Responsive Ads Here
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts

Wednesday, 27 September 2017


BAJAWA, vigonews.com –  Lebih dari 1.000 penari getarkan alun-alun kota Bajawa dalam tarian Ja’i massal. Perhelatan ja’i massal itu  sekaligus ‘merayakan’ pesta minum kopi 1.999 cangkir Arabika Flores Bajawa (AFB), Rabu (27/09/2017).

Ja’i massal dan minum 1.999 cangkir kopi itu dalam rangka meramaikan pameran pembangunan dan menyongsong hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober mendatang yang juga bertepatan dengan Hari Kopi Internasional.

Ini ja’i massal pertama di kota kopi AFB. Ribuan penari menelisik dari beberapa penjuru beriringan masuk lapangan kartini, sesaat setelah gong gendang ditabuh. Dari penari cilik hingga penari dewasa ‘bak berhampuran memadati alun-alun kota yang dipagari berbagai stand pameran.
 
Anak-anak yang juga turut serta dalam gelar ja'i masal ramai-ramai toast kopi
Sekitar 30 menit, gong dan gendang bertalu-talu memacu kaki para penari beriringan. Tiga puluh menit berikutnya semangat para penari belum surut juga, ketika iringan ja’i dengan music modern dengan dentuman yang kian membuai para penari hanyut dalam irama dan hentakan setelah jedah beberapa detik.

Hingga sejam sejak gong ditabuh sejak awal,  para penari jedah untuk aksi minum kopi 1.999 cangkit yang disuguhkan oleh panitia. Wakil Bupati Ngada, Paulus Soliwoa naik ke panggung bersama beberapa pimpinan SKPD menyambut para penari dengan mengangkat cangkir kopi dan mengatakan, “Mari kita nyatakan toast sebagai wujud kesatuan kita dan tegaknya Pancasila, sekaligus merayakan hari kopi internasional. Arabika Flores Bajawa, kian mendunia, go gita go internasional,” kata Wabup Soliwoa.
 
Wabup Paulus Soliwoa (kiri) mempimpin toast minum kopi 1.999 cangkir di alun-alun  Kota Bajawa
Ja’i masal dan minum kopi 1.999 cangkir merupakan ‘pesta’ singkat untuk mempromosikan kopi AFB yang sudah menjadi produk unggulan Ngada hingga ke mancanegara.

Kopi AFB, kata Wabup Soliwoa menjawab vigonews.com usai gelar minum kopi 1.999 cangkir mengatakan, saat ini kopi dataran tinggi Bajawa sudah menjadi produk ekspor. Namun kopi ini belum menjadi tuan di rumah sendiri.

Terkait dengan hal itu, Wabup Soliwoa mengatakan, pemerintah mendorong semua elemen, khususnya orang muda agar membangun usaha hilir seperti usaha café di Kota Bajawa. Bahkan, kata dia, jika ini bisa terwujud, maka pemerintah siap memberi bantuan modal.

“Kalau ada café-café sebagai usaha hilir, maka pemerintah daerah kalau rapat tidak perlu di kantor. Kita bisa rapat bergilir dari café ke café,” kata Wabup Soliwoa.

Dia juga mendorong agar kopi yang kini pengelolaannya berbasis UPH dalam wadah koperasi harus didorong juga untuk memproduksi untuk dikonsumsi lokal. Dinas Perindustrian supaya mulai melakukan terobosan kerja sama dengan stakeholder lain agar kopi dengan berbagai jenis saset dapat terjual di pasar-pasar lokal.
 
Para penari toast kopi sembari ja'i
Dikatakan Wabup Soliwoa, kopi AFB sudah dibudidaya dengan system organik di atas lahan seluas sekitar 1.600 hektar. Selanjutnya prosesnya memenuhi standar SOP dan sangat higienis. Sehingga AFB sehat untuk dikonsumsi.

“Jangan sampai kita tanam kopi tetapi kita minum kopi dari luar. Apa salahnya kita tanam, kita proses jual, kita juga minum sendiri. Itu malah berdampak lebih baik. Saya ajak masyarakat Ngada untuk minum kopi produk lokal, dan cintailah produk sendiri,” urai Wabup Soliwoa.

Ja’i massal dan minum kopi 1.999 cangkir didukung penuh Dinas Pertanian Kabupaten Ngada yang menjadi leading sejak awal hingga kopi AFB diproduksi sesuai SOP seperti sekarang dan diekspor ke mancanegara. Belakangan, Dinas Perindustrian juga mulai mengambil bagian dalam untuk pengembangan dan promosi lokal, misalnya memasarkan dalam bentuk sasetan sehingga ada difersifikasi kemasan dan ukuran. (ch)***

Friday, 30 October 2015


KURUBHOKO/NGADA/FLORES, vigonews.com - Taman Wisata Rohani (TWR) Bukit Doa 'Wawo Mbewo' di Kuasi Paroki Kuruboko, Wolomeze adalah potensi yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik kunjungan untuk tujuan kegiatan rohani. Sayangnya, jalan menuju tempat ini sejauh 4 km belum tersentuh pembangunan.


Lebih dari 700 umat dari empat paroki wilayah TP. APT Riung,  ketika melakukan ziarah ke TWR ini, (30/10/2015) lalu tertatih-tatih melewati jalan sejauh 4 km dari Kurubhoko menuju arah barat, hingga tiba sebuah bukit. Kendaraan sulit melaju  melewati jalan bak kubangan menganga. Di sana sini juga banyak bongkahan batu tak beraturan.

