Responsive Ads Here
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Tuesday, 9 January 2018

Para pegiat literasi Ngada untuk pertama kali menggelar pertemuan di TB Sakura Aimere  -  

AIMERE, vigonews.com - Para pegiat Literasi yang juga pengelola taman baca di Ngada untuk pertama kali menggelar pertemuan, Sabtu (06/01/2018) di Aimere. Pertemuan yang digelar di Taman Baca (TB) Sakura – Paroki Aimere itu bertujuan menjalin silaturahmi antar pegiat literasi dalam menggelorakan gerakan literasi di Kabupaten Ngada.

Pertemuan perdana itu dihadiri enam pengelola TB, di antaranya Rm. Arnoldus Yansen Triyono dari TB Sakura Paroki Aimere (sebagai tuan rumah pertemuan); Emanuel Djomba Tuan, Rumah Literasi Ngada;  Rini Lalu, pengelola TB Mataleza Padhawoli Bajawa;  Agustinus Lando, pengelola TB Karya Muda Nginamanu Barat Kecamatan Wolomeze, Marlin Bupu, pengelola TB Bakti Arini Ubedolumolo, Kecamatan Bajawa dan Martinus Madha, simpatisan/calon pengelola TB Tebho Bero, Kecamatan Aimere.

Dalam suasana penuh keakraban, pertemuan ini menjadi wahana bagi sesama pegiat literasi untuk saling membagi pengalaman dalam mengelola TB dan mendampingi para pengunjung yang hampir pasti adalah anak-anak. Meski baru pertama kali, namun para pengelola TB tampak larut dalam suasana penuh kasih persaudaraan. Kehadiran beberapa pengiat literasi dalam pertemuan yang dibuka oleh Pengelola TB Sakura  Rm. Triyono, karena kerinduan para pengelola TB untuk menyatukan tekad dalam menggelorakan perjuangan bersama guna menggerakan minat baca hingga ke desa dan kampung-kampung di Ngada.
 
John Lobo dalam Gerakan Katakan dengan Buku di Jerebu'u 2016

Shering

Masing-masing pengelola TB yang hadir mengungkapkan dorongan masing-masing membuka TB di tempatnya. Rini Lalu pengelola TB Mataleza Padhawoli Bajawa dalam sheringnya mengungkapkan, dirinya tergerak membuka TB setelah mendengar keluhan dari orang tua siswa di sekitar tempat tinggalnya, yang menyebutkan banyak anak belum memiliki kemampuan membaca yang baik. Tergerak oleh keadaan itu, Rini kemudian menghubungi salah seorang temannya di Kabupaen Nagekeo yang memiliki buku-buku bacaan anak-anak.

Dikatakan Rini, ketika mulai membuka TB sejak Agustus 2017 lalu dirinya mengalami kesulitan untuk membangkitkan minat baca anak-anak di sekitarnya. Hal itu karena anak-anak belum terbiasa membaca.

Meski demikian, guru SMPN 1 Bajawa ini tidak putus asa. Ia kemudian mencoba menarik minat anak dengan kegiatan mewarnai. Ternyata kiat ini membuat anak-anak tertarik. Dari kegiatan ini, Rini kemudian mulai membiasakan anak-anak yang sebagian besar SD dan beberapa SMP itu membaca buku yang ada di TB-nya. Kegiatan ini masih dalam durasi waktu 15 – 30 menit. “Belum bisa lama-lama. Yang penting mereka ada minat dulu untuk membaca,” kata Rini.
 
John Lobo dalam kegiatan Gerakan Katakan dengan Buku di Jerebu'u 2016
Kegiatan membaca ini biasanya dilakukan setiap hari setelah jam sekolah siang. Hanya setelah diterapkan lima hari sekolah, aktivitas baca menurun karena anak pulang sekolah sudah sore. Sehingga kegiatan baca dilakukan pada akhir pekan – hari Sabtu dan Minggu.

Sejak dibuka, diakui Rini pendampingan kepada anak dalam membaca dan mewarnai dilakukan secara rutin. Dia mengakui fasilitas TB memang belum memadai seperti terbatasnya jumlah buku dan ruangan, dan sarana untuk mewarnai bagi anak-anak. Namun belakangan ada orang tua yang mulai tergugah untuk membantu memberikan donasi. Hanya hingga saat ini Rini masih membatasi dulu karena masih perlu benahi taman bacanya itu.

