Responsive Ads Here

Thursday, 13 July 2017


KURUBHOKO, vigonews.com - Rumah Literasi Cermat memanfaatkan waktu liburan sekolah dengan kegiatan literasi. Melalui program 'Lapak Baca Liburan' (LBL) itu menggelar berbagai bahan bacaan di Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, 8 - 9 Juli 2017.

Gelar Lapak Baca Liburan (LBL) bersamaan dengan dilaksanakan Jumpa OMK Kuasi Paroki Kurunhoko yang berlangsung 2 - 9 Juli 2017. Buku-buku yang digelar di LBL seperti cerita anak, buku kaum muda, buku umum dan koran. 

Gelar LBL direspons orang muda Katolik yang sedang gelar Jumpa OMK. Pastor Administrator Kuasi Paroki Kurubhoko, Pater Thobias Harman, OFM memberi apresiasi terhadap TBL. "Kagiatan ini positif untuk meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak yang sedang berlibur dan kalangan muda Katolik di waktu liburan," katanya.

Tuan Rumah Litetasi Cermat, Emanuel Djomba mengatakan, gelar Lapak Baca Liburan spontan saja dilakukan,  sekedar memancing respons dari anak-anak dan kalangan muda saat liburan maupun yang sedang gelar Jumpa OMK. "Semula hanya coba-coba saja, ternyata mendapat respons. Banyak di antara kalangan muda yang minta meminjamkan buku. Senang karena ada respons dari anak muda," kata Djomba.
 

Bahan bacaan yang digelar di LBL, kata Djomba, juga tidak banyak. Hanya sekitar 100 judul, yang lainnya bacaan anak seperti cerita anak, cerita rohani bergambar dan beberapa jenis koran. Melihat animo ini, Djomba yang juga Pimpin Redaksi MEDIA CERMAT itu berencana buka Rumah Literasi di desa ini. "Ini awal yang baik mendorong kami buka rumah litetasi di sini," kata Djomba.

Bahan bacaan itu, kata Djomba hanya dari perpustakaan pribadi miliknya. Belum semua khazanah perpustakaannya yang diturunkan karena sebagian besar koleksi pribadi dan buku-buku akademis. Sementata bacaan cerita anak adalah bantuan dari John Lobo dari Gerekan Katakan dengan Buku. Sejumlah koran juga digelar sebagai baham bacaan bagi maayarakat.


Hanya saja masih perlu biaya untuk bangun Rumah Literasi yang juga menjadi pusat legiatan belajar masyatakat. "Kita juga perlu tambahan banyak buku yang tentu saja kita berharap ada donasi dari siapa saja yang peduli dengan kegiatam Literasi,"  kata Djomba yang aktif mengampanyekan minat baca dan menulis melalui pelatihan jurnalistik untuk berbagai elemen itu.

Rencananya Rumah Literasi Cermat di Kurubhoko, desa Nginamanu, Kecamatan Wolomese juga dirancang dengan berbagai program, seperti pelatihan menulis, pendampingan membaca, dan berbagai kegiatan lomba untuk anak dan remaja. "Kegiatan semacam ini akan membuat Rumah Literasi terus berdenyut sehingga tidak sekedar gudang buku. Melalui kegiatan juga dapat merangsang minat baca masyarakat. Kita juga akan kerja sama dengan desa setempat," kata Djomba. (ch)***

Wednesday, 5 July 2017


AIMERE, vigonews.com  - Warga Desa Kila, Rabu (05/07/2016) gotong royong membangun kapel di desa itu. Kerja gotong royong yang melibatkan lebih dari 200 warga termasuk warga dari Kelurahan Foa dan warga Desa Binawali diawali dengan ritual adat dan peletakan batu pertama oleh Pastor Paroki Aimere, Rm. Arnold Yansen Triyono, Pr.

Hadir pada saat itu Plt. Camat Aimere Maxi Neto, Pemilik tanah dari Suku Bay Marsel Nandes, Kepala Desa Kila Wihelmus Petrus Pati, Kepala Desa Binawali Yeremias Ture, Ketua LPA Desa Kila Aloysius Waso, para tokoh adat, dan tokoh masyarakat.

Kapel berukuran 22 x 10 meter di atas tanah milik Suku Sede itu seluas kurang lebih 1.800 meter persegi. Menurut kepala Desa Kila, Wihelmus Petrus Pati, pembangunan rumah ibadat yang menelan dana desa Rp 357 juta itu diharapkan dapat melayani sekitar 900 jiwa dari enam KUB di wilayah itu. "Selama ini Desa Kila yang masuk lingkungan pelayanan Foa Selatan bergabung dengan Foa Timur. Tetapi setelah kapel selesai, umat tidak harus ke kapel Foa Timur yang berjarak 1 km," katanya.

Pastor Paroki Aimere, Rm. Arnold Yansen Triyono, Pr saat sambutan usai peletakan batu pertama menyampaikan terima kasih kepada Suku Sede yang telah merelakan tanah miliknya untuk bangun tempat ibadat. Apresiasi yang sama juga disampaikan Rm. Triyono, begitu dia biasa disapa, kepada pemerintah desa dan kabupaten yang telah memberi perhatian terhadap pembangunan iman umat melalui intervensi dana desa.

"Hari ini kita letakan batu mati untuk tempat ibadat. Tetapi ada batu hidup yang juga harus dibangun yakni umat itu sendiri sebagai bait Allah. Karena itu tempat ini harus menjadi wahana pengembangan pengalan iman bersama dan membina cinta tanpa ada sekat dan permusuhan," kata Rm. Triyono

Dikatakan, apa yang sudah  dimulai bersama-sama harus dirawat dan dijaga kelangsungannya baik fisik maupun iman. Caranya? "Datang ke gereja untuk beribadat setiap hari minggu dan hari-hari raya. Hidup rukun dalam kebersamaan. Saling tegur dan ingatkan satu sama lain," tegas Rm. Triyono

Dia menambahkan, di lingkungan Foa  tahun ini juga bagun dua kapela. Rumah ini harus menjadi berkat bagi kita semua. Nama pelindung kapel biar kemudian  waktu mau resmi baru diberi.

