Responsive Ads Here

Wednesday, 13 September 2017


MALANUZA, vigonews.com – Pengenalan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) STKIP Citra Bakti Ngada sejak tanggal 11 – 13 September 2017 berakhir, dengan api unggun dan renungan. Wakil Ketua STKIP Citra Bakti Bidang Kemahasiswaan, Konstantinus Dua Dhiu, M,Pd. menutup kegiatan PKKMB dan secara resmi menerima 233 mahasiswa baru tahun akademik 2017/2018, Rabu (13/09/2017) petang di Kampus Malanuza.

Penerimaan mahasiswa baru ditandai dengan pengenaan jas almamater kepada dua peserta PKKMB terbaik dari 233 peserta. Lebih dari dua ratus mahasiswa baru dari 6 program studi (Prodi) itu dinyatakan lulus dalam PKKMB dan diterima secara resmi sebagai mahasiswa baru STKIP Citra Bakti.

Dengan berakhirnya kegiatan PKKMB, kata Konstantinus Dua Dhiu kepada mahasiswa baru, “anda bukan lagi SMA, tetapi sebagai mahasiswa STKIP Citra Bakti. Karenanya pola pikir dan tindakan kalian tidak seperti anak SMA lagi.”

“Anda bukan SMA lagi. Setelah anda diterima di lembaga ini, maka dinamika dan dialektika akan berbeda. Anda sedang masuk dalam proses menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter dan kreatif,” kata Kontantinus menyetir tema PKKMB tahun ini.

 Di tengah situasi bangsa yang rentan terhadap disintegrasi, STKIP Citra Bakti mengangkat tema: “Menuju Insan Cerdas, Berkarakter, dan Kreatif dalam Membangun NKRI yang Berorientasi Toleransi”. Tema ini diinternalisasikan oleh calon mahasiswa selama kegiatan PKKMB sepekan.

Mewakili lembaga, Konstantinus memberi apresiasi atas kepercayaan orang tua yang telah memilih putra-putri mereka dididik di lembaga STKIP Citra Bakti. “Saya atas nama lembaga Citra Bakti menyampaikan apresiasi kepada para orang tua mahasiswa yang memberi kepercayaan kepada lembaga ini sebagai tempat untuk mendidik dan membentuk karakter anak-anaknya sebagai calon guru di masa depan,” tegas Konstantinus.

Sementara Ketua Panitia PKKMB, Philipus W. Kaka, M.Pd menjawab vigonews.com mengatakan PKKMB adalah wahana untuk mengenalkan dan membekali para Mahasiswa baru akan dinamika dan dialektika perkuliahan yang tentunya sangat berbeda dengan apa yang sudah ditemukan, dirasakan, dan dilihat pada Sekolah Lanjut Tingkat Atas. Di Perguruan Tinggi ini Mahasiswa dituntun untuk mengenal lebih dekat dan memahami seluk beluk kehidupan kampus yang bercorak ilmiah, rasionalistis, analitis, serta sistematis juga memiliki karakteristik kebebasan berpendapat, kritis jujur dan bertanggungjawab serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan menghasilkan lulusa Sarjana yang berkompeten.

Dikatakan 233 mahasiswa baru yang sudah diterima itu akan memulai proses perkuliaan pada enam prodi, masing-masing Pendidikan Guru Sekolah Dasar (32 orang), Pendididikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) (50 orang), PG-PAUD (90 orang), Pendidikan Musik (36 orang), Pendidikan Matematika (13 orang), dan Pendidikan IPA (13 orang).
 
Mahasiswa baru STKIP Citra Bakti 2017/2017
Luar Ngada

Di bagian lain, Philipus mengatakan, PG-PAUD menjadi prodi favorit karena paling banyak dipilih calon mahasiswa, menyusul PJKR dan Musik. Dan yang mengejutkan karena tahun akademik 2017/2018 sekitar 50 persen dari jumlah mahasiswa baru berasal dari luar Ngada – dari berbagai kabupaten di NTT. Selama ini tamatan SMA dari  Manggarai Raya cukup banyak masuk STKIP Citra Bakti. Namun tahun ini tamatan SMA dari Sumba Barat, Sumba Timur, Kupang, Malaka, Lembata, Flotim, Sikka, Nagekeo dan Ende juga membuat STKIP Citra Bakti lebih ‘berwarna’.

Kondisi ini memang ironis di saat banyak tamatan SMA dari Ngada masih berlomba kuliah di berbagai kota di Jawa dan Bali meski sekedar menjadi guru, malah dari banyak kabupaten di NTT bahkan dari luar NTT memilih kuliah pada perguruan tinggi di kabupaten Ngada.

Menurut Philipus, calon mahasiswa tentu punya banyak alasan memilih kuliah di Citra Bakti. Terutama di lembaga ini terus menambah program studi yang menjadi pilihan calon mahasiswa. Selain itu promosi lembaga sehinga dikenal luas serta peningkatan kualitas juga menjadi pertimbangan pilihan.

Salah seorang mahasiswa baru yang memilih kuliah di Citra Bakti adalah Ricky Purwanto. Alumni SMKN 1 Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan ini memilih kuliah sambil bekerja dengan pamannya yang tinggal di Bajawa. Dari latar belakang keluarga sederhana membuat Ricky tetap bertekad bisa lanjut kuliah sambil membantu pamannya yang usaha tahu tempe di kota Bajawa.

Bagi Ricky, yang memilih Program Studi PJKR ini, kuliah sangat penting, tidak mesti untuk menjadi PNS tetapi mengubah pola pikir lebih maju. Meski memilih kuliah di STKIP, Ricky mengaku tak harus menjadi guru olahraga. Ia memang bercita-cita menjadi wirausahawan. Baginnya wirausaha akan lebih baik daripada diperintah. Malah bisa membantu orang lain membuka lapangan kerja. Soal cita-citanya yang seperti tidak nyambung dengan kuliah, Ricky mengatakan tak masalah.

Sulung dari tiga bersaudara yang punya hoby main voli dan dance ini, mengatakan kuliah dimana saja sama. Soal kerja bisa apa saja jangan terlalu menuntut sesuai dengan jurusan kuliah. Karena itu Ricky memilih tetap bekerja membantu usaha pamannya sambil kuliah daripada harus kembali ke kampugnnya. Supaya tetap bisa kerja membantu pamannya, Ricky pilih kuliah di Citra Bakti.

