Responsive Ads Here
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Monday, 12 March 2018

Na'a Nepe Koperasi Kredit-nya orang Soa


SOA, vigonews.com – Na’a Nepe tidak asing bagi orang Soa. Salah satu dari sejumlah koperasi kredit yang berkiprah di daerah lumbung padi, Soa. Di Na’a Nepe, secara ekonomi banyak orang  tersangga, mengatasi masalah ekonomi masyarakat.

Na’a Nepe, bukan sekedar nama dari bahasa setempat yang berarti ‘menyimpan sesuatu – harta karun, tetapi menjadi sebuah lembaga ekonomi yang mampu mengatasi persoalan ekonomi bagi orang Soa dari waktu ke waktu sejak berdiri 37 tahun silam. Dari kelompok arisan para guru, kini menjadi koperasi bagi para petani yang tersebar hingga ke luar cekungan Soa.

Minggu (11/03/2018) Kopdit  ‘Na’a Nepe’ menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2017,  Tahun buku 2016 di dengan Tema Urgensitas, Komitmen Aksi Membedah tata Kelola Koperasi Kredit Yang sehat. RAT yang berlangsung di Gedung Koperasi Kredit Naa Nepe, di Desa Libunio, Kecamatan Soa itu dihadiri oleh 300 orang anggota, para pengurus dan manajemen.

Menurut Ketua Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe’ Leonardus Meo, RAT kali ini membahas hal hal yang berkaitan dengan Penyerahan Santunan Daperma,  LPJ pengurus dan pengurus Tahun Buku 2017, tanggapan LPJ pengurus dan pengawas Tahun Buku 2017, pengesahan LPJ Pengurus dan Pengawas Tahun Buku 2017, pengesahan program kerja dan RABKOP Tahun 2018, pemilihan dan pengesahan panitia nominasi, pemilihan calon pengurus, dan pengawas periode 2019-2021, serta  pembacaan berita acara RAT Tahun Buku 2017.

Lipus Lusi yang hadir sebagai pejabat dari Puskopdit  Flores Mandiri dalam sambutannya mengatakan, ada empat tugas utama dalam RAT yang harus diemban dalam keseimbangan hak dan kewajiban kita baik pengurus maupun anggota koperasi kredit. pertama tugas pertanggungjawaban dan evaluasi, kedua tugas perencanaan (Program dan Anggaran). ketiga, tugas pengembangan dan keberlanjutan. keempat, membangun komitmen aksi dalam tata kelola Kopdit menuju visi dan tujuan.

"Namun ada dua halyang paling penting yang menjadi perhatian serius saat ini, yakni membangun komitmen aksi dan tata kelola kopdit menuju pendidikan financial anggota dan keluarga yang lebih,” Philipus Lusi.

Sementara Sekcam Soa, Wilson Siga mengatakan bahwa, Rapat Anggota Tahunan merupakan sebuah kesempatan untuk memperkokoh kedudukan koperasi sebagai wadah untuk menghimpun dan menggerakan potensi ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan prinsip prinsip berkoperasi. Sehingga dengn adanya Kegitan RAT ini tentunya menjadi dorongan tersendiri bagi pengurus, pengawas, manajemen dan segenap anggota Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe’ untuk terus berbenah diri bahu membahu membangun koperasi ini dalam meningkatkan kesejahteraan anggota. Sehingga koperasi kredit ‘Na’a Nepe’ semakin maju dan anggotanya sejahtera dan bertambah banyak setiap tahun.
Dari kiri: Philipus Lusi, Leonardus Meo dan Wilson Siga

“Koperasi Kredit Naa Nepe setiap Tahun mengalami penambahan Jumlah Anggota hal ini karenakan  kehadirannya  bermanfaat bagi masayarakat apalagi para petani. Dulu koperasi ‘Na’a Nepe’ hanya beranggotakan para guru PNS namun berubahnya waktu dan melakukan evaluasi dan pembenahan secara terus menerus demi kesejahteraan masyarakat makanya kopdit ini memberikan ruang kepada siapapun untuk menjadi anggota,” kata Anas Mau, Staf Manajemen Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe.’

Dampak positif dari kehadiran Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe’ dirasakan Veronika Fao yang sudah setia menjadi anggota selama 12 Tahun. Menurut dia, Koperasi Kredit ‘Na’a Nep’ sangat membantu sehingga  bisa menyekolahkan anak saya tiga orang menjadi Sarjana. “Saya petani, penghasilan saya pas pasaan bahkan tidak menentu namun berkat kepercayaan dari Kopdit  ‘Na’a nepe’ berupa painjaman uang, maka saya dapat menyekolahkan anak saya, sehingga saya tetap bertahan selama 12 tahun menjadi anggota koperasi ini dan tidak pernah berpaling intinya kita setia dan jujur,” kata Veronika.

Kelompok Arisan

Kopdit ini didirikan  pada 13 November 1981 dengan jumlah anggota kala itu 45 orang. Namun, cikal bakal Kopdit ini ternyata sudah dirintis sebelumnya. Adalah seorang guru bernama Andreas Ngala yang menginisiatif untuk membentuk kelompok arisan guru-guru pada tahun 1979. Kelompok arisan ini memang bertujuan untuk membantu para guru dalam mengatasi masalah ekonomi kala itu sehingga dapat tetap menjalankan tugas keguruan dengan baik.
 
Anggota Kopdit Na'a Nepe
Tidak kurang dari sembilan orang guru menjadi keompok arisan yang dibidani Andreas Ngala ini. Mereka masing-masing Andreas Ngala, Lambertus Wea, Johanes Adhi Keo, Joseph Dhake dan Leonardus Phodi.

Kemudian kelompok arisan ini berkembang menjadi kelompok studi tabungan (KST) Soa. Setelah sempat berlajan setahun kelompok KST berubah menjadi Credit Union (CU) pada tahun 1981, yang ketika itu langsung diberi nama ‘Na’a Nepe’ dari bahasa Soa oleh Andreas Ngala. Na’a berarti simpan (tabung).  Ungkapan bijak bahasa Soa: “Na’a dhu ebu pu’u d’eka renga, na’a masa dhadi dhoghe dhu olo-olo – yang berarti: simpan sebagai warisan untuk turun-temurun sampai selama-lamanya.

Sebagai sebuah Credit Union, Na’a Nepe memiliki visi: sebagai wadah yang aman untuk menghimpun sega;a sumber daya dan memberdayakan agar dapat menolong diri sendiri, saling percaya agar keselarasan hidup spiritual dan material dapat terwujud.

Guna mewujudkan visi itu, Na’a Nepe mengemban misi: selalu menanggapi kebutuhan anggota, melayani berskala luas yang kooperatif dan inovatif, memberi kontribusi pengembangan sumber daya masyarakat, konsisten terhadap prinsip serta partisipasi aktif dalam kegiatan.