Ruas jalan ini adalah akses ke sebuah TWR di bukit Wawo Mbewo. Kiri kanan jalan menuju tempat ini terbentang sawah yang luas. Meski musim kemarau panjang  tampak hanya rumput dan jerami kering, namun tetap menyuguhkan pemandangan yang eksotik.

Sekitar 1 km mendekati TWR sepanjang jalan ditumbuhi pohon yang memberi ksejukan kepada para peziarah. Meski sedikit mendaki, sekitar 500 meter mendekati TWR, perjalanan menuju tempat ziara yang hening dan jauh dari kebisingan ini tetap menggoda para peziarah menuju taman doa yang masih sedang ditata Kuasi Paroki Kurubhoko.

Sejumlah peziarah sangat berkesan dengan taman doa yang ditumbuhi pohon dan memberi kesejukan serta kesegaran. TWR yang terbaik di wilayah TP APT Riung itu terletak di sebuah bukit seperti gundukan degan luas  sekitar  1 hektare. Di atas bukit itu berdiri kokoh sebuah situs Gereja Tua berusia lebih dari 50 tahun, bukti kehadiran misionaris Eropa di zamannya.

Salah seorang peziarah, Simon Sila mengatakan berziarah di TWR ini sangat  menyenangkan. "Tempat ini luar biasa. Tempat ziarah yang nyaman, jauh dari kebisingan. Hanya sepoi angin dan bunyi burung yang terdengar. Di sini kita bisa berdoa khusuk," kata Simon yang mengaku baru pertama kali.

Di TWR ini ada sebuah gua tempat ditahtakannya Arca Bunda Maria. Tempat para peziara melakukan devosi. Keliling bukit ditumbuhi pohon-pohon dan dihiasi bunga kamboja yang selalu menyebarkan  harumnya kepada siapa saja yang datang tempat ini.
Jalan menuju TWR Bukit Doa 'Wawo Mbewo'
Sementara peziarah lain, Fidelis Rata mengaku senang berada di TWR Bukit Doa ‘Wawo Mbewo.’ Meski jalan menuju lokasi sejauh 4 km ditempuh dengan susah payah,  namun tidak menyurutkan niatnya datang berziarah. "Meski capek diguncang kendaraan melewati jalan rusak, tapi  rasanya terbayar juga setelah  menimba keheningan di tempat ini. Bisa berdoa tanpa ada gangguan keramaian dan deru kendaraan," kata tokoh umat dari Paroki MA. Maronggela itu.

Baik Simon, maupun Fidelis sepakat tempat ini harus ditata sedemikian rupa sehingga ke depan menjadi tujuan wisata rohani atau tempat ziarah bagi umat Katolik. "Luar biasa. Ternyata kita punya potensi yang selama ini belum diketahui oleh banyak orang," kata Fidelis diaminkan Simon.

Hanya menurut Simon ke depan perlu perhatian pemerintah dengan akses jalan menuju TWR ini yang sangat tidak layak, apalagi pada musim hujan. Sehingga umat dari mana saja yang berziarah dapat mengakses tempat ini dengan cepat dan mudah. Lebih dari itu, jalan yang bagus, kata Simon memberi rasa aman dan nyaman bagi para pengendara maupun pejalan kaki.

"Kalau saya liat jalan ini bukan sekedar jalan tani, tapi jalan menuju sarana strategis lainnya yang bisa saja karena tempatnya  yang menarik untuk dikunjungi dapat mendatangkan keuntungan ekonomi bagi warga setempat," pinta Simon.

Pada ziarah sebelumnya menjadi kesempatan bagi para pedagang kecil dari Kuasi Paroki Kurubhoko untuk menjajakan makanan dan minuman. Rata-rata mereka menjual minuman es, minuman kaleng, air mineral dan jenis makanan kecil lainnya.(ch)*

KURUBHOKO/NGADA/FLORES, vigonews.com - Taman Wisata Rohani (TWR) Wawo Mbewo, Tajo di Kuasi Paroki Kurubhoko, Jumat (30/10/2015) dipadati para peziarah yang datang dari paroki-paroki di wilayah Tim Pastoral  Antar Paroki Tetangga (TP. APT) Riung.

Sejak pkl. 08.00 wita,  lebih dari 700 umat yang datang dari empat paroki di wilayah Riung itu berbondong-bondong dari pusat Kuasoi Paroki Kurubhoko menuju arah barat sekitar 4 Km. Para peziarah terlihat ada yang berjalan kaki, sepeda motor dan kendaraan roda empat menuju tempat ziarah yang juga terdapat sebuah situs Gereja Tua.

Para peziarah langsung memadati sebuah bukit yang di atasnya berdiri sebuah gereja tua. Di bawah  rindangan pohon yang tumbuh keliling bukit, ratusan umat mengikuti upacara misa ziarah tahunan itu.

Prosesi menuju Bukit Doa 'Wawo Mbewo'
Misa dimpimpin Rm. Yohanes Paulus Mere, Pr yang sehari-hari sebagai Pastor Kapelan Paroki Cor Jesu Wangka. Sebagai selebran utama,  Rm. Juan, begitu dia biasa disapa didampingi pastor konselebran, Rm. Aris Guru, Pr; Pater Bonefasius Budiman, OFM, yang juga Administrator  Kuasi Kurubhoko;  Pater Fridus Derong, OFM yang juga Pastor kapelan Kuasi Paroki Kurubhoko;   Rm. Sony Lulu, Pr  Pastor Paroki Bekek:  Rm. Filter Pendi, Pr, Pastor Paroki Cor Jesus Wangka;  dan  Rm. Basilius Lewa, Pr Pastor Paroki MA. Maronggela.