Sementara Plt. Camat Aimere Maxi Neto dalam sambutannya juga memberi apresiasi kepada Suku Bay dan semua anggota suku yang sudah merelakan tanahnya untuk bangun Kapel. "Saya harap masyarakat Kila dapat merawat tempat ibadat ini dengan baik dengan rajin beribadah di dalamnya, membina kerukunan dengan penuh kasih satu sama lain rumah ini. Rumah Tuhan tempat mempersatukan kita sebagai anak-anaknya," tegas Camat Maxi

Dikatakan Maxi, selama ini bangun rumah ibadat sepenuhnya biaya umat. Tetapi sekarang ada keterlibatan pemerintah melalui dana desa. "Pemerintah ambil bagian melalui intervensi dana desa. Karena undang-undang membolehkannya," katanya.

Ratusan warga Desa Kila gotong royong bangun Kapela


Maxi minta masyarakat dapat manfaatkan tempat ibadat ini secara baik setelah selesai dibangun. Umat di lingkungan Foa Selatan supaya setelah kapel selesai dibangun agar dirawat. Bukan hanya rawat  gedung tetapi rawat iman juga dan kerukunan harus dirawat pula.


Tuan tanah Suku Bay,  Marsel Nandes usai peletakan batu pertama mengatakan, tempat ini adalah tanah milik Suku Bay. Untuk pembangunan tempat ibadat, semua saling mendukung baik masyarakat maupun pemilik tanah serta pemerintah dan gereja. "Kita menyadari bahwa berpikir dan berbuat untuk banyak orang adalah perbuatan baik. Karena itu kita hadir di sini sama-sama membangun kapela yang akan digunakan oleh banyak orang," kata dosen FKIP Unflor ini.

Dibagian lain, Kepala Desa Kila, Wihelmus Petrus Pati mengatakan pembangunan tempat ibadat ini dikehendaki masyarakat yang dicapai melalui pramusrembangdes yang kemudian diputuskan oleh pemerintah desa. Dan gayung bersambut, karena dari sisi regulasi memungkinkan pembangunan tempat ibadat dengan intervensi dana desa.

Pembangunan tempat ibadat di Desa Kila, kata Wempi begitu kades ini disapa adalah salah satu dari empat program yang didanai dari dana desa dengan total Rp 691.325.500. Sementara pembangunan kapel sendiri dialokasikan dana sebesar Rp 357 juta lebih.

"Kami berharap proses pembangunan di Desa Kila ada pengawasan dari masyarakat agar pemerintah desa tetap berjalam di rel hukum. Kalau salah, kami diberitau. Ma'e bhete (jangan diam). Jangan sampai sudah salah langkah baru omong belakang ise (tau rasa)," kata Wempi.

Wempi juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah karena memberi ruang dengan mengijinkan intervensi dana desa untuk pembangunan tempat ibadat.Terima kasih pula atas dukungan masyarakat untuk percepatan pembangunan fisik di Kila. Ada empat program dan dua di antaranya sudah sieksekusi.

Tiga program lainnnya di Kila tahun ini yang didanai dana desa, yakni: kelanjutan pembukaan jalan baru nuabu - nuakila 900 m, pembangunan dapur desa, dan pembangunan gedung PAUD plus. (ch)***

Insert foto: Pastor Paroki Aimere Rm. Arnold Yansen Triyono, Pr berbaur dengan umat di Foa Selatan, Desa Kila membangun Kapela.

SOA, vigonews.com - Kata orang, banyak tukang dapat mengerjakan rumah dengan sangat indah, tetapi bukan rumahnya sendiri.  Tukang yang satu ini, jauh-jauh hari sudah membangun rumah peristirahatan terakhir yang bagus. Dia melihat bangunan permanen untuk pembaringan terakhir itu indah adanya. Kini kubur permanen sudah selesai dibangun, tinggal menunggu tanggal kematiannya.

Sebuah kubur dibangun megah di depan sebuah rumah di Wulilade. Unyiknya, kubur itu masih kosong. Konon kubur yang megah ini akan menjadi tempat pembaringan terakhir sang pembuatnya. Mendengar  cerita unik kubur tak berpenghuni, di desa Tarawali, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada menggugah vigonews.com untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang si empunya kuburan.

Petrus Antonius Soa Baghi namanya. Wulilade adalah desa tempat tinggalnya. Ia lahir pada tahun 1939. Dia  memiliki seorang istri dan mempunyai 10 orang anak, tujuh anak sudah meninggal karena sakit dan tersisa tiga orang putri. Ketiga putrinya sudah menikah dan tidak tinggal serumah lagi dengannya.

Rasa penasaran semakin menjadi-jadi ketika sore itu awak media ini  berjalan menuju kediamannya. Beberapa orang yang ditanyai mengenai alamat rumah kakek Antonius selalu memberikan respon yang membuat rasa ingin tahu semakin besar. Senyum simpul warga pertanda ada sesuatu yang unik dari sudut jalan itu. 

Awak media ini bergegas menghampiri kediamannya ketika alamat rumah sudah didapatkan. Ketika tiba di depan rumah si kakek, nampak sebuah pendopo kecil rapi dengan pagar mengintarinya. Ya, itu sebuah kuburan yang memang dikhususkan untuk dua orang. Memang tak asing karena beberapa rumah pun memiliki pemandangan yang serupa. Kuburan permanen yang sudah dilengkapi dengan atap ini tak ada yang berbeda dari kuburan lain pada umumnya.

Nampak seorang wanita tua renta sedang duduk persis di depan pintu rumah. Awak media ini langsung menyapanya dan raut wajah si nenek terlihat sedikit kebingungan. Rambutnya yang memutih dan kulit yang sudah berkeriput memberi tanda bahwa pendengaran dan pengelihatan si nenek juga memang sudah tidak berfungsi dengan baik lagi.

Ketika vigonews.com masuk ke dalam ruang tamu yang ditata dengan cukup rapi itu, nampak seorang kakek tua dengan punggung yang sudah melenggkung digantung usia, asyik menonton televisi. Raut wajahnya tak jauh berbeda dengan sang istri, ia terlihat bingung dan sungkan akan kedatangan seseorang yang belum dikenal sebelumnya. Sesaat mendengar maksud dan tujuan kedatangan vigonews.com, si kakek spontan berapi-api menceritakan kisahnya yang unik itu.

Suaranya terdengar bergetar dan bicaranya samar. Mungkin karena giginya yang telah keropos dimakan usia. Meskipun begitu, masih ada semangat dalam setiap ucapannya, ketika ditanyai mengenai kisah dan harapannya. “Kuburan itu saya bangun sejak 10 Oktober 2010”, si kakek mulai mengawali kisahnya.