Lain Rini, lain pula Marlin. Pengelola TB Bakti Arini yang mengaku mulai membuka aktivitas TB sejak Desember 2016 itu juga terdorong untuk membantu anak-anak di lingkungannya di Ubedolumolo. TB ini digagas oleh pemiliknya Arini yang kini bekerja di Singapura manakala waktu pulang ke kampung membawa banyak buku.

Di TB ini juga ditandai dengan aktivitas baca dan mewarna bagi anak-anak di sekitarnya. Setiap hari anak-anak pulang sekolah nyaris tidak ada aktivitas yang bermanfaat kecuali bermain, karena orang tua mereka yang kebanyakkan pertain banyak beraktivitas di kebun dan ladang. Peluang ini dibidik sebagai hal yang positif jika buka TB untuk aktivitas anak untuk membaca.
 
membaca dan diskusi
Hanya Marlin mengeluh kurangnya koleksi buku terutama buku-buku berbahasa Indonesia dan juga ketersediaan pinsil warna bagi anak-anak yang melakukan aktivitas mewarnai. Belakangan, kata Marlin di TB ini ada layanan pinjam buku sehingga bisa bawa pulang. “Kita siapkan buku pinjaman, dan mereka akan mencatat nama di sana dan tanda tangan pada kolom pinjam dan kembali sesuai jadwal. Jadi hitung-hitung mereka dilatih belajar tanda tangan,” kata Marlin

Setelah pemberlakukan lima hari sekolah aktivitas di TB ini yang biasa setiap hari kemudian hanya dilayani pada hari Sabtu dan Minggu. Itu Karen anak-anak sampai di rumah sudah sore dan biasanya mereka langsung kegiatan sore membantu orang tua di rumah.

Sementara pengelola TB Karya Muda dari Desa Nginamanu Barat, Kecamatan Wolomeze, Agustinus Lando mengaku membuka TB karena di desanya banyak anak-anak yang belum diarahkan dengan kegiatan positif. Di desa ini juga meski ada sebuah sekolah tetapi belum dilengkapi dengan perpustakaan. Sehingga kehadiran TB ini diharapkan akan memberi manfaat bagi anak-anak di desa ini.
 
Pelatihan jurnalistik pemuda desa
Alumnus STPM Ende yang baru diwisuda dengan predikat Cumlaude itu memilih pulang ke kampung dan membangun desanya. Dia punya tekad agar generasi berikutnya harus memiliki kemampuan lebih dari yang sekarang. Itu bukan tanpa alasan. Menurut Uslan demikian dia akrab disapa, saat kuliah banyak mahasiswa yang tidak memiliki kemampuan berbicara, membaca dan menulis baik, karena mereka miskin diksi. Sehingga karya tulis ilmiah mereka tidak mampu untuk merangkainya dengan baik.

Itu sebabnya, kata Uslan, anak-anak harus sudah mulai dengan kebiasaan membaca dan menulis sejak dini. Kebiasaan berliterasi ini yang akan menolong anak dalam kemajuan pendidikannya hingga di tingkat perguruan tinggi.

Salah seorang simpatisan Literasi, Martinus Madha akhirnya tertarik dengan aktivitas para pegiat literasi setelah mengikuti shering ini. Itu yang kemudian mendorongnya untuk membangun sebuah TB juga.  Bergelut dengan buku membuat Martinus yang juga pegiat koperasi ini ingat sambutan Menteri Koperasi pada suatu ketika – sekitar tiga tahun lalu, yang mengungkapkan buku adalah jendela dunia.

“Saya setiap hari memang selalu membaca 15 menit sebelum ada aktivitas lain. Dan hari ini saya seperti terdorong untuk ikut ambil bagian dan berniat untuk membuka TB juga. Meski belum ada buku, tetapi di tempat saya ada banyak majalah yang bagus-bagus yang mungkin bisa dimanfaatnya untuk TB di kampungnya, daripada hanya numpuk-numpuk atau dibuang,” kata Martinus.
 
Gelar Lapak Baca Rumah Literasi Cermat
Berbeda dengan yang lain, beda pula dengan pengelola TB Sakura, Rm. Arnoldus Yansen Triyono, Pr. Pastor ini akhirnya membuka TB karena keprihatinannya pada minat baca masyarakat yang rendah, khususnya pada anak-anak. Mungkin karena itu, Rm. Triyono kemudian membuka TB di Paroki Aimere.