Ketika membuka misa yang diringi paduan suara SMPN Satap Kurubhoko, Rm. Juan mengajak umat mendalami makna tema ziarah tahun ini: "Maria Pelayan Setia dan Teladan bagi Keluarga Kristiani."

Para peziarah memasuki Bukit Doa
Sementara pastor pengkhotbah, Rm. Aris Guru, Pr dalam khotbah sesuai bacaan injil 'Pesta Perkawinan di Kana" menyampaikan tiga pesan dari Firman Tuhan. Pertama, kata Rm. Aris, "kita harus belajar dari Bunda Maria sebagai ibu yang peka dan tanggap situasi. Ada banyak kecemasan yang kita alami dalam keluarga dan lingkungan, kita juga dipanggil menjadi pribadi peka dan tanggap terhadap situasi sosial. Kita diminta bersikap solider dengan sesama."

Pesan kedua, kata Rm. Aris, bahwa  Bunda Maria sebagai pengentara doa  yang membawa pesan kegembiraan untuk banyak orang. "Kita harus menjadi pembawa pesan ini. Pesan kehidupan dan kegembiraan bagi orang lain," tegasnya.
Rm. Juan Mendupai gua Maria di Bukit Doa 'Wawo Mbewo'
Dan, pesan ketiga, bahwa Bunda Maria adalah pribadi yang rendah hati. Seorang pelayanan yang setia yang harus diteladani oleh umat.  Melalui peristiwa kehabisan anggur,  Bunda Maria menunjukkan kerendahan hatinya untuk memohon pada Yesus putranya.

Dikatakan, dalam ziarah hidup, kita percaya bahwa Maria menjadi bunda penolong. "Apakah kita selalu datang kepada Bunda Maria? Apakah kita sudah berjalan bersamanya," katanya.

Ketua TP. APT Riung, Rm. Sony Lulu, Pr memberi apresiasi kepada umat yang hadiri  ziarah di tempat yang unik itu. Tempat yang teduh, ada situs Gereja Tua, ada gua Maria dan lingkungan yang hening. Ini bagus untuk taman doa," pesan  Rm. Sony.
Sisi lain Bukit Doa 'Wawo Mbewo' dihiasi bunga Kamboja yang senantiasa menyebarkan harum semerbak
Sementara, ketua Stasi Mainai, Paroki  Cor Jesus Wangka, Simon Sila mengatakan ini kegiatan rutin tahunan. "Melalui peristiwa iman ini, umat menghayati kesatuan sebagai satu gembala dalam Kristus," katanya.

Menurut Simon, tempat ini bagus jadi tempat ziarah dimana  umat dapat  menimba keheningan. "Hanya kita harapkan ke depan jalan menuju tempat ini perlu diperbaiki, karena masih sulit. Di sini menyenangkan, umat bisa menemukan keheningan untuk perjuampaan dengan Sang Khalik," katanya.(ch)*

Thursday, 29 October 2015


LANGA/BAJAWA/FLORES, vigonews.com – Sebanyak 24 orang anak muda  Langa dan pemuda  asal Amerika, Rabu (28/10/2015) mengibarkan bendera Merah Putih di puncak gunung Inerie. Ini cara anak muda dari dua Negara itu memaknai hari Sumpah Pemuda ke-87.

Pendakian menaklukan puncak setinggi 2.400 meter di atas permukaan laut itu menjadi atraksi menyenangkan bagi para pemuda beda kultur itu. Namun dalam semangat yang sama, 12 orang muda dari Amerika ikut menggelorakan para pemuda lokal yang berasal dari desa Bomari, Beja, Langagedha dan Bela itu untuk terus berprestasi seperti manklukan  tantangan zaman.

Begitu tiba di puncak yang menyuguhkan panorama Ngada dan pantai selatan yang eksotik, 24 orang muda menegakkan Merah Putih. Semangat pemuda seperti digelorakan kembali di ketinggian Inerie. Refleksi cita-cita orang muda yang biasanya dibalut dengan idealisme dan perjuangan yang tak kenal lelah seperti semangat para pemda di era perjuangan.

Perjalanan menuju puncak Gunung Inerie ini ditempuh dalam waktu 4 jam, penuh tantangan. Rombongan sudah beranjak pkl. 02.00 wita  dan tiba empat jam kemudian. Di puncak itu para pemuda mengibarkan bendera Merah Putih. Setelah istirahat sejenak baru bergegas turun kembali.

Selain waktu yang cukup panjang, juga harus diimbangi dengan pengorbanan serta ketabahan menuju puncak. “Banyak hal yang kami peroleh di sini.  Kami dilatih untuk bisa saling memercayai, sebab akan sangat berbahaya bila tidak saling percaya bukan hanya beda bahasa, beda Negara,  sesama saja tidak saling percaya, satu desa, satu kampung saja tidak percaya dan itu sangat berbahaya bagi orang muda,” kata koordintor pendakian Dionisius Tunga.

Dikatakan, pendakian ke Inerie ini selain untuk merefleksikan perjalan hidup orang muda yang akhir-akhir ini selalu disoroti sebagai pemicu masalah dengan hadirnya geng-geng di berbagai daerah,  juga sekaligus memperkenalkan eksotika pemandangan alam tanah Ngada dari puncak Inerie kepada orang muda asal Amerika.

Sementara itu salah seorang pemuda asal Amerika Benyamin Yih kepada vigonews.com juga mengatakan bahwa pemandangan dari puncak Inerie itu sangat indah dan luar biasa. Untuk mencapai puncak harus banyak berkorban,  dan inilah sebuah tantangan yang harus dilewati sebelum menikmati sesuatu yang luar biasa.