“Saya membangun kuburan itu karena saya ingin kediaman terakhir saya seperti yang saya inginkan. Sebab belum tentu kalau saya sudah meninggal, orang buat kuburan seperti yang saya mau. Mumpung saya ini dulu seorang tukang bangunan, jadi tidak ada salahnya kalau saya memanfaatkan keahlian saya ini,” cerita sang kakek yang tampak antusias menceritakan kuburannya sendiri yang ia bangun itu.

Kakek 76 tahun ini membangun kuburan untuk dirinya dan juga istrinya Helena Na’u Wio yang setia mendampinginya. Suami dari Helena Na’u Wio ini, sejak dulu berprofesi sebagai tukang bangunan. Sosok pekerja keras ini pernah menangani beberapa bangunan yang hingga sekarang masih berdiri kokoh seperti SMP Slamet Riyadi, Gereja Kisol dan puluhan rumah kolong lainnya.

Selain bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kakek Anton begitu dia biasa disapa, juga bekerja untuk menyekolahkan anaknya yang saat ini sudah berprofesi sebagai guru di SDK Masu, Kecamatan Soa. “Jaman dulu kami mendapatkan uang dengan cara barter. Saya bangun rumah orang kemudian dibayar pakai sapi, kerbau dan padi. Hasilnya itu kami jual lagi ke Bajawa jalan kaki selama dua hari”, ungkapnya dengan bangga.

Tubuh rentanya yang sudah terkikis usia dan tidak seprima dulu tidak menghalangi semangatnya dalam beraktivitas. Ia sosok kakek yang kritis dan teliti. Terlihat dari beberapa dokumen yang ia perlihatkan kepada vigonews.com ketika ditemui. Dokumen tersebut tersusun dengan sangat rapi dengan tulisan tangan yang indah. Walaupun hanya sampai di kelas 6 bangku Sekolah Dasar, kakek Anton masih sering membaca dan menulis.

Menurut pengakuannya, kekurangan hanya pada fisik namun pemikirannya tidak kalah dengan orang yang berpendidikan tinggi. “Saya masih sering membaca dan menulis, kekurangan saya itu hanya karena telinga, mata dan gigi yang sudah tidak berfungsi dengan baik lagi,” sungguh ungkapan yang membuat orang muda bersemangat bila mendengarnya

Usai bercerita, kakek Anton mengajak awak vigonews.com untuk melihat kuburan tak berpenghuni miliknya. Ia memperlihatkan foto yang sudah terpasang permanen pada bagian belakang kuburan. Pada sisi kanan terpasang foto sang istri Helena yang berarti kubur milik sang istri dan pada sisi kiri terdapat fotonya yang berarti kuburan miliknya.

Pada bagian atas foto disediakan tempat khusus untuk menulis nama sang istri dan nama dirinya. Pada kuburan milik nenek Helena yang berukuran 140 x70 dipasang sebuah foto bunda maria pada bagian dinding kepala dan pada kubur miliknya yang berukuran 140 x 80 dipasang sebuah foto Tuhan Yesus sebagai pelindungnya. Kubur dengan tinggi 60 cm ini sudah dibuat permanen dengan keramik kotak-kotak biru di dalam lubang kuburannya. Pada bagian tengah yang memisahkan antara foto keduanya terdapat sebuah ukiran bintang yang bermakna sebagai kelahiran. Sedangkan pada bagian bawahnya disediakan tempat untuk menulis tanggal kematiannya nanti. Tampak begitu unik dan menarik bukan? Karena belum ada yang menempati kuburan itu dan si penghuni yang mengerjakan sendiri.

Bukan Cuma itu saja, kakek Anton juga memaknai tiap detail bangunan. Salah satunya ialah ruang kubur yang memisahkan antara sisi kubur sang istri dan sisi kubur miliknya dipasang kaca. Sungguh merupakan hal yang luar biasa untuk seorang tua renta seperti kakek Anton. Baginya, nenek Helena adalah sebagian dari hidupnya yang selalu mendampingi dalam suka dan duka. Sehingga ketika nanti dimakamkan, keduanya akan dihadapkan untuk tetap dapat saling melihat walaupun sudah tidak bersama lagi di dunia nyata. Merupakan sebuah refleksi bagi kita yang sedang melalui lika-liku kehidupan bukan?

Anak dari pasangan suami istri Baghi Wae dan Menge Lalu ini mendengar  bahwa ada peraturan daerah tentang makam yang tak boleh ada di pekarangan rumah dan harus dimakamkan di pekuburan umum. Ia sedikit kecewa kalau nanti ia tidak dikuburkan di tempat yang sudah  dibangun dengan keringatnya itu. Ia mengungkapkan kekecewaan dan rasa protesnya.

“Bagaimana saya sudah bangun kubur ini sebelum peraturan itu keluar. Apa saya harus bayar denda karena sudah bangun kubur disini? Kalau saya bangun kubur setelah peraturan itu ada, saya memang keras kepala terhadap peraturan”. Ia menyampaikan rasa protesnya dengan sedikit tawa seakan ia merasa menang.

Menurut putri pertamanya yang saat ini sudah menjadi guru di SDK Masu, Ursula Menge, ia mengakui bahwa ayahnya adalah sosok yang keras kepala namun begitu lembut hati dan penyayang kepada ketiga putrinya. Bahkan bukan Cuma itu saja, kakek Anton juga begitu teliti dalam hal keungan dan dokumen-dokumen pribadinya.

“Bapak kami ini masih hebat dalam hal berhitung, ia menjadi bendahara sendiri dalam mengatur keuangannya. Bahkan riwayat hidupnya ia tulis dan disimpan rapi dalam sebuah kamar khusus untuk barang-barang penting miliknya”. Ursula,  begitu ia biasa disapa kakek Anton berkisah, kakek Anton adalah sosok ayah yang tertib dalam hal waktu, baik itu waktu bangun pagi, waktu makan dan waktu untuk beristirahat. Ia juga merupakan sosok yang konsisten dalam melakukan sesuatu.

