Responsive Ads Here

Sunday, 2 July 2017


Menyambut pesta demokrasi pemilihan Gubernur NTT tahun depan, calon gubernur dan calon wakil gubernur gencar turun gunung. Deretan nama, kini kian panjang. Siapa di antara mereka yang sudah ‘menaklukan’ 3, 8 juta pemilih dari 5 juta lebih penduduk yang mendiami provinsi 566 pulau ini? Belum ada, kecuali Emanuel Melkiades Laka Lena. Melalui gawe ‘Sayembara Ayo Bangun NTT, Melki begitu biasa disapa dinilai banyak kalangan sebagai politisi muda yang memulai kerja politik dengan hati dan ‘pikiran/gagasan’ orang banyak.

Inilah kiat Melki Laka Lena melihat NTT dengan cara berbeda. Dengan cara baru. Meninggalkan konsep berpkir linear, yang dikerjakan oleh banyak orang. Ketika banyak calon pemimpin/politisi daerah ini melihat NTT dari depan, Melki justru melihat terbalik. Gagasan cerdas besutannya – Sayembara Ayo Bangun NTT – adalah cara Melki Laka Lena memandang NTT hari ini, melihat (mencermati) dari Belakang.

Kini, gawe yang menyita perhatian banyak orang di NTT sudah selesai digelar. Melibatkan banyak kecamatan. Semua kabupaten turun gunung untuk urun gagasan, pikiran dalam satu simpul ‘Ayo Membangun NTT’. Melalui ajang curah gagasan paling akbar ini, banyak sisi gelap jadi terang – benderang. Gagasan di ruang kedap diartikulasikan hingga ke permukaan bertolak dari isu-isu aktual NTT hari-hari ini. Ya! Sayembara bertajuk ‘Ayo Bangun NTT’ yang semula diragukan banyak pihak malah jadi hingar-bingar ke seantero tanah Flobamora. Semua peserta beradu gagasan dari kecamatan hingga tingkat propinsi. Melalui debat sengit peserta mengaduk pikiran jernih. Mengadu nyali dan kreatifitas komunitas paduan suara dari tiap kabupaten sembari menggelorakan Mars ‘Ayo Bangun NTT,’ dan ‘Membangun Kotaku.’

Melki menggugah hasrat rakyat NTT tercinta untuk bangun tanah yang sering dijuluki Flobamora ini. Memulai debutnya menuju pesta demokrasi dengan cara yang cerdas. Mulai bekerja dengan hati, menggalang pikiran/gagasan banyak orang. Sebab, menurut Melki, NTT tidak bisa dibangun dengan gagasan segelintir orang. Karena masyarakat daerah ini adalah pemilik sah propinsi NTT. Gagasan itu kemudian ditulis, dilombakan melalui debat, melalui kreativitas generasi muda hingga generasi paling senior, mulai dari rakyat biasa hingga pejabat dan politisi, mulai dari remaja (SMA) hingga kaum akademisi

Kelahiran Kupang, 10 Desember 1976 ini, mengajak semua kalangan untuk melihat orang-orang sekitar yang telah berbuat banyak meski di ruang ‘sempit’. Mereka yang pikiran dan tindakan tak pernah di dengar. Mereka ini dalam ‘kacamata’ Melki, adalah tokoh teladan di tempat dan zamannya sendiri. Yang menyumbangkan gagasan tindakan untuk bangun NTT, tetapi jarang dilihat, kurang didengar dan belum dihargai selama ini. Dan selama bertahun-tahun peranya diabaikan, kecuali peran dan pemikiran untuk kerja politik pemenangan. Dan, melalui kompetisi ini, gagasan dan tindakan para tokoh diartikulasi melalui tulisan para peserta sayembara yang kemudian menjadi masukan yang berharga dalam kerja-kerja politik ke depan. Kerja politik yang dimulai dari rakyat, oleh (bersama) rakyat dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.

Sayembara NTT diselenggarakan oleh Yayasan Tunas Muda Indonesia (YTMI) dimana Melki menjadi ketuanya. Kegiatan yang mulai digelar sejak awal tahun menyita perhatian, tenaga, waktu dan biaya tidak sedikit. Berapapun yang sudah dipertaruhkan, bagi Melki Laka Lena bukan apa-apa, dibanding dengan memburu gagasan/dan pemikiran bernas dari kampung ke kampung. Menumbuhkan kreativitas melalui lomba-lemba yang mendebarkan dan mengasah ketajaman generasi muda. Dari kompetisi-kompetisi ini tertanam hasrat membara, membangun jiwanya para pemilik masa depan – generasi muda. Karena esensi pembangun adalah membangun jiwanya, baru kemudian membangun raganya.

Sejak awal tahun itu, Melki harus melenggang ke daerah-daerah untuk kesiapan penyelenggaraan. Begitu juga ketika sayembara digelar, dia pun harus terus wara-wiri dari kabupaten ke kabupaten, hingga grand final di Ende awal Juni lalu. Pada saat grand final digelar, lomba debat dan paduan suara dari seluruh kabupaten dan kota di NTT menyatu dalam satu asa bernafas kompetisi. Menyusul pengumuman lomba menulis gagasan dan menulis tokoh teladan NTT yang diumumkan pekan kedua Juni di Timor.