Mahasiswa baru yang lain adalah Maria Mehelmima Ruku. Alumni SMAN 1 Amarasi Kupang ini mengatakan enam bulan yang lalu dia harus pindah ke Bajawa karena ikut mama besarnya yang menjadi guru di salah satu SD di Bajawa. Dia kemudian tertarik menjadi guru karena sering membantu mama besarnya menyiapkan pembelajaran. Toh katanya, biar ada pilihan beda di antara saudara yang lain yang memilih jurusan ekonomi dan lainnya.

Karena sudah tinggal di Bajawa, ya Maria memilih kuliah di Bajawa saja. Menurut dia, di STKIP Citra Bakti cukup bersaing dalam banyak aspek. (ch)***

Insert foto: Waka III Bidang Akademik STKIP Citra Bakti Konstantinus Dua Dhiu, M,Pd mengenakan jas almamter kepada mahasiswa baru STKIP Citra Bakti

Tuesday, 12 September 2017


KURUBHOKO - Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr, secara resmi mengukuhkan Kuasi Paroki Kurubhoko,  menjadi sebuah paroki defenitif, Senin (11/09/2017). Dan paroki baru ini, kata Uskup Sensi diberi nama pelindung Santa Maria Ratu Para Malaikat.

Peresmian paroki kata Uskup Sensi bukan untuk gagah-gagahan, apalagi saat ini ramai juga pemekaran desa, tetapi meminjam terminology yang fasih pada lembaga pemerintahan – pendekatan pelayanan, supaya pelayanan lebih efektif. Maksudnya bukan sekedar dekat karena esensinya gereja senantiasa dekat dengan umatnya di daerah paling sulit sekaligupun sepanjang sejarah.

Dia menegaskan, “Jangan jadi umat Katolik yang minta-minta. Minta pada pemerintah, karena pemerintah pun harus memikirkan banyak hal dengan APBD yang terbatas. Itu sebabnya butuh kemandirian. Gereja paroki baru Kurubhoko harus menjadi pelopor kemandirian, karena kita bermartabat. Tuhan tidak butuh yang mewah yang mahal, tetapi Tuhan hanya butuh kesetiaan dan kesanggupan anda.”
 
Penyerahan Salib menandai peresmian/pengukuhan Paroki Santa Maria Ratu Para Malaikat
Uskup Sensi sempat menyoroti pembangunan gereja megah dan mewah yang telah menelan dana miliaran rupiah di banyak tempat, tetapi hanya digunakan oleh umat seminggu sekali setiap hari minggu. Enam hari gereja yang megah dan mahal itu kosong, hanya hari minggu umat datang berkumpul berdoa itu juga hanya beberapa jam saja. Selebihnya gereja kembali kosong. “Kita ke kebun atau kemana saja lewat sekitar gereja, tetapi lewat saja tidak ada yang singgah untuk berdoa. Mestinya bangun gereja megah sebagai sarana yang mengantarkan umat berjumpa dengan Tuhannya dan bersyukur atas kebaikannya.

Gereja harus menjadi pelopor dalam membangun budaya baru yakni kemandirian baik kemandirian personal maupun komunitas. Terus memperkuat budaya kemandirian. Selain itu menumbuhkan budaya kesalehan. Ajak anak tahu hari minggu. Jangan sampai anak ke gereja tetapi orang tua ke tenpat lain. Hidupkan kembali budaya kesalehan! Kalau pasangan anda bermasalah doakan dia dan pertobatkan dia demikian sebaliknya.

Seraya menyampaikan keterlibatan semua pihak, Uskup Sensi mengatakan “Kita harus mandiri. Kemandirian yang ditunjukkan adalah semua umat di paroki ini terlibat. Mereka sumbang kemampuan mereka dengan merehap gereja sederhana, bangun pastoran, mempersiapkan peresmian, mereka jadi anggota koor, mereka juga itu pelayan tamu hingga kemudian meriahkan acara, membereskannya kembali. Karena ini rumah mereka sendiri, melakukannya sendiri dengan kesanggupannya.

Uskup minta agar jangan lestarikan sesuatu yang keliru, yang kalu mau bikin kegiatan panitia datang dari luar, dana dari bantuan pemerintah dan suksesnya pesta karena campur tangan dari luar. Lalu ‘pidato’ tentang pemberdayaan, tetapi tanpa diwujudnyatakan dalam tindakan.
 
Uskup Sensi memberi berkat kepada anak-anak dan keluarga di sela-sela acara presmian Paroki Kurubhoko
Kulitas Manusia

Uskup Sensi minta umat mengambil bagian secara aktif dan bersinergis dengan berbagai lembaga dan agama lain dalam membangun masyarakat menuju sejahtera lahir dan batin. Menurut Uskup Sensi pembangunan kualitas manusia sangat penting karena martabat manusia terlalu tinggi.  Sehingga semua komponen bangsa perlu bersinergis untuk membangun kualitas manusia.

“Gereja harus hadir untuk Indonesia dan terus membangun kulitas manusia berbasiskan kemandirian. Gereja hadir bukan hanya untuk Katolik, tetapi juga hadir untuk Indonesia demi meningkatkan kualitas hidup manusia menuju masyarakat sejahtera,” tegas Uskup Sensi.

Dikatakan, dalam kaitan dengan peresmian paroki, gereja hadir secara struktural jauh dari pretensi negara dalam Negara. Kalau ada satutus bukan semacam pemerintahan dalam pemerintahan. Tetapi kehadiran gereja secara lembaga lebih sebagai komunitas beriman  dalam bermitra dengan lembaga lain seperti agama lain, pemerintah dan berbagai eleme lainnya membangun masyarakat menuju hidup yang lebih baik.

“Yang penting bukan status dalam pendirian gerejawi, tetapi lebih sebagai langkah efektif untuk mengokohkan persatuan. Meski peresmian paroki ini persyaratan fisik belum terpenuhi, tetapi yang paling penting umat sudah siap berziarah dalam kebersamaan,” kata Uskup Sensi.

Di hadapan umat dan para undangan yang hadir, Uskup sensi menegaskan, Gereja adalah komunitas beriman menuju Jesus dan sebagai sebuah lembaga bermitra bersama lembaga lain dalam membangun masyarakat dan tata dunia. Karena itu berbagai elemen yang ada dalam bangsa ini termasuk gereja perlu menjalin kerja sama tanpa terganggu dengan sekat-sekat struktural yang kaku.  Semua membangun sinergis mempererat persatuan membangun masyarakat dunia yang lebih baik dan sejahtera lahir dan batin dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.
 