Koperasi kredit Na’a Nepe sudah beranggota lebih dari 1.400 orang dengan aset lebih dari Rp 8 miliar. Kehadiran koperasi kredit ini sudah banyak membantu masyarakat di Soa bahkan hingga keluar Soa.***

Oleh: Soa Bai Narisz

Friday, 9 March 2018

Perempuan di Marotauk, Desa Sambinasi Barat, bentuk poros Hortikultura dengan dukungan Yayasan CASIRA -  


BAJAWA, vigonews.com –  Dengan dukungan dua yayasan solidaritas internasional, penyuluh pertanian swadaya Mikhael Raga  mengembangkan hortikultura berbasis pertanian organik kepada kelompok perempuan di pantai  utara (Pantura) Ngada, tepatnya di kampung Marotauk, Desa Sambinasi Barat, Kecamatan Riung.

Dua lembaga itu masing-masing Rotary Club dan Casira Group dari Quebec, Kanada. Rotary bekerja sama dengan Yayasan Caritas Keuskupan Agung Ende  menyediakan sarana air bersih, sementara Casira mendorong dan membiayai kelompok masyarakat untuk berkebun. Keduanya adalah lembaga internasional yang bergerak dalam kegiatan solidaritas dengan semboyan ‘Terre Sans Fronsierre – Dunia tanpat Batas.  Melayani siapa saja tanpa membedakan suku agama, ras dan antar golongan.

Mikhael menjawab vigonews.com, Sabtu (10/03/2018) mengatakan, Sambinasi Barat menjadi pilihan setelah melakukan survey bersama tim dari Casira Group 27 Februari lalu. Tim yang berjumlah 26 orang itu kemudian menyetujui membiayai dimulainya pengembangan hortikultura di desa tersebut.
 
Kunjungan dari Yayasan Casira serangkaian survey di Marotauk
Mikhael sebagai penyuluh pertanian swadaya memilih daerah pantai karena di sana minim ketersediaan sayur-mayur dan buah. Ini menjadi proyek kedua di lahan kering setelah proyek yang sama menyasar salah satu kelompok tani di Keluarahan Foa di Kecamatan Aimere, pantai selatan (Pansel) Ngada. Tak dinyana, Mikhael dengan dukungan dua yayasan ini seperti sedang ‘mengepung’ ngada dengan membuka poros selatan – utara kabupaten Ngada. Karakter kedua wilayah ini adalah daerah kering sehingga masyarakat sulit mendapatkan sayuran.

Setelah melakukan survey, Kamis (08/03/2018) selaku penyuluh pertanian swadaya, Mikhael turun lagi ke Sambinasi Barat. Kegiatan kali ini untuk mendampingi 14 KK yang sebagian besar perempuan (ibu rumah tangga) melakukan persiapan lahan dan pembibitan.

Dikatakan, setiap KK menyiapkan lahan pekarangan sekitar 1,5 are dan bersama-sama juga mengerjakan lahan percontohan sekitar 15 are. Jadi total lahan di kelompok tani baru ini – kelompok karena minat, sekitar 36 are.
 
Pemandangan Marotauk, desa Sambinasi Barat
Di atas lahan-lahan keluarga itu akan ditanami berbagai jenis sayur dan buah seperti; tomat, kangkung, terong, cabe, kacang panjang, sawi, semangka. Lebih dulu akan ditanamin sawi dan kangkung darat. Sementara itu, saat ini bibit sayuran sudah disemai yang semuanya dikerjakan oleh perempuan di kampung itu.

Kelompok tani ini, kata Mikhael hampir semua perempuan, karena para bapa/suami mereka beraktivitas sebagai nelayan. “Ini cukup efektif untuk dikerjakan para ibu saja, karena pekerjaan tidak terlalu berat, Paling-paling hanya siap lahan dibantu bapa-bapa. Proses selanjutnya bisa dikerjakan para ibu dengan persediaan air yang sudah dibangun atas biaya Rotary Club,” kata Mikhael.
 
Rombongan Casira di Sambinasi Barat
Pemilihan tempat ini bukan tanpa alasan. Desa Sambinasi Barat yang berada di Pantura Ngada termasuk kawasaan kering dan langka persediaan sayuran dan air bersih terbatas. Sehingga setelah Rotary menyediakan air bersih, Casira menyusul dengan pengembangan hortikultura bagi warga. Dengan begitu kebutuhan pangan seperti sayuran bisa terpenuhi bagi warga di sana.

“Kita berharap, kelompok ini akan menjadi poros horti di Pantura Ngada. Karena di Ngada selatan sudah ada kelompok (poros) horti juga yang dikembangan di kelurahan Foa, Kecamatan Aimere. Selanjutnya dari poros ini akan tumbuh minat masyarakat sekitar untuk mengembangkan hortikultura di setiap pekarangan rumah demi memenuhi kebutuhan keluarga,” jelas Mikhael.
 
Bak air - sarana air bersih yang sudah dibangun oleh Rotary Club bekerja sama dengan Yayasan Caritas Keuskupa Agung Ende
Untuk diketahui, beberapa tahun sebelumnya, poros horti bergerak di pansel Ngada, melibatkan perempuan di Kelurahan Foa yang tergabung dalam kelompok Mawar. Saat ini sekitar 14 anggota kelompok sedang menikmati (panen) kacang panjang, paria jumbo. Sedangkan terung dan tomat sedang dalam proses persemaian. Semangka sedang berbunga dan akan panen sebentar lagi.

Seperti juga di Kelompok Mawar, Foa, Casira juga membantu Saprodi (Sarana produksi) untuk kelompok tani baru di Marotauk, Desa Sambinasi Barat. Kata Mikhael, selama ini produksi hortikultura identik dengan Bajawa, ternyata di kawasan kering pun asal ada sumber air semua bisa dibudidaya. Itu yang mendorongnya untuk mengembangkan lebih lanjut di pantura setelah sukses di pansel.
 
Rombongan berjalan kaki serangkaian reakreasi saat survey di Sambinasi Bara
Ini semacam poros horti untuk mengikat (menyatukan) Ngada dalam pemenuhan pangan secara merata bagi warga. Dan yang lebih penting kata Mikhael, semua pengembangan horti kita berbasis organik. Pangan tersedia tetapi juga sehat untuk dikonsumsi.***

Oleh:  Emanuel Djomba

Saturday, 23 December 2017

Penanaman perdana padi di lokasi percetakan sawah baru program tahn 2017 - 

WOLOMEZE, vigonews.com – Anggota P3A Pomarera, Desa Denatana Timur Kecamatan Wolomeze giat tanam perdana di lokasi percetakan sawah baru, Kamis (21/12/2017).