Pergi ke berbagai daerah, mantan Sekjen PP PMKRI Pusat ini selalu disambut hangat. Tak sedikit yang memuji langkah politisi muda yang kini menjabat Wakil Sekjen DPP Partai Golkar itu. Bahkan tentang terobosan Melki ini mendapat apresiasi dari Dosen Filsafat Politik STFK Ledalero Pater Dr. Otto Gusti dan Analis Politik dari Fisip Unika Kupang Mikhael Rajamuda Bataona, sebagaimana dilansir Tabloid Seputar NTT. Dr. Otto Gusti sendiri menilai terobosan Melki Laka Lena sebagai gagasan cerdas. Apa yang dilakukan itu adalah bentuk kerja nyata untuk membawa perubahan bagi NTT. Sementara, Rajamuda Bataona menilai fenomena Melki Laka Lena – politisi muda berkarakter itu dapat mengisi ruang kejenuhan publik pada politisi tua yang jika diadu dalam survey pun bakal ‘terjungkal.’

Apa yang dikatakan Dr. Otto Gusti dan Rajamuda Bataona seperti menjadi simpul gerakan tokoh muda partai Golkar ini menggalang gagasan dan menggerakkan orang muda. Sebagai provinsi dengan wilayah darat dan laut yang luas, NTT memerlukan peran kaum muda dengan menggelorakan kerja praktis di berbagai lini. Menyetir pendapat Rajamuda Bataona, maka sebagai kader muda, Melki harus selalu siap jika amanat itu dipercayakan kepadanya.

Persoalan klasik NTT yang tidak pernah lekang dari stigma kemiskinan mendorong Melki untuk melakukan terbosan tidak biasa. Untuk membangun daerah ini perlu gagasan alternatif manakala para elit masih berkutat pada pemikiran linear banyak orang, namun terjebak pada rutinitas tak produktif. Pola kerja linear ini yang membuat masyarakat seakan apatis sehingga tidak mengalami perubahan.

Stigma kemiskinan seolah tak pernah hengkang dari NTT. Meski daerah ini memiliki potensi cukup untuk membuat rakyatnya sejahtera jika dikelola dengan baik dan kreatif. Memang, selama ini para politisi sudah terlanjur melihat NTT dari depan, sehingga terlihat tidak pernah beranjak maju (berubah). Kini sudah terlalu berat untuk menarik beban itu. Malah menuntut harus berpikir dan bertindak beda. Berpikir dan bertindak baru, yaitu melihat NTT dari belakang. Baru kemudian dapat melihat dengan jelas potensi besar yang dimiliki, dan yang dilakukan adalah mendorong. Dengan potensi dan peran serta berbagai kalangan,  kekuatan dorongan bakal jauh lebih dahsyat, ketimbang hanya ditarik oleh segelintir elit yang datang setiap kali gawe politik menawarkan untuk menarik NTT dari lubang kemiskinan, tetapi beban itu tak pernah tuntas.

Melalui Sayembara Ayo Bangun NTT, dalam waktu tidak terlalu lama, Melki Laka Lena sudah roadshow dari kabupaten ke kabupaten bahkan pulau-pulau di propinsi NTT. Melalui gema kegiatan ini dia mengirim sinyal kepada NTT bahwa untuk membangun daerah ini bukan hanya berada di tangan para politisi dan atau birokrat, melainkan sangat dibutuhkan keterlibatan dan partisipasi dari masyarakat umum, sejak tahap perencanaan, evaluasi, pelaksanaan, sampai dengan pengawasan.  Alumni Sekolah Menengah Farmasi Kupang dan S1 Fakultas Farmasi Sanata Darma Jogyakarta ini mau mendengarkan suara akar rumput. Apa yang masyarakat rasakan, geluti, dan alami selama ini dalam berbagai bidang kehidupan. Kegiatan yang digagas oleh alumni SMPK Ndao, SMP Seminari Pius XIII ini juga mau meminimalisir adanya stigma terhadap propinsi NTT dengan pelesetan sebagai Propinsi “Nasib Tidak Tentu” dan “Nanti Tuhan Tolong”

Guna memperoleh gagasan bernas di lapis bawah (masyarakat) digelar kegiatan yang dimulai dengan diskusi gagasan dalam berbagai bidang kehidupan di NTT seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, keamanan, pariwisata, hukum dan keamanan, Human tracfiking, dan lingkungan hidup. Isu-isu ini menjadi agenda seksi yang selalu dibicarakan oleh berbagai kalangan disetiap kaupaten ketika berdiskusi bersama putra Ende Flores ini. Bakal calon Gubernur NTT ini begitu serius menyimak semua kompleksitas permasalahan, dan saran yang disampaikan oleh semua lapisan masyarakat pada saat berdiskusi. Masyarakat yang hadir dalam diskusi ini selalu menitipkan pesan agar ketika nanti terpilih sebagai gubernur NTT mampu mewujudkan harapkan masyarakat NTT menjadi lebih baik dan bermartabat.

