Responsive Ads Here
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts

Wednesday, 27 September 2017


BAJAWA, vigonews.com –  Lebih dari 1.000 penari getarkan alun-alun kota Bajawa dalam tarian Ja’i massal. Perhelatan ja’i massal itu  sekaligus ‘merayakan’ pesta minum kopi 1.999 cangkir Arabika Flores Bajawa (AFB), Rabu (27/09/2017).

Ja’i massal dan minum 1.999 cangkir kopi itu dalam rangka meramaikan pameran pembangunan dan menyongsong hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober mendatang yang juga bertepatan dengan Hari Kopi Internasional.

Ini ja’i massal pertama di kota kopi AFB. Ribuan penari menelisik dari beberapa penjuru beriringan masuk lapangan kartini, sesaat setelah gong gendang ditabuh. Dari penari cilik hingga penari dewasa ‘bak berhampuran memadati alun-alun kota yang dipagari berbagai stand pameran.
 
Anak-anak yang juga turut serta dalam gelar ja'i masal ramai-ramai toast kopi
Sekitar 30 menit, gong dan gendang bertalu-talu memacu kaki para penari beriringan. Tiga puluh menit berikutnya semangat para penari belum surut juga, ketika iringan ja’i dengan music modern dengan dentuman yang kian membuai para penari hanyut dalam irama dan hentakan setelah jedah beberapa detik.

Hingga sejam sejak gong ditabuh sejak awal,  para penari jedah untuk aksi minum kopi 1.999 cangkit yang disuguhkan oleh panitia. Wakil Bupati Ngada, Paulus Soliwoa naik ke panggung bersama beberapa pimpinan SKPD menyambut para penari dengan mengangkat cangkir kopi dan mengatakan, “Mari kita nyatakan toast sebagai wujud kesatuan kita dan tegaknya Pancasila, sekaligus merayakan hari kopi internasional. Arabika Flores Bajawa, kian mendunia, go gita go internasional,” kata Wabup Soliwoa.
 
Wabup Paulus Soliwoa (kiri) mempimpin toast minum kopi 1.999 cangkir di alun-alun  Kota Bajawa
Ja’i masal dan minum kopi 1.999 cangkir merupakan ‘pesta’ singkat untuk mempromosikan kopi AFB yang sudah menjadi produk unggulan Ngada hingga ke mancanegara.

Kopi AFB, kata Wabup Soliwoa menjawab vigonews.com usai gelar minum kopi 1.999 cangkir mengatakan, saat ini kopi dataran tinggi Bajawa sudah menjadi produk ekspor. Namun kopi ini belum menjadi tuan di rumah sendiri.

Terkait dengan hal itu, Wabup Soliwoa mengatakan, pemerintah mendorong semua elemen, khususnya orang muda agar membangun usaha hilir seperti usaha café di Kota Bajawa. Bahkan, kata dia, jika ini bisa terwujud, maka pemerintah siap memberi bantuan modal.

“Kalau ada café-café sebagai usaha hilir, maka pemerintah daerah kalau rapat tidak perlu di kantor. Kita bisa rapat bergilir dari café ke café,” kata Wabup Soliwoa.

Dia juga mendorong agar kopi yang kini pengelolaannya berbasis UPH dalam wadah koperasi harus didorong juga untuk memproduksi untuk dikonsumsi lokal. Dinas Perindustrian supaya mulai melakukan terobosan kerja sama dengan stakeholder lain agar kopi dengan berbagai jenis saset dapat terjual di pasar-pasar lokal.
 
Para penari toast kopi sembari ja'i
Dikatakan Wabup Soliwoa, kopi AFB sudah dibudidaya dengan system organik di atas lahan seluas sekitar 1.600 hektar. Selanjutnya prosesnya memenuhi standar SOP dan sangat higienis. Sehingga AFB sehat untuk dikonsumsi.

“Jangan sampai kita tanam kopi tetapi kita minum kopi dari luar. Apa salahnya kita tanam, kita proses jual, kita juga minum sendiri. Itu malah berdampak lebih baik. Saya ajak masyarakat Ngada untuk minum kopi produk lokal, dan cintailah produk sendiri,” urai Wabup Soliwoa.

