lebih dari itu, terhadap korban tidak didiskriminasi, karena masyarakat mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana menyikapinya.
Anggota PKK Kecamatan Wolomeze
Dipandu MC Asry Moi, malam renungan diwarnai dengan kegiatan edukasi yang memberi gambaran tentang HIV/AIDS disampaikan Yohanes Vianey Wonga. Viany, begitu dia biasa disapa membedah habis tentang bahaya virus HIV/AID sehingga sekitar 150 peserta memahami secara baik.

Ruang edukasi yang tidak kalah penting juga disampaikan oleh salah seorang Odha yang ternyata bersedia memberi testimoni seputar pengalamannya dalam menyikapi HIV/AIDS. Tujuannya agar masyarakat tidak memahami secara keliru tentang HIV/AIDS, dan memberi tempat dan sikap yang tepat kepada para korban, bukan dikucilkan.

Pita Merah

Kegiatan ini diakhiri dengan renungan, doa dan penyalaan lilin yang dipandu oleh Emanuel Djomba dari Rumah Literasi Cermat Ngada. Selain itu, Djomba juga membaca puisi berjudul ‘Pita Merah’ sebagai sebuah refleksi atas penyebaran virus HIV yang hingga kini dianggap belum mencapai kemenangan atasnya.

Penyebaran virus ini, kata Djomba, sudah merambah desa, dan tercerabutnya generasi dari kearifan lokal telah membuat desa rentan berbagai perubahan yang negatif. ‘Pita Merah’ juga mengingatkan kita pada lambang AIDS yang sering diidentikan dengan pita merah berbentuk tulisan victory tetapi terbalik.
Bergandenga tangan, menyatukan hati, pikiran dan tindakan memberantas AIDS di Wolomeze
Victory terbalik, artinya belum menang atas AIDS, karena itu membutuhkan peran semua pihak untuk mencegah dan memerangi penyebaran virus yang mematikan itu. Merah juga simbol darah, tempat berkembangnya virus ini. Warna merah itu pula menjadi simbol perjuangan yang harus terus dikobarkan memerangi virus mematikan itu.

Mungkin karena itu, tokoh-tokoh masyarakat Wolomeze yang dipimpin Camat Kasmin Belo membangun komitmen bersama untuk memerangi HIV/AIDS. Komitmen itu diwujudkan secara bersama-sama dengan membubuhkan tanda tangan dan bergandengan tangan memerangi AIDS.

Tokoh-tokoh masyarakat Wolomeze yang membubuhkan tanda tangan, berturut-turut, Camat Wolomeze Kasmin Belo, Ketua TP PKK Kecamatan Wolomeze Ny. Nurhayat, Babinsa Wolomeze Sertu Mansetus Ninmusu, Kapospol Brigadir Pol. Wolomeze Bersadi Kilikily, Kepala Desa Wue Johanes Lete, Kepala Desa Denatana Bruno Wanggol, Sekretaris Desa Denatana Timur Frans Toda, Penjabat Kepala Desa Larilaki M. Th Retuk, Ketua Stasi Mainai Simon Sila, Tokoh muda Rikardus Loy, Tokoh Perempuan Dominika Sewu, Ketua BPD Denatana Timur Hilarius Mbali dan unsure pimpinan kecamatan lainnya. (SP)***



Friday, 29 December 2017

Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr dalam khotbahnya minta ' jangan cemas hari esok' -  

BAJAWA, vigonews.com  - "Jangan cemas hari esok. Dengan kekuatan hati engkau akan mampu merenda hari demi hari menuju hari esok yang terang benderang," pesan Uskup Agung Ende Mgr. Vinsentius Sensi Potokota, Pr pada misa syukur Reuni Akbar SMAK Regina Pacis, Jumat (29/12/2017).

Pesan ini menjadi sari dari rangkaian khotbah Uskup Sensi selama 30 menit setelah membedah tema: "Satu Hati untuk Regina Pacis" dalam balutan Furman Tuhan. "Ini tema biasa dari hajatan sosial biasa. Namun Recis mengubahnya menjadi luar biasa," ujar Uskup Sensi di awal khotbahnya.

Tema ini bermakna ajakan, namun bukan ajakan biasa. Ajakan yang menyentuh hati sejak awal berdiri sampai saat ini. Tema ini bukan sekedar ajakan anak zaman ini, tetapi yang terangkai dari generasi ke generasi. Ajakan yang menyiratkan kerja dalam durasi yang sangat panjang. Itu sebabnya ketika di titik tiba hari ini, ajakan ini harus terus dihidupi dan merangsek ke masa depan menuju cita-cita dan visi yang digumuli sejak berdiri tahun 1982 lampau.