"Saya suka Inerie. Pemandangan yang indah dari puncak yang membuat kita seperti berada di atas awan. Ini indah. Amazing!" kata Ben demikian dia biasa disapa.

Para pemuda dari negeri Paman Sam itu dalam rangka kegiatan live in  di Langa. Mereka sudah tiba 21 Oktober lalu, dan akan mengakhiri program live in mereka pada 2 November mendatang. Selama di Langa, para pemuda itu akan tinggal bersama dengan orang muda setempat di rumah-rumah penduduk. Di sini mereka dapat berinterkasi dan belajar tentang budaya dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

"Kehadiran mereka dalam kehidupan kami memberikan warna tersendiri,  dimana kami belajar untuk saling terbuka, tidak pantang menyerah untuk terus berjuang sebagai orang muda yang juga adalah masa depan Bangsa dan Gereja.Intinya adalah saling percaya,” tambah Dionisius.(ml)*

Insert foto: Orang muda dari Langa dan Amerika mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung Inerie, memaknai hari Sumpah Pemuda ke-87

Sunday, 25 October 2015


BAJAWA/FLORES, vigonews.com – Boleh jadi tidak banyak orang mengetahui keunikan kawah gunung Wawomuda yang menyerupai danau, sekitar 3 km arah barat kota Bajawa. Mau tau dua keunikan, konon harus datang setidaknya dua kali dalam setahun. Kapan saja?

Air di tiga kawah gunung Wawomuda kering saat kemarau panjang seperti hari-hari ini. Kawah yang menyerupai danau dan menjadi daya tarik wisata  sejak meletus tahun 2001 itu terlihat terpatah-patah.


Pemandangan yang amat jauh berbeda selama musim hujan. Tiga kawah itu dipenuhi air dan memberi efek warna tertentu seperti, kuning, coklat dan merah kecoklatan. Namun gunung yang letaknya tidak jauh dari kota Bajawa, tepatnya di desa Ngoranale itu justru tetap memberi daya tarik sendiri  tak digenangi air.

Dua fenomena itu rupanya tetap memberi daya pikat sendiri. Pada musim hujan pengunjung disuguhi pemandangan kawah dengan air beda warna. Namun saat kemarau panjang, justru tiga kawah ini tanpa air. Dasar kawah yang biasanya berlumpur justru tampak terpatah-patah pada musim kemarau. Selain itu pada musim ini pengunjung disuguhi panorama alam eksotik dari ketinggian Wawomuda.


Pantauan vigonews.com, Sabtu (24/10/2015), meski  tanpa air, kawah tampak tetap menarik. Banyak juga pengunjung yang datang ke tempat ini sekedar untuk  rekreasi. Kebanyakan mereka menyukai aktivitas tracking. Selain pengunjung lokal, tampak juga wisatawan nusantara dan asing.

Salah seorang  wisatawan Nusantara yang dijumpai di kawah itu, Yanto mengatakan dirinya datang ke tempat ini hanya untuk rekreasi. Kebetulan dia menyukai aktivitas  tracking. “Saya suka pemandangan yang indah dari ketinggian di sini. Ke tempat ini bisa dengan jalan kaki. Jadi saya suka tracking. Rupanya karena musim kemarau panjang kawah ini kering, tetapi tetap memberikan pemandangan yang unik,” kata Yanto yang mengaku sudah tiga kali datang ke Wawomuda. (ml)*


Thursday, 22 October 2015


BAJAWA/FLORES, vigonews.com - Bagi para petualang, Gunung Inerie 2.400 meter di atas permukaan laut  adalah puncak yang selalu siap untuk ditantang.Ternyata ada yang terlupa.  Hamparan  (dataran rendah di kaki gunung) sebelah utara juga menanti untuk ditantang. Ratusan bahkan ribuan hektar lembah yang mengelilingi ‘Mama yang Cantik’ – julukan Inerie - ini belum terjamah.

Ketika pejabat publik  darah ini bicara Bajawa miskin ruang publik – tempat bagi warga kota untuk melepas suntuknya kehidupan – ingatan penulis tiba-tiba berkiblat ke ruang terbuka di kaki  Inerie yang kini dirimbuni kayu putih dan cemara itu. “Kalau di Bali ada Kebun Raya Bedugul  yang eksotik – Mungkinkah di Bajawa ada Kebun Raya Inerie?” kayalku menjulang.


Ini inspirasi, ketika dengan sejumlah jurnalis melepas lelah setelah perjalanan dari Tololela menyaksikan festival musik tradisional  Bombardom  awal September 2015 lalu. Di atas rerumputan hijau, di bawah rimbun kayu putih,  mata nyaris terpejam dihembus sepoi senja itu.  Di bawah rindangan kayu putih yang mirip pinus itu, beronggok satu dua bongkahan batu alam, semakin membuat tempat ini terlihat eksotik.


Kebun Raya Bedugul di Bali yang rimbun dengan hamparan dihiasi rumput hijau, kini sudah disulap oleh Pemda Bali, laiknya sebuah taman. Tempat jutaan warga Bali, Nusantara, bahkan mancanegara melepas kejenuhan hidup, menimba kesegaran dan semangat baru di ruang terbuka yang asri itu.

Rerimbunan pohon kayu putih di  kaki gunung Inerie
Kalau hamparan  Inerie suatu saat  disulap laiknya sebuah kebun raya semacam itu, tentu saja ruang-ruang yang terasing akibat suntuknya kehidupan akan dapat dipulihkan dengan kesegaran taman ini. Dan bukan tidak mungkin – meski dengan investasi lumayan besar – tempat ini akan menjadi tujuan wisata bagi masyarakat di daratan Flores. Karena letaknya di mata jalan antara Kota Bajawa dengan  kawasan wisata budaya Jerebu’u, maka kehadirannya kian strategis. Sehingga, bukan saja menyedot wisatawan lokal tetapi juga wisatawan nusantara bahkan manca negera ketika mereka sedang berada di kabupaten dan kota ini.