Ja’i massal dan minum kopi 1.999 cangkir didukung penuh Dinas Pertanian Kabupaten Ngada yang menjadi leading sejak awal hingga kopi AFB diproduksi sesuai SOP seperti sekarang dan diekspor ke mancanegara. Belakangan, Dinas Perindustrian juga mulai mengambil bagian dalam untuk pengembangan dan promosi lokal, misalnya memasarkan dalam bentuk sasetan sehingga ada difersifikasi kemasan dan ukuran. (ch)***

Friday, 30 October 2015


KURUBHOKO/NGADA/FLORES, vigonews.com - Taman Wisata Rohani (TWR) Bukit Doa 'Wawo Mbewo' di Kuasi Paroki Kuruboko, Wolomeze adalah potensi yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik kunjungan untuk tujuan kegiatan rohani. Sayangnya, jalan menuju tempat ini sejauh 4 km belum tersentuh pembangunan.


Lebih dari 700 umat dari empat paroki wilayah TP. APT Riung,  ketika melakukan ziarah ke TWR ini, (30/10/2015) lalu tertatih-tatih melewati jalan sejauh 4 km dari Kurubhoko menuju arah barat, hingga tiba sebuah bukit. Kendaraan sulit melaju  melewati jalan bak kubangan menganga. Di sana sini juga banyak bongkahan batu tak beraturan.

Ruas jalan ini adalah akses ke sebuah TWR di bukit Wawo Mbewo. Kiri kanan jalan menuju tempat ini terbentang sawah yang luas. Meski musim kemarau panjang  tampak hanya rumput dan jerami kering, namun tetap menyuguhkan pemandangan yang eksotik.

Sekitar 1 km mendekati TWR sepanjang jalan ditumbuhi pohon yang memberi ksejukan kepada para peziarah. Meski sedikit mendaki, sekitar 500 meter mendekati TWR, perjalanan menuju tempat ziara yang hening dan jauh dari kebisingan ini tetap menggoda para peziarah menuju taman doa yang masih sedang ditata Kuasi Paroki Kurubhoko.

Sejumlah peziarah sangat berkesan dengan taman doa yang ditumbuhi pohon dan memberi kesejukan serta kesegaran. TWR yang terbaik di wilayah TP APT Riung itu terletak di sebuah bukit seperti gundukan degan luas  sekitar  1 hektare. Di atas bukit itu berdiri kokoh sebuah situs Gereja Tua berusia lebih dari 50 tahun, bukti kehadiran misionaris Eropa di zamannya.

Salah seorang peziarah, Simon Sila mengatakan berziarah di TWR ini sangat  menyenangkan. "Tempat ini luar biasa. Tempat ziarah yang nyaman, jauh dari kebisingan. Hanya sepoi angin dan bunyi burung yang terdengar. Di sini kita bisa berdoa khusuk," kata Simon yang mengaku baru pertama kali.

Di TWR ini ada sebuah gua tempat ditahtakannya Arca Bunda Maria. Tempat para peziara melakukan devosi. Keliling bukit ditumbuhi pohon-pohon dan dihiasi bunga kamboja yang selalu menyebarkan  harumnya kepada siapa saja yang datang tempat ini.
Jalan menuju TWR Bukit Doa 'Wawo Mbewo'
Sementara peziarah lain, Fidelis Rata mengaku senang berada di TWR Bukit Doa ‘Wawo Mbewo.’ Meski jalan menuju lokasi sejauh 4 km ditempuh dengan susah payah,  namun tidak menyurutkan niatnya datang berziarah. "Meski capek diguncang kendaraan melewati jalan rusak, tapi  rasanya terbayar juga setelah  menimba keheningan di tempat ini. Bisa berdoa tanpa ada gangguan keramaian dan deru kendaraan," kata tokoh umat dari Paroki MA. Maronggela itu.