Dalam berbagai forum gelar Sayembara Ayo Bangun NTT, dihadapan masyarakat yang hadir, Melki demikian sapaan akrabnya, selalu tampil sederhana dan santun dalam berkomunikasi. Dirinya menyampaikan bahwa, kegiatan ini sengaja digagas olehnya melalui Yayasan Tunas Muda Indonesia (YTMI) agar bisa mewadahi semua pemikiran dan gagasan masyarakat NTT untuk menata propinsi NTT kedepan yang lebih baik. Menurutnya, kegiatan ini bebas dari kepentingan politik, karena itu banyak diikuti oleh berbagai kalangan termasuk para politisi di luar partai Golkar. Orang merasa tertarik dan respek dengan kegiatan yang belum pernah diprakarsai siapapun ini. Pejabat Negara sekalipun belum pernah melakoni kegiatan yang melibatkan seluruh masyarakat NTT sebagai makna atas momentum hari lahirnya propinsi NTT yang ke 58.

Dalam catatan media, ketika kunjungannya ke setiap Kabupaten/Kota, Melki selalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat di 21 kabupaten Kota Se NTT. Ekspresi sambutan masyarakat melalui tarian adat, sesungguhnya mengungkapkan ekspektasi besar masyarakat kepada mantan calon wakil Gubernur NTT periode 2013-2018 untuk menjadi Gubernur NTT periode 2018-2023. Masyarakat merespons positif gebrakan seorang tokoh muda dengan melibatkan banyak orang dari berbagai lapisan. Karena publik menilai siapapun dia yang maju dalam pemilihan Gubernur NTT dan kelak menjadi Gubernur, harus berani melakukan gebrakan dan terobosan yang radikal dan revolusioner, serta memahami karakteristik NTT, baik alamnya maupun tipilkal masyarakatnya, terlebih gagasan dan pemikiran yang bernas dari berbagai lapisan.

Gelar akbar ‘Sayembara Ayo Bangun NTT’ sudah usai. Namun, pembicaraan seputar kegiatan ini belum usai. Tugas sang politisi ini pun belum selesai. Gagasan/dan pemikiran bernas masyarakat yang diwadahi melalui sayembara perlu ditenun kembali menjadi gagasan yang utuh sebagai sumbangan pemikiran membangun NTT. Gagasan dan pemikiran yang menggambarkan kondisi ril NTT oleh orang-orang NTT sendiri – titipan untuk ‘Bung Melki’ menuju NTT 1.  Melki juga harus terus merenda semangat membara yang ditunjukkan para generasi muda dari 21 kabupaten kota melalui gerakan kreativitas yang sudah digemakan melalui lomba paduan suara – mengembangkan layar memayungi rakyat di tanah Flobamora. Meramu dari gagasan yang sebelumnya tercecer di berbagai plosok dalam suatu gita nusa (nyanyian merdu untuk NTT). Merangsek maju membawa semangat juang para muda dari berbagai latar belakang – merajut kebersamaan tanpa sekat yang sudah jadi kekayaan tanah pusaka.

Sebuah ungkapan mungkin tepat dialamatkan kepada sosok yang kini digadang-gadang banyak kalangan untuk memimpin NTT: “Jawaban yang salah merupakan jawaban yang benar untuk pertanyaan berbeda.” Ada banyak jawaban yang salah dalam membangun NTT. Pengalaman berulang-ulang selalu menjadi guru yang baik, karenanya, Meliki menggunakan jawaban salah yang sama untuk pertanyaan berbeda. Sayembara Ayo Membangun NTT adalah pertanyaan berbeda – pertanyaan baru, untuk  mendapatkan jawaban itu. “Setiap kali mengalami kegagalan, akan terdorong  mempelajari sesuatu yang baru. Kegagalan adalah guru yang jauh lebih baik ketimbang keberhasilan,” kata orang bijak.

Memulai debutnya menuju NTT 1, Melki  memandang NTT dengan cara berbeda. Ketika banyak politisi melihat dari depan, dan selalu subyektif, Melki justru menerobos lintas batas melihat dari belakang, apa sesungguhnya ganjalan sehingga tak pernah bisa ditarik maju. Ibarat: saat bertandang ke rumah sahabat, ia tidak hanya duduk manis di ruang tamu dan mendengarkan tetapi juga berada di belakang untuk mengetahui apa yang mereka punya. Seorang pemimpin harus mampu melihat dari sisi berbeda. Pemimpin semacam ini tipikal pemimpin yang rendah hati, namun kreatif, berintegritas, dan jujur.

Mungkin Melki berpikir lateral, yang  dimulai dengan menulis seluruh gagasan-gagasan dominan yang berlaku dalam situasi kita dan sengaja mengkritiknya melalui adu gagasan dengan mempertemukan banyak orang dari berbagai elemen.  Melalui kompetisi gagasan berupaya membalikan setiap asumsi dan gagasan yang dominan yang selalu dianggap benar.  Perjuangan belum berakhir, ketika masih banyak harapan yang datang kepadanya, seperti sebaris pantun berikut ini:  “Jika beredar uang palsu cermati saja yang asli – Jika  banyak calon gubernur, pastikan saja pada Melki.” (Emanuel Djomba)***

KURUBHOKO, vigonews.com – Jumpa Orang Muda Katolik (OMK) Kuasi Paroki Kurubhoko dibuka secara resmi oleh Pastor Administrator P. Thobias Harman, OFM, Minggu (02/07/2017) di Kurubhoko. Jumpa OMK yang berlangsung hingga Minggu (09/07/2017) mendatang diikuti lebih dari 200 orang muda dan para pendamping dari tiga wilayah, dua tasi dan satu lingkungan.