Bahkan, pastor yang satu ini semangatnya menggebu-gebu sehingga tak jarang dalam kunjungan pastoralnya ke berbagai wilayah di paroki itu membawa serta banyak buku di mobilnya. Sambil berpastoral, anak-anak di tempat yang ia kunjungi melahap buku-buku yang dibawanya.

Bagi Rm. Triyono, semangat baca yang baik akan menata kembali hidup generasi muda di masa depan. Budaya gadget yang terus membombardir kehidupan anak-anak, remaja, pemuda bahkan kalangan tua dewasa ini harus diperangi dengan budaya membaca. “Memang ini sulit tetapi kita tetap harus mulai. Minimal kita merebut anak-anak dan generasi muda,” tegas Rm. Triyono.

Dikatakan, rajin membaca di kalangan anak-anak akan ikut mendorong meningkatnya prestasi siswa. Di TB yang dikelolanya menjadi tempat kunjungan anak-anak, khususnya pada hari Sabtu dan Minggu. Saking semangatnya anak-anak datang membaca di TB, adakalanya anak-anak datang langsung menanyakan kepadanya, “Romo ada buku baru?”. Pertanyaan ini sselalu menggelitik Rm. Triyono yang mengaku di TB yang dikelolanya itu masih terbatas koleksi buku untuk anak.
 
Pelatihan menulis eco literasi SD
Sementara Tuan Rumah Literasi Cermat Ngada, Emanuel Djomba juga membagikan pengalamannya kepada para pegiat literasi lainnya terkait dengan kampanye membaca dan menulis yang digelutinya di Ngada sejak tahun 2013 lampau.

Diakui Djomba yang juga Dosen di STKIP Citra Bakti Ngada sejak tahun 2009 itu, dirinya memulai kampanye literasi karena tergerak dan prihatin akan rendahnya minat baca di  kalangan mahasiswa. Bahkan para mahasiswa mengalami kesulitan dalam merumuskan gagasan dalam bentuk tulisan ilmiah bahkan karya tulis sederhana. Mahasiswa terlihat miskin diksi baik dalam menulis maupun berbicara.

Sejak tahun 2013, Djomba mulai keluar masuk sekolah baik SD, SMP, SMA, Pergurun Tinggi dan organisasi bahkan menyasar guru untuk melakukan pelatihan menulis. Karena dengan menulis, pikirnya, mendorong seseorang untuk membaca. Bagi Djomba, penulis yang baik tentu saja seorang pembaca yang baik pula.

Djomba yang sudah menjadi wartawan sejak di Denpasar Bali tahun 1995 itu memanfaatkan kompetensi yang dimilikinya untuk melatih anak-anak dan remaja di berbagai sekolah melalui pelatihan jurnalistik. Untuk mendukung kegiatannya itu, dia menerbitkan media pendidikan dan literasi CERMAT yang semula berbentuk koran kini menjadi majalah. Ketua Asosiasi Wartawan Ngada ini juga gencar melakukan berbagai literasi seperti literasi pertanian, literasi politik, literasi kebangsaan, dan eco literasi.
 
Siswa pelatihan jurnalistik
Guna menggelorakan misinya itu, Djomba kemudian mendirikan Rumah Literasi Cermat (RLC) sebagai wadah penyelenggaraan berbagai kampanye literasi di Kabupaten Ngada dan Flores pada umumnya. Di RLC yang dipimpinnya menjadi simpul para intelektual untuk menggelar berbagai diskusi secara rutin. Dari RLC juga, Djomba melakukan safari lapak baca menyasar desa. Melalui wadah ini kemudian mulai mendirikan TB baru, dan kini muncul dua embrio, masing-masing TB Karya Muda di Kecamatan Wolomeze dan TB Ampera di Kecamatan Riung Barat.

Kesepakatan

Terkait dengan pertemuan itu, para pegiat literasi yang tergabung dalam simpul pustaka Ngada itu menyepakati beberapa hal yang menjadi komitmen bersama dalam kampanyel literasi di kabupaten Ngada ke depan.