Baik Simon, maupun Fidelis sepakat tempat ini harus ditata sedemikian rupa sehingga ke depan menjadi tujuan wisata rohani atau tempat ziarah bagi umat Katolik. "Luar biasa. Ternyata kita punya potensi yang selama ini belum diketahui oleh banyak orang," kata Fidelis diaminkan Simon.

Hanya menurut Simon ke depan perlu perhatian pemerintah dengan akses jalan menuju TWR ini yang sangat tidak layak, apalagi pada musim hujan. Sehingga umat dari mana saja yang berziarah dapat mengakses tempat ini dengan cepat dan mudah. Lebih dari itu, jalan yang bagus, kata Simon memberi rasa aman dan nyaman bagi para pengendara maupun pejalan kaki.

"Kalau saya liat jalan ini bukan sekedar jalan tani, tapi jalan menuju sarana strategis lainnya yang bisa saja karena tempatnya  yang menarik untuk dikunjungi dapat mendatangkan keuntungan ekonomi bagi warga setempat," pinta Simon.

Pada ziarah sebelumnya menjadi kesempatan bagi para pedagang kecil dari Kuasi Paroki Kurubhoko untuk menjajakan makanan dan minuman. Rata-rata mereka menjual minuman es, minuman kaleng, air mineral dan jenis makanan kecil lainnya.(ch)*

KURUBHOKO/NGADA/FLORES, vigonews.com - Taman Wisata Rohani (TWR) Wawo Mbewo, Tajo di Kuasi Paroki Kurubhoko, Jumat (30/10/2015) dipadati para peziarah yang datang dari paroki-paroki di wilayah Tim Pastoral  Antar Paroki Tetangga (TP. APT) Riung.

Sejak pkl. 08.00 wita,  lebih dari 700 umat yang datang dari empat paroki di wilayah Riung itu berbondong-bondong dari pusat Kuasoi Paroki Kurubhoko menuju arah barat sekitar 4 Km. Para peziarah terlihat ada yang berjalan kaki, sepeda motor dan kendaraan roda empat menuju tempat ziarah yang juga terdapat sebuah situs Gereja Tua.

Para peziarah langsung memadati sebuah bukit yang di atasnya berdiri sebuah gereja tua. Di bawah  rindangan pohon yang tumbuh keliling bukit, ratusan umat mengikuti upacara misa ziarah tahunan itu.

Prosesi menuju Bukit Doa 'Wawo Mbewo'
Misa dimpimpin Rm. Yohanes Paulus Mere, Pr yang sehari-hari sebagai Pastor Kapelan Paroki Cor Jesu Wangka. Sebagai selebran utama,  Rm. Juan, begitu dia biasa disapa didampingi pastor konselebran, Rm. Aris Guru, Pr; Pater Bonefasius Budiman, OFM, yang juga Administrator  Kuasi Kurubhoko;  Pater Fridus Derong, OFM yang juga Pastor kapelan Kuasi Paroki Kurubhoko;   Rm. Sony Lulu, Pr  Pastor Paroki Bekek:  Rm. Filter Pendi, Pr, Pastor Paroki Cor Jesus Wangka;  dan  Rm. Basilius Lewa, Pr Pastor Paroki MA. Maronggela.

Ketika membuka misa yang diringi paduan suara SMPN Satap Kurubhoko, Rm. Juan mengajak umat mendalami makna tema ziarah tahun ini: "Maria Pelayan Setia dan Teladan bagi Keluarga Kristiani."

Para peziarah memasuki Bukit Doa
Sementara pastor pengkhotbah, Rm. Aris Guru, Pr dalam khotbah sesuai bacaan injil 'Pesta Perkawinan di Kana" menyampaikan tiga pesan dari Firman Tuhan. Pertama, kata Rm. Aris, "kita harus belajar dari Bunda Maria sebagai ibu yang peka dan tanggap situasi. Ada banyak kecemasan yang kita alami dalam keluarga dan lingkungan, kita juga dipanggil menjadi pribadi peka dan tanggap terhadap situasi sosial. Kita diminta bersikap solider dengan sesama."