Minggu petang, kontingen dari berbagai wilayah, stasi dan lingkungan paroki yang wilayahnya meliputi Desa Nginamanu, Nginamanu Selatan dan Nginamanu Barat diterima Pastor Paroki P. Thobias Harman, OFM di dampingi P. Leon, OFM, panitia pelaksana, tokoh masyarakat dan undangan lainnya. Pada pembukaan sekaligus menerima Salib OMK.

Selama sepekan jumpa OMK akan diisi dengan berbagai kegitan yang bersifat pembinaan iman, kegiatan sosial, edukasi hingga yang bersifat fun. Kegiatan-kegiatan itu antara lain pertandingan sepak bola, voli, sepak takraw, lari karung, lari 100 meter dan tarik tambang. Sementara kegiatan perlombaan antara lain, membaca kitab suci, kuis kitab suci, lomba mazmur, paduan suara terbatas, fashion show pakaian adat, dan kegiatan bakti sosial. Berbagai kegiatan pada jumpa OMK ini mengerucut dalam tema: “Orang Muda Membawa Sukacita Injil di Tengah KUB.”

Ketika membuka Jumpa OMK, Pastor Administrator, P. Thobias Harman, OFM mengatakan, masa muda selalu identik dengan masa yang menyenangkan, menggembirakan dan penuh sukacita. Sebagai OMK, kata pastor Thobias, harus terus menggelorakan sukacita seperti cara para murid menggelorakan sukacita pantekostas kepada dunia.

“Melalui wajah kaum muda, kita berharap selalu menggelorakan kegembiraan dan sukacita injili sekalaigus menimplementasikan tema, yakni: Orang Muda Membawa Sukacita Injil di Tengah KUB,” katanya.
 
Pater Thobias Harman, OFM
Pater Thobias menengaskan, bahwa sukacita itu juga ditunjukkan dalam kegiatan sepekan melalui pertandingan dan perlombaan untuk menguatkan dan menginternalisasikan tema Jumpa OMK kali ini sehingga terpatri dalam diri kaum muda. Dalam konteks meguatkan tema ini, maka melalui kegiatan sepekan tidak semata merebut kemenangan dalam berbagai pertandingan dan perlombaan tetapi lebih merupakan merebut kebersamaan menjadi ‘rasul’ yang terus menggelorakan kabar sukacita.

Pada kesempatan itu, Ketua harian DPP Kuasi Paroki Kurubhoko, Tarsisius Sambu menegaskan, bahwa, paroki yang akan diresmikan pada tanggal 2 September mendatang ini termasuk paroki unik. Dengan ciri kas pastoral ekologi bersama imam-imam OFM, paroki Kurubhoko tergolong paroki mini (kecil) dengan jumlah umat sekitar 2.000 lebih yang semula merupakan satu desa, yakni Desa Nginamanu. Kini sudah dimekarkan menjadi tiga desa dengan satu kultur dan budaya, bahasa yang sama.

Karena itu, Tarsisius berpesan kepada para OMK dalam semangat kebersamaan mesti ada pesan yang ingin digemakan dan dikonkretkan. “Dalam paroki yang kecil dan semangat budaya dan bahasa yang sama ini kita mesti punya alasan yang kuat untuk bersatu. Karena itu dalam kegiatan sepakan melalui pertandingan, perlombaan maupun kegiatan lainnya hendaknya tetap jaga kekompakan dan merajut kebersamaan,” psan Tarsisius.
 
Pembukaan Jumpa OMK Kuasi Paroki Kurubhoko
Ketua OMK Kuasi Paroki Kurubhoko, Feliks Ndu’a dalam sambutannya menengaskan agar semua OMK menjalin solidaritas dan kebersamaan sepanjang kegiatan. Baginya, kebersamaan menjadi modal dalam konteks kehidupan bersama dalam menjalankan peran menggelorakan sukacita terang Injil dalam KUB masing-masing. “Karena itu, menang atau kalah dalam pertandingan, perlombaan dan kegiatan lainnya hanya sarana bagi kita untuk menenun kebersamaan agar lebih erat lagi,” katanya.

Dalam nada seloroh, Feliks mengatakan, “kegiatan ini akan dilanjutkan secara rutin setiap tahun. Di sini kita memupuk kebersamaan. Saling melengapi, saling menanggapi, bahkan saling lirik satu dengan yang lain. Jadi, kalau yang sudah senior di OMK, jangan sampai tahun depan kita ketemu lagi.” Maksud Feliks yang sudah usia 35 tahun ke atas tapi belum menikah moment ini bisa jadi ajang cari jodoh. Karena usia OMK hanya sampai 35 tahun. Hadirin pun tertawah menanggapi seloroh Feliks.

Pada kesempatan itu Ketua Panitia kegiatan Wiltarius Lowa mengatakan Jumpa OMK menjadi momentum strateggis dalam membentuk nilai dan karakter kaum muda. Pembukaan Jumpa OMK Paroki Kurubhoko juga ditandai dengan misa Kudus yang dipimpin Pastor Admiistrator Kuasi Paroki Kurubhoko, Thobias Harman, OFM. (ch)***

Insert foto: Para Ketua OMK dan pendamping menyatukan tekad menyukseskan Jumpa OMK  tanggal 2 - 9 Juli 2017

Friday, 30 June 2017


BAJAWA, vigonews. com – Lebih dari 600 anak yang tergabung dalam Serikat Anak Misioner (Sekami) Paroki St. Josef, Bajawa mengikuti kegiatan Tri Hari Sekami. Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Pape, Kecamatan Bajawa itu, dibuka Kamis (30/06/2017) dan berlangsung hingga, Minggu (02/07/2017).