Pertama, menyepakati untuk melakukan safari literasi secara rutin dengan mengunjungi simpul-simpul pustaka yang ada seluruh Kabupaten Ngada yang hingga kini sudah beranggotakan lebih dari 20 TB.

Kedua, sehubungan dengan keterbatasan koleksi buku, forum ini sepakat untuk melakukan roling buku dari TB yang satu ke TB yang lain bersamaan dengan kegiatan safari literasi bulanan; dan melakukan arisan buku pada saat safari literasi.

Ketiga, terus melakukan penguatan simpul pustaka di Ngada dan melakukan diversifikasi TB ke berbagai desa di Kabupaten Ngada sesuai kebutuhan, dan menggalang semangat bagi para peminat literasi lebih banyak lagi dalam gerakan ini.

Keempat, menumbuhkan minat berliterasi dengan menyelenggarakan berbagai program baik di tingkat TB maupun Forum Literasi Ngada  dengan menggelar berbagai jenis lomba literasi kepada anak dan remaja asuhan TB.

Kelima, perlu penguatan prasarana TB yang memadai sehingga memberi daya tarik kepada anak, remaja dan generasi muda mengunjungi TB secara rutin. (DBP)***

Aimere, Sabu 6 Januari 2018


Wednesday, 4 October 2017


BAJAWA, vigonews.com  – Ricis Akustik, Rabu (04/10/2017) tampil di café Maidia stand pameran Dinas Pertanian Kabupaten Ngada. Tampil memukau pengunjung di arena pameran ini, sebagai bentuk dukungan SMAK Regina Pacis Bajawa terhadap kampanye ‘Go Organik’ yang sudah dicanangkan Wakil Bupati Paulus Soliwoa (20/09/2017) lalu, sekaligus memeriahkan kegiatan ‘Sayembara Menulis Gagasan’  tentang pertanian organic.

Band Recis Akustik didukung personil yang juga para siswa asuhan Logis Nanang dan Alfons Baba meramaikan arena pameran sesaat menjelang sayembara berakhir. Para personil Band Recis Akustik yang tampil petang hingga malam itu, antara lain:  Cheng Mio (Bas), Rinto Basan (Melodi), Rian Delu (Pengiring), Djone (Penabuh Kahok) Rian Janggur (Pengiring), Mario Jimu (Pengiring), dan Riko (Kayboard). Menampilkan vokalis Quin, Fafin dan Aldo.

Apresiasi tampilnya Recis Akustik di Stand Dinas Pertanian disampaikanoleh Gordius W. Tuga, atau akrab disapa Man Tuga, yang juga Kasubag Perencanaan Dinas Pertanian Kabupaten Ngada. Man Tuga memberi apresiasi setinggi-tingginya atas dukungan Recis Akustik maupun SMAK Recis secara kelembagaan dalam meriahkan kegiatan Sayembara Menulis Gagasan sebagai aksi kampanye ‘Go Organic’.
 
Recis Akustik di stand pameran Dinas Pertanian Kabupaten Ngada
“Ini dukungan luar biasa. Saya beri profisiat untuk lembaga Recis. Tau kita sedang kampanye ‘Go Organik’ Recis menyatakan mendukung sehingga malam ini tampil di arena pameran,” kata Man Tuga.

Melalui suara merdu Quin, Fafin, Aldo dan iringan musik Band Recis Akustik persembahkan kepada para petani di Ngada, untuk mendukung gerakan ‘Go Organic’ yang sudah dimulai. Pada kesempatan itu, Man Tuga mempersembahkan sebuah lagu dari Frangky Sahilatua ‘Menyambut Musim Petik’ untuk gerakan organik. Lagu yang menggambarkan suasana desa yang damai, sejahtera yang lahir dari ketulusan para petani mengolah sawah ladang mereka dengan kearifan lokal. (ch)***

Monday, 10 October 2016


Vigonews.com, BAJAWA - Sejak Juli lalu halaman media – khususnya media sosial – diwarnai ‘ritual’ tahunan wisuda. Salah satu lembaga yang mewisuda sarjana adalah STKIP Citra Bakti, Malanuza. Memang, menjadi sarjana itu  impian banyak orang muda. Sebagian orang bisa menggapai dengan banyak kemudahan, sebagian belum tentu. Karena bisa meraih impian itu, pintar saja belum cukup. Uang  kadang jadi batu sandungan.