Pesan kedua, kata Rm. Aris, bahwa  Bunda Maria sebagai pengentara doa  yang membawa pesan kegembiraan untuk banyak orang. "Kita harus menjadi pembawa pesan ini. Pesan kehidupan dan kegembiraan bagi orang lain," tegasnya.
Rm. Juan Mendupai gua Maria di Bukit Doa 'Wawo Mbewo'
Dan, pesan ketiga, bahwa Bunda Maria adalah pribadi yang rendah hati. Seorang pelayanan yang setia yang harus diteladani oleh umat.  Melalui peristiwa kehabisan anggur,  Bunda Maria menunjukkan kerendahan hatinya untuk memohon pada Yesus putranya.

Dikatakan, dalam ziarah hidup, kita percaya bahwa Maria menjadi bunda penolong. "Apakah kita selalu datang kepada Bunda Maria? Apakah kita sudah berjalan bersamanya," katanya.

Ketua TP. APT Riung, Rm. Sony Lulu, Pr memberi apresiasi kepada umat yang hadiri  ziarah di tempat yang unik itu. Tempat yang teduh, ada situs Gereja Tua, ada gua Maria dan lingkungan yang hening. Ini bagus untuk taman doa," pesan  Rm. Sony.
Sisi lain Bukit Doa 'Wawo Mbewo' dihiasi bunga Kamboja yang senantiasa menyebarkan harum semerbak
Sementara, ketua Stasi Mainai, Paroki  Cor Jesus Wangka, Simon Sila mengatakan ini kegiatan rutin tahunan. "Melalui peristiwa iman ini, umat menghayati kesatuan sebagai satu gembala dalam Kristus," katanya.

Menurut Simon, tempat ini bagus jadi tempat ziarah dimana  umat dapat  menimba keheningan. "Hanya kita harapkan ke depan jalan menuju tempat ini perlu diperbaiki, karena masih sulit. Di sini menyenangkan, umat bisa menemukan keheningan untuk perjuampaan dengan Sang Khalik," katanya.(ch)*

Thursday, 29 October 2015


LANGA/BAJAWA/FLORES, vigonews.com – Sebanyak 24 orang anak muda  Langa dan pemuda  asal Amerika, Rabu (28/10/2015) mengibarkan bendera Merah Putih di puncak gunung Inerie. Ini cara anak muda dari dua Negara itu memaknai hari Sumpah Pemuda ke-87.

Pendakian menaklukan puncak setinggi 2.400 meter di atas permukaan laut itu menjadi atraksi menyenangkan bagi para pemuda beda kultur itu. Namun dalam semangat yang sama, 12 orang muda dari Amerika ikut menggelorakan para pemuda lokal yang berasal dari desa Bomari, Beja, Langagedha dan Bela itu untuk terus berprestasi seperti manklukan  tantangan zaman.

Begitu tiba di puncak yang menyuguhkan panorama Ngada dan pantai selatan yang eksotik, 24 orang muda menegakkan Merah Putih. Semangat pemuda seperti digelorakan kembali di ketinggian Inerie. Refleksi cita-cita orang muda yang biasanya dibalut dengan idealisme dan perjuangan yang tak kenal lelah seperti semangat para pemda di era perjuangan.

Perjalanan menuju puncak Gunung Inerie ini ditempuh dalam waktu 4 jam, penuh tantangan. Rombongan sudah beranjak pkl. 02.00 wita  dan tiba empat jam kemudian. Di puncak itu para pemuda mengibarkan bendera Merah Putih. Setelah istirahat sejenak baru bergegas turun kembali.

Selain waktu yang cukup panjang, juga harus diimbangi dengan pengorbanan serta ketabahan menuju puncak.Banyak hal yang kami peroleh di sini.  Kami dilatih untuk bisa saling memercayai, sebab akan sangat berbahaya bila tidak saling percaya bukan hanya beda bahasa, beda Negara,  sesama saja tidak saling percaya, satu desa, satu kampung saja tidak percaya dan itu sangat berbahaya bagi orang muda,” kata koordintor pendakian Dionisius Tunga.