Mengangkat Tema: “Aku Bangga Jadi Anak Sekami” kegiatan ‘Tri Hari Sekami’ itu diikuti Sekami Junior dari usia TK hingga kelas VI SD lebih dari 600 anak dari 10 stasi dan lingkungan di paroki itu. Sebelum dibuka secara resmi oleh Pastor Paroki St. Josef, Johanes Preta Manuk, OCD di lapangan sepak bola Pape, rombongan dilepas dari halaman Paroki St. Josef di Kota Bajawa. Para peserta dan sebagian orang tua siswa para pendamping  mengikuti konvoi kendaraan sepanjang jalan menuju Pape ke arah Timur Kota Bajawa.

Dikemukakan Pastor Moderator Sekami San Jos, Pater Sirilus Pay, OCD, kegiatan yang dikhususkan bagi Sekami Junior di paroki ini baru pertama kali digelar. Sebelumnya ada kegiatan juga tetapi untuk sekami senior, namun tidak sebanyak ini. Meski baru pertama kali, namun kegiatan ini ternyata mendapat animo cukup besar dan respons positif dari para orang tua. “Memang tidak mudah, karena ini sekami junior yang di dalamnya melibatkan anak-anak dari TK sampai usia kelas VI SD. Tetapi ternyata orang tua merespos positif kegiatan ini dan membolehkan anak-anak mereka ikut,” kata Pater Sirilus menjawab vigonews.com, Jumat (30/06/2017) di Pape.

Kegiatan ini digelar berangkat dari keprihatinan gereja terhadap penanaman nilai moral dan bentukan karakter di kalangan generasi muda yang dinilai sudah mulai kedodoran. Di Gereja lokal keuskupan, melihat kelompok sekami dan OMK sebagai salah satu kelompok stategis yang perlu mendapat sentuhan pembinaan untuk bina lanjutan.

Sehubungan dengan keprihatinan tersebut, kata Pater Sirilus, maka Paroki St. Josef melalui DPP Bidang KKI merancang kegiatan yang menyasar Sekami Junior yang selama ini belum disentuh secara maksimal. Sehubungan dengan itu maka paroki memanfaatkan masa liburan ini sebagai momentum menanamkan nilai-nilai pada anak dan bentukan karakter mereka. “Daripada liburan mereka hanya untuk bermain tanpa makna, kan lebih baik liburan dalam kebersamaan seperti ini dan mendapat penanaman nilai,” kata Pater Sirilus.

Salah seorang panitia, Tati Resi mengemukakan Tri Hari Sekami diisi dengan berbagai kegiatan seperti kuis Kitab Suci, Baca Kitab Suci, Cerita Orang Kudus, Gerak dan Lagu, Gambar Bercerita, Mewarnai Gambar, Fashion Show, Hasta Karya, wisata alam, anjang sana.  Berbagai jenis kegiatan lomba ini diikuti oleh pserta dari 36 lingkungan dan masing-masing mengirim 15 – 30 anak.
 
Kegembiraan syarat makna yang ditunjukkan lebih dari 600 anak Sekami Sanjos
Dikatakan, setiap lingkungan juga wajib mengirimkan pendamping yang terdiri dari 4 orang, 2 JPA, 4 OMK dan 4 pemasak.  Semua peserta tidur di tenda-tenda yang sudah disiapkan panitia di lapangan sepak bola Pape dan peserta membawa perlengkapan tidur serta kebutuhan lain selama kegiatan. Konsumsi, transportasi serta akomodasi kegiatan diatur oleh lingkungan masing-masing.

Salah seorang pendamping dari salah satu lingkungan, Alfonsa Goa, menjawab vigonews.com mengemukakan kegiatan ini sangat positif dan efektif dalam melatih anak untuk disiplin dan belajar mandiri. Dia menyaksikan sendiri: salah seorang siswa kelas  1 SD terlihat sangat disiplin mengikuti berbagai kegiatan. Tidur, MCK dan mengikuti semua kegiatan tepat waktu. Hal yang membuat Alfonsa terkesan, anak sekecil ini melakukan kegiatan sendiri tanpa dibantu seperti mengganti pakaian. Pakaian yang sudah kotor dilipat rapih dan dimasukannya dalam plastik (tas kresek) sebelum akan dicuci. Anak itu mengatakan: “Ibu saya pesan kalau pakaian kotor jangan dicampur dengan pakaian bersih. Yang kotor dimasukan dalam plastik sebelum dicuci,” kata anak itu ditirukan Alfosa.

Bagi Alfonsa, untuk pembiasaan pada anak yang penting diberitau pasti akan diingatnya terus. Sehingga saat tidak bersama orang tua, dia akan melakukan apa yang pernah dikatakan orang tuanya. Masih banyak contoh dikemukakan Alfonsa anak-anak di tenda dari lingkungannya yang terlihat sangat mandiri. Dikatakan, dirinya lebih banyak mendampingi anak-anak yang masih usia TK dan SD kelas rendah. “Jadi saya kira kegiatan seperti ini mesti sering dilakukan karena sangat efektif dalam bembentukan karakter anak melalui penanaman nilai,” katanya.