Ibu satu anak ini juga mengatakan bahwa sempat kaget mendengar kabar bahwa ayahnya membangun sepasang kuburan. Bahkan menurutnya, mama Helena sempat pergi dari rumah karena takut melihat tingkah aneh sang suami yang ketika itu, pagi-pagi sekali saat nenek Helena masih tertidur pulas, diam-diam mengukur tinggi badan nenek Helena untuk dibuatkan ukuran kubur. “Mama takut sekali, dua tahun mama tinggal di rumah saya di Masu karena melihat tingkah aneh Bapak,” papar Ursula dengan sedikit senyum dari wajahnya.

Istri dari Bernadus Ba’i ini juga sedikit bercerita, sejak dulu hingga jaman semakin berkembang ayahnya tidak pernah menggunakan kendaraan untuk bepergian. Kendaraan yang paling setia baginya adalah kedua kaki yang diyakini kakek Anton untuk  menguatkan tulang-tulangnya. Kakek Anton juga sudah memesan peti namun dibatalkan putrinya karena tidak ingin ayahnya itu mempersiapkan kematian karena ia masih terlihat sangat kuat dan sehat, diceritakan Ursula dengan sedikit kekesalan.

Karena rasa cintanya kepada sang ayah, Ursula berjanji akan berusaha bertemu dengan pegawai pemerintahan agar sang ayah diberikan surat ijin untuk dapat dikuburkan di tempat yang sudah ia bangun dengan susah payah itu. Walaupun sudah ada aturan pemerintah Uraula akan tetap berusaha semampunya untuk mendapatkan ijin.


Banyak orang yang mungkin sudah tidak prima lagi fisiknya dan uzur umurnya tetapi masih berupaya kerja keras mencari rejeki dengan kedua tangan mereka sendiri. Tidak manja, tidak malas hanya butuh penghargaan atas usaha keras mereka. Prinsip kakek Anton dalam bekerja adalah tidak merugikan masyarakat lain. Baginya pengalaman lebih berharga dari teori, dibuktikan dengan pengalamannya selama bekerja, hasil karya tangannya dapat ia abadikan dalam bentuk sebuah kubur yang telah ia persiapkan untuk dirinya dan juga untuk sang istri tercinta. (Kethy/vigonews.com)***

Insert foto: Petrus Antonius Soa Baghi dan makam yang sudah dirampungkannya

Sunday, 2 July 2017


Menyambut pesta demokrasi pemilihan Gubernur NTT tahun depan, calon gubernur dan calon wakil gubernur gencar turun gunung. Deretan nama, kini kian panjang. Siapa di antara mereka yang sudah ‘menaklukan’ 3, 8 juta pemilih dari 5 juta lebih penduduk yang mendiami provinsi 566 pulau ini? Belum ada, kecuali Emanuel Melkiades Laka Lena. Melalui gawe ‘Sayembara Ayo Bangun NTT, Melki begitu biasa disapa dinilai banyak kalangan sebagai politisi muda yang memulai kerja politik dengan hati dan ‘pikiran/gagasan’ orang banyak.

Inilah kiat Melki Laka Lena melihat NTT dengan cara berbeda. Dengan cara baru. Meninggalkan konsep berpkir linear, yang dikerjakan oleh banyak orang. Ketika banyak calon pemimpin/politisi daerah ini melihat NTT dari depan, Melki justru melihat terbalik. Gagasan cerdas besutannya – Sayembara Ayo Bangun NTT – adalah cara Melki Laka Lena memandang NTT hari ini, melihat (mencermati) dari Belakang.

Kini, gawe yang menyita perhatian banyak orang di NTT sudah selesai digelar. Melibatkan banyak kecamatan. Semua kabupaten turun gunung untuk urun gagasan, pikiran dalam satu simpul ‘Ayo Membangun NTT’. Melalui ajang curah gagasan paling akbar ini, banyak sisi gelap jadi terang – benderang. Gagasan di ruang kedap diartikulasikan hingga ke permukaan bertolak dari isu-isu aktual NTT hari-hari ini. Ya! Sayembara bertajuk ‘Ayo Bangun NTT’ yang semula diragukan banyak pihak malah jadi hingar-bingar ke seantero tanah Flobamora. Semua peserta beradu gagasan dari kecamatan hingga tingkat propinsi. Melalui debat sengit peserta mengaduk pikiran jernih. Mengadu nyali dan kreatifitas komunitas paduan suara dari tiap kabupaten sembari menggelorakan Mars ‘Ayo Bangun NTT,’ dan ‘Membangun Kotaku.’

Melki menggugah hasrat rakyat NTT tercinta untuk bangun tanah yang sering dijuluki Flobamora ini. Memulai debutnya menuju pesta demokrasi dengan cara yang cerdas. Mulai bekerja dengan hati, menggalang pikiran/gagasan banyak orang. Sebab, menurut Melki, NTT tidak bisa dibangun dengan gagasan segelintir orang. Karena masyarakat daerah ini adalah pemilik sah propinsi NTT. Gagasan itu kemudian ditulis, dilombakan melalui debat, melalui kreativitas generasi muda hingga generasi paling senior, mulai dari rakyat biasa hingga pejabat dan politisi, mulai dari remaja (SMA) hingga kaum akademisi

Kelahiran Kupang, 10 Desember 1976 ini, mengajak semua kalangan untuk melihat orang-orang sekitar yang telah berbuat banyak meski di ruang ‘sempit’. Mereka yang pikiran dan tindakan tak pernah di dengar. Mereka ini dalam ‘kacamata’ Melki, adalah tokoh teladan di tempat dan zamannya sendiri. Yang menyumbangkan gagasan tindakan untuk bangun NTT, tetapi jarang dilihat, kurang didengar dan belum dihargai selama ini. Dan selama bertahun-tahun peranya diabaikan, kecuali peran dan pemikiran untuk kerja politik pemenangan. Dan, melalui kompetisi ini, gagasan dan tindakan para tokoh diartikulasi melalui tulisan para peserta sayembara yang kemudian menjadi masukan yang berharga dalam kerja-kerja politik ke depan. Kerja politik yang dimulai dari rakyat, oleh (bersama) rakyat dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.

Sayembara NTT diselenggarakan oleh Yayasan Tunas Muda Indonesia (YTMI) dimana Melki menjadi ketuanya. Kegiatan yang mulai digelar sejak awal tahun menyita perhatian, tenaga, waktu dan biaya tidak sedikit. Berapapun yang sudah dipertaruhkan, bagi Melki Laka Lena bukan apa-apa, dibanding dengan memburu gagasan/dan pemikiran bernas dari kampung ke kampung. Menumbuhkan kreativitas melalui lomba-lemba yang mendebarkan dan mengasah ketajaman generasi muda. Dari kompetisi-kompetisi ini tertanam hasrat membara, membangun jiwanya para pemilik masa depan – generasi muda. Karena esensi pembangun adalah membangun jiwanya, baru kemudian membangun raganya.