Kalau sudah disulap laiknya sebuah taman, dan menyedot pengunjung  setiap saat,  manfaat ikutan akan datang dengan sendirinya. Kawasan ini sudah pasti menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mendatangkan rupiah dan dolar bagi masyarakat lokal. Di Kabun Raya Bedugul, Bali, omset dari tiket masuk saja mencapai ratusan juta perhari. Belum terhitung omset keuntungan masyarakat yang bergerak di sektor nonformal dan dampak ikutan lainnya akibat kehadiran taman itu. Penginapan pun bukan tidak mungkin menjadi bisnis yang dapat diwujudkan oleh masyarakat sekitarnya.


Meski tidak tergolong tempat wisata resmi, namun secara diam-diam ternyata  hamparan ini sering menjadi tempat tujuan para pelesir bagi banyak orang, bahkan wisatwan mancanegara.  Apakah tempat ini hanya sekedar hamparan luas dengan rimbunnya pohon kayu putih dan cemara? Ternyata tidak. Beberapa situs yang dipercaya masyarakat ssetempat dan menjadi cerita bermakna penuh kearifan berada dihamparan ini.

Kampung tradisional 'Bela' sudah menjadi daya tarik yang dikunjungi wisatawan - tak jauh dari kaki gunung Inerie
Di lereng gunung ini tersembunyi berbagai  situs menarik untuk kegiatan wisata. Bahkan jika mendapat sentuhan investasi  akan mampu menarik minat pengunjung. Orang-per orang memang mulai membidik tempat ini sebagai tempat rekreasi yang menyenangkan dan sering datang sendiri-sendiri menikmati alam sekitar.  Sebut saja sebuah sekolah di Langa – SMP St. Agustinus – sudah beberapa kali menggelar kamping di areal yang masih menawan ini.

Letaknya yang dekat dengan ibu kota Kabupaten Ngada, Bajawa memang membuat tempat ini dipandang sangat strategis. Dengan demikian menjadi tujuan bagi warga kota untuk berekreasi di situ.  Jarak dari kota Bajawa ke arah selatan melewati kampung Langa sekitar 8 km. Tepatnya di kaki gunung Inerie.


Sebelum masuk kawasan potensial ini, pengunjung melewati kampung tradisional Bela. Kampung ini menjadi daya tarik wisata yang sering dikunjungi wisatawan mancanegara. Kampung ini membelakangi bukit ‘Gedha Tiza.’ Dari bukit ini mengalir air terujun ‘Wae Longa’. Namun uniknya air terjun ini  hanya ‘muncul’ dalam waktu tertentu. Kalau ingin menyaksikan indahnya air terjun ‘Wae Longa’ datanglah pada musim hujan, karena musim kemarau bukit ini tidak lagi mengeluarkan air akibat kemarau. Air terjun musiman ini juga bisa menjadi suatu keunikan yang layak dijual.


Sekitar  kawasan ini terdapat situs ‘Kapal Karam’. Masyarakat setempat menyebutnya ‘Alo Rajo Boat’, yang katanya merupakan peninggalan para pelancong dari zaman dahulu.  Cerita ‘Alo Rajo Boat’ berkembang di masyarakat sebatas itu saja.


Tidak jauh dari situ, pengunjung  dapat menjumpai situs alat music  ‘Batu Gong’. Cerita yang melegenda di masyarakat setempat bahwa di situs itu  jika dipukul dengan benda lain akan menghasilkan nada tertentu. Dan ‘Batu Gong’ ini jika dipukul menghasilkan nada:  do, mi, sol. Unik bukan? 


Hamparan di kaki gunung Inerie bukan hanya dihiasi rerimbunan pohon yang memberi kesejukan, tetapi juga mengonggok bongkahan batu alam yang memberi pesona lain tempat ini sehingga tampak eksotik

Di bagian lain dekat kaki gunung Inerie juga terdapat sebuah bukit yang amat terjal, dalam bahasa lokal disebut ‘Bedhi me Luna’. Tempat ini dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tempat menghukum seorang pria bernama Luna. Konon, Luna digantung di tempat itu karena melanggar aturan adat dalam kampung itu.

Antara kaki gunung Inerie dan bukit ‘Bedhi me Luna’ juga tempat yang unik, dan selalu menarik dikunjungi banyak orang. Lantaran di tempat yang tidak terlampau itu  menghasilkan ‘gema’ jika bersuara. Bagi siswa SMP St. Agustinus yang ada di Langa – dan letaknya tidak jauh dari tempat itu – selalu dijadikan tempat untuk praktik mata pelajaran fisika untuk materi Gaung dan Gema. Suara seseorang seperti terpantul kembali dan dipancar ulang berkali-kali.


Inerie memang  menyimpan misteri kepada banyak orang dan selalu ditantang untuk mengungkap. Puncaknya menggoda para petualang untuk menaklukan  guna ‘merubut’ keindahan dan pesona dari ketinggian 2.400 di atas permukaan laut. Dan, lereng serta hamparan di kaki ‘Mama yang Cantik’ ini menyimpan sejuta misteri yang menanti untuk disingkap. Kalau ada pepatah mengatakan: “Surga ada di bawah telapak kaki ibu,” – maka di bawah kaki Inerie – sang Mama yang Cantik – ada surga yang harus disingkap.