Sosok yang satu ini membuktikannya, bahwa pintar saja belum cukup. Dialah Maria Magdalene Muke. Gelar sarjana akhirnya diraihnya. Tetapi dia harus berpeluh selama empat tahun, agar dapat melewati empat tahun berikutnya menuju cita-citanya menyandang gelar sarjana pendidikan.


Kini dara manis yang akrab disapa Mey itu menyandang gelar S.Pd. Bukan itu saja, Mey bahkan membuktikan  sebagai lulusan terbaik dengan predikat kelulusan cum laude alias lulus dengan pujian. Dari 177 wisudawan STKIP Citra Bakti Ngada tahun 2016, kelahiran Ndora, Nagekeo 10 Mey 1987 ini meraih nilai IPK tertinggi 3,89. Mencengangkan! Hampir mendekati predikat zuma untuk kategori tertinggi dalam kelulusan.


Di kelas, Mey tergolong mahasiswa yang cerdas. Selama kuliah empat tahun, anak kedua dari Yulius Wolo dan Yolenta Lobe ini aktif dalam kegiatan paduan suara. Kemampuan Mey mengolah vokal telah membuatnya ikut membesarkan Vull Voice - Grup Paduan Suara - pimpinan Veronika Ulle Bogha, semakin dikenal di Ngada bahkan hingga Nagekeo. Dalam paduan suara salah seorang anggota DPRD Ngada ini, Mey menjadi Konduktor dan terus  mengasah kemampuan dalam olah vokal. Tidak heran, jika sebelum wisuda sosok yang ramah dan murah senyum ini banyak ditawari menjadi guru di sejumlah tempat. Memang dia menunjukkan kualitas tersendiri, bahkan belakangan dia sering diminta untuk melatih kelompok paduan suara di sejumlah tempat.


Menjadi sarjana dengan predikat cum laude memang mengundang decak kagum, karena anak kedua dari empat bersaudara ini memang punya nilai plus yang mengantarkannya siap bersaing di dunia kerja. Mungkin karena itu, kepada Media CERMAT suatu kesempatan dia menuturkan,  tidak pernah takut kalah bersaing di dunia kerja.


Apa pandangan alumni SMKN 1 Ende tahun 2006 ini? "Dunia kerja butuh pribadi unggul dan profesional, tidak hanya andalkan ijasah dan IPK tinggi, tetapi harus bisa bersaing," katanya menjawab CERMAT di sela-sela kegiatan wisuda Agustus lalu.


Mey memang meraih prestasi gemilang hari ini. Tetapi tidak banyak orang tau bagaimana alumni SMPS Supra Mataloko ini menggapai puncak cita-citanya. Siapa sangka hasratnya untuk meraih sarjana besar taruhannya. Empat tahun dia harus berpeluh dengan menjadi TKW di Malaysia. Dan empat tahun berikutnya adalah tahun-tahun baginya untuk mewujudkan cita-cita yang nyaris terkubur setamat SMA gara-gara orang tua tidak mampu membiayai kuliah.


Menjadi tenaga kerja di Malaysia tidak membuat cita-citanya padam. Hasratnya terus memendam. Selama empat tahun itulah waktu mengumpulkan biaya. Setelah merasa cukup mendapat biaya, Mey balik ke kampunnya.


Dengan modal uang dari negeri Jiran, Mey daftar untuk kuliah. Pilihannya adalah Perguruan Tinggi (PT) dekat kampung halamannya. Baginya, kualitas seseorang tidak selalu diukur dari PT mana dan berada di mana, tetapi juga dipengaruhi oleh kemauan pribadi dalam mengembangkan kemampuan diri.

Entah mengapa, menjadi sarjana selalu terngiang dalam benaknya. Waktu empat tahun menjadi TKW tidak mampu melunturkan harapannya sejak kecil. Bahkan sekembali dari Malaysia, Mey mengaku ada yang sudah mau melamar, namun ditolaknya dengan hormat.

Setamat di SMKN 1 Ende, Mey sempat tinggal di luar hingga dia memutuskan untuk merantau. Tahun 2008 sosok yang dikenal piawai dalam memimpin paduan suara ini diam-diam hengkang ke Malaysia. Kedua orang tuannya baru tahu setelah Mey sudah di Maumere. "Saya waktu itu agak kecewa, karena saya minta sama orang tua supaya kuliah, tetapi orang tua bilang tunggu dulu," cerita Mey yang mengaku sempat juga kuliah di undana jurusan Matematika tetapi urung di bulan-bulan pertama.