Sejak awal tahun itu, Melki harus melenggang ke daerah-daerah untuk kesiapan penyelenggaraan. Begitu juga ketika sayembara digelar, dia pun harus terus wara-wiri dari kabupaten ke kabupaten, hingga grand final di Ende awal Juni lalu. Pada saat grand final digelar, lomba debat dan paduan suara dari seluruh kabupaten dan kota di NTT menyatu dalam satu asa bernafas kompetisi. Menyusul pengumuman lomba menulis gagasan dan menulis tokoh teladan NTT yang diumumkan pekan kedua Juni di Timor.

Pergi ke berbagai daerah, mantan Sekjen PP PMKRI Pusat ini selalu disambut hangat. Tak sedikit yang memuji langkah politisi muda yang kini menjabat Wakil Sekjen DPP Partai Golkar itu. Bahkan tentang terobosan Melki ini mendapat apresiasi dari Dosen Filsafat Politik STFK Ledalero Pater Dr. Otto Gusti dan Analis Politik dari Fisip Unika Kupang Mikhael Rajamuda Bataona, sebagaimana dilansir Tabloid Seputar NTT. Dr. Otto Gusti sendiri menilai terobosan Melki Laka Lena sebagai gagasan cerdas. Apa yang dilakukan itu adalah bentuk kerja nyata untuk membawa perubahan bagi NTT. Sementara, Rajamuda Bataona menilai fenomena Melki Laka Lena – politisi muda berkarakter itu dapat mengisi ruang kejenuhan publik pada politisi tua yang jika diadu dalam survey pun bakal ‘terjungkal.’

Apa yang dikatakan Dr. Otto Gusti dan Rajamuda Bataona seperti menjadi simpul gerakan tokoh muda partai Golkar ini menggalang gagasan dan menggerakkan orang muda. Sebagai provinsi dengan wilayah darat dan laut yang luas, NTT memerlukan peran kaum muda dengan menggelorakan kerja praktis di berbagai lini. Menyetir pendapat Rajamuda Bataona, maka sebagai kader muda, Melki harus selalu siap jika amanat itu dipercayakan kepadanya.

Persoalan klasik NTT yang tidak pernah lekang dari stigma kemiskinan mendorong Melki untuk melakukan terbosan tidak biasa. Untuk membangun daerah ini perlu gagasan alternatif manakala para elit masih berkutat pada pemikiran linear banyak orang, namun terjebak pada rutinitas tak produktif. Pola kerja linear ini yang membuat masyarakat seakan apatis sehingga tidak mengalami perubahan.

Stigma kemiskinan seolah tak pernah hengkang dari NTT. Meski daerah ini memiliki potensi cukup untuk membuat rakyatnya sejahtera jika dikelola dengan baik dan kreatif. Memang, selama ini para politisi sudah terlanjur melihat NTT dari depan, sehingga terlihat tidak pernah beranjak maju (berubah). Kini sudah terlalu berat untuk menarik beban itu. Malah menuntut harus berpikir dan bertindak beda. Berpikir dan bertindak baru, yaitu melihat NTT dari belakang. Baru kemudian dapat melihat dengan jelas potensi besar yang dimiliki, dan yang dilakukan adalah mendorong. Dengan potensi dan peran serta berbagai kalangan,  kekuatan dorongan bakal jauh lebih dahsyat, ketimbang hanya ditarik oleh segelintir elit yang datang setiap kali gawe politik menawarkan untuk menarik NTT dari lubang kemiskinan, tetapi beban itu tak pernah tuntas.

Melalui Sayembara Ayo Bangun NTT, dalam waktu tidak terlalu lama, Melki Laka Lena sudah roadshow dari kabupaten ke kabupaten bahkan pulau-pulau di propinsi NTT. Melalui gema kegiatan ini dia mengirim sinyal kepada NTT bahwa untuk membangun daerah ini bukan hanya berada di tangan para politisi dan atau birokrat, melainkan sangat dibutuhkan keterlibatan dan partisipasi dari masyarakat umum, sejak tahap perencanaan, evaluasi, pelaksanaan, sampai dengan pengawasan.  Alumni Sekolah Menengah Farmasi Kupang dan S1 Fakultas Farmasi Sanata Darma Jogyakarta ini mau mendengarkan suara akar rumput. Apa yang masyarakat rasakan, geluti, dan alami selama ini dalam berbagai bidang kehidupan. Kegiatan yang digagas oleh alumni SMPK Ndao, SMP Seminari Pius XIII ini juga mau meminimalisir adanya stigma terhadap propinsi NTT dengan pelesetan sebagai Propinsi “Nasib Tidak Tentu” dan “Nanti Tuhan Tolong”

Guna memperoleh gagasan bernas di lapis bawah (masyarakat) digelar kegiatan yang dimulai dengan diskusi gagasan dalam berbagai bidang kehidupan di NTT seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, keamanan, pariwisata, hukum dan keamanan, Human tracfiking, dan lingkungan hidup. Isu-isu ini menjadi agenda seksi yang selalu dibicarakan oleh berbagai kalangan disetiap kaupaten ketika berdiskusi bersama putra Ende Flores ini. Bakal calon Gubernur NTT ini begitu serius menyimak semua kompleksitas permasalahan, dan saran yang disampaikan oleh semua lapisan masyarakat pada saat berdiskusi. Masyarakat yang hadir dalam diskusi ini selalu menitipkan pesan agar ketika nanti terpilih sebagai gubernur NTT mampu mewujudkan harapkan masyarakat NTT menjadi lebih baik dan bermartabat.

Dalam berbagai forum gelar Sayembara Ayo Bangun NTT, dihadapan masyarakat yang hadir, Melki demikian sapaan akrabnya, selalu tampil sederhana dan santun dalam berkomunikasi. Dirinya menyampaikan bahwa, kegiatan ini sengaja digagas olehnya melalui Yayasan Tunas Muda Indonesia (YTMI) agar bisa mewadahi semua pemikiran dan gagasan masyarakat NTT untuk menata propinsi NTT kedepan yang lebih baik. Menurutnya, kegiatan ini bebas dari kepentingan politik, karena itu banyak diikuti oleh berbagai kalangan termasuk para politisi di luar partai Golkar. Orang merasa tertarik dan respek dengan kegiatan yang belum pernah diprakarsai siapapun ini. Pejabat Negara sekalipun belum pernah melakoni kegiatan yang melibatkan seluruh masyarakat NTT sebagai makna atas momentum hari lahirnya propinsi NTT yang ke 58.