Sementara, salah  seorang ayah yang anaknya ikut kegiatan Sekami, Yani Kao, mengatakan dia senang anaknya diikutkan dalam kegiatan ini. Yani yang hari kedua sengaja datang untuk mengintip aktivitas anaknya mengatakan, sekarang putrinya yang pemalu itu sudah lugas bergaul dengan teman-temannya. “Dia terlihat anak yang mendiri, itu biar di rumah. Tetapi saya lihat perubahan cukup baik bahwa sifatnya yang pemalu setelah ikut kegiatan ini tidak kelihatan. Dia sudah banyak teman,” kata Yani.

Pater Sirilus juga mengakui bahwa kegiatan ini banyak memberi nilai positif kepada anak-anak. Mereka dalam kegiatan kemah juga belajar mandiri. Membina solidaritas dan persaudaraan dan saling mengenal satu sama lain. Anak-anak terlihat lebih disiplin.

Kegiatan Tri Hari Sekami dibuka dengan perayaan Ekaristi dengan imam konselebran. Pastor Paroki St. Josef Pater Johanes Preta Manuk, OCD, Pater  Sirilus Pay, OCD, Pater Albertus Indra, OCD, Pater Nando, OCD dan Pater Armin, OCD. (ch)***

Monday, 19 June 2017


BAJAWA, vigonews.com – Hasil Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Dasar (SD) di kabupaten Ngada, secara resmi dimumkan Senin, (19/06/2017). Hasil UN tersebut disampaikan oleh Kadis Pendidikan Vinsensius Milo didampingi Kabid Dikdas, Feliks Goja yang diterima para kepala sekolah melalui Kepala Cabang Dinas Pendidikan se-Kabupaten Ngada di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada, Bajawa.

Hadir pada pengumuman hasil UN para kepala sekolah dari 167 sekolah dan 12 kapala cabang dinas. Meski pengumuman hasil UN sudah dilakukan, namun pihak dinas belum mengetahui prosentase kelulusan, mengingat penentuan kelulusan ditentukan oleh sekolah masing-masing.

Dikatakan Kadis Vinsensius Milo, dari hasil UN tiga mata pelajaran, tercatat tiga siswa dari tiga sekolah yang memperoleh nilai tertinggi. Nilai tertinggi mata pelajaran bahasa Indonesia untuk tingkat kabupaten Ngada diraih oleh Gervianus Lewa, siswi SDI Kolokoa Kecamatan Jerebu’u, nilai UN teringgi Matematika diraih oleh Francischa Mayscha Soli dari SDK Kisanata Kecamatan Bajawa, dan nilai tertinggi UN Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diraih oleh Maria Mau Dora dari SDN Boameze, Kecamatan Soa.

Nilai UN tertinggi Bahasa Indonesia 90,0,  matapelajaran Matematika 95,0 dan matapelajaran IPA nilai tertinggi 95,0. Nilai terendah Bahasa Indonesia 28,0, Matematika 17,5 dan IPA 15,00. Untuk nilai terendah tak diperoleh informasi dari sekolah mana.

Untuk diketahui UN tingkat SD yang diselenggarakan 15 – 17 Mei 2017 lalu diikuti  3.834 siswa dari 167 sekolah. (ch)***

Insert foto - Para kepala sekolah terlihat sibuk usai menerima hasil UN masing-masing sekolah di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada

Tuesday, 23 May 2017


BAJAWA – SMAK Regina Pacis Bajawa, keluar sebagai juara kompetisi debat bertajuk Fasilitasi Pendidikan Pemilih, yang digelar di Rumah Pintar Pemilu KPU Ngada, Selasa (23/05/2017).

Tiga pendebat Recis akhirnya bisa ‘bernafas lega’ dalam laga debat dua babak itu, setelah pada babak semifinal dan final sempat mendapat ‘perlawanan’ sengit dari SMAN 1 Bajawa, SMAK Seminari Mataloko dan  SMAN 1 Riung Barat.

Mendapat perlawanan sengit para pendebat dari sekolah lain, Recis justru menunjukkan kepiawaiannya, sehingga mampu ‘mengecohkan’ lawan-lawannya dengan argumen-argumen yang akurat. Sekolah yang pernah mengikuti Lomba Debat tingkat propinsi maupun nasional itu akhirnya lolos dengan mengumpulkan angka tertinggi 1.945 mengungguli SMAN 1 Bajawa di tempat kedua dan SMAK Seminari Mataloko di tempat ketiga. Sementara SMK Bangun Mandiri berada di posisi keempat, menyusul SMAK Kejora Riung berada pada posisi kelima dan SMAN 1 Riung Barat pada posisi keenam.

Debat  bertajuk Fasilitasi Pendidikan Pemilih itu diawali dengan lomba menulis artikel populer yang diikuti 42 siswa dari sejumlah sekolah di kabupaten Ngada. Enam siswa masuk sebagai nominasi dalam penulisan artikel populer terbaik dan berhak maju ke babak debat. Di babak debat, nominasi penulisan artikel populer membantuk tim sehingga memenuhi syarat mengikuti kompetisi debat dengan sistem parlemen.