Dikatakan, pendakian ke Inerie ini selain untuk merefleksikan perjalan hidup orang muda yang akhir-akhir ini selalu disoroti sebagai pemicu masalah dengan hadirnya geng-geng di berbagai daerah,  juga sekaligus memperkenalkan eksotika pemandangan alam tanah Ngada dari puncak Inerie kepada orang muda asal Amerika.

Sementara itu salah seorang pemuda asal Amerika Benyamin Yih kepada vigonews.com juga mengatakan bahwa pemandangan dari puncak Inerie itu sangat indah dan luar biasa. Untuk mencapai puncak harus banyak berkorban,  dan inilah sebuah tantangan yang harus dilewati sebelum menikmati sesuatu yang luar biasa.

"Saya suka Inerie. Pemandangan yang indah dari puncak yang membuat kita seperti berada di atas awan. Ini indah. Amazing!" kata Ben demikian dia biasa disapa.

Para pemuda dari negeri Paman Sam itu dalam rangka kegiatan live in  di Langa. Mereka sudah tiba 21 Oktober lalu, dan akan mengakhiri program live in mereka pada 2 November mendatang. Selama di Langa, para pemuda itu akan tinggal bersama dengan orang muda setempat di rumah-rumah penduduk. Di sini mereka dapat berinterkasi dan belajar tentang budaya dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

"Kehadiran mereka dalam kehidupan kami memberikan warna tersendiri,  dimana kami belajar untuk saling terbuka, tidak pantang menyerah untuk terus berjuang sebagai orang muda yang juga adalah masa depan Bangsa dan Gereja.Intinya adalah saling percaya,” tambah Dionisius.(ml)*

Insert foto: Orang muda dari Langa dan Amerika mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung Inerie, memaknai hari Sumpah Pemuda ke-87

Sunday, 25 October 2015


BAJAWA/FLORES, vigonews.com – Boleh jadi tidak banyak orang mengetahui keunikan kawah gunung Wawomuda yang menyerupai danau, sekitar 3 km arah barat kota Bajawa. Mau tau dua keunikan, konon harus datang setidaknya dua kali dalam setahun. Kapan saja?

Air di tiga kawah gunung Wawomuda kering saat kemarau panjang seperti hari-hari ini. Kawah yang menyerupai danau dan menjadi daya tarik wisata  sejak meletus tahun 2001 itu terlihat terpatah-patah.


Pemandangan yang amat jauh berbeda selama musim hujan. Tiga kawah itu dipenuhi air dan memberi efek warna tertentu seperti, kuning, coklat dan merah kecoklatan. Namun gunung yang letaknya tidak jauh dari kota Bajawa, tepatnya di desa Ngoranale itu justru tetap memberi daya tarik sendiri  tak digenangi air.

Dua fenomena itu rupanya tetap memberi daya pikat sendiri. Pada musim hujan pengunjung disuguhi pemandangan kawah dengan air beda warna. Namun saat kemarau panjang, justru tiga kawah ini tanpa air. Dasar kawah yang biasanya berlumpur justru tampak terpatah-patah pada musim kemarau. Selain itu pada musim ini pengunjung disuguhi panorama alam eksotik dari ketinggian Wawomuda.


Pantauan vigonews.com, Sabtu (24/10/2015), meski  tanpa air, kawah tampak tetap menarik. Banyak juga pengunjung yang datang ke tempat ini sekedar untuk  rekreasi. Kebanyakan mereka menyukai aktivitas tracking. Selain pengunjung lokal, tampak juga wisatawan nusantara dan asing.

Salah seorang  wisatawan Nusantara yang dijumpai di kawah itu, Yanto mengatakan dirinya datang ke tempat ini hanya untuk rekreasi. Kebetulan dia menyukai aktivitas  tracking. “Saya suka pemandangan yang indah dari ketinggian di sini. Ke tempat ini bisa dengan jalan kaki. Jadi saya suka tracking. Rupanya karena musim kemarau panjang kawah ini kering, tetapi tetap memberikan pemandangan yang unik,” kata Yanto yang mengaku sudah tiga kali datang ke Wawomuda. (ml)*