Hamparan luas ini berlum terjamah. Potensi yang ada belum dikemas. Jika dikemas, maka tempat ini bisa menjadi sebuah  taman atau kata lain yang lebih keren – Kebun Raya – yang dapat digunakan untuk rekreasi para wisatawan, baik lokal, nusantara maupun mancanegara. Daya dukung  agar  tempat ini menjadi daya tarik wisata pun tidak sedikit tersedia di sana. Mungkin perlu tangan-tangan bijak yang terulur agar pesona  yang ada di bawah kaki  Inerie itu dapat tersingkap untuk kesejahteraan anak cucu. (Emanuel Djomba)*

Insert foto: (Utama) Lembah di kaki gunung Inerie juga dihiasi bunga yang membuat tempat ini berwarna

Friday, 16 October 2015


SOA/NGADA/FLORES, vigonews.com –  Karena keunggulannya, kunjungan ke obyek wisata Air Panas Mengeruda ternyata cukup tinggi, bahkan tertinggi dalam kategori kunjungan lokal untuk obyek wisata di daratan  Flores.

Sayangnya tingginya kunjungan belum berbanding lurus dengan pelayanan dan penataan kawasan ini menjadi obyek yang nyaman dan bermutu. Pemandangan sebagian kawasan ini tekesan kumuh dengan beronggoknya lima unit penginapan yang sudah hancur namun bekas bangunan dan puing-puingnya masih berserakkan di sana.

Penginapan (Vila) yang dibangun sekitar tahun 2002 itu, kini sudah tak terurus. Atapnya sudah hancur. Bahkan bagian bangunan yang  terbuat dari bahan kayu juga sudah banyak yang lapuk dan hancur sebagian. Sebagian lagi yang permanen, tinggal tembok menjulang. Sekitar bangunan-bangunan itu ditumbuhi belukar sehingga semakin menimbulkan kesan jorok dan angker (serem).

Kabid Pariwisata Dinas P2KI Kabupaten Ngada, Ivan Botha  menjawab vigonews.com, Jumat (16/10/2015) membenarkan,  bangunan itu sudah lama tak terurus. Hal itu memang merusak pemandangan bagi setiap pengunjung yang datang ke sana. “Bagian-bagian bangunan banyak yang sudah lapuk bahkan atapnya yang terbuat dari kayu  yang ditutup alang-alang sudah hancur semua. Sehingga terkesan seperti obyek mutu rendah,” kata Ivan.


Dikatakannya, obyek wisata Air Panas Mengeruda sebenarnya dalam kategori kunjungan lokal termasuk cukup tinggi, bahkan di daratan Flores. Karena itu, obyek potensial semacam Mengeruda dan obyek lainnya akan ditata ke depan, sehingga menjadi obyek yang memiliki nilai jual dan memberi kenyamanan kepada setiap pengunjung.

Terkait dengan itu, kata Ivan akhir tahun ini sudah akan rampung  pembuatan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (Riparda). Saat ini Riparda sedang digarap tim dari Pusat Pariwisata UGM. Sehingga dengan Riparda itu nanti  akan disusul dengan pembuatan perda tahun depan, agar menjadi acuan untuk pengembangan pariwisata daerah ini.

Kalau Riparda sudah selesai, jelas Ivan, tahun 2016  akan dilanjutkan dengan menggarap RIPO (Rencana Induk Pengembangan Obyek). “Dengan landasan Riparda dan RIPO itu tahun 2017 yang akan datang kita sudah mulai action. Jadi kita sudah akan melakukan langkah-langkah penataan obyek yang dianggap potensil dengan mengacu pada RIPO dan Riparda itu,” tambahnya.

Untuk tahap pertama yang akan dilakukan penataan adalah kawasan wisata Air Panas Mengeruda. Itu karena di Mengeruda tanahnya sudah menjadi aset Pemda jadi mungkin akan lebih mudah. Luas areal obyek wisata Air Panas Mengeruda 5,6 hektar, sementara yang baru ditata  sekitar tiga hektar. Untuk pengembangan diperlukan dokumen sehingga ada intervensi sesuai dengan rencana induk.


Sementara  penataan kawasan lain  adalah Jerebu’u.  Kawasan ini akan dibuatkan master plan. Karena dia kawasan dan bukan obyek, maka yang dilakukan adalah berupa penguatan kapasitas, karena di sana obyek sudah dikelola oleh masyarakat.

Untuk diketahui, angka kunjungan  Wisdom ke obyek wisata Air Panas Mengeruda pada tahun 2013 angka kunjungan wisdom 34.434 orang, sedang wisatawan mancanegara (Wisman) 3.198 orang. Sementara pada tahun 2014 wisdom 33.639 orang dan wisman 4.072 orang.

Karcis masuk, untuk wisatawan domestik  dewasa Rp 4.000 dan anak-anak Rp 2.000. Sementara wisatwan asig dewasa Rp 14.000 sementara anak-anak Rp.7000. Menurut dia, kunjungan hari ini (14/10/2015) tidak terlalu banyak dibanding dengan liburan akhir pekan (ch)*

Insert foto: Lima penginapan teronggok di salah satu sisi kawasan wisata air panas Mengeruda, sehingga terkesan kumuh karena banyak bagian bangunan yang lapuk dan ada juga yang sudah hancur. Pemandangan ke arah itu tak sedap dipandang mata dan terkesan serem.

Wednesday, 14 October 2015


SOA/NGADA/FLORES, vigonews.com – Wisata pemandian air panas Mengeruda Soa, kabupaten Ngada tetap mempesona baik saat pengunjung tak terbendung  maupun di kala surut. Obyek wisata ini selalu menjadi tempat bagi wisatawan domestik untuk rekreasi bersama keluarga.