Waktu itu, kedua orang tua Mey memang tak sanggup melanjutkan Mey ke PT, karena  adiknya masih di SMA. Kondisi ini memang berat, hingga orang tua bilang bersabar sampai adiknya selesai. Namun jalan yang tampak buntu itu membuat Mey berpikir lain. Keputusannya harus pergi untuk mencari kerja. Dengan bekerja, pikir Mey, dia bisa mengumpulkan uang dan itu berarti dia bisa mewujudkan impiannya. Keputusan Mey untuk melewati jalan lain membuat kedua orang tuannya hanya bisa pasrah.

Sejak SMP hingga tamat SMA Mey yang sudah mulai dengan hoby olah vokalnya itu selalu bertanya dalam hati, "apa karena saya anak petani miskin yang tidak tamat SD,  tidak bisa jadi sarjana?" cerita Mey.

Pertanyaan itu selalu membuat Mey membatin. Hal itu yang membuat dia terus berpacu dalamberprestasi. Saat SMP, Mey mulai ikut lomba menyanyi Solo. Rasanya bangga sekali tampil di panggung. Dan, itu yang membuat Mey terus mengasah kemampuannya. dia masih ingat dengan lagu favoritnya kala SMP, yakni 'Mama Beta Ini Anak Siapa'? Entah kebetulan atau tidak lagu ini 'bak gugutan terhadap kondisi keluarganya. Tetapi 'gugatan' itu mendorong dia untuk membuktikan untuk mengubah nasibnya. Bahwa, anak petani miskin sekalipun mampu meraih prestasi akademik yang mencengangkan dan mampu bersaing.

Dunia kerja yang keras yang dilewatinya sebelum kuliah mengajarinya arti sebuah perjuangan. Bahwa meraih impian dan sukses butuh kerja keras dan kesetiaan menjalani. Ini yang bakal menjadikan  jalannya memasuki dunia kerja setelah jadi sarjana semakin lapang. "Dunia kerja tidak hanya butuh IPK tinggi tetapi juga kompetensi yang tinggi pula, sehingga mampu bersaing. Saya tidak malu jadi sarjana dari PT di desa, karena saya yakin mampu bersaing dan menjadi yang terbaik," beber Mey.

Apa yang didapat Mey selama kerja di Malaysia? Pengalaman sudah pasti. Tetapi lebih dari itu dia akhirnya dapat mengumpulkan uang sekitar Rp 40 juta dari empat tahun bekerja. "Setelah empat tahun, saya putuskan untuk mengakhirinya. Rencana itu baru diberitahu kepada kedua orang tua menjelang pulang ke kampung," katanya.


Selama bekerja di Malaysia, Mey merasa  Enjoy, meski berangkat ke sana memendam kecewa. "Saya senang, meski tantangan kerja luar biasa, karena dorongan untuk meraih cita-cita saya bisa melewatinya. Di sana saya tidak bisa seenaknya. Hasrat saya  kuliah, tetap besar. Rencana pulang tidak diijin majikan, karena mereka juga senang dengan kerja saya dalam menjalankan  usaha mereka. Tapi saya  sampaikan ke majikan bahwa pulang untuk sekolah, baru mereka beri ijin saya kembali ke Indonesia," kenang Mey.

Kecerdasan dan kecekatannya dalam mengelola pekerjaan usaha bos-nya membuat sang majikan enggan mengijinkannya pulang. Kemampuan Mey memang diragukan majikan bahwa dirinya tidak sekolah seperti pengakuan awalnya. Karena segala pekerjaan bahkan tanggung jawab untuk memberi latian kepada karyawan lain menunjukkan bahwa Mey orang berpendidikan. Dan itu baru terkuak ketika akan kembali ke kampung.

Mengapa Mey akhirnya memilih kuliah dan menjadi sarjana pendidikan? "Bagi saya guru itu beda saja.  Tetapi guru berkualitas tidak semua. Ada banyak guru yang kurang percaya diri dan ini sebenarnya mematikan kreatifitas. Kita harus yakin bahwa kita bisa," tegas Mey.