Anggota Dewan Pastoral Paroki Kurubhoko

Karisma Fransiskan

Terkait dengan itu maka saya gandeng OFM untuk masuk di Keuskupan Agung Ende agar bersama-sama dengan komponen lain dalam gereja lokal untuk bersama-sama membangun kualitas manusia dan kualitas lingkungan hidup, dan kita menjadi alat di tangan Tuhan untuk mengabdi. Terima kasih kepada Provinsial OFM yang sudah menjawab dengan turut serta mengambil bagian dalam pekerjaan Allah ini. Uskup Sensi juga menyampaikan atas apresiasi dan kerja sama penuh persaudaraan antar umat beda keyakinan yang sudah ditunjukkan di wilayah ini.

Sementara, Provinsial OFM Provinsial St. Mikhael Indonesia Pater Mikhael Peruhe, OFM pada kesempatan itu menyampaikan terima kasih kepada Uskup Sensi yang telah memberikan kepercayaan kepada OFM untuk berkarya di keuskupan Agung Ende, antara lain di Aeramo dan Kurubhoko. “Di Kurubhoko kami dianugerahi umat sebagai saudara kami dalam pelayanan,” ujarnya.

Dia berharap dengan berkarya di Keuskupan Agung Ende, khususnya di Kurubhoko akan menumbuhkan panggilan menjadi misionaris dari daerah ini yang bisa diutus ketempat lain. Di sini, OFM mengembangkan karisma Fransiskan, yakni  keberpihakan pada orang kecil, dialog budaya dan agama, serta isu kelestarian lingkungan hidup.
 
Uskup bercengkrama dengan tokoh lintas agama di Nginamanu, Kecamatan Wolomeze. Tampak Provinsial OFM Indonesia Pater Mikhael (kedua dari Kiri), Camat Wolomeze Kasmin Belo (ketiga dari kiri) dan Imam Mesjid Kurubhoko Ahmad Damu (keempat dari kanan) Ny. Nurhayati Belo (ketika dari kanan).
Membangun Masyarakat
Pada kesempatan itu Bupati Ngada Marianus Sae dalam sambutannya yang disampaikan Staf Ahli Agnes Dula menyampaikan apresiasi dan profisiat atas diresmikannya Paroki Kurubhoko. Gereja, kata Marianus ikut berperan besar dalam membangun masyarakat daerah ini demi mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Peran itu ditunjukkan dalam melalui gerak pelayanan dan ikut serta membangun kualitas hidup manusia. Peran itu ditunjukkan oleh para imam, biarawan dan biarawati untuk membentuk manusia unggul yang beriman.

Imam Mesjid Kurubhoko Ahmad Damu ketika dimintai komentar mengatakan selama ini kehidupan beragama di wilayah kecil ini sudah terjali dengan baik. Dalam pergaulan sehari-hari antar umat tidak pernah mempersoalkan apa agama masing-masing, tetati semua komponen bersama-sama membangun di Nginamanu Raya ini. Ahmad  yang juga terlibat dalam panitia mengaku senang bisa bertemu dan bercengkaram dengan Uskup Sensi di sela-sela kegiatan ini.

Sementara Camat Wolo Meze Kamis Belo dan Nyonya Nurhayati Belo juga tampak bercengkrama dengan Uskup Sensi pada kesempatan itu, bahkan baru bubar bersama-sama menjelang Uskup Sensi pamitan kembali ke Ndona. Dikatakan Kasmin, kehidupan antar umat di Kurubhoko, desa Nginamanu sangat baik dan rukun.

Lintas Iman

Persemian paroki Kurubhoko menjadi special karena di pusat paroki dalam suasana desa itu selama ini umat Katolik hidup berdampingan secara damai dengan umat dari jemaat Protestan dan Komunitas Muslim. Itu sebabnya, sehari sebelum peresmian kedatangan Uskup Sensi disambut oleh tokoh adat dan tokoh Katolik, tokoh Kristen dan Tokoh-tokoh Muslim. Tampak hadir dari Pendeta Yohanes Gara, Pimpinan dari Muslim Ahamad Damu, Usman Lay, Camat Wolomeze Kasmin Belo yang juga hadir pada saat misa kudus hingga berakhirnya acara pada pukul 17.00 wita.

Keterlibatan umat dari agama Kriten Protestan dan Muslim  juga terlihat dalam panitia peresmian dan ikut ambil bagian memberi donasi dalam merehap kapel yang akan menjadi gereja Paroki. Sejumlah anak dari dua agama ini juga mengambil bagian dalam atraksi pementasan meriahkan peresmian paroki yang dilayani oleh imam-imam OFM itu.

Hadir pada persemian itu sejumlah pastor Paroki yang pernah bertugas di Paroki M.A Maronggela yang wilayahnya meliputi Kurubhoko dan sekitarnya, di antaranya Rm. Basilius Lewa, Pr, Rm. Filter Pendi, Pr, Rm. Gabriel Idrus, Pr dan Rm. Peter Day, Pr. Di antara pastor ini yang pernah menetap di Kurubhoko antara 1996 – 1998 Rm. Peter Day,  memberi apresiasi dan profisiat kepada umat di Kurubhoko yang kini boleh berguyup dalam satu paroki secara mandiri.

Era Rm. Peter dengan  Pastor Paroki M.A Maronggela Rm. Arnold Dhae, Pr, Rm. Peter memilih menetap di Kurubhoko dengan sebutan wilayah pelayanan Lantai I mencakup Kurubhoko hingga Lindi dan Mbazang, karena kala itu Rm. Peter mendapat Tugas Uskup Longginus Da Cunha (Almr) sebagai Pastor pembantu Paroki Soa dan Paroki Maronggela. Sedangkan Maronggela dan sekitarnya masuk dalam wilayah pelayanan Lantai II. Mimpi menjadikan Kurubhoko sebagai pusat pelayanan paroki sudah mulai diwacanakan sejak era Rm. Peter Day, Pr dan m. Arnold Dhae, Pr.


Kilas Balik
Ketua Panitia Peresmian, Kornelis Nuwa dalam sambutannya mengatakan‎, sebelum menjadi sebuah kuasi paroki, umat Kurubhoko telah melewati perjalanan dan kisah yang sangat panjang. Pa‎da tahun 1950, wilayah Kurubhoko wilayah Tanawolo itu meliputi; Tajo, Turenelu, Malafai, Nangge dan Malabaka. Kala itu kata dia, Kurubhoko merupakan salah satu wilayah pastoral Paroki Salib Suci Soa. Kemudian, pada tahun 1957 wilayah Tanawolo menjadi wilayah Pastoral Paroki Hati Kudus Cor Yesus Wangka. Selanjutnya, sekitar tahun 1959 wilayah Tanawolo menjadi bagian dari wilayah Paroki St. Maria Asumpta Warukia.