Penanaman perdana dilaksanakan  oleh Asisten Ekonomi dan pembangunan Hironimus Reba Watu mewakili Bupati Marianus Sae, Kadis Pertanian Paskalis Wale Bai, Camat Wolomeze Kasmin Belo, diikuti unsur  terkait dari TNI dan Polri serta dan masyarakat setempat.

Penanaman perdana menyasar lahan sawah yang baru cetak tahun 2017 seluas 22,76 ha dari target sebelumnya sekitar 32 ha. Dengan perluasan lahan sawah akan memperkuatkan ketahanan dan swasembada pangan.

Usai penanaman perdana, dilanjutkan dengan dialog antara kelompok tani dengan Asisten Hironimus Reba dan Kadistan Paskalis W. Bai, dipandu Camat Wolomeze Kasmin Belo.

Kesempatan ini tidak disia-siakan warga untuk berdialog. Kepala Desa Denatana Timur Robertus Bea, dalam laporannya menyampaikan beberapa keluhan dan permintaan agar menjadi perhatian pemerintah daerah.
 
Kegiatan penanam perdana padi sawah
Dikatakan Bea, untuk mendukung tingkat kesejahteraan dan menghindari masalah social, pihaknya menitipkan 10 harapan (permintaan)  antara lain: programkan kembali percetakan sawah baru; meningkatkan infrastruktur jalan; mengalokasikan bantuan benih secara rutin; membangun jaringan irigasi dan pengarah arus di lokasi P3A;  bantuan alsintan; alokasi rumah layak huni; dukungan terhadap pencanangan desa organic 2018; pembangunan embung mendukung kegiatan teknologi pajale; dan dukungan terhadap pelaksanaan pertanian konservasi lahan dengan system pola tanam, olah lubang dan olah jalur.

Terkait dengan percetakan sawah baru yang minta dilanjutkan, kata Robertus Bea mengingat di desanya masih ada lebih dari 400 ha lahan potensial siap cetak. Sementara untuk suksesnya program pertanian di desa itu, pihaknya meminta untuk peningkatan jalan sepanjang empat km menuju areal pertanian. Petani sulit memobilisasi berbagai kepentingan pertanian kalau kondisi jalan sangat buruk.

Permintaan tersebut oleh Asisten Hironims Reba diterima dan akan ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi daerah. Soal perluasan percetakan sawah baru jika mungkin akan dilanjutkan. Sementara untuk jalan yang tidak layak, kata Hironimus memang mengalami kendala karena jalan yang ada masuk dalam code line sehingga harus melalui PU.(edj)***


Wednesday, 20 December 2017

Berbagai elemen satukan tekad menuju Ngada yang sehat dan sejahtera berbasiskan pertanian organik -  

BAJAWA, vigonews.com – Tujuh Rencana aksi dihasilkan dalam kegiatan Work Shop bertajuk ‘Rencana Aksi Pertanian Ramah Lingkungan’ dalam rangka menyukseskan program ‘Go Organic’ tahun 2018 mendatang.

Dalam kegiatan yang dibuka Sekda Meda Moses, Selasa (19/12/2017) di Bajawa, hadir berbagai pemangku kepentingan. Kegiatan ini digawangi jajaran Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Ngada serta menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, yaitu: perwakilan kelompok tani, unsur BPP, para PPL, LSM, tokoh agama (para pastor) media massa dan unsur lainnya.

Work Shop yang dipimpin Kadis Pertanian Kabupaten Ngada, Paskalis Wale Bai itu, juga dihadiri Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Hironimus Reba Watu yang secara khususnya menyampaikan kebijakan Pemerintah Daerah dalam pembangunan bidang pertanian, di hadapan sekitar 150 peserta dari berbagai elemen itu.
 
Paskalis Wale Bai - memulai kampanye 'Go Organik' mulai dari pikiran, hati, ucapan dan tindakan agar masyarakat sehat dan sejahtera.
Pada kegiatan work shop itu, juga berlangsung diskusi dan sharing dari para praktisi organic dari berbagai simpul di Kabupaten Ngada. Diskusi juga melibatkan para PPL, kelompok tani, P3A, pastor, wartawan, unsur LSM dan elemen lainnya yang hadir.

Dari dialektika para peserta tentang berbagai hal berhubungan dengan kampanye ‘Go Organic’ di forum itu, dihasilkan 7 rencana aksi yang dikukuhkan dalam kesepakatan bersama guna mengikat komitmen yang kuat dalam kerja-kerja praktis mulai tahun 2018 mendatang. Berikut tujuh rencana aksi yang disepakati.

Pertama: Saatnya pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Ngada dilakukan dengan prinsip-prinsip organic yang ramah lingkungan sebagai wujud kesadaran yang sungguh untuk menjaga kelestarian alam, menjamin keberlanjutan penyediaan pangan yang aman bagi konsumsi masyarakat, meningkatkan mutu dan daya saing produk komoditi pertanian kabupaten Ngada.

Kedua: Guna mewujudkan pertanian kabupaten Ngada yang ramah lingkungan, membutuhkan dukungan dan keterlibatan berbagai pihak sebagai ‘Gerakan Moral Bersama’ melalui keterlibatan aktif  berbagai elemen dalam kegiatan pertanian organic.
 
RD. Gerardus Janga, Pr menandatangi kesepakatan rencana aksi mewujudkan Kabupaten Ngada berbasis pertanian organik. 
Ketiga: Berkomitmen untuk mendukung pencapaian pengembangan pertanian organic kabupaten Ngada dengan cara mensinergiskan rencana dan integrasi berbagai kegiatan sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing peserta.

Keempat: Aktivitas pembangunan pertanian organic dilakukan melalui introduksi inovasi teknologi organic yang dikelola petani dengan melibatkan praktisi organic di Kabupaten Ngada dan dirancang sebagai wahana untuk peningkatan kapasitas kemandirian dan kesejahteraan petani, serta keberlanjutan guna menjamin kesinambungan ekosistem wilayah kabupaten Ngada.

Kelima: Dinas Pertanian Kabupaten Ngada mulai memetakan wilayah sebagai pilot project pertanian organic. Keenam: Advokasi kebijakan anggaran melalui dana desa yang pro organic. Dan, ketujuh: Penyiapan regulasi tentang pembatasan penggunaan pupuk dan pestisida anorganik.

Tujuh rencana aksi yang dituangkan dalam kesepakatan bersama ini ditandatangi oleh wakil dari berbagai elemen, yakni: Darius Meo, Ketua Poktan Cendrawasih Desa Bodosare; Theodorus Oba, Ketua P3A Tiwu Kela Wogowela; Leonardus Naru, Ketua MPIG Kopi AFB Golewa Barat; Rikardus Nuga, Ketua Lapmas Ngada; RD Gerardus Janga, Ketua Tim Pastoral PSE Kevikepan Bajawa; Cresensiana E.U Rani, Kabid Persampahan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Ngada; Mikhael Raga, praktisi pertanian organic dari Poktan Pado Sama; dan Emanuel Djomba, Ketua Asosiasi Wartawan Ngada.