Kini Mey sudah menjadi sarjana. Meski dengan biaya sendiri, namun tidak membuatnya takkabur. Dia sangat menyayangi keluarga, karena dari sana dia dibentuk. Baginya kondisi yang serba kekurangan dalam keluarga bukan malapetaka, tetapi menjadi titik balik untuk berjuang menjadi yang terbaik."Bagi saya orang tua, apapun peran mereka, tetap menjadi sosok panutan dalam keluarga. Kelemahan mereka adalah kekuatan bagi saya sehingga saya mampu bangkit dan berdiri," kata Mey memaknai kehidupannya.(ch)***

Saturday, 26 December 2015


BAJAWA/NGADA, vigonews.com - Ayu Wabang meraih juara pertama lomba fashion show kreasi busana limbah,  sementara Noni Pramesti Aluman  meraih juara pertama lomba fashion show  kategori busana adat yang digelar GMIT Ebenheazer Bajawa menyambut Natal 2015. Lomba itu digelar di Gereja setempat, Kamis (17/12/2015).

Noni begitu biasa disapa mengenakan busana adat Rote. Dia menyisihkan cilik lainnya yang juga beradu bakat dalam dunia fashion show berbusana adat itu. Tempat kedua diraih oleh Kinan dan tempat ketiga diraih Elsie.

Saat menaiki catwalk Noni terlihat lugas dan menyuguhkan lenggokan yang memukau penonton. Anak dari pasangan Nikson Yohanes Aluman dan Juliana Magdalena Nubatonis ini ternyata tidak hanya menunjukkan kebolehan dalam bidang tarik suara, tetapi juga mampu memperlihatkan bakat  di catwalk.

Mengembangkan bakatnya selama ini, Noni didampingi ibundanya saja. “Sejak kecil dia sudah mulai belajar nyanyi dan menunjukkan bakat pada dunia fashion, saya berusaha mendampingi dan membimbingnya,” kata Yuliana.

Sementara, Ayu Wabang mengenakan busana yang dirancang khusus dari kertas  koran bekas. Busana limbah rancangan Heni Prasetyowati itu terlihat sempurna.  Sepintas tak tampak busana yang dikenakan remaja cantik itu terbuat dari kertas Koran bekas. Namun jika cermati lebih dekat, ternyata detail-detail yang nyaris sempurna laiknya gaun itu dibentuk dari kertas Koran.

Tema budaya dengan busana adat dan limbah menguatkan makna Natal, bahwa kelahiran Kristus  menyatukan semua orang dalam satu keluarga besar, yang kaya, miskin, orang tua, anak-anak, dan sekalian alam. Atmosfir kandang Natal menampakkan kepadatan tema itu yang terus dimaknai dari tahun ke tahun.(ch)*

Insert foto: Noni dan Ayu

BAJAWA/NGADA, vigonews.com – Natal jadi ajang adu kreativitas, di antaranya menjadikan sampah (limah)  pernik-pernik Natal. Gereja Ebenheazer di Bajawa malah mengemas sebuah lomba fashion show menyambut Natal 2015 dengan menampilkan busana dari limbah. Daur ulang sampah (limba) juga dikreasikan dalam bentuk pohon natal yang terbuat dari bahan kemasan minuman anak-anak dan kemasan air mineral.

Limbah dan Natal? Gambaran yang amat paradoks dalam realitas kehidupan. Limbah adalah sesuatu yang tidak lagi bermanfaat dan bernilai ekonomi.  Limbah baru bisa dimanfaatkan kembali jika telah melewati proses daur ulang. Sementara, daur ulang adalah proses penggunaan kembali material (limbah) seperti dari sampah  menjadi produk yang berbeda, atau bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi.  Sesuatu yang luar biasa yang bisa didapatkan dari sampah.

Ketika Jemaat GMIT Ebenheazer menggelar kegiatan menyambut Natal dengan lomba fashion show busana limbah menyambut Natal (17/12/2015) lalu, mungkin menggelitik banyak orang. Atau mungkin ada yang biasa-biasa saja.

Refleksi tema dalam sebuah pentas yang unik itu digambarkan secara gamblang oleh Ketua Panitia Lomba Fashion Show,  Elisabet Nena, ST kepada vigonews.com  usai pentas, Kamis (17/12/2015) di Gereja Ebenheazer. “Kami mencoba merefleksikan tema Natal tahun ini yang sudah disepakati,” katanya.