Antara tahun 1980 dan 1983 wilayah pastoral Tanawolo dibagi menjadi tiga stasi, yakni stasi Nangge-Kurubhoko, stasi Tajo, dan stasi Malafai. Akan tetapi karena jarak antara ketiga wilayah tersebut dengan pusat paroki sangat jauh, maka pada tahun 2012 umat bersama Pastor Paroki mengajukan permohonan pemekaran wilayah paroki. 

Keinginan umat dari ketiga stasi tersebut disambut baik oleh Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr. Hal ini disampaikan melalui Vikep Bajawa RD. Yosef Daslan Moang Kabu, Pr. Kemudian pada 2 September 2012 dibentuklah panitia pemekaran. Panitia ini mempersiapkan umat untuk memulai sebuah paroki. Kerja panitia ini sudah mulai mendapat titik terangnya pada 29 Mei 2014. Pada hari raya kenaikan Yesus Kristus itulah, wilayah Kurubhoko ditetapkan sebagai paroki persiapan (Quasi Paroki) dan dilayani oleh para imam dari ordo Saudara-saudara Dina OFM.

Lanjut Kornelis, sejak ditetapkan sebagai kuasi paroki, panitia persiapan bekerja siang dan malam bersama umat untuk mempersiapkan kuasi paroki menuju yang definitif. Kerja keras umat ini mendapat tanggapan dari Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr. Dalam pertemuan pastoral di Mbay. Pada saat itu Uskup Agung Ende menetapkan tanggal 2 Agustus 2017 sebagai hari peresmian Paroki Kurubhoko. Namun karena persiapan belum matang maka peresmian ditunda waktunya hingga digelar pada Senin (11/09/2017).(ch)***
x

Tuesday, 5 September 2017


BAJAWA, vigonews.com – Sebanyak 23 mahasiswa dari Program Studi PGSD STKIP Citra Bakti mengikuti program PPL di Denpasar Bali. Untuk pertama kali sekolah tinggi yang ada di Kabupaten Ngada, Flores itu menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga Disdikpora Kodya Denpasar, Provinsi Bali.

Pelepasan mahasiswa PPL dengan tujuan Denpasar itu dilaksanakan, Sabtu (02/09/2017) di Kampus Citra Bakti, Malanuza  yang secara simbolis dilaksanakan oleh Sekretaris Yayasan Pendidikan Citra Masyarakat Mandiri Bernardus Selfianus Keo Siga, mewakili Ketua Yayasan Wilfridus Muga, M.Pd. Sebelumnya pelaksanaan PPL tingkat lokal juga sudah dilepas di berbagai sekolah di Kabupaten Ngada.

Hadir pada kegiatan pelepasan 23 mahasiswa, Wakil Ketua STKIP Citra Bakti Bidang Akademik, Ermelinda Yosefa, Awe, M.Pd,  Ketua Prodi PGSD Yosefina Uge Lawe, M.Pd, dan para dosen di lingkungan STKIP Citra Bakti Ngada.

Ketika menyampaikan sambutan pada kegiatan pelepasan  mahasiswa PPL tujuan Denpasar itu, Wakil Ketua STKIP Citra Bakti Bidang Akademik, Ermelinda Yosefa, Awe, M.Pd mengatakan pelaksanaan PPL di luar propinsi adalah yang permata kali dengan menjalin kerja sama Dinas Dikpora Kodya Denpasar Bali.

Kegiatan PPL ke luar daerah semacam Kodya Denpasar diharapkan Ermelinda dapat memberi pengalaman baru bagi mahasiswa dalam mengimplementasi ilmu dalam dunia kerja. Kodya Denpasar,  kata dia,  setidaknya menjadi model yang diharapkan dapat memberi pengalaman-pengalaman baru bagi mahasiswa calon guru sebelum selesai sarjananya.

Terkait dengan pelakasanaan PPL di kota wisata dunia itu, Ermelinda berharap para mahasiswa melatih kemampuan komunikasi yang baik.  Dengan komunikasi yang baik, mahasiswa mampu menyerap berbagai pengalaman selama PPL. Kemampuan komunikasi sangat penting mengingat perbedaan kultur budaya antara Flores dan Bali.
 
Mahasiswa PPL sebelum dilepas di Kampus Citra Bakti
Dia minta selama praktik di Denpasar, mahasiswa ikut aturan dan dapat menyesuaikan diri secepatnya mengingat waktu PPL hanya sebulan. Ermelinda juga berpesan agar mahasiswa mampu menunjukkan kemampuan yang baik, jangan minder. “Saya harap kalian tidak minder dalam bergaul, namun tetap memerhatikan tata krama dan sopan santun sesuai budaya setempat. Karena kalian adalah yang terbaik, maka tunjukkan bahwa kalian itu bisa. Tapi juga tidak sok tau,” pesan Ermelinda.

Sementara, Sekretaris Yayasan Pendidikan Citra Masyarakat Mandiri Bernardus Selfianus Keo Siga, saat pelepasan berpesan agar mahasiswadapat membawa nama baik lembaga. “Ketika kalian di sana, kalian hadir dalam kapasitas sebagai mahasiswa PPL dari lembaga Citra Bakti. Karena itu jaga nama baik lembaga dan daerah kalian di sana,” kata Bernardus.

Sebelumnya pada laporannya, Ketua Panitia PPL Efrida Ita, SS, M.Pd mengatakan PPL merupakan ajang pelatihan guna menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap guna membentuk profesionalisme guru sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan. PPL mempersyaratkan kemampuan aplikasi dan terpadu dari seluruh pengalaman belajar sebelumnya ke dalam program pelatihan yang berkaitan dengan jabatan keguruan baik pembelajaran maupun administrasi lainnya.

PPL bertujuan agar mahasiswa dapat mengenal secara cermat lingkungan fisik, administrasi, akademik, sosial, psikologis sekolah dan system pengelolaan yang dikembangkan.  Mampu mengembangkan aspek kompetensi pedegogik dalam berbagai keterampilan dasar mengajar. Menerapkan berbagai kemampuan professional keguruan secara utuh dan terpadu dalam siatuasi nyata. Mampu mengembangkan aspek pribadi dan sosial di lingkungan sekolah. Menarik kesimpulan nilai edukatif dari penghayatan dan pengamalannya selama pelatihan melalui refleksi dan menuangkan hasil refleksi dalam bentuk laporan.

Sebanyak 23 mahasiswa yang ber-PPL di Kodya Denpasar berangkat ke Maumere, Minggu (03/09/2017) selanjutnya terbang menuju Denpasar, Bali melalui Bandar Udara Frans Seda. Mahasiswa tiba di Denpasar hari itu juga sudah ditunggu Wakil Ketua STKIP Citra Bakti Bidang Akademik, Ermelinda Yosefa, Awe, M.Pd yang akan menyerahkan peserta PPL secara resmi kepada Disdikpora Kodya Denpasar selanjutnya di tempatkan di berbagai sekolah di Denpasar.

Para mahasiswa ditempatkan di enam sekolah di Kodya Denpasar, Propinsi Bali, masing-masing di SDN 3 Panjer, SDN 6 Panjer, SDN 8 Dauh Puri, SDN 1 Renon, SDN 9 Sesetan dan SDN 5 Dauh Puri.(ch)***

Insert foto: 23 mahasiswa STKIP Citra Bakti Ngada yang ber-PPL di Koadya Denpasar.

Friday, 1 September 2017


WOLOMEZE, vigonews.com - Perayaan Idul Adha, 1438 Hijriyah yang jatuh pada Jumat, 1 September 2017, disambut antusias Komunitas kecil Muslim di Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada. Muslim Mesjid Al Ikhlas Kurubhoko hidup rukun bersama umat Katolik dan Protestan di desa ini.

Perayaan Idul Adha kali ini menjadi momentum bagi komunitas Muslim Kurubhoko dan sekitarnya merajut tali silaturahmi baik inter maupun antar umat beragama di wilayah ini, dengan mengangkat tema ‘Mewujudkan kerukunan dalam keberagaman demi membangun Ngada dari desa.”

Pihak Panitia Hari Besar Islam (PHBI) mengundang para tokoh agama, FKUB dan berbagai elemen lainnya dalam acara halal bihalal yang dilaksanakan usai sholat Idul Adha bersama di Mesjid Al Ikhlas. Hadir pada saat itu Camat Wolomeze Kasmin Belo, Kapolsek Soa Ipda Wio Aloysius, Kepala Desa Nginamanu Yohanes Don Bosco lemba, dan tokoh lintas agama, FKUB anggota TNI dan Polri serta jemaat Mesjid Al Ikhlas Kurubhoko.

Dalam acara yang dikemas sederhana ini diwarnai makan tupat bareng sebagai symbol merajut kebersamaan baik sesama muslim maupun antar umat beragama di wilayah itu. Acara silaturahmi ini, kata PHBI Ahmad Damu menjadi symbol kebersamaan untuk mempererat tali silaturahmi. Dari desa ini, kata dia, kebersamaan dalam bingkai NKRI mesti selalu dirajut untuk merajut Indonesia dalam wawasan Bhineka Tunggal Ika.
 
Camat Wolomezr Kasmin Belo bersama pengurus Mesjid Al Ikhlas Kurubhoko dan jajaran TNI/Polri yang hadir saat Halal Bihalal Idul Adha
Kepala Desa Nginamani, Yohanes Don Bosco Lemba dalam sambutannya mengatakan, perayaan Idul kurban diharapkan menjadi spirit dalam menumbuhkan soliditaas masyarakat tanpa membedakan sekat dan golongan serta agama, sehingga tujuan pembangunan menuju masyarakat yang sejahtera dapat dicapai. “Perayaan idul kurban harus juga menumbuhkan sikap gotong royong dan rasa solider dengan sesama di desa yang selama ini hidup rukun berdampingan satu sama lain,” katanya.

Dia berharap semua elemen dalam desa, termasuk umat Islam menjadi kekuatan dalam membangun desa. Dan , ikut ambil bagian secara aktif, menjaga dan merawat hasil-hasil pembangunan yang sudah diraih bersama. Dia berharap kebersamaan dengan toleransi antara umat beragama di desa ini menjadi kekuatan untuk menyokong tegaknya NKRI.

Sementara Kapolsek Soa Ipda Wio Aloysius mohon dukungan umat mulim Kurubhoko dan sekitarnya – dari kecamatan Wolomeze, Soa – untuk ikut menjaga keamanan sehingga tetap kondusif dalam menjamin terselenggarannya pembangunan. Keberagaman yang sudah terpelihara baik dalam spirit toleransi itu menjadi kekuatan dalam pembangunan.

Camat Wolomeze, Kasmin Belo dalam sambutannya di acara halal bihalal mengatakan,  suasana silaturahmi yang dibangun oleh umat Muslim Kurubhoko adalah momentum sarat nilai, karena membangun spirit kebersamaan dalam kebhinekaan di tengah bangsa sedang menghadapi masalah disintegrai. Karena itu, perayaan yang tak hingar binger seperti ini justru menjadi kesempatan berefleksi tentang pentingnya kebersamaan merajut Indonesia mulai dari lingkungan terkecil.

“Di depan ada ancaman disintegrasi bangsa, karena itu mari kita saling bergandengan tangan membangun keutuhan. Jaga lingkungan kita agar tidak dicederai oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Jalin persaudaraan. Kita beda keyakinan tetapi satu bangsa dalam Bhineka Tunggal Ika,” pinta Kasmin.
 
Pemotongan hewan kurban di Mesjid Al Ikhlas Kurubhoko
Hewan Kurban

Idul Adha merupakan salah satu hari besar umat Islam di seluruh dunia. Di desa Nginamanu komunitas Muslim - sekitar 25 KK dan lebih dari 50 KK jika ditambah dengan umat muslim dari Kecamatan Soa - usai sholat Idul Adha, melanjutkan aktifitasnya dengan berkurban hewan, dan membagikan dagingnya ke warga yang kurang mampu.

Adapun hewan-hewan yang dikurbankan, diantaranya ialah sapi, dan  kambing. Memang, hari raya Idul Adha atau biasa disebut hari Kurban karena identik dengan penyembelihan hewan kurban dirayakan umat Islam setiap tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Dalam kalender masehi, perayaan Idul Adha tahun ini diperingati pada hari Jumat tanggal 1 September 2017.

Menurut PHBI Ahmad Damu, tahun ini hewan yang dikurbankan di Mesjid Al Ikhlas Kurubhoko sebanyak tujuh ekor, masing-masing sapi dua ekor dan kambing lima ekor. Kambing disumbangkan Kapolres Ngada, Ragam Tiket Tour & Travel, dan Daeng Sabir (Soa) masing-masing seekor dan dua ekor lainnya dari rodjatv/radio rodja. Sapi satu ekor dari Warung Sudi Mampir Soa dan Keluarga Jawa di Bajawa di bawah pimpinan Danis Wara Sudrajat. Usai halal bihalal PHBI membagikan 100 paket daging kurban. (ch)***

Insert foto: Penyerahan daging hewan kurban di Mesjid Al Ikhlas Kurubhoko

WOLOMEZE, vigonews.com – Mogok kerja mungkin menjadi ‘senjata’  ampuh bagi lima guru honor di SMPN Satap Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze.  Aksi mogok mengajar 21 – 26 Agustus lalu itu berbuah manis. Honor yang sudah ditunggu delapan bulan akhirnya diterima, Kamis (31/08/2017).

Dikemukakan Kepala Desa Nginamanu, Yohanes Don Bosco Lemba kepada vigonews.com, Jumat (01/09/2017) di Kurubhoko, honor sudah dibayarkan. “Honor 10 guru yang sudah ditetapkan melalui APBDes – dari Pokja Pendidikan PNPM fase out sudah dicairkan,” kata Don Bosco.

Pembayaran honor 10 orang guru itu setelah sebelumnya lima diantaranya yang mengajar di SMPN Satap Kurubhoko melakukan aksi mogok mengajar. Bahkan mereka memberi ultimatum akan melapor kasus itu kepada Bupati Ngada, DPRD dan Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada jika pekan ini tidak terealisasi.

Aksi mogok yang sempat dilansir media itu sempat membuat para pihak yang bertanggung jawab atas pencairan dana Pokja Pendidikan PNPM fase out yang sudah ditetapkan melalui APBDes, kelimpungan.  Guna menyelesaikan beda pendapat soal penggunaan dana tersebut yang telah membuat pencairan dana alot hingga delapan bulan, Camat Wolomeze Kasmin Belo melakukan rapat koordinasi guna memediasi masalah ini, Selasa (28/08/2017) di kantor Camat Wolomeze.

Dikatakan Don Bosco, rapat koordinasi tersebut dipimpin Camat Wolomeze Kasmin Belo dan dihadiri Kepala Desa Nginamanu, Ketua BPD Nginamanu Amatus Noy, Pendamping UPK Ferdin dan Ketua BKAD Kornelis Nuwa.

Beda pendapat soal penggunaan dana itu sempat dibahas alot, namun akhirnya mencapai kesepakatan untuk pencairan bagi honor 10 orang guru, masing-masing lima guru SMP, dua guru TK/Kober dan guru SDK Tanawolo dan SDI Kurubhoko.

Setelah mencapai kata sepakat yang meluluhkan perbedaan pendapat, Ketua BKAD Kornelis Nuwa akhirnya sepakat untuk menandatangani specimen pencairan dana Pokja Pendidikan PNPM fase out untuk penerima manfaat dalam hal ini 10 guru honor di desa Nginamanu.

Terkait dengan kesepakatan itu, Camat Wolomeze Kasmin Belo sebelumnya minta Kepala Desa Nginamanu Don Bosco agar segera mengajukan RPD untuk cair dana bagi para guru honor.  “Hari ini (Rabu-red) saya antar RPD  ke kecamatan untuk proses cair di UPK selanjutnya ditandatangani Ketua BKAD.  Jadi dalam minggu ini honor para guru sudah bisa dibayarkan,” kata Don Bosco.

Terkait dengan keterlambatan  pembayaran honor sehingga menyebabkan aksi mogok para guru, Don Bosco menyampaikan pernyataan  maaf. “Saya minta maaf atas keterlambatan ini, juga kepada para siswa yang selama sepekan tidak bisa menerima pembelajaran secara normal,” pinta Don Bosco.

Seperti diberitakan sebelumnya, lima guru honor di SMPN Satap Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze mogok mengajar. Aksi itu terpaksa dilakukan karena sudah delapan bulan honor mereka belum kunjung dibayar.

Kepala Desa Nginamanu Don Bosco, mengatakan syarat administrasi pencairan untuk honor 10 guru pada triwulan pertama sudah diproses. Pada bulan Juni Desa membuat RPD (Rancangan Pencairan Dana). Pencairan dana ini melalui UPK perlu tanda tangan specimen Ketua BKAD. Tetapi Ketua BKAD Kornelis Nuwa tidak bersedia menandatangi dengan alasan peruntukan dana Pokja pendidikan hanya untuk TK – SMP tidak termasuk Kober.

Terhadap hal ini, Don Bosco mengatakan, pihaknya sudah melakukan kordinasi dengan para pihak baik dengan BKAD, Camat hingga konsultasi dengan Dinas PMD P3A. Kemudian Camat mengeluarkan rekomendasi dan Kepala Dinas PMD P3A sudah mengeluarkan surat penegasan tanggal 28 Juli 2017,  yang menyatakan dana tersebut dibolehkan untuk honor guru termasuk TK/Kober. Namun Menurut Don Bosco, sampai hari ini Ketua BKAD tetap kekeh dengan sikapnya.

Sementara Ketua BKAD Kecamatan Wolomeze, Kornelis Nuwa ketika dikonfirmasi vigonews.com sebelumnya menegaskan, pihaknya bukan tidak mau menandatangani specimen pencairan. Hanya mengacu pada roh PNPM yang harus terus digemakan meski sudah masuk fase out, penggunaan dana pokja pendidikan hanya diperuntukan bagi honor guru untuk jenjang formal TK, SD dan SMP, bukan untuk kober.

Menurut Kornelis, dirinya bisa menandatangani specimen pencairan tetapi hanya untuk delapan guru lainnya, tidak termasuk untuk tutor kober. Baginya ini menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah honor guru, karena dirinya tidak mau keluar dari semangat/roh PNPM. (ch)***

Insert foto: Kepala Desa Nginamanu Yohanes Don Bosco Lemba (kiri) dan Ketua BPD Nginamanu Amatus Noya


Wednesday, 30 August 2017


WOLOMEZE, vigonews.com  – Dua tahun terakhir, Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada melalui Puskesmas-puskesmas secara periodik meningkatkan pengetahuan dan pelayanan kesehatan di sekolah-sekolah, dilaksanakan kegiatan penjaringan, pemeriksaaan dan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut. Pemantauan status gizi dan pemantauan PHBS.

Terkait dengan program tersebut,  petugas kesehatan dari Puskesmas Natarandang Kecamatan Wolomeze giat turun ke sekolah-sekolah di wilayah itu. Kegiatan yang menyasar jenjang sekolah SD – SMA/SMK itu dilaksanakan sejak 21 Agustus – 13 September 2017 mendatang.

Rabu (29/08/2017) para petugas kesehatan melakukan kegiatan sosialisasi UKGS penjaringan dan penyuluhan, pemantauan status gizi dan PHBS  sekolah di SDK Tanawolo, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze. Tim kesehatan diterima oleh Kepala SDK Tanawolo, Yakobus Lingge, S.Pd.

Tim kesehatan yang dikoordinir oleh penanggung jawab kegiatan Yohanes Bezi, terdiri atas perawat gigi, perawat, sanitarian dan promkes. Salah seorang tim, Rikardus O. Loy, A.Md yang juga sanitarian menjawab vigonews.com mengatakan kegiatan itu dilakukan setiap enam bulan sekali, dan rutin dilaksanakan sejak dua tahun lalu.

Setelah selesai, hasil sosialisasi dan pemeriksaan akan dilaporkan ke Dinas Kesehatan untuk dievaluasi. Hasil evaluasi kemudian akan menjadi informasi penting guna disampaikan kepada para kepala sekolah dan guru untuk mendapat perhatian.

Sementara Promkes Feliks Ndua mengatakan, ini kegiatan yang rutin dilaksanakan guna memantau keadaan sekolah dan pemeriksaan kesehatan, mengetahui gizi anak, kesehatan gigi, penataan sekolah seperti  ada atau tidak air bersih cuci tangan. Soal ketersediaan air bersih sangat penting agar dapat membiasakan anak  untuk selalu mencuci tangan setelah aktivitas. Pemeriksaan jamban, membuang sampah pada tempatnya, serta pemberantasan jentik nyambuk menggunakan abate yang dibagikan.

Rikardus O. Loy mengatakan untuk hasil sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan belum bisa diketahui karena baru akan dievaluasi setelah selesai  kegiatan. Hanya, kata dia, pada kegiatan tahun lalu yang menjadi perhatian serius adalah masalah kesehatan gigi. Banyak anak yang tidak terbiasa sikat gigi, atau ada juga yang menggunakan tetapi sikatnya tidak sesuai dengan usia anak. Hal lainnya,  tidak terbiasa sikat gigi ada juga siswa yang biasa menyikat namun tidak sesuai dengan cara penggunaan yang baik.
 
Pemeriksaan kesehatan di SDK Tanawolo
Dalam kasus gigi juga ditemukan ada anak yang punya kebiasaan makan sirih pinang. Dikatakan Feliks, kebiasaan makan sirih pinang karena anak melihat orang tua tanpa memperhitungkan  resiko kesehatan. Kebiasaan ini membahayakan kesehatan anak. Meski jumlahnya tidak signifikan, namun pihaknya mengingatkan agar orang tua tidak mendiamkan saja ketika melihat anak makan sirih pinang.

“Memang anak sering beralasan supaya gigi kuat seperti anjuran orang tua. Sebenarnya makan sirih tidak beresiko, karena sirih mengandung anti septic, hanya penggunaan kapur yang perlu diwasapadai karena mengandung unsur yang dapat membahayakan kesehatan. Kerusakan gigi juga disebabkan pola makan pada anak yang tidak teratur, seperti kebiasaan jajanan,” jelas Feliks.

Baik Feliks maupun Rikardus mengungkapkan bahwa kasus kerusakan gigi juga serius di Kecamatan Wolomeze, setiap  pekan sedikitnya lima pasien datang berobat. Hanya layanan kesehatan gigi tidak bisa dilakukan maka terpaksa dirujuk. Kedua petugas kesehatan ini mensinyalir pasien rawat gigi lebih dari itu, tetapi karena tidak ada perawat maupun dokter gigi maka banyak yang langsung ke Soa atau ke Bajawa.

Ditambahkan Rikard, hingga saat ini Puskesmas Natarandang belum mempunyai perawat gigi, apalagi dokter gigi. Menurutnya, Kepala Puskesmas Dominikus Keo sudah mengusulkan untuk tambahan tenaga sekurang-kurangnya perawat gigi, tetapi hingga saat ini belum bisa terpenuhi.

Saat pemeriksaan kesehatan di SDK Tanawolo, Rabu (29/08/2017) pihaknya menyertakan tenaga perawat gigi dalam tim kunjungan pelayanan kesehatan, namun perawat gigi tersebut dari Puskesmas Soa. “Kita berharap ke depan ada tambahan tenaga dokter, setidaknya perawat gigi di puskesmas ini. Ini urgen, karena ada peningkatan jumlah pasien,” kata Rikard tanpa merinci angka pastinya. (ch)***

Insert foto: Pemeriksaan gigi dan mulut di SDK Tanawolo

Monday, 28 August 2017


WOLOMEZE, vigonews.com – Lima guru honor di SMPN Satap Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze mogok mengajar. Aksi itu terpaksa dilakukan karena sudah delapan bulan honor mereka belum kunjung dibayar.

Akibat aksi sepekan itu – 21 – 26 Agustus 2017 – proses pembelajaran tidak dapat berjalan meski siswa tetap berada di sekolah. Proses pembelajaran hanya dilayani dua dari tiga guru PNS, karena kepala sekolah sedang sakit. Dua guru tesebut kewalahan mengatur empat rombel siswa di sekolah itu dengan jumlah siswa lebih dari 100 orang.

Salah seorang guru PNS, Veronika Maza mengeluhkan karena harus mengatur siswa sebanyak itu. Pihaknya kewalahan karena biasanya proses pembelajaran dilayani tujuh guru, lima diantaranya guru honor. “Nah saat mogok kami bingung bagaimana harus melayani anak-anak,” katanya.

Sejumlah siswa pun mengeluhkan aksi yang dilakukan oleh para guru. Hanya mereka mengerti karena para guru teryata selama ini belum dibayar honornya. Sejumlah siswa pada hari kelima aksi mogok para guru, sempat menemui salah seorang guru honor Serina di rumahnya. Hal itu diakui oleh Ibu Serina yang mengatakan anak-anak minta mereka untuk cepat masuk karena tidak ada pelajaran. Salah seorang siswa, Amel mengatakan selama sepekan aksi mogok, hanya dua kali guru masuk kelas, karena dua guru terpaksa melayani tiga rombel lainnya.

Ultimatum

Terkait dengan aksi tersebut, mewakili teman-teman guru yang melakukan aksi mogok, Amatus Noy, S.Pd mengatakan aksi itu terpaksa dilakukan mengingat sejak Januari – Agustus 2017 honor mereka yang sudah dianggarkan melalui APBDes Desa Nginamanu dari Pokja Pendidikan PNPM Fase out belum juga dibayarkan. Bahkan pihaknya sudah beberapa kali melakukan komunikasi namun hasilnya selalu nihil.

Dikatakan Amatus, sebenarnya dirinya dengan empat guru lain tidak sampai hati melakukan aksi mogok tersebut. Hanya kelihatan tidak ada tanda-tanda honor mereka dibayar. Mungkin ini salah satu cara supaya bisa ada perhatian. “Mungkin cara ini tidak tepat kami lakukan. Tetapi tidak ada pilihan lain untuk menuntut hak kami yang memang sudah dianggarkan. Kalau tidak demikian, ini biasa dianggap masalah biasa saja,” kata Amatus menjawab vigonews.com, Senin (27/08/2017) di Kurubhoko.