Kompetisi debat berlangsung seru dan rangkainnya berlagsung hikmat. Diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Debat ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka sembari bergandengan tangan. Ketua KPU Ngada Thomas Djawa yang membuka kemudian menutup sesi debat ini mengaku puas dengan Antusias peserta mengikuti rangkaian kegiatan.

Melalui dua jenis lomba, kata Thomas, ada banyak masukan bagi KPU dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan politik untuk mencapai iklim demokrasi yang ideal. Kegiatan yang diawali dengan seminar terbatas, panggalian informasi tentang kepemiluan, lomba menulis dan debat menjadi wahana yang efektif dalam mengartikulasi berbagai wacana dan isu aktual tentang demokrasi dan kepemiluan oleh para pemilih pemula.
 
Tim Debat SMAK Seminari Mataloko (kanan) ketika berhadapan dengan Tim Debat Recis di Final
Melalui wadah rumah pintar dan kegiatan ini diharapkan para siswa kembali membawa pemahaman baru tentang kepemiluan dalam kerangka menciptakan pemahaman demokrasi yang sesungguhnya. Bertolak dari realitas hari ini, dimana demokrasi masih dibelit berbagai persoalan, kegiatan ini memberi sumbangan yang bernilai dalam kerangka pendidikan politik dan demokrasi.

“Kita berharap setelah dari sini para siswa menjai pelopor perubahan. Malah di sekolah masing-masing mereka bisa menjadi ‘narasumber’ dalam mengampanyekan tentang demokrasi dan kepemiluan,” jelas Thomas.

Thomas mengatakan, melalui lomba menulis dan debat, ada banyak harapan dan masukan yang disampaikan para peserta, baik melalui tulisan maupun melalaui forum debat.

Harapan Thomas ternyata sama bersarnya dengan harapan sejumlah guru pendamping yang mengantar siswa dalam kegiatan lomba ini. Bonefasius Zanda, guru SMAK Regina Pacis memuji terobosan KPU yang berani mengkreasikan kegiatan ini sehingga dipahami dan didalami siswa.  Dia berharap KPU terus mengkreasikan kegiatan semacam ini sehingga sosialisasi dan pendidikan politik lebih efektif dari sekedar ceramah-ceramah. Dan, sukses kegiatan ini sekaligus mematahkan rumor bahwa KPU hanya berteori dan tak ada kegiatan kalau tidak ada pemilu dan pilkada juga pilgub. Padahal KPU terus bekerja setiap saat.
 
Prosesi penyerahan penghargaan dan  hadiah kepada para pemenang kompetisi debat dan lomba menulis
Sementara, Dorkas yang juga Guru SMAK Kejora Riung, mengatakan kegiatan ini memberi pembelajaran berharga bukan hanya siswa tetapi juga guru dan publik pada umumnya. Dia bertekad mendampingi para siswanya dalam debat yang selama ini belum tahu teknik-tekniknya. Dia berharap KPU terus melanjutkan kegiatan semacam ini karena jauh lebih efektif dalam sosialisasi dan pendidikan politik kepada masyarakat, khususnya pemilih pemula

Dibagian lain Thomas Djawa memberi apresiasi kepada Kooperasi Media & Literasi, dan MEDIA CERMAT melalui Pimred media ini, Emanuel Djomba yang telah bersama-sama KPU Menggagas kegiatan ini. Sementara Emanuel Djomba secara terpisah – yang juga menjadi juri dalam kompetisi ini, mengatakan Kooperasi Media & Literasi dan Media Literasi MEDIA CERMAT berkomitmen terus bersinergis dengan pihak manapun yang punya misi dalam mengambangkan budaya literasi.

“Melalui literasi kita akan berupaya menciptakan kultur masyarakat yang melek huruf. Dan generasi yang melek huruf akan menciptakan generasi yang bermartabat. Kita juga apresiasi kepada KPU Ngada yang selalu terbuka kepada stake holder lain dalam memberi masukan dan bersinergis membangun demokrasi. Dalam kaitan dengan Rumah Pintar Pemilu, perlu sinergis semua pihak sehingga wadah ini efektif untuk mencerdaskan  masyarakat dalam berdemokrasi,” kata Djomba.

Rangkaian debat dimoderatori Yohanes Donbosko Ponong dari Kooperasi Media & Literasi. Akhir kegiatan, peyerahan penghargaan dan hadiah kepada peserta dan para juara.(ch)***

Insert foto: Tim debat Recis sempat mendapat perlawanan dari tim debat SMAN 1 Bajawa.

Friday, 19 May 2017


BAJAWA – Sebanyak 42 siswa SMA/SMK se-Kabupaten Ngada mengikuti lomba menulis dan debat yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ngada. Terobosan pertama KPU Ngada dalam fasilitasi Pendidikan Pemilih dan Rumah Pintar. Lomba menulis artikel populer & debat diselenggarakan di Rumah Pintar Pemilu KPU Ngada 19 & 23 Mei 2917 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei.