Penandatanganan tujuh butir kesepakatan rencana aksi pertanian berbasis organic di Kabupaten Ngada itu disaksikan Kadis Pertanian Kabupaten Ngada Paskalis Wale Bai, Sekretaris Distan Hubert Jelalu, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Ermelinda Moi, dan Kabid Perkebunan Stanislaus Fernandes. Ngada ‘Go Organik’ tahun 2018 – 2021! (ch)***

Jelang Tahun ‘Go Organic’ 2018, Distan Ngada & Berbagai Elemen Siapkan Rencana Aksi

Tuesday, 12 December 2017


BAJAWA, vigonews.com – Wakil Bupati Ngada, Paulus Soliwoa, Selasa (12/12/2017) membuka kegiatan uji petik sub sektor unggulan ekonomi kreatif Kabupaten Ngada. Kegiatan yang berlangsung tiga hari itu melibatkan tim dari Badan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata berjumlah tujuh orang.

Kegiatan ini diikuti 44 sanggar yang terdiri atas sanggar tari, sanggar krya (karya kerajinan tangan) dan sanggar seni pertunjukkan.

Yuliana Rini, selaku Tim Penilai Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia, dalam sapaan pembukanya berharap, ekonomi kreatif mampu menggerakan ekonomi lokal sehingga dapat membuka peluang kerja bagi tenaga kerja lokal.

Sementara Wakil Bupati Ngada dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini merupakan momentum yang tepat untuk menggali potensi, inovasi dan kreasi yang ada di kabupaten Ngada. “Saya yakin ekonomi kreatif kelak menjadi tulang punggung perekonomian, karena kegiatannya mendorong pemanfaatan potensi lokal,” katanya.

Wabup berharap bahwa peluang ekonomi kreatif berbasis potensi lokal mampu meningkatkan perekonomian masyarakat di pedesaan. Ini, tambah Wabup Soliwoa, sejalan dengan fokus pembangunan yang dimulai dari desa. “Kita harus mulai memanfaatkan apa yang kita punya di desa untuk meningkatkan pendapatan masyarakat,” paparnya.

Karena itu, kata Soliwoa, masing-masing desa perlu pemetaan potensi yang dimiliki, sehingga mana yang unggul bisa dikembangkan dengan memanfaatkan sumberdaya di desa. Jika ini dapat diidentifikasi, maka selain meningkatan pendapatan ekonomi, juga mampu mengatasi persoalan bangsa, yakini: mengatasi pengangguran.

“Desa-desa supaya mendorong kaum mudanya menjadi pelaku ekonomi kreatif yang berbasis potensi lokal. Kalau sektor ini didorong intensif, maka akan ikut terdorong tumbuhnya sektor pariwisata,” kata Wabup Soliwoa.

Dikatakannya, Kabupaten Ngada sudah mulai menjawab beberapa permasalahan yang dihadapi masyarakat, antara lain: penciptaan terhadap karya ekonomi kreatif yang selama ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan ritual dan seremonial adat kini dikembangkan untuk peningkatan ekonomi.

Selain itu, kata Wabup Soliwoa, sektor pariwisata perlu didukung dengan sektor lain, seperti ekonomi kreatif sehingga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan. Hanya diakui bahwa kini diperlukan sarana berupa pusat penjualan cinderamata atau pusat ole-ole yang mendorong adanya iklim dan ekosistem ekonomi kreatif melalui tahapan kreasi, produksi, distribusi, konsumsi dan konservasi.
 
Diskusi yang dihadiri utusan sanggar didampingi tim Badan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata
Kegiatan uji petik sub sektor ekonomi kreatif bertujuan agar dapat membentuk ekosistem ekonomi kreatif yang kondusif; mengintegrasikan hubungan produsen, distributor, dan konsumen ekonomi kreatif di wilayah destinasi; dan menciptakan nilai lebih dari suatu produk.

Sementara kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai potensi lapangan kerja baru bagi masyarakat, menjadikan karya souvenir dan hiburan seni pertunjukkan bagi masyarakat dan para wisatawan; dan menjadikan sektor ekonomi kreatif salah satu sumber pendapaan masyarakat.

Pelaku ekonomi kreatif (krya) dari Desa Manubhara Markus Lina di sela-sela kegiatan mengatakan pihaknya sudah mulai mengembangkan krya lima tahun terakhir ini dengan mengembangkan potensi lokal yang ada di desa. Potensi lokal yang dimaksudkannya seperti sumber daya alam sebagai bahan baku krya dan mendorong tenaga kerja di desa.

Di sanggar yang diberi nama Manubhara Bamboo Community (MBC), Markus Lina mengembangkan berbagai produk souvenir dari bambu dan kayu seperti perabot rumah tangga, mebel, anyaman dan berbagai souvenir lainnya. Di sanggar MBC itu, Markus mempekerjakan tenaga kerja lokal yang sebelumnya sudah dimagangkan ke Bandung.

Ketertarikannya untuk mengembangkan ekonomi kreatif, kata Markus Lina, melihat potensi desa itu yang belum dikembangkan sama sekali. Potensi yang dimaksudkannya adalah bambu di desa itu yang selama ini hanya untuk bahan diding rumah, pagar atau kandang hewan. Tetapi setelah berkreasi lima tahun ini, mambu Manubhara di tangan Markus Lina dan tenaga di sanggarnya justru menjadi produk souvenir yang punya nilai artistik dan ekonomi tinggi.(ch)***

Foto: Wakil Bupati Ngada Paulus Soliwoa ketika membuka kegiatan uji petik sub sektor unggulan ekonomi kreatif Kabupaten Ngada.

Tuesday, 5 December 2017


BAJAWA, vigonews.com – Bupati Ngada, Marianus Sae pada Sidang DPRD Ngada dengan agenda utama Pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Ngada Tahun 2018 yang berlangsung pada Hari Jumad, 30 Nopember 2017 di Gedung DPRD Ngada telah menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Ngada Tahun 2018.

Meski mengalami penurunan anggaran, namun tidak mengurangi tekad pemerintah untuk terus menggenjot sejumlah program strategis dan prioritas-prioritas lainnya. Itu sebabnya pata APBD tahun 2018, setidaknya tujuh prioritas percepatan menjadi strategi pembangunan Ngada, dari empat pilar pembangunan.