Untuk melakukan aksi itu, kata Amatus, lima guru honor mengirim surat pemberitauan kepada kepala sekolah dengan tembusan kepada Kepala Desa Nginamanu, Kepala Cabang Dinas Kecataman Wolomeze dan Camat Wolomeze, dan juga kepada Komite Sekolah itu.

Isi surat tersebut menyampaikan bahwa lima guru honor akan melakukan aksi mogok sejak tanggal 21  - 26 Agustus 2017. Namun kelima guru ini sepakat agar tetap masuk kembali pada tanggal 28 Agustus 2017, sehingga tidak sampai merugikan siswa, meski belum ada titik terang pembayaran honor.

Hingga Senin (28/08/2017) dari pantauan vigonews.com lima guru honor sudah melakukan tugas seperti biasa diawali dengan rapat pagi yang dimpimpin kepala Sekolah Adrianus Babo, S.Pd. Amatus Noy mewakili teman-teman guru memberi ultimatum jika dalam pekan ini tidak terealisasi, maka pihaknya akan membawa masalah ini ke Dinas Pendidikan, Bupati Ngada dan DPRD Ngada. “Jadi kami tetap melakukan tugas seperti biasa agar siswa tidak dirugikan. Hanya masalah ini kita akan laporkan ke pejabat di atasnya,” tegas Amatus.

Terkait dengan aksi tersebut, Kepala SMPN Satap Kurubhoko Adrianus Babo membenarkan setelah mendapat surat dari para guru. Terhadap hal itu pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan Kepala Desa Nginamanu Yohanes Don Bosco Lemba, karena untuk honor guru tahun ini dialokasikan melalui dana desa. Namun koordinasi pada Selasa (22/10/2017) itu hanya bertemu Sekdes Vinsensius Kembo karena kepala desa sedang tidak berada di tempat. Dan saat itu didapat informasi akan melakukan kordinasi secepatnya.

Meski menyesalkan terjadinnya aksi itu, namun Adrianus Babo mengatakan bisa memahami. Karena bagaimanapun para guru sudah melakukan kewajiban dan setiap hari harus ke sekolah dengan operasional yang juga sudah keluar. Sayangnya kewajiban mereka tidak disertai dengan pemenuhan hak mereka. “Namun mereka konsisten karena hari ini (20/08/2017) sudah masuk mengajar seperti biasa,” kata Adrianus.

Kekeh

Kepala Desa Nginamanu, Yohanes Don Bosco Lemba ketika dikonfirmasi, Minggu (27/08/2017) membenarkan telah mendapat tembusan surat para guru yang melakukan aksi mogok. Dia mengatakan untuk honor guru di di wilayah Desa Nginamanu sudah dialokasikan melalui dana Pokja Pendidikan PNPM yang kini sudah memasuki fase out. Prosesnya dilakukan dari penggalian gagasan hingga ditetapkannya APBDes Desa Nginamanu tahun 2017. Penggunaan dana ini karena ternyata di UPK masih ada sisa dana untuk Pokja Pendidikan.

Sisa dana Pokja Pendidikan PNPM sekitar Rp 107 juta lebih. Digunakan untuk honor 10 guru setahun Rp 90 juta, karena masing-masing mendapat honor Rp 750 ribu. Karena masih ada dana itu maka disepakati pembayaran 10 guru honor di desa ini dialokasikan dari dana Pokja itu. Lima diantaranya guru SMPN Satap Kurubhoko, dua tenaga TK/Kober dan sisanya guru honor di SDI Kurubhoko dan SDK Tanawolo. Sayangnnya proses pencairan mengalami kendala.

Menurut Don Bosco, bulan Mei lalu pihaknya sudah penuhi syarat administrasi pencairan untuk honor 10 guru pada triwulan pertama. Pada bulan Juni Desa membuat RPD (Rancangan Pencairan Dana). Pencairan dana ini melalui UPK perlu tanda tangan specimen Ketua BKAD. Tetapi Ketua BKAD Kornelis Nuwa tidak bersedia menandatangi dengan alasan peruntukan dana Pokja pendidikan hanya untuk TK – SMP tidak termasuk Kober.

Terhadap hal ini, jelas Don Bosco, pihaknya sudah melakukan kordinasi dengan para pihak baik dengan BKAD, Camat hingga konsultasi dengan Dinas PMD P3A. Kemudian Camat mengeluarkan rekomendasi dan Kepala Dinas PMD P3A sudah mengeluarkan surat penegasan tanggal 28 Juni 2017,  yang menyatakan dana tersebut dibolehkan untuk honor guru termasuk TK/Kober. Namun Menurut Don Bosco, sampai hari ini Ketua BKAD tetap kekeh dengan sikapnya.

Sementara Ketua BKAD Kecamatan Wolomeze, Kornelis Nuwa ketika dikonfirmasi vigonews.com menegaskan, pihaknya bukan tidak mau menandatangani specimen pencairan. Hanya mengacu pada roh PNPM yang harus terus digemakan meski sudah masuk fase out, penggunaan dana pokja pendidikan hanya diperuntukan bagi honor guru untuk jenjang formal TK, SD dan SMP, bukan untuk kober.

Menurut Kornelis, dirinya bisa menandatangani specimen pencairan tetapi hanya untuk delapan guru lainnya, tidak termasuk untuk tutor kober. Baginya ini menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah honor guru, karena dirinya tidak mau keluar dari semangat/roh PNPM.

Solusi Kornelis itu tak disepakati oleh Kepala Desa Don Bosco. Baginya PNPM sudah memasuki fase out dan kewenangan pengelolaan diserahkan ke daerah. Dalam semangat UU Desa kewenangan itu juga ada di desa untuk menggunakan dana tersebut asal sesuai peruntukan bagi pendidikan termasuk guru honor, baik itu TK/Kober dan jenjang pendidikan SD hingga SMP.

Itu sebabnya Don Bosco juga kekeh dengan sikapnya mengingat anggaran ini sudah masuk dalam penetapan APBDes Desa Nginamanu tahun 2017. Dia justru mempertanyakan mengapa proses yang diawali dengan usulan warga saat pagas tidak dikonfirmasi. Malah sekarang tinggal eksekusi dipermasalahkan.

Hingga Senin (28/08/2017) Kepala Desa Nginamanu Don Bosco Lemba masih melakukan koordinasi para pihak untuk menyelesaikan masalah ini. Belum diperoleh informasi apakah ada solusi dari masalah ini.(ch)***

foto: Siswa SMPN Satap Kurubhoko - setelah sepekan aksi mogok guru