"Satu Hati untuk Regina Pacis" sepenggal rumusan tema yang tidak sederhana karena merupakan selarik doa. Sebuah sudut pandang yang menyiratkan komitmen dan keyakinan.
Namun Uskup Sensi membuat peserta yang hadir tertegun dengan sejumput pertanyaan: "Sedalam itu kah?" Ada apa dengan hati anda di Recis ini sehingga perlu disatukan? Bahwa dalam kebersamaan dan keberagaman selalu ada niat untuk mempersatukan, tentu saja untuk kepentingan bersama. Namun juga untuk kepentingan sendiri  karena dalan kebersamaan dan keberagaman ada pribadi-pribadi yang terajut. Tanpa kebersamaan sudah berarti mengingkari eksistensi sebagai makhluk sosial.

Dalam kaitan dengan peresmian gedung sekolah, berarti ada komitmen agar semua komponen menjadi sehati untuk Regina Pacis. Di sini ada alumni, orang tua, sekolah dengan para guru dan yayasan dan pemerintah. Semua membangun komitmen dalam satu hati.

Jika dihubungkan dengan kisah penciptaan, segala sesuatu yang dimulai dan dikerjakan dengan semangat dan komitmen sehati akan baik adanya karena ada terang besar. Namun dalam kisah penciptaan manusia menjadi sombong sehingga kegelapan terjadi. Memadamkan terang berarti meniadakan peran Allah.

Karena kegelapan itu, Allah memakai para nabi setiap zamannya guna menghalau kegelapan. Namun manusia sepanjang sejarah selalu gagal memadamkan kegelapan. Itu sebabnya, Allah mengutus putra-Nya sendiri, yakni Yesus. Pribadi yang jauh lebih besar  dari para nabi yang pernah ada. Mengapa harus Putra-Nya? Karena Allah tidak mau mengingkari hakekatnya sebagai Sang Cinta - Sang Terang.

Dalam konteks penyelamatan, Yesus dipercaya dan diutus untuk mengumpulkan kembali yang tercerai-berai. Merakit kembali yang tercecer. Mengumpulkan kembali berserakkan melalui korban terbesar dengan wafat di kayu salib.

Harus kita akui bahwa kesatuan apapun tidak akan terwujud  tanpa terang Tuhan. Yesus membangun kesatuan dan keutuhan tanpa membangun kekuasaan dengan kerajaan dunia tetapi membangun hati. Membaharui hati - memberi kepada kita dengan hati yang baru. Dan persatuan yang sejati itu adanya di hati, bukan di kepala, bukan pada inftastruktur fisik, tidak juga melalui keterkenalan dan kekuatan manusia duniawi.

"Ada apa dengan hati," tanya Uskup saat khotbah di hadapan sekitar dua ribuh umat yang hadir. Pertama: di hati kita tanamkan sedalam-dalamnya visi dan spirit perjuangan yang menjadi cita-cita para pendiri lembaga Regina Pacis. Tanamkan itu dalam-dalam di hati dan bukan di kepala.

Hari ini keluarga besar Recis Menguatkan kembali komitmen yang sudah dimulai oleh para pendiri lembaga ini. Recis sadar bahwa perjuangan para pendiri tidak dimulai asal-asalan tetapi dimulai dari mimpi dan cita-cita yang besar. Mimpi besar itu harus menjadi roh perjuangan dalam perjalanan sejarah Recis babak demi babak. Diimplementasikan melalui program-program dan terus-menerus direvitalisasi.

Kedua, kata Uskup Sensi,  menyadari kekuatan dari dalam yakni ‘Hati’ dimana hati sebagai instansi batin yang paling dalam dari manusia. Melalui hati yang kuat lahir momentum hari ini sebagai momen menguatkan kembali spirit para pendiri yang disatukan dalam tema sedemikian inspiratif. Kita butuh ‘tenaga dalam’ – kekuatan hati’ sehingga mimpi tertanam dan akan bertumbuh menjadi kenyataan. Kita butuh ‘tenaga dalam’ karena menggunakan otak banyak yang menyesatkan. Itu sebabnya kita ingin Recis terus ciptakan mimpi-mimpi besar dengan keluatan hati sebab di sanalah pusat kekuatan. Tuhan bertahta dalam hati mereka yang membuka diri, bukan pada infrastruktur fisik. Di hati, Tuhan tanamkan kekuatan cinta-Nya karena dari cinta asal dari segala yang baik.(Emanuel Djomba)***