Demikian dikemukakan Kabag Admas Ngada, Martinus P. Langa, SE kepada awak media di ruang kerjanya, Senin (04/12/2017). Dikatakan Martinus, Bupati Ngada, Marianus Sae pada kesempatan penetapan APBD tahun 2018 mengatakan bahwa,  Pemerintah menyadari bahwa pada tahun anggaran 2018 oleh kebijakan pemerintah pusat mengalami penurunan anggaran baik pada Dana Alokasi Umum maupun Dana Alokasi Khusus yang cukup besar.

Terkait dengan hal itu, kata Martinus,  memiliki pengaruh terhadap pelaksanaan berbagai program dan kegiatan pembangunan yang telah kita rencanakan. Kita sungguh menyadari bahwa dalam APBD 2018 ini belum semuanya menjawabi berbagai kebutuhan masyarakat di daerah ini. Namun demikian, persoalan ini hendaknya tidak membuat semangat kita untuk membangun daerah ini menjadi luntur,” kata Martinus mengutip pernyataan Bupati Marianus.

Dikatakan, baik pemerintah dan DPRD Ngada tetap memiliki komitmen dan tekad yang sama untuk mengedepankan kesejahteraan rakyat di atas segala-galanya, di tengah situasi yang dialami saat ini, tetap bertekad sesuai dengan Visi dan Misi daerah untuk melaksanakan 4 pilar pembangunan di bidang Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi dan Infrastruktur.

Pemerintah terus berusaha mempercepat laju pembangunan, sebagai upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat diwilayah Kabupaten Ngada yang lebih layak. Upaya ini telah ditempuh Pemerintah Kabupaten Ngada melalui beberapa prioritas. Antara lain, Prioritas pertama, melanjutkan dan mempercepat pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan aksessibilitas, mengurangi disparitas wilayah dan memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas pendidikan.

Prioritas Kedua, meningkatkan kemampuan ekonomi daerah yang bertumpu pada sektor pertanian dengan pola agribisnis, koperasi dan pariwisata berbasis pedesaan yang berwawasan lingkungan. Prioritas Ketiga,  melakukan penataan dan pengembangan kehidupan masyarakat perkotaan. Prioritas keempat, mendorong pengembangan kualitas pendidikan masyarakat dan sumber daya manusia yang cerdas, terampil, kreatif, inovatif, produktif serta memiliki budi pekerti dan etos kerja yang tinggi.
 
Selain infrastruktur, sektor paertanian masih jadi prioritas percepatan pembangunan
kabupaten Ngada tahun 2018
Prioritas kelima, meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan sebagai landasan pengembangan sumber daya manusia. Prioritas keenam, menanggulangi bencana alam, non alam dan atau bencana sosial, budaya, keagamaan, olahraga dimasyarakat.

Prioritas ketujuh, meningkatkan penyelenggaraan tata kelola pemerintah yang efisien, efektif, bersih dan demokratis dengan mengutamakan pelayanan prima kepada masyarakat. Pemerintah juga akan tetap mendorong percepatan pembangunan melalui beberapa program strategis, antara lain Program Pemberdayaan ekonomi rakyat, program pembangunan di bidang kesehatan melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat Ngada, dan  dibidang Pendidikan melalui program Bosdik.

Selain program prioritas di atas pemerintah juga pada tahun anggaran 2018 berkomitmen melaksanakan program pembangunan infrastruktur dengan tiga Prioritas utama yakni Zala Siro Saro, Wae Gebho Gabho dan Dara Rilo Ralo.

Adapun komposisi APBD Kabupaten Ngada Tahun 2018 sebagai berikut: Pendapatan Daerah sebesar Rp. 772.671.863.410 yang terdiri dari Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp. 46.980.457.595. Dana Perimbangan sebesar Rp. 598.432.139.000, Lain-lain Pendapatan Daerah yang syah sebesar Rp. 127.259.266.815. Belanja Daerah sebesar Rp. 801.843.673.202, yang terdiri dari Belanja Tidak Langsung sebesar Rp. 451.873.865.734 dan Belanja Langsung sebesar Rp. 349. 969.807.468. Pembiayaan Daerah sebesar Rp. 29.171.809.792, dan Pembiayaan Netto sebesar Rp. 29.171.809.792. (edj)***

BAJAWA, vigonews.com – Sempat disangka  tipuan, Wigbertha M.N.D Tukesangi, malah benaran dapat hadiah undian ‘Program Traktir Nasional’ yang digelar Telkomsel. Wigbertha masuk dalam kategori pelanggan setia Telkom wilayah Bajawa yang mendapat  hadiah dari dari program ini berupa satu unit sepeda motor Honda beat.

Penyerahan hadiah sebagai apresiasi Program Traktir Nasional periode kedua tahun 2017 itu, dilakukan oleh GM Sales Telkomsel Regional Bali Nusra Anandoz Bangsawan didampingi  Branch Manager Kupang, Eureka Maliala di Hotel Korina, Bajawa (NTT), Selasa (05/12/2017).

Hadiah satu unit sepeda motor itu diterima suami Wigberta, Moses Janga, karena yang bersangkutan tidak bisa hadir. Pada kesempatan itu, Moses mengatakan dirinya dan istri sudah menjadi pelanggan Telkomsel sejak tahun 2000 lampau. Semula pihaknya tidak percara ketika di-SMS mendapat hadiah, mengingat kasus-kasus penipuan berkedok hadiah undian yang merebak belakangan ini. Kemudian dari Kantor Telkom di Kupang menelpon lagi minta mengirim KTP. Pihaknya juga belum terlalu percaya. “Tetapi kemudian kami dihubungi untuk datang ke kantor Telkomsel, baru kami percaya,” kata Moses.

Sementara  GM Sales Telkomsel Regional Bali Nusra Anandoz  Bangsawan didampingi Mgr Branch Kupang, Eureka Maliala di Hotel Korina, Bajawa mengatakan, hadiah ini sebagai bentuk penghargaan kepada pelanggan setia Telkomsel dan dalam rangka memeriahkan penghujung tahun 2017.

Anandoz  Bangsawan mengatakan, “Saya ucapkan selamat kepada para pelanggan yang telah menjadi pemenang dalam pengundian kedua program Traktir Nasional 2017 Telkomsel.  Melalui program ini kami ingin mengapresiasi pelanggan setia, khususnya di wilayah Bajawa dan sekitarnya yang telah memberikan dukungannya kepada produk dan layanan kami.”

Andoz kemudian menambahkan bahwa Telkomsel senantiasa menjaga kesetiaan pelanggan dengan terus berusaha memberikan the best customer experience yang mencakup kualitas jaringan, pelayanan pelanggan, sampai dengan berbagai program loyalty seperti program undian Traktir Nasional 2017. “Hal ini sangat penting dalam rangka menjadi penyedia layanan dan solusi mobile digital lifestyle kelas dunia yang terpercaya”, ujarnya.