Dalam catatan media, ketika kunjungannya ke setiap Kabupaten/Kota, Melki selalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat di 21 kabupaten Kota Se NTT. Ekspresi sambutan masyarakat melalui tarian adat, sesungguhnya mengungkapkan ekspektasi besar masyarakat kepada mantan calon wakil Gubernur NTT periode 2013-2018 untuk menjadi Gubernur NTT periode 2018-2023. Masyarakat merespons positif gebrakan seorang tokoh muda dengan melibatkan banyak orang dari berbagai lapisan. Karena publik menilai siapapun dia yang maju dalam pemilihan Gubernur NTT dan kelak menjadi Gubernur, harus berani melakukan gebrakan dan terobosan yang radikal dan revolusioner, serta memahami karakteristik NTT, baik alamnya maupun tipilkal masyarakatnya, terlebih gagasan dan pemikiran yang bernas dari berbagai lapisan.

Gelar akbar ‘Sayembara Ayo Bangun NTT’ sudah usai. Namun, pembicaraan seputar kegiatan ini belum usai. Tugas sang politisi ini pun belum selesai. Gagasan/dan pemikiran bernas masyarakat yang diwadahi melalui sayembara perlu ditenun kembali menjadi gagasan yang utuh sebagai sumbangan pemikiran membangun NTT. Gagasan dan pemikiran yang menggambarkan kondisi ril NTT oleh orang-orang NTT sendiri – titipan untuk ‘Bung Melki’ menuju NTT 1.  Melki juga harus terus merenda semangat membara yang ditunjukkan para generasi muda dari 21 kabupaten kota melalui gerakan kreativitas yang sudah digemakan melalui lomba paduan suara – mengembangkan layar memayungi rakyat di tanah Flobamora. Meramu dari gagasan yang sebelumnya tercecer di berbagai plosok dalam suatu gita nusa (nyanyian merdu untuk NTT). Merangsek maju membawa semangat juang para muda dari berbagai latar belakang – merajut kebersamaan tanpa sekat yang sudah jadi kekayaan tanah pusaka.

Sebuah ungkapan mungkin tepat dialamatkan kepada sosok yang kini digadang-gadang banyak kalangan untuk memimpin NTT: “Jawaban yang salah merupakan jawaban yang benar untuk pertanyaan berbeda.” Ada banyak jawaban yang salah dalam membangun NTT. Pengalaman berulang-ulang selalu menjadi guru yang baik, karenanya, Meliki menggunakan jawaban salah yang sama untuk pertanyaan berbeda. Sayembara Ayo Membangun NTT adalah pertanyaan berbeda – pertanyaan baru, untuk  mendapatkan jawaban itu. “Setiap kali mengalami kegagalan, akan terdorong  mempelajari sesuatu yang baru. Kegagalan adalah guru yang jauh lebih baik ketimbang keberhasilan,” kata orang bijak.

Memulai debutnya menuju NTT 1, Melki  memandang NTT dengan cara berbeda. Ketika banyak politisi melihat dari depan, dan selalu subyektif, Melki justru menerobos lintas batas melihat dari belakang, apa sesungguhnya ganjalan sehingga tak pernah bisa ditarik maju. Ibarat: saat bertandang ke rumah sahabat, ia tidak hanya duduk manis di ruang tamu dan mendengarkan tetapi juga berada di belakang untuk mengetahui apa yang mereka punya. Seorang pemimpin harus mampu melihat dari sisi berbeda. Pemimpin semacam ini tipikal pemimpin yang rendah hati, namun kreatif, berintegritas, dan jujur.

Mungkin Melki berpikir lateral, yang  dimulai dengan menulis seluruh gagasan-gagasan dominan yang berlaku dalam situasi kita dan sengaja mengkritiknya melalui adu gagasan dengan mempertemukan banyak orang dari berbagai elemen.  Melalui kompetisi gagasan berupaya membalikan setiap asumsi dan gagasan yang dominan yang selalu dianggap benar.  Perjuangan belum berakhir, ketika masih banyak harapan yang datang kepadanya, seperti sebaris pantun berikut ini:  “Jika beredar uang palsu cermati saja yang asli – Jika  banyak calon gubernur, pastikan saja pada Melki.” (Emanuel Djomba)***

KURUBHOKO, vigonews.com – Jumpa Orang Muda Katolik (OMK) Kuasi Paroki Kurubhoko dibuka secara resmi oleh Pastor Administrator P. Thobias Harman, OFM, Minggu (02/07/2017) di Kurubhoko. Jumpa OMK yang berlangsung hingga Minggu (09/07/2017) mendatang diikuti lebih dari 200 orang muda dan para pendamping dari tiga wilayah, dua tasi dan satu lingkungan.

Minggu petang, kontingen dari berbagai wilayah, stasi dan lingkungan paroki yang wilayahnya meliputi Desa Nginamanu, Nginamanu Selatan dan Nginamanu Barat diterima Pastor Paroki P. Thobias Harman, OFM di dampingi P. Leon, OFM, panitia pelaksana, tokoh masyarakat dan undangan lainnya. Pada pembukaan sekaligus menerima Salib OMK.

Selama sepekan jumpa OMK akan diisi dengan berbagai kegitan yang bersifat pembinaan iman, kegiatan sosial, edukasi hingga yang bersifat fun. Kegiatan-kegiatan itu antara lain pertandingan sepak bola, voli, sepak takraw, lari karung, lari 100 meter dan tarik tambang. Sementara kegiatan perlombaan antara lain, membaca kitab suci, kuis kitab suci, lomba mazmur, paduan suara terbatas, fashion show pakaian adat, dan kegiatan bakti sosial. Berbagai kegiatan pada jumpa OMK ini mengerucut dalam tema: “Orang Muda Membawa Sukacita Injil di Tengah KUB.”

Ketika membuka Jumpa OMK, Pastor Administrator, P. Thobias Harman, OFM mengatakan, masa muda selalu identik dengan masa yang menyenangkan, menggembirakan dan penuh sukacita. Sebagai OMK, kata pastor Thobias, harus terus menggelorakan sukacita seperti cara para murid menggelorakan sukacita pantekostas kepada dunia.