Kunjungan ke obyek wisata air panas biasanya terjadi ‘ledakan’ pada musim liburan sekolah dan liburan di akhir pekan. Sedangkan liburan pada tengah minggu seperti pada hari raya Tahun Baru Islam 1437 Hijriah, Rabu (14/10/2015) yang lalu, tidak terlihat lonjakan pengunjung yang berarti. Bahkan angka kunjungan pada akhir pekan masih jauh lebih tinggi.


Meski begitu, dari pantauan vigonews.com, Rabu, obyek wisata yang letaknya tak jauh dari Bandara Soa ini  terlihat dikunjungi baik wisatwan lokal, maupun mancanegara. Liburan tengah minggu, sebagaimana dikemukakan Kabid Pariwisata Dinas P2KI kabupaten Ngada, Ivan Botha, memang tidak terlalu banyak. Malah lebih banyak pada liburan akhir pekan, atau yang bertepatan dengan tanggal merah menjelang akhir pekan. Momentum lainnya yang juga sering terjadi lonjakan justru pada liburan sekolah.

Masyarakat lokal pun tidak banyak memanfaatkan hari libur tengah minggu untuk rekreasi, karena biasanya mereka memanfaat untuk kegiatan lain. Hingga pkl. 18.00 wita, Rabu (14/10/2015) jumlah pengunjung yang datang mandi di sumber air panas itu sekitar 243 orang sudah termasuk wisatawan domestik maupun mancanegara, baik anak-anak maupun dewasa.


Para pengunjung memanfaatkan kolam mandi alami  dan sekitar aliran sungai. Tempat ini memang menyenangkan karena bisa merasakan sensasi mandi di sumber air panas alami itu. Banyak juga pengunjung remaja dan anak-anak. Sembari mandi, mereka biasanya bercanda ria hingga aksi selfi sehingga menambah sensasi liburan di pemandian itu. Di kolam buatan sebelah timur, hanya tampak beberapa remaja yang berenang. Berbeda di kala liburan akhir pekan dan liburan sekolah dimana kunjungan meningkat hingga beberapa areal pemandian dijejali pengunjung.

Menurut penjaga loket karcis, Emanuel Poli, liburan tengh minggu biasanya tidak terlalu banyak yang datang. Jauh lebih banyak liburan akhir pekan, bisa dua atau tiga kali lipat. Kalau jumlah kunjungan hari ini hampir sama dengan kunjungan hari biasa.


Karcis masuk, kata Poli, untuk wisatawan domestik  dewasa Rp 4.000 dan anak-anak Rp 2.000. Sementara wisatwan asing dewasa Rp 14.000 sementara anak-anak Rp.7.000. Menurut dia, kunjungan hari ini (14/10/2015) tidak terlalu banyak dibanding dengan liburan akhir pekan.

Salah seorang pengunjung, Vani, meski tidak terlalu sering tetapi wisata air panas menjadi tempat untuk rekreasi guna melepas lelah sehingga pulang sudah segar kembali. Di cadas putih berwarna kehijauan, Vani dan teman-teman menikmati hangatnya curahan air dari ketinggian di bawah rindangan pohon  yang tumbuh di bibir sungai.  “Kadang-kadang saya datang ke sini. Ya, untuk senang-senang. Di sini bisa mandi sepuasnya,” kata sarjana pendidikan yang baru diwisuda dari Unflor Ende beberapa waktu lalu ini.

Vani yang berasal dari Jerebu’u itu tidak datang  sendiri. Dia bersama Bertin, siswa SMAK Fransiskus Boawae dengan teman-teman lain. Dara asal Rowa ini memang sengaja datang rekreasi dengan mandi di sumber air panas  Mengeruda. Menurut dia, mandi air panas sangat bagus untuk menghilangkan kepenatan.  Bersama teman lainnya Bertin merasakan sensasi air panas alami yang mengucur menuruni cadas putih kehijauan sebelah utara sumber mata air.


Obyek wisata air panas Mengeruda, kata Kabid Pariwisata Dinas P2KI  Kabupaten Ngada, Ivan Botha menjadi tempat rekreasi sangat strategis. Bahkan, bukan hanya masyarakat lokal Ngada tetapi dari daerah Flores lainnya. Sementara kunjungan wisatawan asing tidak terlalu besar, jika dibanding wisatawan domestik (Wisdom).

Apa yang dikatakan Ivan bisa dilihat dari angka kunjungan pada tahun 2013 dan 2014. Untuk diketahui pada tahun 2013 angka kunjungan wisdom 34.434 orang, sedang wisatawan mancanegara (Wisman) 3.198 orang. Sementara pada tahun 2014 wisdom 33.639 orang dan wisman 4.072 orang.


Kalau dilihat memang wisdom jauh lebih banyak. Sementara dari data itu terlihat di 2014 terjadi penurunan. "Sebenarnya tidak demikian, hanya karena ada sekitar tiga bulan tidak ada tiket karena masih proses pengadaan. Sedangkan yang dihitung adalah jumlah tiket masuk. Jadi sebenarnya angka kunjungan pada 2014 jauh lebih tinggi," katanya. (Emanuel Djomba)*

Tuesday, 13 October 2015


Yang terkenal dari Riung - dan dunia juga tau adalah Taman Wisata 17 Pulau, dengan keindahan bawah laut yang tak ada duanya. Tetapi pesona Riung bukan itu saja. Kekayaan alamnya bisa membawa rakyatnya mencapai sejahtera, tetapi belum tergarap tangan kreatif. Rodang Puni adalah pesona Riung yang lain. Adanya di Riung Barat, tak jauh dari Maronggela, ibu kota kecamatan itu.