Traktir Nasional 2017 merupakan program undian yang diperuntukkan bagi seluruh pelanggan kartuHalo, simPATI, Kartu As, dan LOOP. Periode kedua ini berlangsung sejak 16 Juni hingga 31 Juli 2017 dan berlaku nasional. Adapun beragam hadiah dari program ini, antara lain yaitu Voucher Prepaid, Samsung Galaxy, Paket Umroh, Honda Beat CBS ISS, Honda BRV 1,5 E CVT dan hadiah utama berupa BMW 320i Sport.

Untuk mendapatkan kupon undian, pelanggan terlebih dahulu perlu melakukan penukaran Telkomsel poin atau pembelian berbagai macam paket produk dan layanan seperti telepon, SMS, data/internet, SLI/International Roaming, voucher games dan layanan musik digital seperti Langit Musik dan NSP, atau layanan VideoMAX. Seluruh aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan cukup mengakses *123# atau melalui aplikasi MyTelkomsel dimana transaksi melalui aplikasi ini akan mendapatkan double kupon undian. Selain itu kupon undian juga dapat diperoleh pelanggan prepaid yang melakukan re-registrasi melalui SMS dan pelanggan yang melakukan Tap dengan TCASH minimal Rp20.000.

Peserta undian dapat mengecek status pemenang dengan menghubungi *123# atau dengan mengirimkan SMS ke 777 dengan isi pesan WIN. Pajak hadiah ditanggung Telkomsel. Daftar pemenang Traktir Nasional 2017 Periode 2 dan informasi lebih lengkap mengenai program ini dapat dilihat di www.telkomsel.com/traktirnasional.

Layanan Jujur

Di bagian lain, Branch Manager Kupang, Eureka Maliala mengakui selama ini sering terjadi modus penipuan melalui undian Telkomsel. Karena itu kepada para pelanggan supaya mcermati baik-baik. Telkomsel selalu mengedepankan layanan yang jujur, tanpa minta biaya tambahan apapun. “Kalau sudah ada embel-embel minta biaya, pastikan itu bukan dari Telkomsel,” kata Maliala.

Terkait dengan itu, kepada pemenang undian Telkomsel yang resmi pihaknya selain menginformasikan melalui SMS, pemenang juga akan dihubungi oleh kantor layanan terdekat, dan terakhir pemenang (pelanggan) diminta untuk mendatangi kantor Telkomsel terdekat tanpa ada pungut biaya.(edj)***

Wednesday, 25 October 2017


MATALOKO –  Seminari Mataloko mendapat bantuan alsintan berupa traktor roda empat. Bantuan tersebut disampaikan Kadis Pertanian Provinsi NTT, Yohanes Tay Ruba,  ketika gelar panen perdana jagung Lamuru di kebun penangkaran Seminari Mataloko, Rabu (25/10/2017)

Bantuan Alsintan ini sebagai bentuk apresiasi pemerintah atas keseriusan lembaga Seminari Mataloko dalam program penangkaran benih jagung, guna mendukung program ketahanan pangan (jagung) di daerah ini.

Menanggapi hal itu, Praeces Seminari Mataloko Rm. Idrus menyampaikan terima kasih kepada pemerintah melalui program penangkaran benih. Program penangkaran dipermudah dengan adanya traktor sehingga mampu membuka lahan lebih luas dan mencapai hasil lebih banyak.

Penyerahan bantuan traktor roda empat oleh Kadistan Provinsi NTT, Yohanes Tay Ruba bersamaan dengan gelar panen perdana jagung Lamuru di atas lahan seluas sekitar lima hektare, milik Seminari Mataloko.

Di atas lahan seluas lima hektare, kata Rm. Idrus, jagung yang dipanen tahun ini diperkirakan mencapai 7 – 8 ton. Jagung penangkaran ini  guna memenuhi kebutuhan benih jagung di Kabupaten Ngada. Hanya soal harga, Rm. Idrus mengatakan belum tahu.

Dikatakan Rm. Idrus, tahun depan, pihaknya menargetkan akan memanfaatkan lahan sekitar 10 hektare. Perluasan lahan ini dimungkinkan dan akan lebih mudah dikerjakan menggunakan traktor. Sementara sebelumnya lahan penangkaran dikerjakan dengan tenaga manusia. Kadang juga gunakan traktor, tetapi pinjam dari kebun misi di Malanuza – hanya sewaktu-waktu saja kalau di sana tidak ada kegiatan.

Bahkan selain untuk program penangkaran jagung, kata Rm. Idrus pihaknya juga akan membuka lahan yang bisa ditanami komoditi hortikultura seperti sayuran dalam areal yang lebih luas, sehingga dapat mencukupi kebutuhan anak-anak seminari yang kini berjumlah 587 orang – SMP dan SMA.

Pada kesempatan itu, Kadistan Kabupaten Ngada, Paskalis Wale Bai juga menawarkan penangkaran benih kedele dengan memanfaatkan lahan yang ada. Tawaran itu disanggupi oleh Rm. Idrus.

Rm. Idrus menyambut dengan senang hati. Dari potensi yang ada, seminari dapat memanfaatkan sebagai tempat penangkaran benih pangan lain selain jagung. “Bagi kami ini baik juga. Jadi seminari bukan hanya sebagai tempat merawat benih panggilan,  tetapi juga benih pangan yang dibutuhkan bagi kehidupan masyarakat umum,” beber Rm. Idrus. (ch)***

MATALOKO – Kepala Dinas Pertanian NTT, Yohanes Tay Ruba, melakukan panen perdana jagung di kebun Seminari Mataloko, Rabu (25/10/2017). Jagung jenis Lamuru itu merupakan program penangkaran benih yang dibudidaya di atas lahan seluas lima hektare.

Di hamparan lahan  sebelah timur Kemah Tabor itu, Kadistan Anis Tay didampingi Praeses Seminari Mataloko Rm. Idrus memanen jenis Jagung Lamuru dengan resmi. Panen perdana itu dilakukan bersama Dandim 1625 Ngada Letnan Kolonel Czi Arman Hidayah dan Kadistan Kabupaten Ngada Paskalis Wale Bai, staf Distan Kabupaten Ngada.

Saat panen jagung itu, Anis Tay Ruba mengatakan, jagung yang dipanen itu akan digunakan untuk pemenuhan benih bagi petani di daerah ini. “Kita berharap benih jagung ini dapat dimanfaatkan oleh petani di daerah ini dalam mendukung ketahanan pangan, supaya kita tidak kekurangan,” kata Anis Tay.
 
Anis Tay Ruba saat panen jagung di Seminari Mataloko
Ditegaskan, “guna memperkuat ketahanan pangan, kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Supaya kita memiliki kedaulatan pangan maka kita tidak bisa urus sendiri-sendiri. Kita mesti bekerja bersama-sama membangun kekuatan pangan.”