Apapun respon tidak mengurangi makna yang mau digali dari lomba fashion show busana limbah itu. Dalam lomba ini juga ditampilkan busana adat dari budaya berbeda hingga lomba vocal grup yang melibatkan anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, dari status sosial berbeda. Mereka menyatu dalam perayaan menyambut  Natal dalam balutan lomba yang unik itu.

Melalui lomba yang unik tergambar tema besar yang diusung PGI –KWI “Hidup bersama Sebagai Keluarga Allah.”  Kebersamaan dalam peristiwa Natal adalah kebersamaan ayah, ibu, orang Majus (beda budaya dan status), para gembala (kaum papa). Semua hadir di kandang. Di sana ada kotoran dan sampah, namun di situ Yesus lahir dan dibungkus dengan lampin. Lampin adalah simbol pakaian kekudusan dan kebenaran. Di sana ada palungan, sebagai tempat makan hewan – gambaran sumber kehidupan.

Kehadiran Yesus mengubah wajah kandang yang sederhana menjadi penuh kemuliaan. Menyatukan manusia dari berbagai suku dan budaya, dari berbagai kelas sosial. Mengubah sampah di kandang menjadi indah dengan mengenakan lampin kebenaran. Dalam Allah semua bisa dibuat indah. Mungkin karena itu, muncul kreativitas menggelar kegiatan lomba fashion show  dengan busana adat dan busana dari limbah.

Melalui sampah kertas koran, plastik, dan bahan limbah lainnya Jemaat GMIT Ebenheazer mendaur ulang menjadi busana yang unik dan indah dalam sebuah gelar lomba fashion show. Anak-anak yang mengenakan busana limbah adalah sebuah sinyal kuat kepada publik  bahwa kita ini sesungguhnya limbah itu, yang tanpa kehadiran Yesus di  kandang yang hina, penuh sampah dan kotoran tak dapat didaur ulang. Tetapi karena kehadiran-Nya, manusia yang sudah jatuh dalam dosa (seperti sampah/kotoran) kemudian didaur ulang sehingga kembali bernilai dan menjadi ciptaan baru.

Anak-anak berbusana adat (dari berbagai etnis) juga mengirim sinyal amat kuat akan makna hidup dalam kebersamaan sebagai satu saudara dalam keluarga Allah meski beda budaya dan status sosial seperti orang Majus dari Timur dan para gembala yang sederhana. Semua bersama sebagai keluarga Allah.

Tempat sampah (limbah) selalu mengirimkan bau busuk ke lingkungan sekitar. Kita kadang menjadi sampah yang selalu mengirim bau busuk dan sumber penyakit kepada orang lain sehingga membuat orang lain tidak nyaman dan sakit, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Dengan pertolongan-Nya, ‘sampah’ itu perlu didaur ulang, agar kita menjadi produk baru yang bernilai.

Refleksi tema dalam sebuah pentas yang unik itu digambarkan secara gamblang oleh Ketua Panitia Lomba Fashion Show,  Elisabet Nena, ST kepada vigonews.com  usai pentas, Kamis (17/12/2015) di Gereja Ebenheazer. “Kami mencoba merefleksikan tema Natal tahun ini yang sudah disepakati,” katanya.

Bahwa, ada begitu banyak yang bisa dimaknai dengan kehadiran Allah dalam Yesus Kristus di dunia, termasuk sampah dan kotoran yang ada di dalam kandang hewan, tempat kelahirannya. Dalam Allah semua bisa dibuat indah. Yesus pun dibungkus dengan kain lampin. Meski dari kacamata manusia kandang yang kotor dan penuh sampah tidak ada sisi yang indah, tetapi karena kelahirang Sang Juruselamat segala sesuatu bisa dibuat indah. Di Kandang Natal sampah jadi indah karena kehadiran Yesus. Itu sebabnya muncul kreativitas menggelar kegiatan lomba fashion show dengan busana adat dan busana dari limbah.

Dikatakan Elyn, di dalam kandang  itu semua hadir. Ada orang tua melalui sosok Maria dan Yusuf, ada yang kaya seperti orang Majus dari Timur, ada orang miskin melalui kehadiran gembala dan domba. Kandang yang kotor dan penuh sampah. Semuanya terlibat, dan semuanya menjadi indah, ketika Yesus hadirdi sana.(ch)*