“Melalui wajah kaum muda, kita berharap selalu menggelorakan kegembiraan dan sukacita injili sekalaigus menimplementasikan tema, yakni: Orang Muda Membawa Sukacita Injil di Tengah KUB,” katanya.
 
Pater Thobias Harman, OFM
Pater Thobias menengaskan, bahwa sukacita itu juga ditunjukkan dalam kegiatan sepekan melalui pertandingan dan perlombaan untuk menguatkan dan menginternalisasikan tema Jumpa OMK kali ini sehingga terpatri dalam diri kaum muda. Dalam konteks meguatkan tema ini, maka melalui kegiatan sepekan tidak semata merebut kemenangan dalam berbagai pertandingan dan perlombaan tetapi lebih merupakan merebut kebersamaan menjadi ‘rasul’ yang terus menggelorakan kabar sukacita.

Pada kesempatan itu, Ketua harian DPP Kuasi Paroki Kurubhoko, Tarsisius Sambu menegaskan, bahwa, paroki yang akan diresmikan pada tanggal 2 September mendatang ini termasuk paroki unik. Dengan ciri kas pastoral ekologi bersama imam-imam OFM, paroki Kurubhoko tergolong paroki mini (kecil) dengan jumlah umat sekitar 2.000 lebih yang semula merupakan satu desa, yakni Desa Nginamanu. Kini sudah dimekarkan menjadi tiga desa dengan satu kultur dan budaya, bahasa yang sama.

Karena itu, Tarsisius berpesan kepada para OMK dalam semangat kebersamaan mesti ada pesan yang ingin digemakan dan dikonkretkan. “Dalam paroki yang kecil dan semangat budaya dan bahasa yang sama ini kita mesti punya alasan yang kuat untuk bersatu. Karena itu dalam kegiatan sepakan melalui pertandingan, perlombaan maupun kegiatan lainnya hendaknya tetap jaga kekompakan dan merajut kebersamaan,” psan Tarsisius.
 
Pembukaan Jumpa OMK Kuasi Paroki Kurubhoko
Ketua OMK Kuasi Paroki Kurubhoko, Feliks Ndu’a dalam sambutannya menengaskan agar semua OMK menjalin solidaritas dan kebersamaan sepanjang kegiatan. Baginya, kebersamaan menjadi modal dalam konteks kehidupan bersama dalam menjalankan peran menggelorakan sukacita terang Injil dalam KUB masing-masing. “Karena itu, menang atau kalah dalam pertandingan, perlombaan dan kegiatan lainnya hanya sarana bagi kita untuk menenun kebersamaan agar lebih erat lagi,” katanya.

Dalam nada seloroh, Feliks mengatakan, “kegiatan ini akan dilanjutkan secara rutin setiap tahun. Di sini kita memupuk kebersamaan. Saling melengapi, saling menanggapi, bahkan saling lirik satu dengan yang lain. Jadi, kalau yang sudah senior di OMK, jangan sampai tahun depan kita ketemu lagi.” Maksud Feliks yang sudah usia 35 tahun ke atas tapi belum menikah moment ini bisa jadi ajang cari jodoh. Karena usia OMK hanya sampai 35 tahun. Hadirin pun tertawah menanggapi seloroh Feliks.

Pada kesempatan itu Ketua Panitia kegiatan Wiltarius Lowa mengatakan Jumpa OMK menjadi momentum strateggis dalam membentuk nilai dan karakter kaum muda. Pembukaan Jumpa OMK Paroki Kurubhoko juga ditandai dengan misa Kudus yang dipimpin Pastor Admiistrator Kuasi Paroki Kurubhoko, Thobias Harman, OFM. (ch)***

Insert foto: Para Ketua OMK dan pendamping menyatukan tekad menyukseskan Jumpa OMK  tanggal 2 - 9 Juli 2017

Friday, 30 June 2017


BAJAWA, vigonews. com – Lebih dari 600 anak yang tergabung dalam Serikat Anak Misioner (Sekami) Paroki St. Josef, Bajawa mengikuti kegiatan Tri Hari Sekami. Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Pape, Kecamatan Bajawa itu, dibuka Kamis (30/06/2017) dan berlangsung hingga, Minggu (02/07/2017).

Mengangkat Tema: “Aku Bangga Jadi Anak Sekami” kegiatan ‘Tri Hari Sekami’ itu diikuti Sekami Junior dari usia TK hingga kelas VI SD lebih dari 600 anak dari 10 stasi dan lingkungan di paroki itu. Sebelum dibuka secara resmi oleh Pastor Paroki St. Josef, Johanes Preta Manuk, OCD di lapangan sepak bola Pape, rombongan dilepas dari halaman Paroki St. Josef di Kota Bajawa. Para peserta dan sebagian orang tua siswa para pendamping  mengikuti konvoi kendaraan sepanjang jalan menuju Pape ke arah Timur Kota Bajawa.

Dikemukakan Pastor Moderator Sekami San Jos, Pater Sirilus Pay, OCD, kegiatan yang dikhususkan bagi Sekami Junior di paroki ini baru pertama kali digelar. Sebelumnya ada kegiatan juga tetapi untuk sekami senior, namun tidak sebanyak ini. Meski baru pertama kali, namun kegiatan ini ternyata mendapat animo cukup besar dan respons positif dari para orang tua. “Memang tidak mudah, karena ini sekami junior yang di dalamnya melibatkan anak-anak dari TK sampai usia kelas VI SD. Tetapi ternyata orang tua merespos positif kegiatan ini dan membolehkan anak-anak mereka ikut,” kata Pater Sirilus menjawab vigonews.com, Jumat (30/06/2017) di Pape.

Kegiatan ini digelar berangkat dari keprihatinan gereja terhadap penanaman nilai moral dan bentukan karakter di kalangan generasi muda yang dinilai sudah mulai kedodoran. Di Gereja lokal keuskupan, melihat kelompok sekami dan OMK sebagai salah satu kelompok stategis yang perlu mendapat sentuhan pembinaan untuk bina lanjutan.