Anis Tay Ruba memanfaatkan waktu untuk panen perdana dalam rangkaian tugasnya dari Ende, ke Manggarai - Reo, kembali lagi ke Ngada membuka Bimtek Kedele di Malanuza menyambut Upsus Kedele, sebelum bertolak ke Kupang melalui Bandara Turelole Soa. (ch)***

Tuesday, 24 October 2017


KURUBHOKO – Ordo Fratrum Minorum (juga disebut Fransiskan, Ordo Fransiskan, atau Ordo Serafis; singkatan gelar O.F.M.) -  sebuah ordo keagamaan Katolik mendikan, yang kini melayani umat di Paroki Kurubhoko, terus melakukan terbosan mengembangkan pertanian organic sesuai misi Fransiskan.

Sembilan hetkar lahan sedang didisain menjadi pusat studi pertanian terpadu berbasis organic, mulai dari lahan sawah, hortikultura, peternakan seperti babi, kambing dan sapi, pakan ternak, tanaman pangan lainnya dan pembuatan pupuk organic.

Mengawali gerakan ‘Fransiskan’ melalui misi eco pastoral-nya, di Kurubhoko, 16 Oktober 2017 lalu meluncurkan gerakan kembali ke pangan lokal – ‘go pangan lokal – melalui kegiatan seminar bertema “Mengembalikan Pangan Lokal ke Kebun Kita” dan latihan pengolahan pangan lokal bagi 40 siswa SMPN Satap Kurubhoko melibatkan ibu-ibu PKK dan komunitas gereja setempat (KUB).

Debut awal para imam OFM di paroki yang baru diresmikan 11 September 2017 lalu itu, kata Pastor Paroki Kurubhoko, Pater Thobias Harman, OFM sebagai langkah awal untuk mendapatkan pemetaan tentang kondisi lokal yang meliputi tiga desa, yakni Nginamanu, Nginamanu Selatan, dan Nginamanu Barat. Dari kegiatan ini, kata Pater Tobi, akan menjadi masukan dalam menggodok arah karya pastoral paroki tahun 2018 yang akan dibahas  secar intens dalam Sidang Pastoral Paroki, awal November 2017 mendatang.

Arah karya pastoral Paroki Kurubhoko tahun 2018 didisain menekankan eco pastoral dengan melestarikan kembali tanaman pangan lokal ke kebun-kebun umat. Terkait dengan layanan eco pastoral itu, arah karya pastoral Kurubhoko, tambah Pater Tobi, diimplementasikan dalam pemberdayaan ekonomi umat yang dimulai dari pemanfaatan pekarangan rumah-rumah umat, terutama di kiri-kanan jalan provinsi Soa – Riung dan kawasan pemukiman lainnya.

Gerakan pertanian organic yang dimulai imam-imam OFM memang menjadi misi ordo ini – Fransiskan – untuk mengembalikan alam yang lestari, sehat, dan berkelimpahan pangan sesuai kearifan lokal.  Bagi Fransiskan di mana saja bertugas, eco pastoral selalu menjadi nafas layanan pastoral.

Bahkan, eco pastoral dinilai sangat sukses di Pagal, Manggarai yang mengedepankan pertanian organic. Di sana, tidak ada lagi pendropingan pupuk kimia dan pestisida. Petani dalam bertani secara mandiri dengan memproduksi pupuk organic sendiri. Gerakan ini dilakukan OFM sejak tahun 2000 lalu dan kini menjadi percontohan eco pastoral di daratan Flores.
 
Pater Tobias Harman, OFM di lahan pertanian organik di Kurubhoko
Ratusan petani di Pagal kini merasa beruntung dilatih oleh Fransiskan tentang metode membuat pupuk dari bahan organik, seperti daun, jerami, kotoran hewan, serbuk kayu gergaji, dan sekam. Pemerintah dan Gereja telah bermitra dalam kampanye pertanian organik karena para petani menghadapi dampak negatif akibat perubahan iklim – seperti kekeringan berkepanjangan dan kurangnya air, katanya.
Sukses Pagal memang menjadi bayang-bayang imam-imam OFM di tempat-tempat lain termasuk di Paroki Kurubhoko, Flores tengah di Kabupaten Ngada. Harapan itu tidak berlebihn, karena Pastor Paroki ini sebelumnya adalah direktur eksekutif dari Pusat Eco-pastoral di Pagal. Sebelum bertugas di Kurubhoko, Pater Tobi bahkan sempat mengikuti studi eco pastoral di new Zealand. Suatu ketika, Pater Tobi mengatakan kampanye Fransiskan telah memperoleh dukungan yang lebih luas dari para pemimpin pemerintah dan Gereja lokal, termasuk Keuskupan Agung Ende. Bersama masyarakat bersatu dalam mendukung sistem pertanian organik yang menguntungkan rakyat.
Guna mendukung gerakan ini,  Provinsial OFM Provinsial St. Mikhael Indonesia Pater Mikhael Peruhe, OFM datang dan menghadiri kegiatan HPS pertama yang digelar di Paroki ini. Pater Mikhael memberi apresiasi atas terobosan yang dilakukan imam-imamnya di Paroki Kurubhoko.

Sesuai dengan misi ‘Fransisikan’ kata Pater Mikhael, imam-imam OFM tidak bisa hanya tunggu di pastoran dan mendengar umat dari sana. Sebaliknya, harus turun dan bergerak bersama umat melakukan terobosan dan kerja-kerja praktis serta menolong umat keluar dari persoalan global – yakni kerusakan lahan pertanian – dengan kembali ke pertanian organic yang menjamin persahabatan dengan alam, dan memproduksi hasil pertanian yang sehat bagi kehidupan.

Ketikan menyampaikan arahan pada Seminar HPS, Pater Mikhael minta kerja sama semua pihak di wilayah ini untuk memajukan pertanian berbasis oragnik guna melepaskan diri dari masalah-masalah lingkungan yang lebih serius dan merusak kehidupan.

Pater Mikhael berkeyakinan gerakan ini akan mencapai hasil gemilang seperti halnya di Pagal, Manggaai. Karena itu, dalam menyukseskan gerakan ini perlu dukungan tiga komponen penting yang dituturkan Pater Mikhale dengan tiga batu tunggu, yakni peran Gereja, Pemerintah dan  lembaga/masyarakat Adat. “Kalau di paroki ini bisa sinergis antara tiga batu tungku ini maka gerakan pertanian organic akan tercapai. Kita tidak akan berubah kalau masih jalan sendiri-sendiri. Saya harap HPS menjadi langkah awal untuk berubah,” kata Pater Mikhael.

Dalam kegiatan yang juga dihadiri para siswa sekolah, Pater Mikhael mengajak generasi muda untuk mencintai tanah, mencintai pertanian. Ajakan itu setelah mendapat jawaban dari 40 siswa yang hadir, hanya dua orang yang menjawab menjadi petani ketika di Tanya Pater Mikhael. “Kalau semua generasi muda tidak mau jadi petani, lalu siapa yang akan menghidupi sekitar 260 juta jiwa penduduk Indonesia,” Tanya Pater Mikhael.
 
Sayur organik 
Selain itu, dia  juga mendorong sekolah-sekolah pertanian menjadi tempat untuk menyiapkan petani-petani modern yang kemudian siap memproduksi hasil pertanian yang sehat bagi kehidupan, dan menjamin alam tetap terpelihara dan tidak rusak. Selain itu sekolah yang ada di desa agar dapat mengarahkan kegiatan ekstrakurikuler berbasis pertanian, karena itu tidak bertentangan dengan kurikulum.

Kepada generasi muda, Pater Mikhael meyakinkan bahwa, pilihan menjadi itu mungkin dan menjamin kehidupan lebih baik. “Kuncinya, kalau kita hidup bersama alam, maka alam akan menghidupi kita. Sekarang kita hidup melawan alam, sehingga seakan-akan alam tidak bersahabat dengan dan enggan member hidup bagi kita karena terus dirusak. Itu sebabnya perjuangan kita sekarang juga bagaimana mengembalikan alam yang sudah dirusak itu,” jelasnya.

Dia menambahkan, sekarang ini banyak anak muda tidak mencintai pertanian, sekalipun mereka itu lahir dan besar di desa. Di sekolahkan dengan biaya yang diperoleh dari hasil tanah. Lihat saja banyak orang sekolah tinggi tidak mau kembali ke desa. Bahkan para sarjana pertanian yang berasal dari desa tidak mau kembali ke desa menjadi petani, malah menjadi politisi dan lain-lain. Kalau semua urus politik, lantas siapa yang harus urus pangan untuk menhidupi sekitar 260 juta penduduk Indonesia ini?

Pater Mikhael minta orang tua adar membuat anak mereka mencintai tanah dan pertanian, karena kita hidup di desa. Mengajar anak untuk mengingkari eksistensi mereka adalah suatu pembohongan. Memang dulu banyak orang tua berpesan pada anak-anaknya agar sekolah pintar-pintar sehingga nanti tidak seperti bapak dan mamanya yang hanya jadi petani. Seolah-olah petani itu profesi yang rendahan. Padahal panggilan Tuhan kepada manusia yang pertama adalah petani. Dalam hidup dan pelayanan-Nya, Yesus tiada henti-hentinya bicara tentang pertanian, ternak dan nelayan. “Mengapa kita tidak  menekuni ini? Bukankah ini profesi yang terberkati?,” Tanya Pater Mikhael.

Ditambahkannya, tanah sungguh akan beri hidup kalau kita memperlakukan planet ini dengan baik. Yang diperlukan perubahan pola hidup yang selaras dengan alam. Anda harus perjuangkan. Dari hasil tanah yang dikelola dengan ramah akan menghasilkan produk yang sehat bagi kehidupan. “Kalau di kebun sehat, maka sudah tentu di meja maka yang disajikan juga sehat,” tambah Pater Mikhael.

Pergeseran Paradigma

Serangkaian HPS yang dirangkaikan dengan pelatihan pengolahan pangan lokal bagi siswa SMPN Satap Kurubhoko, Pasto paroki Kurubhoko Thobias Harman, OFM memberi apresiasi atas keterlibatan itu. “Senang dengan keterlibatan siswa  karena mereka sebenarnya adalah agen perubahan.

Menurut Pater Tobi, untuk menuju perubahan, orang tua sudah kehabisan mimpi. Sudah tidak punya mimpi lagi. Karena itu generasi muda perlu disentuh. Tujuan adalah mengurangi ketergantungan pada beras. Jadi gerakan ini yang melibatkan orang muda seperti ‘memotong’ generasi.
 
P. Tobias Harman, OFM ketika menyampaikan materi pada HPS 
Tentang kelangkaan pangan, menurut Pastor Tobi, telah terjadi perubahan paradigma kesejahteraan. Dulu ukurannya sejahtera karena memiliki pangan cukup di kabun/ladang, makan tiga kali sehari, rumah sehat, miliki ternak dengan fokus pada pangan karena dulu ladang penuh dengan bahan pangan.

Ada perubahan pemahaman, ukuran sejahtera bahwa rumah dengan lantai semen, punya mesin jahit, punya TV dan barang-barang elektronik lainnya. Jadi indikator kesejahteraan adalah miliki uang yang banyak. Akibatnya, kata Pater Tobi,  terjadi pergeseran pola tanam. Pangan dinilai prospek kecil dan hanya bisa menghasilkan uang kecil. Karena itu banyak orang beralih ke tanaman komoditi, semua ramai-ramai tanam pohon, karena kalkulasinya adalah uang.

Pergeseran pola tanam diikuti perubahan pola konsumsi dari aneka pangan dengan fokus hanya kepada beras. Sehingga kalau tanpa beras orang akan pontang-panting mencari uang untuk membeli beras, bahkan dengan resiko harus ijon sebelum musim panen datang. Ketiadaan beras di rumah jadi indikator krisis atau ‘kelaparan’.

Pater Tobi juga merasa ironis,  meski wilayah  ini penghasil beras, tetapi raskin tetap turun ke desa. Petani tetap miskin. Padahal banyak jenis pangan yang bisa menggantikan beras. Karena yang dibutuhkan tubuh adalah energy (karbohidrat). Maka tidak heran banyak orang sakit gula karena mengonsumsi beras terlalu tinggi.

Pertanyaannya, beras yang kita masak setiap hari ada protein atau tidak. Itu juga yang menyebabkan banyak pasangan muda kesulitan mendapat keturunan. Karena beras yang kita makan sudah beracun akibat penggunaan pupuk dan pestisida yang tinggi di sawah.

Dengan kegiatan HPS, harap Pater Tobi,  genersi muda (siswa) terbuka wawasan. Dan ini akan berkelanjutan, sehingga ada keprihatinan berkelanjutan. Dan suatu saat nanti keputusan mereka (kaum muda) adalah pro life. “Dari sekarang ubah sarapan pagi anda tanpa beras. Saya juga dorong supaya sekolah di desa perlu ada kegiatan ekstrakurikules berbasis pertanian organic. Jadi sangat bagus kalau kegiatan siswa juga menyentuh aspek kehidupan masyarakat lokal/desa di mana sekolah itu berada,” jelas Pater Tobi. (Emanuel djomba)***

Insert foto utama:   Provinsial OFM Provinsial St. Mikhael Indonesia Pater Mikhael Peruhe, OFM dihadapan peserta seminar HPS 16 Oktober 2017 yang dihadiri para siswa.