Siapapun  bakal tergoda menyaksikan kucuran air  dari ketinggian 50 meter, Rodang Puni. Laksana gadis cantik dengan rambut terurai. Dinding-dinding batu bagai membiarkan curahan air membalut menuruni bebatuan terjal hingga menyentuh bibir kolam. Eksotik! Itu kata yang tidak sempurna untuk mendeskripsikan keindahan air terjun Rodang Puni, di Riung Barat.

Aliran air yang mengucur tipis membasahi dinding batuan alam yang legam memantulkan rona yang memikat hasrat pengunjung. Kucuran air yang bening dengan anggun menuruni bukit terjal, segera menghilang ditelan permukaan telaga yang setia menunggu. Telaga dengan diameter sekitar 50 meter laksana dipagari bebatuan. Dihiasi tetumbuhan hijau bergelantungan di bibir tebing. Telaga yang tenang,  memberikan keteduhan jiwa setiap pengunjung. Isi kolam yang jernih mencari jalan sendiri di sela-cela bebatuan yang  memagari, meneruskan perjalanan,  seakan membawa kabar tentang keindahan Rodang Puni. Kenapa dia diabarikan?

Rodang Puni akan tetap mengucurkan airnya. Siapapun bakal tergoda. Menyingkap sehelai demi sehelai penutup tubuh, kemudian membuang diri dan membiarkannya ditelan telaga yang tenang, menyingkap  isinya. Muncul ke permukaan dan membiarkan tubuh diguyur curahan cairan bening membuncah dari ketinggian. Asyik dan menyenangkan!

Dari sisi mana saja anda berada di telaga itu, Rodang Puni bakal mengendus rahasia keabadian alam. Anda memandang, dia tersenyum. Anda berteriak sekuat-kuatnya, dia tetap menampakkan keanggunan. Anda foto, dia puaskan hasrat anda. Anda ingin tidur, dia akan memberikan mimpi tentang keindahan dan ketenangan. Setelah terbangun, anda membawa kesegaran baru untuk pulang. Itulah Air Terjun Rodang Puni. Rodang Puni menyimpan keindahan yang tak pernah habis. Ini kekayaan alam yang diberi dengan cuma-cuma.

Air Terjun Rodang Puni, teerdapat di aliran ungai Lomba. Sungai ini merupakan batas alam antara desa Ria dan desa Ngara, di  kecamatan Riung Barat. Mencapai Rodang Puni memang bukan urusan mudah. Sudah pasti jauh dan sulit. Tapi jangan mengeluh dulu. Tantangan yang anda alami untuk menggapai tempat ini tak seberapa dibandingkan dengan suguhan keindahan Rodang Puni yang belum tentu anda dapatkan di tempat lain.

Dari Ibu Kota Bajawa perjalanan dengan kendaraan menempuh jarak 70 km, dengan beberapa ruas jalan sedikit mengalami hambatan, karena kondisi jalan belum mulus. Setelah tiba di Maronggela Ibu Kota kecamatan Riung Barat, perjalanan masih berlanjut lagi ke desa Ri’a, atau sekitar 4 km arah Timur Laut Maronggela.

Jika anda pencinta alam/ pelancong, mungkin ini akan menjadi perjalanan yang asyik dan menyenangkan. Di desa Ri’a. kendaraan anda harus diparkir  dan siap-siaplah menempuh 5 km lagi menuju lokasi. Jangan lupa sedikit perbekalan  karena di sana tidak ada orang yang berjualan makanan. Penduduk juga tidak ada di sana. Kecuali binatang hutan yang menjadi pemilik alam di sana. Namun sepanjang perjalanan setapak anda tetap akan disugihi dengan panorama alam yang menawan dan sejuk.

Untuk mencapai Rodang Puni juga bisa ditempuh perjalanan melalui Riung (Riung Pantai) Hanya saja anda perlu waktu lima jam untuk tiba menuju lokasi, dari Riung ke arah Ri’a. “Perjalanan dari Riung sekitar lima jam,” kata  Yohanes,  warga Ri’a menceritakan. Lima jam kira-kira berapa kolometer jauhnya? Yohanes juga tidak tahu. “Ya, lima jam perjalanan, kira-kira begitu,” tambahnya dalam dialeg Riung yang kental.

Kalau datang ke sana sekitar bulan Juli – Oktober, kata warga Ria, pengunjung bisa menikmati suguhan atraksi wisata seperti caci dan tandak. Wah, asyik juga kalau begitu. Kedua jenis tarian ini bahkan bisa disaksikan di setiap kampung di Riung Barat. Itulah kekayaan budaya Riung. Kalau ditambah dengan kekayaan alam yang dikelola secara baik tentu akan mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat. Tetapi kapan ya, semuanya bisa terwujud?  Mimpi lagi!

Konon, potensi Rodang Puni bisa dimanfaatkan untuk pembangunan  pembakit listrik tenaga air. “Dulu sudah pernah ada yang survey, kalau tidak salah dari salah satu dinas di kabupaten, katanya untuk rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga air, tetapi sampai saat ini tidak ada lagi kabar beritanya. Mungkin hanya akal-akalan,” kata Marselinus warga Ri’a lainnya.

Bicara tentang Maronggela bisa berarti banyak hal. Rodang Puni menjadi salah satu potensi yang bisa dikembangkan ke depan. Jadi, sekarang ini kalau  ingat Maronggela, segera ingat akan potensinya seperti air terjun Rodang Puni, padang savana, peternakan OCD yang kini jadi pusat studi peternakan, budaya caci dan tandak yang turun-temurun terpelihara,  dan masih banyak lagi. (Emanuel Djomba)***