Responsive Ads Here
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thursday, 25 January 2018

Yoakim Jadi akhirnya jadi Imam -   

WOLOMEZE, vigonews.com – Anak kampung dari Keja itu, akhirnya jadi imam. Dialah Pater Yoakim Jadi, O.Carm. Tanggal 12 Januari lalu ditahbiskan menjadi  imam dalam persaudaraan O.Carm. Yoakim yang biasa disapa Kim itu adalah salah seorang dari empat imam yang ditahbiskan tahun 2017 dari Komisariat O.Carm Indonesia Timur.

Pater Kim, begitu dia akrab disapa keluarga dan teman-teman, adalah imam kelahiran kampung Keja, desa Turaloa, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, 17 April 1989. Dia lahir dalam keluarga sederhana. Kim adalah anak ketika dari dua saudara – ayah Klemen Dadho dan ibu Maria Mau.

Berita Terkait:
Sekda Meda Moses, Pada Misa Perdana Imam Baru: “Menjadi Imam Keputusan Penting”

Keja, Potret Kampung ‘Terisolasi’ Lahirkan Lima Imam

Klemen dan Maria mempersembahkan Yoakim secara khusus menjadi imam, dalam hidup mereka. Doa untuk panggilan putranya tiada putus-putus. Klemens dan Maria dalam membangun keluarga  memiliki kisah cinta menarik. Karna ternyata, kisah cinta keduanya berawal dari pasangan main drama natal memerankan Peran St. Yosef dan Bunda Maria – Keluarga Kudus Nazaret.

Tentu Klemens dalam drama natal berperan sebagai St. Yosef dan Maria berperan sebagai Bunda Yesus – Santra Prawan Maria. Dua tahun setelah drama natal itu, ternyata Klemens dan Maria muda menjalin kasih hingga ke pelaminan, dan kemudian pasangan ini dikaruniai tiga anak. Yoakim adalah anak ketiga yang kemudian dalam dirinya membuahkan kerinduan Klemens dan Maria untuk menjadi imam.
P. Yoakim Jadi, O.Carm memberkati orang tua dan seluruh keluarga 

Meski secara khusus mempersembahan Yoakim pada panggilan imam, namun hingga jelang tahbisan, Klemens masih antara percaya dan tidak. Perasaan itu rupanya menghantui Yoakim sendiri. Namun dalam pergulatan panjang dari seminari rendah hingga seminari tinggi – Kim akhirnya memutuskan agar ditahbiskan menjadi imam pada 12 Januari 2018 lalu. Dia memilih motto tahbisan: “Tenanglah! Aku Ini, jangan takut!,” firman Tuhan dari Injil Markus 6:50.

Motto ini menggambarkan pergulatan Kim untuk menjawab panggilan Allah menjadi imam dalam melayani umat Allah dimana saja dia akan bertugas. Di balik perawakan Kim yang tenang, selama perjalanan pendidikan seminari memang terbesit banyak tantangan. Yang Kim sendiri sebutkan diwarnai  ketakutan, keraguan dan kecemasan menerima keputusan menjadi imam atau tidak. Itu juga yang membuat ayahnya ikut ragu dan cemas, “apa mungkin Kim ditahbiskan.” “Sekarang saya tidak takut lagi, karena  berjumpa dengan Tuhan yang memberi kekuatan melalui firman-Nya,” kata Kim ketika menyampaikan pesan dan kesaan.
 
Paduan Suara Stasi Terong meriahkan misa perdana P. Yoakim Jadi, O.Carm
Perjumpaan dengan Allah yang dikuatkan Firman Tuhan, menguatkan Kim dengan memilih motto: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut”,  yang membuat Kim cukup lapang dan segera bergegas menapaki panggilannya secara ril sebagai imam.

Kim menjadi Imam dalam Ordo Karmel pada 12 Januari 2018 di Biara Karmel Bt. Dionysius – Wairklau. Kim menamatkan pendidikan SD di kampungnya sendiri, Keja 2002, lanjut SMP Seminari Mataloko (2002 – 2005), SMA Seminari Mataloko (2005-2008), Novosiat Ordo Karmel Werouret-Nita Maumere (2008-2010), Kaul Pertama (2010), Studi Filsafat STFK Ledalero (2010-2014), Tahun Orientasi Pastoral di Seminari Maria Bunda Segala Bangsa (2014-2015).

Kim kemudian menerima Kaul kekal dalam Ordo Karmel (14 Agustus 2016), Studi S2 di STFK Ledalero (2015-2017), Tahbisan Diakon di Paroki St. Fransiskus Xaverius Habibola oleh Mgr. Kherubin Pareira, SVD (2 Juli 2017), Praktik Diakonat di Paroki Maria Kusuma Karmel Bu Nuaria (7 Juli – Desember 2017), dan ditahbiskan menjadi imam (12 Januari 2018). Dia mengadakan misa Perdana di kampung kelahirannya, Keja 24 Januari 2018. (edj)**

Wednesday, 10 January 2018


Oleh: Emanuel Djomba - 
Pegiat/Tuan Rumah Literasi Cermat Ngada -  


Mengenal dekat RD Arnold Dhae,  waktuku tiga pekan, antara pekan pertama hingga pekan ketiga Agustus 2016. Saat dimana saya bersama dua teman dan beberapa tokoh di Soa berjibaku dengan waktu merampungkan buku ‘Jejak Salib di Ebu Pu’u’ – Jejak pengalaman Iman 75 Tahun Gereja Katolik Paroki Soa dan 99 tahun pekabaran Injil di tanah Soa. Buku ini dikejar momen peluncuran bertepatan dengan perayaan Intan Paroki ini, sebulan kemudian tahun itu.

Untuk merampungkan buku tersebut, saya bersama dua sahabat harus ‘dikarantina’ di Susteran FMM, Soa oleh pastor yang murah senyum ini. Hari-hari kami selama tiga pekan itu, adalah hari-hari menulis semata. Meski dengan berat hati merampungkan buku hingga naik cetak karena waktunya sangat singkat, namun  RD. Arnold Dhae dan Wakil Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Martinus Meo yang kini juga sudah berpulang meyakinkan saya bersama tim mampu menyelasaikan tugas itu.

Sejak Mey, Juni dan Juli tahun itu, RD Arnold Dhae, Pr selalu mengikuti seluruh proses penulisan buku mulai dari mengumpulkan data dan berbagai informasi yang tercecer terkait dengan sejarah perjalanan iman umat di Soa hingga menjadi sebuah Paroki besar seperti saat ini. Agar lebih efektif, maka pastor kelahiran Waca, Nagekeo 16 Oktober 1954 ini mempertimbangkan agar proses penulisan dirampungkan di Susteran FMM karena suasananya  nyaman.

Dalam sepenggal  waktu, hari-hari kami berada di antara Susteran FMM dengan Pastoran Paroki Soa yang hanya terlampau jarak sekitar  300 meter. RD Arnold Dhae selalu mengunjungi susteran entah pagi sekaligus misa pagi, entah siang maupun malam. Begitu proses ‘karantina’ dimulai,  dia berpesan, “Jangan sampai lupa makan, supaya tidak sakit.”  Selanjutnya pastor yang pernah bertugas di Paroki MA. Maronggela, Maunori, dan Mataloko itu selalu nelpon jika jam makan tiba dan menunggu di meja pastoran Soa untuk makan bersama. Jika tidak berada di tempat, dia selalu berpesan kepada karyawannya agar tim penulis buku makan tepat waktu.

Ketika tim merampungkan penulisan buku “Jejak Salib di Ebu Pu’u”, RD Arnold Dhae juga merampungkan tiga tulisan yang menjadi bagiannya. Dia menulis prolog buku ini dengan judul “Jangan Meninggalkan Sejarah”, bab II dengan judul “Soa  Se Roga” –gambaran tentang masyarakat Soa dan pada epilog dengan judul: “Bangsa Peziarah”.

Melalui tulisan prolognya, RD Arnold Dhae menggambarkan sejarah nenek moyang orang Soa yang datang hingga ke Cekungan Soa sebagai bangsa Nomaden (pengembara) dan pemburu, selanjutnya mulai hidup menetap dalam komunitas. Dia juga menggambarkan kondisi geografis dan mata pencaharian orang Soa di hamparan yang subur di kelilingi gunung api dan sungai, gambaran tentang etos kerja orang Soa hingga kebudayaan orang Soa. Namun pada epilog buku ini, RD Arnold Dhae menggambarkan orang Soa sebagai ‘bangsa’ peziarah bersama Tuhan dalam komunitas basis hingga terbentuk dalam komunitas paroki. Ziarah ini bermuara pada satu simpul menuju Rumah Bapa.

Dari tulisan-tulisannya, saya mengenal lebih dekat dengan RD Arnold Dhae,  sebagai sosok yang cerdas, berkarakter, sederhana dan humanis. Tulisan-tulisannya bernas yang lahir dari pemikiran yang jernih dan kazanah pengetahuan yang diperkaya dengan pengalamannya dalam karya pastoral hingga menutup mata.
 
RD Arnold Dhae di antara pengurus DPP Paroki Soa
Sosok Literat

Di sela-sela kegiatan menulis buku, saya kadang sedikit ‘nakal’ mengintip aktivitas RD Arnold Dhae di ruang kerjanya – di pastoran Soa. Ruangan sekitar 4 x 4 meter itu ‘bak berdinding rak buku. Karena memang dalam ruangan segi empat itu berjejer rak yang dipenuhi ratusan bahkan mungkin 1000 judul buku. Mungkin perkiraan saya keliru, tetapi memang ruangannya penuh dengan buku-buku. Di atas meja kerja bertumpuk beberapa buku terbuka. Sebuah laptop selalu dalam keadaan terbuka. Menunjukkan bahwa dia sosok pembelajar. Tiada hari tanpa membaca, menulis. Meski begitu, tugas pastoral tak pernah dilalaikannya. Semua pelayanannya dituntaskannya hingga ke KUB.

Tidak berlebihan jika dikatakan dia sosok pembelajar. Dari tulisannya sangat kaya diksi sehingga dengan mudah merakit kata yang satu dengan kata yang lain. Itu juga tampak dalam komunikasi lisan, dia terlihat fasih namun diksinya sederhana sehingga mudah dicerna oleh berbagai lapisan umat. Tampilan yang sederhana menampakkan kesahajaan sosok yang gemar menggantung lega menyilang di posturnya yang tampak agak gemuk.

Saya seperti mendapat chemistry dengan pastor yang tak banyak mengeluh ini. Chemistri karena memiliki hobi membaca dan menulis. Tak heran jika dalam diskusi-diskusi santai di meja makan  banyak hal bisa diartikulasikan dengan baik dan mudah dicerna karena kaya akan pengetahuan.

Sekarang RD Arnold Dhae, sudah berpulang ke rumah Bapa di Surga. Raganya tak tampak lagi. Karenya, semua orang akan merasa kehilangan, khususnya umat di Soa. Namun bagi saya dia ada di sini. Sebagai manusia RD Arnol Dhae sudah tiada, namun melalui karya tulisnya semangat dan spiritnya tetap hidup sehingga membuat orang akan tetap mengenangnya. Melalui tulisan dia hidup, bahkan tidak akan ‘tenggelam’ dalam sejarah sebagaimana para pujangga. Hal ini mengingatkan saya pada ungkapan sastrawan Indonesia Pramudya Ananta Toer yang mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi jika ia tidak menulis maka dia akan tenggelam dalam sejarah dan masyarakat.” Dia cerdas, karenanya dia memiliki kemampuan menulis.

RD Arnold Dhae adalah sosok imam yang kaya akan ilmu dan terus belajar hingga Tuhan menentukan waktu baginya untuk kembali. Manusia yang berilmu bisa dikatakan sebagai manusia yang literat. Ilmu yang didapatkannya adalah hasil dari membaca, observasi, diskusi dengan orang yang menurutnya bisa dijadikan sebagai sumber informasi. Sosok yang literat haus akan informasi dan pengetahuan terbaru. Bisa menjadikan setiap situasi dan kondisi sebagai sumber belajar, dan setiap orang dimintai pendapat, tanggapan, atau jawaban sebagai gurunya. Dengan demikian, sosok literat adalah sosok pembelajar.
Sosok literat merupakan  hasil dari aktivitasnya dalam bidang literasi. Literasi bukan hanya diartikan sebagai aktivitas membaca dan tulis saja, tetapi juga mencakup keberpahamannya pada bidang-bidang tertentu, mampu memilih dan memilah informasi, berbudaya, serta mampu berkomunikasi dengan baik.
DPP Paroki Soa
Sosok  literat memiliki ketenangan dan kebijaksanaan dalam menyikapi sebuah masalah. Sosok literat itu berkarakter kuat, antara lain karakter sebagai pembelajar, rasa ingin tahu, berbagi ilmu pengetahuan.
Karena memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman dia bagai samudera yang dalam. Bagai cahaya yang menerangi dalam kegelapan, mampu menjadi penjelas bagi yang kurang jelas, mampu memberikan jawaban yang bagi yang bertanya. Jadi sosok literat  pada intinya mampu menjadi bagian dari penyelesaian masalah.
Dalam kaitan dengan sosok literat, tentu sangat dibutuhkan dalam membangun masyarakat. Karena RD Arnold Dhae seorang Imam, maka dia dibutuhkan oleh Gereja untuk membangun iman umat di manapun dia ditugaskan. Kekuatan sosok literat karena  dia memiliki daya kreatif, inovatif, kompetitif, sekaligus mampu mengembangkan sikap kolaboratif dengan berbagai pihak dalam menjalankan karya pastoralnya.
Sosok literat secara spesifik menggemari berbagai literatur dan memiliki kemampuan menulis. Kehidupannya diwarnai dengan aktivitas literasi sepanjang hayat. Secara umum makna literasi juga menunjuk pada sosok pembelajar. Dan hanya sosok-sosok pembelajar – manusia pembelajar – yang mampu membawa perubahan.
Di tengah rendahnya aktivitas berliterasi (belajar-membaca/menulis) saat ini, kita sebenarnya membutuhkan sosok semacam RD Arnold Dhae, melalui teladan-teladan positif tanpa kata. Kita kehilangan sosok literat itu setelah dia berpulang ke pangkuan Bapa di Surga. Meski begitu spiritnya ada di tengah-tengah kita. Dia sosok literat yang patut diteladani dan digemakan dalam aras zaman.

Tangal 9 Januari 2018 yang lalu RD Arnold Dhae,  berpulang ke pangkuan Bapa di Surga. Sosok yang dikenal ramah ini meninggal dunia setelah sempat dirawat di Semarang sejak Oktober 2017 lalu. Selamat jalan RD Arnold Dhae, - berbahagialah bersama para kudus di Rumah Bapa.***

Sunday, 2 July 2017


Menyambut pesta demokrasi pemilihan Gubernur NTT tahun depan, calon gubernur dan calon wakil gubernur gencar turun gunung. Deretan nama, kini kian panjang. Siapa di antara mereka yang sudah ‘menaklukan’ 3, 8 juta pemilih dari 5 juta lebih penduduk yang mendiami provinsi 566 pulau ini? Belum ada, kecuali Emanuel Melkiades Laka Lena. Melalui gawe ‘Sayembara Ayo Bangun NTT, Melki begitu biasa disapa dinilai banyak kalangan sebagai politisi muda yang memulai kerja politik dengan hati dan ‘pikiran/gagasan’ orang banyak.

Inilah kiat Melki Laka Lena melihat NTT dengan cara berbeda. Dengan cara baru. Meninggalkan konsep berpkir linear, yang dikerjakan oleh banyak orang. Ketika banyak calon pemimpin/politisi daerah ini melihat NTT dari depan, Melki justru melihat terbalik. Gagasan cerdas besutannya – Sayembara Ayo Bangun NTT – adalah cara Melki Laka Lena memandang NTT hari ini, melihat (mencermati) dari Belakang.

Kini, gawe yang menyita perhatian banyak orang di NTT sudah selesai digelar. Melibatkan banyak kecamatan. Semua kabupaten turun gunung untuk urun gagasan, pikiran dalam satu simpul ‘Ayo Membangun NTT’. Melalui ajang curah gagasan paling akbar ini, banyak sisi gelap jadi terang – benderang. Gagasan di ruang kedap diartikulasikan hingga ke permukaan bertolak dari isu-isu aktual NTT hari-hari ini. Ya! Sayembara bertajuk ‘Ayo Bangun NTT’ yang semula diragukan banyak pihak malah jadi hingar-bingar ke seantero tanah Flobamora. Semua peserta beradu gagasan dari kecamatan hingga tingkat propinsi. Melalui debat sengit peserta mengaduk pikiran jernih. Mengadu nyali dan kreatifitas komunitas paduan suara dari tiap kabupaten sembari menggelorakan Mars ‘Ayo Bangun NTT,’ dan ‘Membangun Kotaku.’

Melki menggugah hasrat rakyat NTT tercinta untuk bangun tanah yang sering dijuluki Flobamora ini. Memulai debutnya menuju pesta demokrasi dengan cara yang cerdas. Mulai bekerja dengan hati, menggalang pikiran/gagasan banyak orang. Sebab, menurut Melki, NTT tidak bisa dibangun dengan gagasan segelintir orang. Karena masyarakat daerah ini adalah pemilik sah propinsi NTT. Gagasan itu kemudian ditulis, dilombakan melalui debat, melalui kreativitas generasi muda hingga generasi paling senior, mulai dari rakyat biasa hingga pejabat dan politisi, mulai dari remaja (SMA) hingga kaum akademisi

Kelahiran Kupang, 10 Desember 1976 ini, mengajak semua kalangan untuk melihat orang-orang sekitar yang telah berbuat banyak meski di ruang ‘sempit’. Mereka yang pikiran dan tindakan tak pernah di dengar. Mereka ini dalam ‘kacamata’ Melki, adalah tokoh teladan di tempat dan zamannya sendiri. Yang menyumbangkan gagasan tindakan untuk bangun NTT, tetapi jarang dilihat, kurang didengar dan belum dihargai selama ini. Dan selama bertahun-tahun peranya diabaikan, kecuali peran dan pemikiran untuk kerja politik pemenangan. Dan, melalui kompetisi ini, gagasan dan tindakan para tokoh diartikulasi melalui tulisan para peserta sayembara yang kemudian menjadi masukan yang berharga dalam kerja-kerja politik ke depan. Kerja politik yang dimulai dari rakyat, oleh (bersama) rakyat dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.

Sayembara NTT diselenggarakan oleh Yayasan Tunas Muda Indonesia (YTMI) dimana Melki menjadi ketuanya. Kegiatan yang mulai digelar sejak awal tahun menyita perhatian, tenaga, waktu dan biaya tidak sedikit. Berapapun yang sudah dipertaruhkan, bagi Melki Laka Lena bukan apa-apa, dibanding dengan memburu gagasan/dan pemikiran bernas dari kampung ke kampung. Menumbuhkan kreativitas melalui lomba-lemba yang mendebarkan dan mengasah ketajaman generasi muda. Dari kompetisi-kompetisi ini tertanam hasrat membara, membangun jiwanya para pemilik masa depan – generasi muda. Karena esensi pembangun adalah membangun jiwanya, baru kemudian membangun raganya.

Sejak awal tahun itu, Melki harus melenggang ke daerah-daerah untuk kesiapan penyelenggaraan. Begitu juga ketika sayembara digelar, dia pun harus terus wara-wiri dari kabupaten ke kabupaten, hingga grand final di Ende awal Juni lalu. Pada saat grand final digelar, lomba debat dan paduan suara dari seluruh kabupaten dan kota di NTT menyatu dalam satu asa bernafas kompetisi. Menyusul pengumuman lomba menulis gagasan dan menulis tokoh teladan NTT yang diumumkan pekan kedua Juni di Timor.

Pergi ke berbagai daerah, mantan Sekjen PP PMKRI Pusat ini selalu disambut hangat. Tak sedikit yang memuji langkah politisi muda yang kini menjabat Wakil Sekjen DPP Partai Golkar itu. Bahkan tentang terobosan Melki ini mendapat apresiasi dari Dosen Filsafat Politik STFK Ledalero Pater Dr. Otto Gusti dan Analis Politik dari Fisip Unika Kupang Mikhael Rajamuda Bataona, sebagaimana dilansir Tabloid Seputar NTT. Dr. Otto Gusti sendiri menilai terobosan Melki Laka Lena sebagai gagasan cerdas. Apa yang dilakukan itu adalah bentuk kerja nyata untuk membawa perubahan bagi NTT. Sementara, Rajamuda Bataona menilai fenomena Melki Laka Lena – politisi muda berkarakter itu dapat mengisi ruang kejenuhan publik pada politisi tua yang jika diadu dalam survey pun bakal ‘terjungkal.’

Apa yang dikatakan Dr. Otto Gusti dan Rajamuda Bataona seperti menjadi simpul gerakan tokoh muda partai Golkar ini menggalang gagasan dan menggerakkan orang muda. Sebagai provinsi dengan wilayah darat dan laut yang luas, NTT memerlukan peran kaum muda dengan menggelorakan kerja praktis di berbagai lini. Menyetir pendapat Rajamuda Bataona, maka sebagai kader muda, Melki harus selalu siap jika amanat itu dipercayakan kepadanya.

Persoalan klasik NTT yang tidak pernah lekang dari stigma kemiskinan mendorong Melki untuk melakukan terbosan tidak biasa. Untuk membangun daerah ini perlu gagasan alternatif manakala para elit masih berkutat pada pemikiran linear banyak orang, namun terjebak pada rutinitas tak produktif. Pola kerja linear ini yang membuat masyarakat seakan apatis sehingga tidak mengalami perubahan.

Stigma kemiskinan seolah tak pernah hengkang dari NTT. Meski daerah ini memiliki potensi cukup untuk membuat rakyatnya sejahtera jika dikelola dengan baik dan kreatif. Memang, selama ini para politisi sudah terlanjur melihat NTT dari depan, sehingga terlihat tidak pernah beranjak maju (berubah). Kini sudah terlalu berat untuk menarik beban itu. Malah menuntut harus berpikir dan bertindak beda. Berpikir dan bertindak baru, yaitu melihat NTT dari belakang. Baru kemudian dapat melihat dengan jelas potensi besar yang dimiliki, dan yang dilakukan adalah mendorong. Dengan potensi dan peran serta berbagai kalangan,  kekuatan dorongan bakal jauh lebih dahsyat, ketimbang hanya ditarik oleh segelintir elit yang datang setiap kali gawe politik menawarkan untuk menarik NTT dari lubang kemiskinan, tetapi beban itu tak pernah tuntas.

Melalui Sayembara Ayo Bangun NTT, dalam waktu tidak terlalu lama, Melki Laka Lena sudah roadshow dari kabupaten ke kabupaten bahkan pulau-pulau di propinsi NTT. Melalui gema kegiatan ini dia mengirim sinyal kepada NTT bahwa untuk membangun daerah ini bukan hanya berada di tangan para politisi dan atau birokrat, melainkan sangat dibutuhkan keterlibatan dan partisipasi dari masyarakat umum, sejak tahap perencanaan, evaluasi, pelaksanaan, sampai dengan pengawasan.  Alumni Sekolah Menengah Farmasi Kupang dan S1 Fakultas Farmasi Sanata Darma Jogyakarta ini mau mendengarkan suara akar rumput. Apa yang masyarakat rasakan, geluti, dan alami selama ini dalam berbagai bidang kehidupan. Kegiatan yang digagas oleh alumni SMPK Ndao, SMP Seminari Pius XIII ini juga mau meminimalisir adanya stigma terhadap propinsi NTT dengan pelesetan sebagai Propinsi “Nasib Tidak Tentu” dan “Nanti Tuhan Tolong”

Guna memperoleh gagasan bernas di lapis bawah (masyarakat) digelar kegiatan yang dimulai dengan diskusi gagasan dalam berbagai bidang kehidupan di NTT seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, keamanan, pariwisata, hukum dan keamanan, Human tracfiking, dan lingkungan hidup. Isu-isu ini menjadi agenda seksi yang selalu dibicarakan oleh berbagai kalangan disetiap kaupaten ketika berdiskusi bersama putra Ende Flores ini. Bakal calon Gubernur NTT ini begitu serius menyimak semua kompleksitas permasalahan, dan saran yang disampaikan oleh semua lapisan masyarakat pada saat berdiskusi. Masyarakat yang hadir dalam diskusi ini selalu menitipkan pesan agar ketika nanti terpilih sebagai gubernur NTT mampu mewujudkan harapkan masyarakat NTT menjadi lebih baik dan bermartabat.

Dalam berbagai forum gelar Sayembara Ayo Bangun NTT, dihadapan masyarakat yang hadir, Melki demikian sapaan akrabnya, selalu tampil sederhana dan santun dalam berkomunikasi. Dirinya menyampaikan bahwa, kegiatan ini sengaja digagas olehnya melalui Yayasan Tunas Muda Indonesia (YTMI) agar bisa mewadahi semua pemikiran dan gagasan masyarakat NTT untuk menata propinsi NTT kedepan yang lebih baik. Menurutnya, kegiatan ini bebas dari kepentingan politik, karena itu banyak diikuti oleh berbagai kalangan termasuk para politisi di luar partai Golkar. Orang merasa tertarik dan respek dengan kegiatan yang belum pernah diprakarsai siapapun ini. Pejabat Negara sekalipun belum pernah melakoni kegiatan yang melibatkan seluruh masyarakat NTT sebagai makna atas momentum hari lahirnya propinsi NTT yang ke 58.

Dalam catatan media, ketika kunjungannya ke setiap Kabupaten/Kota, Melki selalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat di 21 kabupaten Kota Se NTT. Ekspresi sambutan masyarakat melalui tarian adat, sesungguhnya mengungkapkan ekspektasi besar masyarakat kepada mantan calon wakil Gubernur NTT periode 2013-2018 untuk menjadi Gubernur NTT periode 2018-2023. Masyarakat merespons positif gebrakan seorang tokoh muda dengan melibatkan banyak orang dari berbagai lapisan. Karena publik menilai siapapun dia yang maju dalam pemilihan Gubernur NTT dan kelak menjadi Gubernur, harus berani melakukan gebrakan dan terobosan yang radikal dan revolusioner, serta memahami karakteristik NTT, baik alamnya maupun tipilkal masyarakatnya, terlebih gagasan dan pemikiran yang bernas dari berbagai lapisan.

Gelar akbar ‘Sayembara Ayo Bangun NTT’ sudah usai. Namun, pembicaraan seputar kegiatan ini belum usai. Tugas sang politisi ini pun belum selesai. Gagasan/dan pemikiran bernas masyarakat yang diwadahi melalui sayembara perlu ditenun kembali menjadi gagasan yang utuh sebagai sumbangan pemikiran membangun NTT. Gagasan dan pemikiran yang menggambarkan kondisi ril NTT oleh orang-orang NTT sendiri – titipan untuk ‘Bung Melki’ menuju NTT 1.  Melki juga harus terus merenda semangat membara yang ditunjukkan para generasi muda dari 21 kabupaten kota melalui gerakan kreativitas yang sudah digemakan melalui lomba paduan suara – mengembangkan layar memayungi rakyat di tanah Flobamora. Meramu dari gagasan yang sebelumnya tercecer di berbagai plosok dalam suatu gita nusa (nyanyian merdu untuk NTT). Merangsek maju membawa semangat juang para muda dari berbagai latar belakang – merajut kebersamaan tanpa sekat yang sudah jadi kekayaan tanah pusaka.

Sebuah ungkapan mungkin tepat dialamatkan kepada sosok yang kini digadang-gadang banyak kalangan untuk memimpin NTT: “Jawaban yang salah merupakan jawaban yang benar untuk pertanyaan berbeda.” Ada banyak jawaban yang salah dalam membangun NTT. Pengalaman berulang-ulang selalu menjadi guru yang baik, karenanya, Meliki menggunakan jawaban salah yang sama untuk pertanyaan berbeda. Sayembara Ayo Membangun NTT adalah pertanyaan berbeda – pertanyaan baru, untuk  mendapatkan jawaban itu. “Setiap kali mengalami kegagalan, akan terdorong  mempelajari sesuatu yang baru. Kegagalan adalah guru yang jauh lebih baik ketimbang keberhasilan,” kata orang bijak.

Memulai debutnya menuju NTT 1, Melki  memandang NTT dengan cara berbeda. Ketika banyak politisi melihat dari depan, dan selalu subyektif, Melki justru menerobos lintas batas melihat dari belakang, apa sesungguhnya ganjalan sehingga tak pernah bisa ditarik maju. Ibarat: saat bertandang ke rumah sahabat, ia tidak hanya duduk manis di ruang tamu dan mendengarkan tetapi juga berada di belakang untuk mengetahui apa yang mereka punya. Seorang pemimpin harus mampu melihat dari sisi berbeda. Pemimpin semacam ini tipikal pemimpin yang rendah hati, namun kreatif, berintegritas, dan jujur.

Mungkin Melki berpikir lateral, yang  dimulai dengan menulis seluruh gagasan-gagasan dominan yang berlaku dalam situasi kita dan sengaja mengkritiknya melalui adu gagasan dengan mempertemukan banyak orang dari berbagai elemen.  Melalui kompetisi gagasan berupaya membalikan setiap asumsi dan gagasan yang dominan yang selalu dianggap benar.  Perjuangan belum berakhir, ketika masih banyak harapan yang datang kepadanya, seperti sebaris pantun berikut ini:  “Jika beredar uang palsu cermati saja yang asli – Jika  banyak calon gubernur, pastikan saja pada Melki.” (Emanuel Djomba)***

Monday, 1 May 2017


BAJAWA – Rasa haru mewarnai pelepasan secara kenegaraan, jenazah Thomas Dola Radho di gedung DPRD Ngada, Senin (01/04/2015) siang.  

Prosesi perkabungan itu dipimpin Ketua DPRD Ngada Helmut Waso didampingi unsur pimpinan lain, Selly Raga Tua dan Dorothe Dhone, anggota DPRD Ngada, Sekda Ngada Meda Moses, pimpinan SKPD, undangan, keluarga, kerabat dan kenalan, masyarakat dan simpatisan.

Upacara kenegaraan itu ditandai dengan penyerahan jenasah oleh putra almarhum, Heru Dola Radho – dengan menyerahkan foto almarhum, kemudian diterima oleh Ketua DPRD Ngada Helmut Waso di tangga gedung dewan. Selanjutnya jenasah Ketua DPRD Ngada 2004 – 2009 itu di semayamkan di ruang Paripurna guna melanjutkan upacara secara kenegaraan.

Sebelum dilepas dari gedung wakil rakyat itu, Pimpinan DPRD memberi pengormatan terakhir sebelum jenazah diserahkan kembali kepada keluarga, diikuti anggota DPRD, dan pimpinan SKPD memberikan penghormatan terakhir kepada Ketua DPRD Ngada periode 2004 – 2009 itu.

Usai upacara, jenazah Tokoh yang dikenal sangat dekat dengan berbagai kalangan itu diserahkan kembali kepada keluarga untuk dimakamkan. Prosesi pemakaman diselenggarakan pada petang hari, setelah upcara misa requiem di Gereja St. Yosef Bajawa.

Sebelumnya sekitar pkl. 11.00 wita jenazah tokoh inspirator dan motivator Ngada itu dilepas dari rumah duka dengan ritual adat. Iring-iringan kendaraan yang membawa jenazah kemudian menuju kantor Yasukda. Di kantor yayasan ini Jenazah disemayamkan sekitar dua jam, diwarnai doa dan nostalgia keluarga besar perguruan Katolik,  mengenang tokoh yang pernah memimpin yayasan yang memayungi sekolah-sekolah Katolik di Kabupaten Ngada dan Nagekeo itu.

Dari sana, iringan kendaraan membelah kota dingin Bajawa yang siang itu tampak cerah menuju Gedung DPRD Ngada untuk upacara pelepasan secara kenegaraan. Thomas Dola Radho memang politisi fenomenal selama dirinya masih hidup baik dalam kehidupan soal kemasyarakatan maupun poilitik. Dalam politik dia pernah memimpin Partai Golkar hingga menjadi anggota dan Ketua DPRD Ngada, dan anggota DPRD Provinsi NTT.

Tangis dan rasa haru mengiringi iring-iringan jenazah Thomas Dola Radho, sejak dari rumah duka hingga kemudian menuju Gereja Katolik S. Yoseph untuk misa requiem. Dia  selalu diterima dengan hangat seperti halnya dia selalu menyongsong semua orang dengan kehangatan semasa hidup. Hari dia pulang pun, diiringi dengan penuh rasa haru dan ratap tangis. Bukan hanya keluarga, tetapi semua orang yang pernah mengenalnya.

Rasa haru dan duka yang mendalam juga datang dari Bupati Ngada Marianus Sae yang secara khusus datang melayat di rumah duka sebelum prosesi pemakaman. Demikian juga Ketua DPRD Helmut Waso serta semua anggota dewan menunjukkan rasa haru karena kehilangan sosok yang santun dan berkarakter itu.

Bupati Ngada Marianus Sae dalam sambutan yang disampaikan Sekda Ngada, Meda Moses mengatakan, “hari ini kita telah kehilangan seorang yang begitu berjasa bagi bangsa, khususnya kabupaten Ngada. Saya katakan, bahwa hari ini Ngada kehilangan tokoh besar – Mosalaki besar. Mosalaki yang cerdas dalam berpikir dan bergagasan, santun dalam bertutur, tegas dalam bertindak, dan berani berkorban untuk orang lain.”

Kesan Bupati Marianus, Thomas Dola Radho adalah mosalaki yang melayani untuk kebaikan hidup banyak orang. Hari ini kita memberi penghormatan kepadanya di gedung dewan ini. Tempat dimana Thomas Dola Radho pernah memberi dirinya untuk kesejahteraan hajat hidup seluruh orang Ngada, baik sebagai anggota DPRD Ngada periode 1982 – 1987, anggota DPRD Propinsi 1987 – 1992, maupun sebagai Ketua DPRD Ngada periode 2004 – 2009.
Ia politikus sejati, tokoh pendidikan, tokoh koperasi, pegiat kesehatan, tokoh awam sejati. Dia memberi diri secara total bagi kemajuan dan kesejahteraan rakyat Ngada.”

Di bagian akhir, Bupati Marianus mengajak, agar spirit Thomas Dola Radho digemakan karena hidup itu penuh dengan problematikanya, sehingga harus dihadapi dengan tekun, cerdas, santun dan sabar, seperti halnya Thomas Dola Radho menunjukkan sikapnya dan keteladanannya. Memberi terbaik dalam tugas dan pengabdian kita. Sebagai rasa hormat karena kehilangannya, maka kita harus memampukan diri kita untuk kuat dan teguh dalam melanjutkan karya-karya dan pengabdian yang telah dia wariskan.

Jenazah tokoh inspirator dan motivator, Thomas Dola Radho, dimakamkan di Taman Makan Wolo Baja, setelah misa requiem di Gereja Katok Santo Yoseph Bajawa, Senin petang. (ed)***

Insert foto: Suasana pelepasan jenazah Thomas Dola Radho secara kenegaraan

Saturday, 29 April 2017


BAJAWA – Ini momen terakhir sarat makna bersama sang inspirator dan motivator, Thomas Dola Radho. Ketua DPRD Ngada periode 2004 – 2009 ini memenuhi undangan Kooperasi Media & Literasi, dalam gelar Launching kooperasi ini dan Relaunching MEDIA CERMAT,  Selasa (11/04/2017) di Rumah Pintar KPU Ngada.  Sosok yang bila berjumpa dengan siapa saja selalu memberi semangat dengan menepuk pundak itu tampak bersemangat dan segar bugar.

Begitu tiba di Rumah Pintar KPU, Thomas disambut hangat para undangan dan duduk bersebelahan degan Ketua KPU Ngada Thomas Jawa. Sebelumnya, sosok yang gencar mengampanyekan budaya literasi – membaca & menulis – sejak  lama ini,  memilih duduk di kursi paling belakang. Namun beberapa pejabat yang hadir termasuk Ketua KPU Thomas Jawa menyongsongnya mengantarnya duduk di barisan kursi paling depan.

Dia juga menyalami Pemimpin Umum/pemimpin Redaksi MEDIA CERMAT, Emanuel Djomba. Kepada  Djomba, Thomas menanyakan sesuatu . “Kau bikin koperasi apalagi ini,” kata Thomas singkat.

Dia mengikuti rangkaian kegiatan launching hari itu  dengan seksama. Mencermati setiap pembicaraan dan sambutan selama berlangsungnya kegiatan. Thomas tampak  nyaman di ruangan itu. Dia baru diberi kesempatan bicara pada sesi dialog usai launching produk media kooperasi.

Banyak isu diangkatnya ke permukaan. Terkait dengan Launching Kooperasi Media & Literasi dengan produknya, Thomas tampak fokus dan memberi beberapa penekanan. Momen itu seakan membangkitkan kembali kenangannya di masa lalu. Manakala dia selalu memberi motivasi kepada orang yang dijumpainya agar rajin membaca, dan selalu sisihkan uang untuk beli buku. Para guru di era dirinya jadi Ketua Yasukda diwajibkan sisihkan rupiah untuk beli buku.  Guru, kata dia, mana bisa mendidik dengan baik kalau malas baca. Itu kenangan yang sedikit dibukanya ketika memorinya dirangsang dengan wacana literasi.

Soal berdirinya Kooperasi Media & Literasi, Thomas memberi apresiasi kepada para intelektual muda yang sudah mulai. Bagi Thomas, ini sungguh gagasan cerdas dalam rangka menumbuhkan budaya literasi – melek media/baca/tulis – bagi masyarakat yang era ini sudah melorot akibat digempur dominasi gadget. Tatapi menurut dia, gadget tidak bisa meggantikan buku.

“Saya harap kooperasi ini menjadi wadah perjuangan untuk terus menumbuhkan budaya literasi bagi masyarakat dan bukan wadah untuk persaingan. Sesuai dengan semangatnya, kooperasi menuntut keterlibatan semua unsur yang ada di dalamnya,” pesan Thomas.

Thomas memberi motivasi kepada Crew Kooperasi Media & Literasi dan MEDIA CERMAT agar tidak berhenti berjuang untuk kebaikan banyak orang. “Ini tugas mulia yang sudah kalian pilih, karena itu harus komit dan berjuan terus, jangan berhenti.

Bagian akhir pesannya,  Thomas Dola Radho yang ketika itu terlihat masih segar sempat mengatakan, “Ini Kooperasi aneh. Saya mau jadi anggotanya.” Pernyataan Thomas sekaligus menutup komentarnya dan disambut  aplaus para undangan yang hadir.

Ternyata pesan di Rumah Pintar KPU Ngada itu adalah pesannya yang terakhir kepada publik. Thomas Dola Radho, engkau luar biasa. Selamat berbahagia di Rumah Bapa di surga. Spiritmu tak lekang dalam dada masyarakat Ngada.

Tampak hadir pada saat itu, Asisten 1 Setda Ngada Emanuel Dopo,  Ketua Kooperasi Media dan Literasi Bernadinus Dhey Ngebu, Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Gerardus Reo, Kadis Pertanian Paskalis Wale Bai, Kadis Perikanan Korsin Wea, Kadis Kominfo Moi Nitu Anastasia, Ketua KPU Thomas Jawa beserta komisioner lainnya, Penasehat/Pengawas & Pengurus Kooperasi Media dan Literasi, unsur LSM, Organisasi Kepemudaan, Rohaniwan, unsur pers dan undangan lainnya. (ch)***

Thomas Dola Radho berpulang  ke rumah Bapa di Surga. Buku kehidupannya telah ditutup. Meninggalkan spirit menginspirasi generasi. Tokoh multi talent itu tutup usia, Kamis (27/04/2017) di Jakarta. Mantan Ketua DPRD Ngada ini menghembuskan nafas terakhir di rumah putranya Heru Dola Radho, dalam dekapan istri (Mama Rebeka)  dan kehangatan anak cucu. Tangis keluarga memecah keheningan malam di Perumahan Pulo Gebang Indah, Blok J 10 No 20, Cakung, Jakarta Timur.

Sekitar pkl. 21.30 WIB, Thomas masih sempat  makan malam bersama istri, anak, menantu dan cucu.  Selanjutnya cerita santai dan sesekali bercanda dengan cucunya, Dola Radho kecil. Tak ada tanda-tanda Thomas bakal berpulang. Semua dalam suasana akrab penuh canda dan tawa. Sesekali memberi wejangan kepada keluarga tentang berbagai hal. “Kami tidak menyangka bapak (Thomas-Red) akan pergi untuk selamanya malam itu,” kata Herus Dola Radho menjawab MEDIA CERMAT yang menghubunginya melalui ponsel, Jumat (28/04/2017).

Sejam kemudian dari suasana santai malam itu, kondisi Thomas terlihat  berubah dan drop. Denyut jantung berpacu lebih cepat dari biasanya setelah melakukan tensi. Namun kemudian berubah dan terus menurun detak jantungnya. Hingga terkulai lemah di pangkuan mama Rebeka. Semua terjadi begitu cepat hingga sekitar pkl 22.30 WIB, Thomas ‘pamitan’ dengan hembusan nafas terakhir. Memang sempat dilarikan ke Rumah Sakit St. Caraolus, tapi  Thomas tak tertolong.

Dikatakan Heru, ayahnya ke Jakarta setelah hari Paskah untuk melakukan operasi jantung. Indikasi sakit jantung sudah terdeteksi sebelum paskah ketika itu Thomas ke Jakarta melakukan chek up. Saat itu diketahui  Thomas ‘mengidap’ penyakit jantung. Ini sebagai komplikasi dari sakit gula yang dideritanya selama 27 tahun yang menyebabkan fungsi jantung menurun hingga hanya 40 persen. Dari hasil chek up diketahui terjadi banyak penyumbatan akibat komplikasi gula darah.

Saat-saat terakhir bersama keluarga, Thomas tidak memberi pesan khusus. Namun sepekan sebelum ia berpulang, Thomas sempat memberi motivasi  agar orang muda harus terus berkreasi, inovatif dan kerja keras. Ia menaruh perhatian pada banyak hal, terutama pada pembangunan orang muda. Karena bagi dia untuk membangun masa depan bangsa dan gereja harus piawai ‘merawat’ orang muda. Di berbagai kesempatan,  dari kulumnya selalu meluncur  turur yang sejuk dan menyulut semangat siapa saja yang mendengarnya.

Bagi banyak orang yang mengenal dekat dan berkiprah bersamanya, Thomas bagai telaga yang tenang, hening dan memberi kedamaian. Sosok yang selalu merangkul.  Dia sosok mentor yang hebat, pemimpin berkarakter.  Thomas bukan hanya seorang guru, tetapi juga pendidik. Mendidik publik agar lebih bermartabat dengan potensi yang dimiliki sendiri dan bukan diadopsi dari tempat lain. Membangun orang lain dengan menggali apa yang dimiliki orang itu. Setiap orang, bagi Thomas memiliki kekayaan dan kelebihan agar mampu melangkah dengan kekuatan sendiri. Dia mendidik orang mencapai kemandirian.

Dia tokoh yang peduli pada dunia literasi. Jauh sebelum wacana literasi digemakan seperti sekarang, Thomas sudah giat kampanye pentingnya membaca dan menulis. Guru dipaksanya harus bisa membeli buku, giat mencari pengetahuan. Hingga masa senjanya, Thomas terus ‘bersafari’ untuk menggemakan pentingnya membaca. Terakhir dia mendirikan Rumah Baca ‘Thomas Dola Radho’ bersama keluarganya. Rumah baca dengan namanya sendiri memang menjadi monumen hidup yang akan terus menjadi cerita akan sosok yang satu ini. Rumah baca ini didirikan sebagai dedikasinya terhadap dunia literasi bagi publik, dan menyumbangkan buku di perpustakaan pribadi, juga buku yang diadakan oleh putranya, Heru Dola Radho.

Thomas adalah politisi pembelajar. Intelektual yang tidak pernah berhenti belajar. Di mana saja dan kapan saja.  Pemikirannya bernas menghadapai berbagai kepentingan. Pemimpin yang solutif  dan respek dalam mengatasi berbagai persoalan. Kesan ini ditangap oleh Politisi muda Partai Golkar, Klemens Babo. Dia menyebut Thomas sebagai tokoh panutan dan guru politik. Bagi Klemens, Thomas adalah  oasa di tengah hiruk pikuknya kehidupan sosial, politik,  ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan. Dia terus mengalirkan air segar, pemikiran cerdas. Tidak pernah kering.

Tentang Thomas Dola Radho dan apa kiprahnya di Ngada, Nagekeo, Flores bahkan NTT, siapa yang tidak mengenal. Bukan sekedar nama. Tetapi nama yang dikenal dari tutur tindaknya selama hidup. Guna mengatasi kesulitan ekonomi bagi guru-guru, dia menjadi salah satu pendiri Koperasi Sangosay yang digagas oleh Yasukda. Waktu itu banyak guru dipaksanya masuk koperasi. Paksaan itu berbuah manis hari-hari ini. Di kancah politik, kiprahnya dicatat di DPRD Propinsi NTT. Menjadi anggota DPRD Ngada dan Ketua DPRD Ngada 2004 – 2009. Ketua Komisi pendidikan Keuskupan Agung Ende  delapan tahun, Ketua Yasukda dan masih banyak lagi.

Kiprah Thomas Dola Radho tak bisa dihitung, ketulusan dan kebaikan memperjuangkan dan membangun masyarakat Ngada tak dapat ditakar.  Masyarakat Ngada, tau siapa sosok yang selalu tampil sederhana dan bersahaja ini. Kata-katanya sederhana namun penuh daya dari kulumnya yang tulus membakar semangat.

Kini buku kehidupannya sudah ditutup. Dia tak lagi menulis dalam tutur, dan karya. Namun spiritnya menjadi daya bagi banyak orang yang telah mengenal dan tau kiprahnya. Karena itu, hari ini dia pulang, namun dia hidup pula melalui spirit. Dia berpulang dalam usia 67 tahun. Kelahiran Poma, Riung Selatan,  24 Maret 1950 ini meninggalkan Mama Rebeka, dua putra, satu putri dua menantu, dua cucu dan keluarga besarnya. Selamat jalan Thomas Dola Radho!  Berbahagialah bersama para kudus Allah! (emanuel djomba)***

Monday, 31 August 2015

VigoNews Hadir untuk Anda

Media berita online www.vigonews.com adalah media berita yang lahir di tanah Ngada. Media ini digawangi wartawan senior Ngada, Eman Djomba.
Wartawan yang lama berkarir di media harian Fajar Bali Denpasar ini, memiliki impian membangun media pemberitaan di daerah kelahirannya.
Dalam proses pencarian itu, pemilik koran Cermat ini memutuskan menghadirkan media online dengan nama lokal: Vigo....ya nama sejenis pohon yang amat melegenda di kampung halamannya.