Sehubungan dengan keprihatinan tersebut, kata Pater Sirilus, maka Paroki St. Josef melalui DPP Bidang KKI merancang kegiatan yang menyasar Sekami Junior yang selama ini belum disentuh secara maksimal. Sehubungan dengan itu maka paroki memanfaatkan masa liburan ini sebagai momentum menanamkan nilai-nilai pada anak dan bentukan karakter mereka. “Daripada liburan mereka hanya untuk bermain tanpa makna, kan lebih baik liburan dalam kebersamaan seperti ini dan mendapat penanaman nilai,” kata Pater Sirilus.

Salah seorang panitia, Tati Resi mengemukakan Tri Hari Sekami diisi dengan berbagai kegiatan seperti kuis Kitab Suci, Baca Kitab Suci, Cerita Orang Kudus, Gerak dan Lagu, Gambar Bercerita, Mewarnai Gambar, Fashion Show, Hasta Karya, wisata alam, anjang sana.  Berbagai jenis kegiatan lomba ini diikuti oleh pserta dari 36 lingkungan dan masing-masing mengirim 15 – 30 anak.
 
Kegembiraan syarat makna yang ditunjukkan lebih dari 600 anak Sekami Sanjos
Dikatakan, setiap lingkungan juga wajib mengirimkan pendamping yang terdiri dari 4 orang, 2 JPA, 4 OMK dan 4 pemasak.  Semua peserta tidur di tenda-tenda yang sudah disiapkan panitia di lapangan sepak bola Pape dan peserta membawa perlengkapan tidur serta kebutuhan lain selama kegiatan. Konsumsi, transportasi serta akomodasi kegiatan diatur oleh lingkungan masing-masing.

Salah seorang pendamping dari salah satu lingkungan, Alfonsa Goa, menjawab vigonews.com mengemukakan kegiatan ini sangat positif dan efektif dalam melatih anak untuk disiplin dan belajar mandiri. Dia menyaksikan sendiri: salah seorang siswa kelas  1 SD terlihat sangat disiplin mengikuti berbagai kegiatan. Tidur, MCK dan mengikuti semua kegiatan tepat waktu. Hal yang membuat Alfonsa terkesan, anak sekecil ini melakukan kegiatan sendiri tanpa dibantu seperti mengganti pakaian. Pakaian yang sudah kotor dilipat rapih dan dimasukannya dalam plastik (tas kresek) sebelum akan dicuci. Anak itu mengatakan: “Ibu saya pesan kalau pakaian kotor jangan dicampur dengan pakaian bersih. Yang kotor dimasukan dalam plastik sebelum dicuci,” kata anak itu ditirukan Alfosa.

Bagi Alfonsa, untuk pembiasaan pada anak yang penting diberitau pasti akan diingatnya terus. Sehingga saat tidak bersama orang tua, dia akan melakukan apa yang pernah dikatakan orang tuanya. Masih banyak contoh dikemukakan Alfonsa anak-anak di tenda dari lingkungannya yang terlihat sangat mandiri. Dikatakan, dirinya lebih banyak mendampingi anak-anak yang masih usia TK dan SD kelas rendah. “Jadi saya kira kegiatan seperti ini mesti sering dilakukan karena sangat efektif dalam bembentukan karakter anak melalui penanaman nilai,” katanya.

Sementara, salah  seorang ayah yang anaknya ikut kegiatan Sekami, Yani Kao, mengatakan dia senang anaknya diikutkan dalam kegiatan ini. Yani yang hari kedua sengaja datang untuk mengintip aktivitas anaknya mengatakan, sekarang putrinya yang pemalu itu sudah lugas bergaul dengan teman-temannya. “Dia terlihat anak yang mendiri, itu biar di rumah. Tetapi saya lihat perubahan cukup baik bahwa sifatnya yang pemalu setelah ikut kegiatan ini tidak kelihatan. Dia sudah banyak teman,” kata Yani.

Pater Sirilus juga mengakui bahwa kegiatan ini banyak memberi nilai positif kepada anak-anak. Mereka dalam kegiatan kemah juga belajar mandiri. Membina solidaritas dan persaudaraan dan saling mengenal satu sama lain. Anak-anak terlihat lebih disiplin.

Kegiatan Tri Hari Sekami dibuka dengan perayaan Ekaristi dengan imam konselebran. Pastor Paroki St. Josef Pater Johanes Preta Manuk, OCD, Pater  Sirilus Pay, OCD, Pater Albertus Indra, OCD, Pater Nando, OCD dan Pater Armin, OCD. (ch)***

Monday, 19 June 2017


BAJAWA, vigonews.com – Hasil Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Dasar (SD) di kabupaten Ngada, secara resmi dimumkan Senin, (19/06/2017). Hasil UN tersebut disampaikan oleh Kadis Pendidikan Vinsensius Milo didampingi Kabid Dikdas, Feliks Goja yang diterima para kepala sekolah melalui Kepala Cabang Dinas Pendidikan se-Kabupaten Ngada di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada, Bajawa.

Hadir pada pengumuman hasil UN para kepala sekolah dari 167 sekolah dan 12 kapala cabang dinas. Meski pengumuman hasil UN sudah dilakukan, namun pihak dinas belum mengetahui prosentase kelulusan, mengingat penentuan kelulusan ditentukan oleh sekolah masing-masing.

Dikatakan Kadis Vinsensius Milo, dari hasil UN tiga mata pelajaran, tercatat tiga siswa dari tiga sekolah yang memperoleh nilai tertinggi. Nilai tertinggi mata pelajaran bahasa Indonesia untuk tingkat kabupaten Ngada diraih oleh Gervianus Lewa, siswi SDI Kolokoa Kecamatan Jerebu’u, nilai UN teringgi Matematika diraih oleh Francischa Mayscha Soli dari SDK Kisanata Kecamatan Bajawa, dan nilai tertinggi UN Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diraih oleh Maria Mau Dora dari SDN Boameze, Kecamatan Soa.

Nilai UN tertinggi Bahasa Indonesia 90,0,  matapelajaran Matematika 95,0 dan matapelajaran IPA nilai tertinggi 95,0. Nilai terendah Bahasa Indonesia 28,0, Matematika 17,5 dan IPA 15,00. Untuk nilai terendah tak diperoleh informasi dari sekolah mana.

Untuk diketahui UN tingkat SD yang diselenggarakan 15 – 17 Mei 2017 lalu diikuti  3.834 siswa dari 167 sekolah. (ch)***

Insert foto - Para kepala sekolah terlihat sibuk usai menerima hasil UN masing-masing sekolah di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada