Responsive Ads Here
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Wednesday, 14 March 2018

Tim Dinkes Ngada melakukan survey di Meliwaru menjadi desa PHBS terintegrasi -  
BAJAWA, vigonews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada melakukan survey di Desa Meliwaru, Kecamatan Soa untuk menjadikan desa itu sebagai desa contoh PHBS terintegrasi. Kegiatan survey dilakukan dari rumah ke rumah,  selama dua hari, sejak Rabu (14/03/2018).

Tim dari Dinkes Ngada yang melakukan survey, yakni: Yohanes Vianey Wonga (Kepala Seksi Promkes), Linus Timotius Dopo (Analis Promkes Ngada – Magister Hukum Kesehatan), Yohanes Don Bosco Ponong (Mentor  Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Informasi Sadar Sehat), Agustina Woli, Martinus V. Ndona (Staf Seksi Promkes), melibatkan Fransiska Dhiu dan Theresia Ngao Sada (Tim dari Puskesmas Waepana).

Kegiatan survey PHBS terintegrasi didamping oleh kepala Dusun Nepa Maria Valentina Mau, kepala seksi pelayanan Martha Beo, dan kepala seksi kesejahteraan Katarina Ripo semuanya dari unsur perangkat desa Meliwaru kecamatan Soa.
 
Tim Dinkes Ngada
Tim Dinkes Ngada dibagi dalam dua tim, yang  kemudian menyebar di tiga dusun selanjutnya ke masing-masing RT yang telah dibagi. Adapun profil pemerintahan Desa Meliwaru terdiri dari tiga dusun dan delapan  RT yakni, Dusun Meli terdiri dari dua RT, Dusun Nepa tiga RT, dan Dusun Waru  tiga RT dengan jumlah KK di Desa Meliwaru secara keseluruhan 105 kk, dan rata-rata disetiap RT terdapat 17 sampai 20 kk.

Kepada vigonews.com, Kamis (15/03/2018)  Analis Promkes Linus Timoteus Dopo yang juga penemu program PHBS terintegrasi pada Dinkes Ngada Ngada ini menjelaskan bahwa, survey ini harus dilakukan secara terici dan data yang diberikan setiap KK harus berdasarkan hasil wawancara akurat dari setiap KK. "Kita harus lakukan ini secara cermat dengan mewawancarai langsung KK tersebut, guna mendapatkan data yang akurat," kata Linus Dopo.

Menurut mantan kepala tata usaha Rumah Sakit Umum daerah Ngada ini, 11 parameter yang disurvey yakni, PHBS, Keluarga sadar gizi, rumah sehat, kependudukan, pendidikan/pekerjaan, hak politik, belkaga, program Indonesia Sehat pendekatan keluarga (PIS PK), riwayat penyakit, dan golongan darah. "Apabila kita lakukan ini secara tepat dan benar, maka data ini akan berguna bagi sektor kesehatan juga sektor lain," ujar Linus Dopo.
 
Don Bosko Ponong & Linus Dopo
Kepala Desa Meliwaru Falentinus Noke menyampaikan apresiasi kepada pemerintah kabupaten Ngada melalui Dinkes Ngada yang telah menjadikan desanya sebagai desa contoh PHBS. "Saya dengan senang hati, menerima status desa saya sebagai desa contoh PHBS terintegrasi. Tentunya ini semakin menyadarkan masyarakat saya di bidang kesehatan," kata Velen Noke.

Noke berjanji mengalokasikan melalui dana desa tahun 2019 untuk kegiatan PHBS terintegrasi sebesar Rp 25 juta rupiah. "Bagi saya dana desa saat ini prioritas bidang pemberdayaan. Jangan sampai kita orientasi fisik tetapi banyak masyarakat yang sakit, ini mau jadi apa," katanya.(YDP)***

Wosk Sho Penguatan kapasitas PPNI diikuti oleh para perawat di Kabupaten Ngada -  


BAJAWA, vigonews.com – Sebanyak 215 perawat di Kabupaten Ngada yang tergabung dalam Perhimpunan Perawat Indonesia (PPNI) mengikuti kegiatan penguatan kapasitas, Jumat (09/03/2018).

Penguatan kapasitas itu meliputi materi keperawatan berkelanjutan, online, sosialisasi uji kompetensi pindah jenjang jabatan fungsional perawat, dan hak hokum perawat. Kegaiatan yang dikemas dalam work shop PPNI ini digelar di aula Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada.

Ketua Panitia Workshop PPNI Ngada,  Martinus V.Ndona, S.Kep, Ners, M.Sc mengatakan kegiatan merupakan amanat Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Mempan RB) Nomor 25 tahun 2018. Regulasi ini mensyaratkan beberapa jabatan tertentu (JFT) seperti perawat, perawat gigi, rekam medik untuk mengurus kenaikan jenjang jabatan yang lebih tinggi harus bisa lolos uji kompetensi.

Namun pada kenyataannya  belum semua lembaga pembina menyelenggarakan uji kompetensi. Martinus demikian sapaan akrabnya menambahkan, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 Tahun 2017 tentang penyelenggaraan uji kompetensi jabatan fungsional kesehatan menyatakan bahwa uji kompetensi jabatan fungsional adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja pejabat fungsional kesehatan yang dilakukan oleh tim penguki dalam rangka memenuhi syarat kenaikan jenjang jabatan setingkat lebij tinggi.

"Sumber daya manusia yang profesional dan kompoten merupakan hasil dari upaya pengembangan SDM yang konsepsional, konsisten dan berkesinambungan yang biasanya dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan serta pengembangan karier," pinta Martinus Ndona.

Sementara, Ketua DPD PPNI Ngada Siprianus Depa, SST.MM, dalam sambutannya mengatakan pendidikan  keperawatan berkelanjutan (PKB) adalah kegiatan keilmuan dimana melalui wadah PPNI ini, anggota PPNI sekabupaten Ngada mendapatkan ilmu pengetahuan ter-update.

Menurut Siprianus Depa yang juga perawat puskesmas Aimere ini menjelaskan dengan pengguaan sistem informasi dilaman baru, pencatatan kegiatan keperawatan lebih muda terdokumentasikan dan lebih dan lebih transparan. Selain itu perawat senyior ini melanjutkan, simulasi penggunaan SI PPNI akan meningkatkan pemahaman dan kepada anggota diharapkan agar mulai memggunakannya untuk kepenteingan pembelajaran keperawatan berkelanjutan.

Materi hak hukum perawat yang akan disampaikan oleh pak Linus Dopo sebagai satunya-satunya magister hukum kesehatan di kabupaten Ngada harus bisa dimengerti oleh rekan-rekan seprofesi perawat. Karena pekerjaan-pekerjaan kita sebagai perawat, erat kaitannya denga permasalah hukum" beber ketua DPD PPNI Ngada Sipri Depa.
 
Para narasumber
Miliki STR

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada Agustinus Naru dalam sambutannya ketika membuka kegiatan workshop tersebut mengatakan, legalitas praktik keperawatan yang artinya semua perawat yang dipekerjakan harus memiliki lisensi berupa surat tanda registrasi (STR). Hal itu menunjukan perawat benar-benar cakap dan berkompoten dalam melaksanakan tugas keperawatannya yang selanjutnya diikuti dengan SIP.

Menurut mantan sekretaris dinas sosial (Sekdinsos) Ngada ini, STR dan SIP ini sejalan dengan Permenkes dan standar pelayanan minimal. Kepala Dinkea yang akrab disapa Gusti ini menuturkan, kedepan dinkes Ngada akan berupaya dan memfasilitasi urusan lisensi STR bagi para perawat yang belum miliki STR.

"Seorang perawat harus meiliki lisensi berupa STR sebagai legalitas praktik keperawatan. Kedepan Dinkes Ngada akan berupaya untuk memfasilitasi urusan STR bagi para perawat yang belum miliki STR," ujar Gusti Naru disambut aplus ratusan perawat yang hadir dalam ruangan.

Pantauan media ini, workshop penguatan kapasitas perawat yang digelar oleh DPD PPNI Ngada ini menghadirkan empat orang narasumber yakni pertama,kepala UPTD Latnakes Provinsi NTT bapak Appolonaris T.Berkanis,S.Kep, Ns.MH.Kes menyajikan materi sosialisasi uji komptensi pindah jenjang jabatan fungsional perawat, narasumber kedua Linus Timotius Dopo, SST, MH.Kes memaparkan materi Hak Hukum Perawat, narasumber ketiga Ketua DPD PPNI Ngada Siprianus Depa, SST, MM menyuguhkan materi pendidikan keperawatan berkelanjutan online, dan pemateri keempat atau terakhir yang juga ketua panitia workshop Martinus V.Ndona, S.Kep, Ns,Msc menyampaikan materi Sistem informasi keanggotaan dan simulasi migrasi laman SI PPNHI ke laman baru.

Sala seorang peserta yang diwawancarai oleh awak media ini Dinasti Kristiningrum menyampaikan apresiasi kepada DPD PPNI Ngada yang telah menggelar kegiatan yang sangat ilmiah dan bermartabat. Menurut Dini yang bekerja di Puskesmas Soa ini, untuk waktu yang akan datang PPNI Ngada terus membuat kegiatan penguatan kapastias para perawat.

"Seiring perkembangan zaman dan kemajuan IPTEK maka kami sebagai tenaga perawat dituntut untuk terus membekali diri dengan pengetahuan keperawatan, sehingga dapat bekerja lebih profesional dan memuaskan masyarakat sebagai pengguna layanan," kata Dini.***

Oleh: Yohanes Don Bosco Ponong.

Saturday, 17 February 2018

Sekda Ngada Meda Moses bersama sejumlah pimpinan SKPD hadir di tengah warga Benteng Tawa Raya meresmikan Puskesmas Lindi -  

RIUNG BARAT, vigonews.com – Warga Benteng Tawa Raya, Riung Barat boleh tersenyum. Pelayanan kesehatan di wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Nggarai Timur itu tak perlu jauh-jauh ke puskesmas pusat di Maronggela. Apalagi menuju pusat kecamatan Riung Barat di Maronggela harus berputar melewati empat kecamatan.

Sekda Ngada, Meda Moses meresmikan Puskesmas Lindi itu, Selasa (13/02/2018). Peresmian puskesmas yang terletak di Desa Benteng Tawa itu ditandai dengan gunting pita dan pembacaan naskah peresmian, dan surat ijin operasional pelayanan puskesmas. Meda Moses juga menyerahkan mobil almbulance dan mengukuhkan pelaksana tugas (Plt) Kepala Puskesmas Lindi, Thomas Aquino Seno Mari.

Pada kesempatan itu, Meda Moses mengatakan, kehadiran puskesmas Lindi menjawabi kebutuhan masyarakat Benteng Tawa Raya di sektor kesehatan. Puskesmas ini dilengkapi dengan sarana prasarana penunjang pelayanan kesehatan.

"Oleh karena itu, pelayanan kesehatan nanti, harus membuat masyarakat di sini Lindi tersenyum. Gedung boleh megah, tetapi kalau pelayanan kurang ramah, maka bisa membuat pasien tambah sakit," kata Meda Moses.
 

Penyerahan SK Plt.Kapus Lindi oleh Sekda Ngada Drs.Meda moses (kiri), kepada Plt.Kapus Lindi yang baru Thomas Aquino Seno Mari,S.Km (kanan), disaksikan oleh kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada Agustinus Naru.

Sementara pada laporan panitia Dinkes Ngada yang disampaikan Kepala Bidang Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Agung  Artanaya menjelaskan bahwa, pelayanan di puskesmas ini meliputi masyarakat Benteng Tawa Raya yang terdiri dari dua Desa induk (Desa Benteng Tawa dan Benteng Tawa 1) serta empat desa persiapan yaitu Desa Persiapan Benteng Tawa II, Desa persiapan Benteng Tawa III, Desa Persiapan Benteng Tawa IV, dan Desa persiapan Benteng Tawa V.

"Selama ini masyarakat Benteng Tawa Raya benar-benar merasakan kesulitan akses mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Maronggela, karena harus melewati tiga puskesmas baru tiba di puskesmas Maronggela" kata Kabid P2P Agung Artanaya.

Plt. Kapus Lindi Thomas Aquino Seno Mari mengatakan, dirinya bersama jajaran petugas kesehatan di puskesmas Lindi akan melakukan kerja sama, komunikasi, dan kordinasi bersama semua komponen yang ada di wilayah Benteng Tawa Raya.
"Tentunya, hal yang saya lakukan pertama-tama adalah membangun kerja sama dan kordinasi bersama semua unsur yang ada di wilayah Benteng Tawa Raya," tutur Thomas Aquino Mari.

Di bagian lain, Kepala Desa Benteng Tawa I Yoseph Panas Lewa ketika dimintai komentarnya memberikan apresiasi kepada pemerintah kabupaten Ngada yang telah menghadirkan pembangunan puskesmas di Lindi guna mendekatkan pelayanan bagi masyarakat di wilayah Benteng Tawa Raya.  Ke depan, kata dia, perencanaan penggunaan dana desa keberpihakan anggaran desa juga akan prioritas bidang kesehatan, seperti pengembangan tenaga kesehatan desa, PHBS terintegrasi, dan Pos bindu di desa.

"Sebagai Kades, saya memberikan apresiasi kepada pemda bersama DPRD Ngada yang telah melahirkan kebijakan anggaran Pembangunan puskesmas Lind guna mendekatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Benteng Tawa Raya" pinta Jose.

Momen peresmian Puskesmas Lindi ini dihadiri oleh Assisten II Setda Ngada Hironimus Reba Watu, Kepala Dinas Kesehatan Agustinus Kila Naru, Sekdinkes Yak.Yosep Mawo, kepala Dinas industri dan Energi Antonius Jawa, Kepala Dinas Kominfio Anastasi Moi, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLHD) Emanuel Kora, Kepala Badan Inspektorat Paulus Gono, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Getrudis Lali, Kepala Bagian Umum Kosmas Damianus Tagu, Kepala Bagian Hukum Yohanes Gae, Kepala Bagian Humas Martinus Penga, Mentor Dinkes Ngada Yohanes Donbosko Ponong, Kepala Desa Benteng Tawa I Yoseph Panas, Penjabat Kepala Desa Benteng Tawa Darius Tuju, para kapus sekabupaten Ngada, semua petugas kesehatan, dan warga masyarakat seBenteng Tawa Raya. (AL)***

Saturday, 30 December 2017

TP.PKK Gelar Malam Renungan AIDS dengan Tema: 'Menyongsong Hari Esok Tanpa AIDS' -  

WOLOMEZE, vigonews.com – Guna mencegah penyebaran virus HIV/AIDS di Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, tokoh-tokoh masyarakat kecamatan itu tandatangani komitmen bersama.

Pendandatangan komitmen bersama itu berlangsung di Kantor Camat Wolomeze, Jumat (22/12/2017) belum lama ini. Komitmen itu dicapai dalam acara Malam Renungan AIDS dalam rangka memperingatihari hari AIDS yang jatuh pada 1 Desember dalam semangat peringatan Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember.

Malam renungan ini digelar oleh Ibu-ibu PKK Kecamatan Wolomeze, terdorong oleh keprihatinan munculnya kasus virus mematikan di wilayah yang sebenarnya tergolong kampung. “Ini menunjukkan bahwa virus HIV/AIDS tidak mengenal tempat dan bisa kena siapa saja,” papar Ny. Nurhayat Belo, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Wolomeze dalam sambutan jelang renungan.
Ketua TP. PKK Kecamatan Wolomeze Ny. Nurhayat dan Camat Wolomeze Kasmin Belo membuka penandatangan komitmen para tokoh Wolomeze memberantas AIDS
Nurhayat mengingatkan agar masyarakat Wolomeze lebih waspada, karena  penyebaran virus berbahaya ini tidak mengenal siapapun. Yang bekerja jauh dari keluarga supaya memeriksa kesehatannya baik saat meninggalkan kampung maupun saat kembali. Ini sebagai tindakan pengamanan sehingga dapat terdeteksi lebih dini.

Malam renungan bertema: “Menyongsong Hari Esok Tanpa AIDS” baru pernah dilaksanakan di kecamatan ini. Bahkan dalam catatan vigonews.com, kegiatan semacam ini belum pernah digelar di tingkat kabupaten Ngada. Ini dilakukan mengingat di Wolomeze dalam hal penyebaran virus ini harus jadi perhatian, karena sampai saat ini sudah terdeteksi lima kasus. “Kita tidak tahu yang belum terdeteksi,” kata Nurhayat.

Camat Wolomeze, Kasmin Belo memberi apresiasi sebesar-besarnya kepada PKK di Kecamatan yang dipimpimpinya yang telah berinisiatif menggelar malam renungan ini. Kegiatan ini, kata dia sebagai ruang refleksi atas terjadinya kasus HIV/AIDS maupun upaya pencegahan.

“Kita berharap, dari kasus yang ada memberi gambaran yang jelas bagi kita untuk terus mewaspadainya, dan berupaya bahu-membahu mencegah dengan melibatkan berbagai elemen,” pinta Kasmin.

Baik Camat Kasmin Belo maupun Ketua TP.PKK Kecamatan Wolomeze Ny. Nurhayat, mengatakan bahwa kegiatan ini setidaknya menjadi ruang efektif untuk memberi pemahaman kepada masyarakat tentang AIDS. Dan lebih dari itu, terhadap korban tidak didiskriminasi, karena masyarakat mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana menyikapinya.
Anggota PKK Kecamatan Wolomeze
Dipandu MC Asry Moi, malam renungan diwarnai dengan kegiatan edukasi yang memberi gambaran tentang HIV/AIDS disampaikan Yohanes Vianey Wonga. Viany, begitu dia biasa disapa membedah habis tentang bahaya virus HIV/AID sehingga sekitar 150 peserta memahami secara baik.

Ruang edukasi yang tidak kalah penting juga disampaikan oleh salah seorang Odha yang ternyata bersedia memberi testimoni seputar pengalamannya dalam menyikapi HIV/AIDS. Tujuannya agar masyarakat tidak memahami secara keliru tentang HIV/AIDS, dan memberi tempat dan sikap yang tepat kepada para korban, bukan dikucilkan.

Pita Merah

Kegiatan ini diakhiri dengan renungan, doa dan penyalaan lilin yang dipandu oleh Emanuel Djomba dari Rumah Literasi Cermat Ngada. Selain itu, Djomba juga membaca puisi berjudul ‘Pita Merah’ sebagai sebuah refleksi atas penyebaran virus HIV yang hingga kini dianggap belum mencapai kemenangan atasnya.

Penyebaran virus ini, kata Djomba, sudah merambah desa, dan tercerabutnya generasi dari kearifan lokal telah membuat desa rentan berbagai perubahan yang negatif. ‘Pita Merah’ juga mengingatkan kita pada lambang AIDS yang sering diidentikan dengan pita merah berbentuk tulisan victory tetapi terbalik.
Bergandenga tangan, menyatukan hati, pikiran dan tindakan memberantas AIDS di Wolomeze
Victory terbalik, artinya belum menang atas AIDS, karena itu membutuhkan peran semua pihak untuk mencegah dan memerangi penyebaran virus yang mematikan itu. Merah juga simbol darah, tempat berkembangnya virus ini. Warna merah itu pula menjadi simbol perjuangan yang harus terus dikobarkan memerangi virus mematikan itu.

Mungkin karena itu, tokoh-tokoh masyarakat Wolomeze yang dipimpin Camat Kasmin Belo membangun komitmen bersama untuk memerangi HIV/AIDS. Komitmen itu diwujudkan secara bersama-sama dengan membubuhkan tanda tangan dan bergandengan tangan memerangi AIDS.

Tokoh-tokoh masyarakat Wolomeze yang membubuhkan tanda tangan, berturut-turut, Camat Wolomeze Kasmin Belo, Ketua TP PKK Kecamatan Wolomeze Ny. Nurhayat, Babinsa Wolomeze Sertu Mansetus Ninmusu, Kapospol Brigadir Pol. Wolomeze Bersadi Kilikily, Kepala Desa Wue Johanes Lete, Kepala Desa Denatana Bruno Wanggol, Sekretaris Desa Denatana Timur Frans Toda, Penjabat Kepala Desa Larilaki M. Th Retuk, Ketua Stasi Mainai Simon Sila, Tokoh muda Rikardus Loy, Tokoh Perempuan Dominika Sewu, Ketua BPD Denatana Timur Hilarius Mbali dan unsure pimpinan kecamatan lainnya. (SP)***



Friday, 20 October 2017


WOLOMEZE -  UPTD Puskesmas Natarandang menjadi salah satu dari 12 puskesmas di Kabupaten Ngada yang sudah dinyatakan terakreditasi. Puskesmas yang terletak di Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada ini, melalui perjuangan pelik mencapai prestasi dalam pelayanannya yang ditandai dengan meraih predikat Akreditasi Madya.

Dari 14 UPTD Puskesmas di Kabupaten Ngada, menyisakan dua Puskesmas yang kini sedang bersiap-siap untuk diakreditas. Jika dua dari 14 puskesmas akhirnya terakreditasi juga, maka semua puskesmas di Kabupaten Ngada sudah dinyatakan terakreditasi. Para pelayan bidang kesehatan memang terus bekerja ekstra untuk memenuhi semua apek penilaian yang disyaratkan agar terakreditasi, maupun untuk mempertahankannya melalui pelayanan terbaik.

Terakreditasi menjadi salah satu bukti bahwa jajaran kesehatan di Kabupaten Ngada, khususunya Puskesmas Natarndang yang baru saja meraih sukses ini terus membangun komitmen melakukan pelayanan sesuai standar kesehatan.  “Itu sebabnya, akreditasi bukan akhir dari perjuangan, tetapi baru awal perjalanan panjang ‘pelayanan dengan kasih tanpa batas’ di jajaran kesehatan,” kata Sekdin Kesehatan Kabupaten Ngada Jack Mawo dalam sambutannya ketika menyerahkan sertifikat terakreditasi di Natarandang, Jumat (20/10/2017).

Dengan terakreditasi Madya, Puskesmas mengalami lompatan ‘tinggi’, karena prestasi dalam pelayanan tidak melalui akreditasi dasar – mengingat nilainnya melampaui syarat akreditasi dasar. Prestasi yang diraih tidak sampai di sini, karena masih ada predikat lebih tinggi di atasnya seperti yang sudah diraih Puskesmas Kota di Bajawa, yakni Akreditasi Utama. Bahkan prestasi tertinggi Akreditasi Paripurna yang kini menjadi cita-cita banyak puskesmas di Ngada. Waepana menjadi puskesmas pertama di NTT yang terakreditasi.

Dikatakan Jack Mawo, untuk mencapai akreditasi Madya, Puskesmas harus memenuhi  772 elemen penilaian yang dibagi dalam Sembilan bab, dengan rincian aspek manajemen, aspek klinis, terakhir aspek UKP dan UKM, dengan masing-masing aspek terdiri atas tiga bab.

Dirincikan Jack Mawo, predikat Tidak terakreditasi Bab I, II ≤ 75 %, Bab IV, V, VII ≤ 60 %, Bab III, VI, VIII, IX ≤ 20 %. Terakreditasi Dasar: Bab I, II ≥ 75 %, Bab IV, V, VII ≥ 60 %, Bab III, VI, VIII, IX ≥ 20 %. Terakreditasi Madya: Bab I, II, IV, V ≥75 %, Bab VII, VIII ≥ 60 %, Bab III, VI, IX ≥ 40 %. Terakreditasi Utama: Bab I, II, IV, V, VII, VIII ≥ 80 %, Bab III, VI, IX ≥ 60 %. Dan, Terakreditasi paripurna: semua Bab meraih skor ≥ 80.

Diraihnya akreditasi madya, bagi puskesmas Natarandang terbilang menggembirakan bagi para pelayan kesehatan yang mencakup delapan desa di Kecamatan Wolomeze itu. Jajaran puskesmas yang dipimpin Dominikus Keo itu langsung ‘terobos’ ke akreditasi madya, padahal banyak puskesmas mendahului prestasi dengan meraih akreditasi dasar.

Sukacita dan kegembiraan itu terwujud dalam bentuk sujud syukur. Jumat (20/10/2017) ‘awak’ Puskesmas Natarandang Merayakan Misa Syukur yang dipimpin Pastor Paroki Cor Jesus Wangka Rm. Filter Pendy, Pr dan Pastor rekan dari Paroki Maria Ratu Para Malaikat Kurubhoko, P. Leonardus Hambur, OFM.
 
Penyerahan serrtifikat akreditasi oleh Sekdin Kesehatan Kabupaten Ngada Jack Mawo kepada Kepala UPTD Puskesmas Natarandang ominikus Keo.
Hadir pada saat perayaan syukur yang ditandai dengan penyerahan sertifikat kareditasi madya dan sertifikat lainnya, Camat Wolomeze Kasmin Belo, Sekdin Kesehatan Kabpaten Ngada Jack Mawo, anggota DPRD Ngada yang juga Ketua BPP Puskesmas Natarandang Yohanes Munde, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wolomeze Theodorus Tege, para kepala sekolah, para kepala, BPD, tokoh masyarakat dan undangan lainnya.

Pada kesempatan itu Sekdin Kesehatan Kabupaten Ngada, Jack Mawo menyerahkan empat sertifikat, masing-masing sertifikat akreditasi madya, IMB, ijin operasional dan piagam risest tenaga kesehatan. Keempat sertifikat tersebut diterima Kepala UPTD Puskesmas Natarandang Dominikus Keo disaksikan Camat Wolomeze Kasmin Belo, Ketua BPP Yan Munde, dan undangan lainnya yang hadir.

Kegiatan dengan tema “Dalam Kebersamaan ada Persekutuan Roh, maka Sempurnakan Sukacitamu dengan Sehati, Sepikir dan Setujuan’ menjadi spirit bagi para pelayanan kesehatan di puskesmas ini, dalam jalinan kersama dengan semua elemen. Karena itu, sukses mencapai predikat akreditasi madya adalah kesuksesan yang terwujud dari sinegisistas dengan berbagai elemen itu. Penilaian tim akreditasi merujuk bukan kepada aspek klinis semata tetapi juga manajemen pelayanan dan aspek partisipasi  masyarakat terutama dalam menumbuhkan Usaha Kesahatan Personal (UKP) dan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM).

Kepala UPTD Puskesmas Natarandang Dominuks Keo dalam sambutannya, mengatakan presasi ini bukan puncak pelayanan, tetapi menjadi indikator bahwa pelayanan kita sudah memenuhi standar pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Karena itu, Dominikus mengajak semua jajarannya dan berbagai elemen yang terlibat baik secara langsung maupun tidak agar terus meningkatakan kerja sama dan melakukan pelayanan dengan kasih dan tanpa batas.

Dia juga mengatakan, segala kiritikan dan saran akan selalu diterima dengan senyum dan tangan terbuka demi pelayanan terbaik kepada masyarakat. Di Puskesmas saat ini disediakan tiga kotak saran yang dibuka sebulan sekali. “Dari sini kami bisa tau apa keluhan, saran sehingga menjadi landasan bagi kami untuk evaluasi dalam melakukan pelayanan,” kata Dominikus.

Di Bagian lain, Ketua BPP Puskesmas Natarandang Yan Munde  mengatakan,  dengan akreditasi madya kita naik peringkat lebih tinggi. Semua ini  karena ada kerja sama semua pihak untuk kemajuan yang melahirkan pelayanan terbaik.

“Kerja perlu datang dari hati, sebagai sebuah panggilan. Pelayanan dengan kasih tanpa batas. Tanpa hitung untung atau rugi,” tambah Jack Mawo yang juga menyampaikan penambahan pembangunan ruang UGD dan sarana lain, termasuk transportasi seperti mobil dan sepeda motor untuk menunjang pelayanan ke desa.
 
'Krew' UPTD Puskesmas Natarandang bersama Rm Filter Pendi, Pr, P. Leonardus Hampur, OFM, anggota BPP Puskesmas Natarandang dan Mentor Puskesmas Don Bosko Panong.
Layanan Cepat

Sementara, Camat Wolomeze, Kasmin Belo memberi apresiasi atas kerja keras UPTD Puskesmas Natarandang memenuhi syarat pelayanan terbaik yang dibuktikan dengan akreditasi madya.  “Kita patut bersyukur untuk predikat yang sudah diraih. Karena itu hari ini kita menyatakan rasa syukur melalui misa kudus,” kata Kasmin sembari membalikan badan membaca tema syukuran di panggung perayaan syukur.

“Kita sudah naik kelas satu tingkat dengan predikat akreditasi madya. Berarti dari sisi pelayanan membuktikan bahwa kita terus bekerja dan melayani semakin lebih baik dari sebelumnya,” kata Kasmin.

Dikatakan, kesehatan seperti tidak berharga atau tidak menarik kalau kita sedang sehat. Sebaliknya  akan dipandang sebagai harga sangat mahal ketika kita sakit. Itu sebabnya berjuang terus dengan pelayanan terbaik dan mendorong serta memberi penyuluhan kepada masyarakat bahwa kesehatan itu penting. Kesadaran masyarakat baik dalam UKP maupun UKM menjadi standar yang tertinggi bahwa masyarakat itu sehat. Bukan tingginya angka kunjungan di rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya. Itu malah sebaliknya, sebagi indikator bahwa masyarakat belum sehat.

Kasmin mengajak jajaran UPTD Puskesmas Natarandang agar terus meningkatkan demi memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan di kecamatan itu daria waktu ke waktu.  Mesti ada kesadaran bahwa layanan kesehatan juga menjadi hak masyarakat. Karena itu, dalam melayani tidak boleh membedakan-bedakan, sebaliknya harus menyentuh semua elemen masyarakat dengan pelayanan yang cepat. Kasmin juga mengingatkan, dalam pelayanan jangan sampai terhambat hanya gara-gara prosedur.

Menurut Kasmin, predikat akreditasi madya menjadi daya dorong atau spirit bagi  petugas kesehatan dalam melaksanakan tugas pelayanan. “Kita boleh bergembira dengan prestasi ini, tetapi jangan cepat puas. Sebaliknya terus termotivasi dan berkreasi dan berinovasi,” pinta Kasmin. (Emanuel djomba)***

Insert foto: 'krew' UPTD Puskesmas Natarandang, Kecamatan Wolomeze

Tuesday, 26 September 2017


BAJAWA, vigonews.com – Dengan dukungan biaya dana desa, Desa Radamasa setahun terakhir giat memproduksi kloset. Produksi dari kecamatan Golewa Selatan ini selain memenuhi kebutuhan lokal Ngada, juga dipesan oleh kabupaten tetangga.

Terobosan Desa Radamasa ini bukan sekedar untuk mencari keuntungan, tetapi sekaligus memasyarakatkan gerakan hidup sehat melalui penggunaan jamban. Karena ternyata di banyak desa ada warga yang belum mempunyai jamban sehat. Tidak heran jika gerakan memproduksi kloset itu megangkat tag line: ‘Satu Rumah Satu Jamban’.

Kloset produk Desa Radamasa ini dipajang di arena pameran pembangunan Kabupaten Ngada, stand PMD P3A. Ketika vigonews.com mengunjungi stand ini, tampak kloset dan bebarapa produk kerajinan binaan dinas ini dipajang di salah satu sisi.

Produk kerajinan selain kloset adalah kerajinan anyaman bambu dari desa Mainai dan desa Nginamanu, ada juga krupuk dari bahan kulit pisang. Ini juga hasil para ibu binaan PMD P3A yang diproduksi dengan dukungan dana desa.
 
Proses produksi kloset di Radamasa
Di stand ini bisa ngobrol santai bersama Sekretaris Dinas PMD P3A, Fabianus Sebastianus Pesek, SP bersama staf Ronaldus B. Sarno dan Mira Sepa. Dijelaskan Fabianus, produk yang dipajang di sini merupakan hasil dari kelompok binaan PMD P3A yang dibiayai dana desa. “Sebenarnya banyak sekali hasil industry rumah tangga yang kini sudah mulai menggeliat hanya memang belum dipromosi dengan baik, sehingga tidak banyak orang yang tahu,” tambah Ronald.

Soal kloset ‘made in’ Radamasa itu, Fabianus mengatakan diproduksi oleh warga dengan dukungan dana desa. Kita harap ke depan desa-desa focus juga pada pemberdayaan sesuai dengan keunggulan desa itu. Kloset produksi Radamasa harganya murah sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Dijual seharga Rp 100 ribu. Murah dibanding produksi pabrik di pasaran yang harganya berkisar antara Rp 175 ribu – Rp 250 ribu.

Fabianus menghimbau desa-desa agar dapat memanfaatkan produk ini untuk warganya yang belum memiliki jamban. Atau kalau bisa produksi sendiri, tentu saja perlu ikut pelatihan terlebih dahulu.

Produk ini menurut Kades Radamasa Paulus Wawo, tahan banting. Dia berani jamin, produk dari desanya itu memang murah, tetapi kualitasnya tidak kalah dengan produk di pasaran. (ch)***

Wednesday, 30 August 2017


WOLOMEZE, vigonews.com  – Dua tahun terakhir, Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada melalui Puskesmas-puskesmas secara periodik meningkatkan pengetahuan dan pelayanan kesehatan di sekolah-sekolah, dilaksanakan kegiatan penjaringan, pemeriksaaan dan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut. Pemantauan status gizi dan pemantauan PHBS.

Terkait dengan program tersebut,  petugas kesehatan dari Puskesmas Natarandang Kecamatan Wolomeze giat turun ke sekolah-sekolah di wilayah itu. Kegiatan yang menyasar jenjang sekolah SD – SMA/SMK itu dilaksanakan sejak 21 Agustus – 13 September 2017 mendatang.

Rabu (29/08/2017) para petugas kesehatan melakukan kegiatan sosialisasi UKGS penjaringan dan penyuluhan, pemantauan status gizi dan PHBS  sekolah di SDK Tanawolo, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze. Tim kesehatan diterima oleh Kepala SDK Tanawolo, Yakobus Lingge, S.Pd.

Tim kesehatan yang dikoordinir oleh penanggung jawab kegiatan Yohanes Bezi, terdiri atas perawat gigi, perawat, sanitarian dan promkes. Salah seorang tim, Rikardus O. Loy, A.Md yang juga sanitarian menjawab vigonews.com mengatakan kegiatan itu dilakukan setiap enam bulan sekali, dan rutin dilaksanakan sejak dua tahun lalu.

Setelah selesai, hasil sosialisasi dan pemeriksaan akan dilaporkan ke Dinas Kesehatan untuk dievaluasi. Hasil evaluasi kemudian akan menjadi informasi penting guna disampaikan kepada para kepala sekolah dan guru untuk mendapat perhatian.

Sementara Promkes Feliks Ndua mengatakan, ini kegiatan yang rutin dilaksanakan guna memantau keadaan sekolah dan pemeriksaan kesehatan, mengetahui gizi anak, kesehatan gigi, penataan sekolah seperti  ada atau tidak air bersih cuci tangan. Soal ketersediaan air bersih sangat penting agar dapat membiasakan anak  untuk selalu mencuci tangan setelah aktivitas. Pemeriksaan jamban, membuang sampah pada tempatnya, serta pemberantasan jentik nyambuk menggunakan abate yang dibagikan.

Rikardus O. Loy mengatakan untuk hasil sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan belum bisa diketahui karena baru akan dievaluasi setelah selesai  kegiatan. Hanya, kata dia, pada kegiatan tahun lalu yang menjadi perhatian serius adalah masalah kesehatan gigi. Banyak anak yang tidak terbiasa sikat gigi, atau ada juga yang menggunakan tetapi sikatnya tidak sesuai dengan usia anak. Hal lainnya,  tidak terbiasa sikat gigi ada juga siswa yang biasa menyikat namun tidak sesuai dengan cara penggunaan yang baik.
 
Pemeriksaan kesehatan di SDK Tanawolo
Dalam kasus gigi juga ditemukan ada anak yang punya kebiasaan makan sirih pinang. Dikatakan Feliks, kebiasaan makan sirih pinang karena anak melihat orang tua tanpa memperhitungkan  resiko kesehatan. Kebiasaan ini membahayakan kesehatan anak. Meski jumlahnya tidak signifikan, namun pihaknya mengingatkan agar orang tua tidak mendiamkan saja ketika melihat anak makan sirih pinang.

“Memang anak sering beralasan supaya gigi kuat seperti anjuran orang tua. Sebenarnya makan sirih tidak beresiko, karena sirih mengandung anti septic, hanya penggunaan kapur yang perlu diwasapadai karena mengandung unsur yang dapat membahayakan kesehatan. Kerusakan gigi juga disebabkan pola makan pada anak yang tidak teratur, seperti kebiasaan jajanan,” jelas Feliks.

Baik Feliks maupun Rikardus mengungkapkan bahwa kasus kerusakan gigi juga serius di Kecamatan Wolomeze, setiap  pekan sedikitnya lima pasien datang berobat. Hanya layanan kesehatan gigi tidak bisa dilakukan maka terpaksa dirujuk. Kedua petugas kesehatan ini mensinyalir pasien rawat gigi lebih dari itu, tetapi karena tidak ada perawat maupun dokter gigi maka banyak yang langsung ke Soa atau ke Bajawa.

Ditambahkan Rikard, hingga saat ini Puskesmas Natarandang belum mempunyai perawat gigi, apalagi dokter gigi. Menurutnya, Kepala Puskesmas Dominikus Keo sudah mengusulkan untuk tambahan tenaga sekurang-kurangnya perawat gigi, tetapi hingga saat ini belum bisa terpenuhi.

Saat pemeriksaan kesehatan di SDK Tanawolo, Rabu (29/08/2017) pihaknya menyertakan tenaga perawat gigi dalam tim kunjungan pelayanan kesehatan, namun perawat gigi tersebut dari Puskesmas Soa. “Kita berharap ke depan ada tambahan tenaga dokter, setidaknya perawat gigi di puskesmas ini. Ini urgen, karena ada peningkatan jumlah pasien,” kata Rikard tanpa merinci angka pastinya. (ch)***

Insert foto: Pemeriksaan gigi dan mulut di SDK Tanawolo

Friday, 14 July 2017


GOLEWA, vigonews.com – Guna menyukseskan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), keluarga jadi sasaran utama. Semua harus dimulai dari keluarga di samping empat strategi lainnya.

Demikian dikemukakan Drg. Marlina Ginting. M.Kes dari Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, ketika menggelar sosialisasi program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Kecamatan Golewa, Rabu (13/07/2017) lalu. Kegiatan ini menindaklanjuti Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2017 tentang program Germas.

Marlina Ginting dalam materinya, mengemukakan setidaknya lima strategis dalam menyukseskan Germas sehingga keluarga hidup sehat, yaitu: pertama, keluarga menjadi sasaran utama. Kedua, memgutamakan kegiatan promotif dan preventif disertai penguatan unit kegiatan berbasis masyarakat. Ketiga, kunjungan rumah atau home visit. Keempat, pendekatan daur kehidupan, dan kelima, prioritas pendanaan pada menu kegiatan promotif-preventif baru digunakan untuk kuratif.

Dikatakan Marlina Ginting, dewasa ini penyakit tidak menular (PTM) menempati urutan pertama yang menyerang masyarakat. Itu karena masyarakat lalai memperhatikan pola hidup secara teratur dan seimbang. Tidak heran jika saat ini banyak orang menderita penyakit tidak menular ini, seperti penyakit jantung, darah tinggi/hipertensi, stroke, diabetes, ginjal dan kanker.

“Contoh saja, sekarang ini rumah sakit jantung harus antrian, karena pasien yang masuk duluan belum pulang, muncul lagi pasien baru. Biayanyapun mahal, karena harus biayai dokter spesialis. Ini terjadi karena pola hidup kita seperti, pola makan, olahraga, dan istirahat yang tidak teratur dan seimbang. Kadang kita makan nasi over dosis, yang dibutuhkan oleh tubuh hanya 5% sisanya akan menumpuk dalam tubuh dan menjadi lemak" jelas dokter Marlina.
 
Olahraga rutin menjadi bagian dari gaya hidup sehat
Marlina Ginting juga menjelaskan, bahwa secara konseptual germas adalah suatu tindakan yang sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berpirilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Menurutnya, tujuan dari program germas ini agar masyarakat berprilaku hidup sehat sehingga berdampak pada kesehatan terjaga, produktif, lingkungan bersih, dan biaya untuk berobat berkurang.

Magister kesehatan ini melanjutkan, bentuk-bentuk kegiatan Germas seperti melakukan aktivitas fisik setiap hari, mengonsumsi sayur dan buah-buahan, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, memeriksa kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan, dan menggunakan jamban sehat.
Sementara salah seorang peserta yang juga mentor community engament, Donbosko Ponong berharap sosialisasi Germas bisa sampai ke desa-desa dengan dukungan anggaran melalui dana desa untuk mendukung program ini, seperti PHBS. Untuk kabupaten Ngada, tambah Donbosko, program Germas sudah dicanangkan sejak tahun 2016 lalu melalui momen HKN.

Kegiatan sosialisasi Germas yang bertempat di Aula Kantor Camat Golewa itu juga dihadiri Kadis Pertanian Paskalis Wale Bai, Sekretaris Dinkes Yak. Yoseph Mawo Sekretaris Dinas PU Wilybrodus Kadju, Kabid Kesmas Dinkes Propinsi NTT Drg. Maria Silalah, Staf Ahli Pius Lustri Lanang Agustina Fernandes, undangan lain dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Golewa. (ch)***

Insert foto: Launching Germas ditandai dengan makan buah-buahan, kemudian dilanjutkan dengan senam germas ala Bajawa yaitu "Jai Ria-a depan halaman kantor camat Golewa. Kegiatan dibuka oleh Bupati Ngada yang diwakili oleh Asisten I Setda Ngada Emanuel Dopo.

Monday, 3 October 2016


Vigonews.com, INERIE – Para petugas di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas Inerie kecamatan Inerie Kabupaten Ngada Ikrarkan janji perbaikan pelayanan. Ikrar janji itu dilakukan guna memperbaiki dan meningkatkan pelayanan sebelumya setelah diadakan lokakarya internal puskesmas terhadap identifikasi keluhan dan survey pengaduaan masyarakat.

Ada 10 janji yang diikrarkan pada, Jumat (23/09/2016) lalu, setelah melalui tahapan lokakarya internal dari kegiatan reformasi puskesmas. Dalam tahap ini, petugas puskesmas menggali akar atau penyebab, timbulnya keluhan yang disampaikan oleh masyarakat sebagai pengguna layanan puskesmas dan jaringannya (Pustu, Poskesdes, dan Polindes).

Mentor Puskesmas reformasi Yohanes Donbosko Ponong, Jumad (23/09/2016) mengatakan, setelah menemukan faktor-faktor penyebabnya, kemudian internal puskesmas juga menemukan sendiri solusi yang harus dilakukan oleh para petugas kesehatan di Puskesmas.

Dikatakan, lokakarya internal UPTD Puskesmas Inerie dilaksanakan 21 – 23 September 2016, bertempat di UPTD Puskesmas Inerie,  dihadiri oleh seluruh petugas kesehatan mulai dari tingkat puskesmas sampai desa.  Kegiatan ini diawali dengan pembacaan dan peringkatan ututan keluhan masyarakat yang diperoleh pada saat surey pengaduaan masyarakat dan peserta dibagi kedalam empat kelompok, antara lain kelompok tata pelayanan, kedisiplinan dan komptensi petugas, obat-obatan dan kesembuhan pasien, tenaga dan biaya serta kelompok Lingkungan dan sarana prasarana.

Kegiatan hari kedua adalah setiap kelompok melalui jubirnya masing-masing mempertanggungjawabkan hasil kerja kelompok. Misalnya ada keluhan masyarakat yang menyatakan “petugas kurang disiplin terhadap waktu pelayanan”

Menurut Bosco, di hari ketiga petugas menemukan akar masalah mengapa petugas kurang disiplin dalam memberikan pelayanan. Penyebab internal adalah adanya sikap malas dari dalam diri. Dan penyebab eksternalnya adalah jarak rumah petugas dan fasilitas kesehatan begitu jauh. Oleh karena itu, solusi internal adalah petugas harus berani melawan sikap malas dalam diri, dan solusi eksternal adalah mencari tempat tinggal yang dekat dengan fasilitas kesehatan.

“Ia ini adalah salah satu contoh lokakarya internal yang dapat kita gali faktor penyebab internal dan eksternal. Kemudian solusi yang kita tawarkan. Apablia ini benar-benar dilaksanakan oleh petugas kesehatan mulai dari tingkat puskesmas sampai jaringannya maka kegiatan reformasi puskesmas dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya,” Kata Bosco.

Semantara itu, kepala UPTD Puskesmas Inerie Paulus Nono disela-sela kegiatan  tersebut mengatakan, kegiatan lokakarya internal harus dimaknai oleh para petugas kesehatan kecamatan Inerie sebagai kegiatan perbaikan pelayanan kesehatan kearah yang lebih baik.

Menurutnya, masyarakat sebagai pengguna layanan berhak memberikan penilaian terhadap kinerja yang telah kita laksanakan selama ini. Semua pengaduaan yang telah disampaikan oleh masyarakat dalam kegiatan reformasi puskesmas ini harus bisa diterima, mau mengakui kesalahan, dan harus bisa menunjukan pelayanan yang lebih prima kepada masyarakat.

Sepuluh janji perbaikan pelayanan Puskesmas Inerie yang diucapkan oleh para petugas kesehatan UPTD Puskesmas Inerie dan Jaringannya yakni, pertama, Disiplin terhadap waktu pelayanan. Kedua, loyalitas dalam tugas dan pelayanan. Ketiga, melayani pasien dengan senyum, sikap ramah, jujur, transparan, komunikatif dan tanpa ada pilih kasih.

Keempat, Membangun kerja sama yang baik dengan pemerintah desa, lintas sektor dan masyarakat. Kelima, memberikan teladan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Keenam, memberikan informasi dan sosialisasi sektor kesehatan berbasis masyarakat desa. Ketuju, Menciptakan suasana kerja yang komunikatif dan harmonis.

Kedelapan, meningkatkan kompetensi diri melalui pendidikan, pelatihan, simulasi internal dan memperkaya referensi diri. Kesembilan, Menjaga, memeilihara dan merawat semua sarana dan prasarana yang ada di fasilitas kesehatan. Dan kesepuluh, Bersedia menerima kritik dan saran yang membangun dari sesama rekan kerja, dan masyarakat sebagai pengguna layanan.

Salah seorang staf UPTD Puskesmas Inerie, Wilybrodus Batta  menyanggupi siap untuk melaksanakan tugas pelayanan, sebagai pelayan kesehatan yang reformis. (ch) ***

Insert foto:  Tenaga Kesehatan UPTD Puskesmas Inerie sedang mengucapkan janji sebagai akhir dari kegiatan Lokakrya Internal, Jumad ( 23/09/2016).

Thursday, 22 October 2015



BAJAWA/FLORES, vigonews.com - Masyarakat Ngada dihimbau tetap mewaspadai binatang seperti anjing, kucing dan kera. Bukan karena ketiganya masuk kategori binatang buas, tetapi bisa menjadi sangat buas setelah tertular  virus rabies yang akrab dengan  tiga jenis binatang itu.

Siapapun yang kena gigitan binatang yang terkena virus rabies bisa jadi petaka jika tidak segera ditolong. Karena itu masyarakat mesti  mewaspadai tiga jenis binatang yang berpotensi terkena virus rabies.

Karena  belum terbebas dari virus ini, maka Ngada termasuk daerah endemis. Kasus terkena virus rabies di Ngada yang tertular melalui gigitan tiga binatang itu  - terutama anjing -  terus meminta korban tidak sedikit.

"Stok vaksin anti rabies (VAR) di Dinas Kesehatan pun sering habis. Tak jarang korban harus pontang-panting mencari ke sana kemari," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Jack Yos Mawo, Senin (19/10/2015).

Jack Mawo yang dikonfirmasi terkait dengan persediaan VAR, mengatakan persediaan vaksin itu terbatas. Karena itu masyarakat dihimbau selalu berupaya mewaspadai hewan penyebar rabies (HPR). Hewan peliharaan yang berpotensi kena rabies supaya selalu divaksin dengan membawanya kepada petugas.

Meski ada upaya suntikan VAR, Jack Mawo minta masyarakat selalu berupaya mencegah. "Memang kasus-kasus gigitan akan diperlakukan khusus dengan suntikan VAR, namun upaya pencegahan dengan  selalu waspada jauh  lebih baik. Kita perlu antisipasi terutama pada saat VAR dalam kondisi terbatas," katanya.

Jack mengatakan, sebagai orang yang bertugas memberikan suntikan vaksin kepada warga yang terkena gigitan anjing atau yang lazim dengan nama suntikan vaksin anti rabies (VAR) dirinya kerap kedatangan para korban yang terkena gigitan anjing. Hal itu mengindikasikan penyakit rabies masih merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat Kabupaten Ngada.

VAR yang tersedia di Dinas Kesehatan (Dinkes) saat ini, kata Jack Mawo, sekitar 300 ampul lebih, atau untuk tiga bulan ke depan. Meski dengan stok yang ada mencukupi kebutuhan beberapa bulan ke depan, tetapi perlu dilihat lagi kasus gigitan beberapa bulan ke depan. Kalau dalam kurun waktu beberapa bulan ini tiba-tiba muncul 100 kasus, tentu saja perlu didatangkan lagi sebagai cadangan. Hal ini penting agar masyarakat selalu terlayani dengan baik.

Terkait kasus gigitan, Jack berharap masyarakat segera datang ke Dinkes agar segera dilayani dengan suntikan VAR tanpa pungut biaya. "Suntikan VAR memang diberikan secara gratis karena Ngada termasuk endemis," katanya. (ch)*