Lomba ini berangkat dari pemikiran untuk pendidikan pemilih sebagai wahana edukasi akan pentingnya pemilu. Untuk menyebarluaskan eksistensi rumah pintar pemilu sebagai wahana bagi masyarakat agar dapat memahami tentang kepemiluan sehingga dapat mengikuti pemilu secara cerdas. Dan, untuk meningkatkan partisipasi pemilih dalam keseluruhan tahapan pemilu serta meningkatkan pemahaman akan kepemiluan.

Itu sebabnya, wahana lomba yang menyasar siswa SMA/SMK dinilai sangat strategis karena menyentuh langsung pemilih pemula. Setidaknya para siswa sebagai calon pemilih pemula memahami secara utuh tentang proses dan tahapan kepemiluian, pengetahuan kepemiluan dalam membangun demokrasi.
 
Suasana Lomba Menulis di Rumah Pintar Pemilu KPU Ngada
Dalam sambutan ketika membuka kegiatan Lomba, Ketua KPU Ngada, Thomas Djawa mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan setelah diskusi gagasan antara KPU Ngada dengan  Kooperasi Media & Literasi. Lomba menulis & debat sebagai wahana efektif dalam rangka menanamkan pemahaman tentang kepemiluan dan demokrasi dengan sasaran calon pemilih pemula dan memperkenalkan rumah pintar pemilu yang ada di KPU Ngada.

Fasilitasi pendidikan pemilih dengan model lomba menulis & debat, kata Thomas Djawa, baru pertama kali terjadi di NTT yang dilengkapi sarana rumah pintar pemilu, minus Kabupaten Sikka dan Ende. “Kita berharap melalui kegiatan ini berbagai tema tentang kepemiluan mendapat pemahaman yang mendalam melalui proses gali informasi, wawancara narasumber, proses pengamatan kemudian diaktualisasikan melalui kegiatan menulis. Melalui lomba debat, beberapa tema akan diinternalisasi melalui proses perdebatan antar tim dari sekolah-sekolah.

Thomas Djawa berharap, pasca lomba menulis & debat, para siswa yang juga calon pemilih pemula ini menjadi agen pemilu di sekolah dan daerah masing-masing. Mereka bisa menjadi narasumber dalam menumbuhkan demokrasi di sekolah-sekolah melalui ajang pemilihan ketua OSIS yang selama ini sudah mulai tumbuh di sekolah-sekolah.

Lomba menulis digelar 19 Mei dengan peserta 42 siswa. Siswa yang masuk kategori tulisan terbaik masuk ke babak debat yang melibatkan tim dengan masing-masing tim sebanyak 3 orang dan didukung empat suporter dari masing-masing sekolah. Di babak ini akan ada enam sekolah yang akan bertanding mengadu ketangkasan, adu argumentasi dan logika mempertahankan atau menolak mosi yang disajikan KPU.
 
Para siswa Serius mengikuti lomba menulis Artikel Populer di Rumah Pintar Pemilu KPU Ngada
Sebelum kegiatan menulis, Jumat (19/05/2017) lal,  siswa terlebih dahulu dibekali pengetahuan dan beberapa hal teknis tentang kepemiluan dari para komisioner KPU yang dipimpin oleh Ketua KPU Thomas Djawa. Sementara Emanuel Djomba dari Kooperasi Media & Literasi yang juga Pemimpin Redaksi MEDIA CERMAT (Media Literasi) memberi pemahaman dan tips menulis artikel populer.

Di bagian lain Emanuel Djomba selaku narasumber dan juri lomba mengatakan, lomba ini tidak sekedar untuk mendapat juara, apalagi mendapat hadiah semata. Tetapi lebih penting dari itu, melalui kompetisi menulis & debat siswa diasah kemampuan berpikir logis, sitematis dan argumentatis yang kemudian diinternasliasikan serta diaktualisasikan baik melalui tulisan maupun melalui ajang debat.

“Kita berharap melalui kegiatan ini siswa sebagai calon pemilih pemula mendapat pemahaman yang benar tentang kepemiluan. Sumber yang standar itu ada di lembaga KPU yang kini juga disediakan rumah pintar. Sehingga kemudian nanti menjadi pemilih yang cerdas,” pesan Djomba.

Salah seorang peserta yang juga siswa SMAN 1 Bajawa Fransiskus . Ria dalam kesannya kepada panitia mengatakan, kegiatan ini sangat positif. Karena itu dia berharap kompetisi semacam ini selalu digelar sehingga siswa memiliki pemahaman tentang kepemiluan yang benar. Fransisikus yang mengaku baru pertama kali mengikuti lomba menulis mengaku degdegan. Tetapi kalau sering ada kompetisi mungkin akan terbiasa.

Menjelang pertarungan di babak debat, Selasa, para siswa menyaksikan simulasi debat dengan sistem parlemen, oleh dua tim debat dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Kegiatan menulis sehari  itu dipandu oleh Yahones Donbosko Ponong dari Kooperasi Media & Literasi. Babak debat akan digelar, Selasa (23/05/2017) di rumah pintar KPU Ngada dan disiarkan secara langsung melalui Radio RSPD Ngada.(ch)***

Sunday, 14 May 2017


BAJAWA – Forum Masyarakat Peduli Bowali (FMPB) menolak penggunaan dana desanya untuk kontrak lapangan sepak bola. Aksi penolakan akan digelar, Senin (15/05/2017) besok, di Kantor Kepala Desa Bowali. Guna menyampaikan aspirasi sebagian besar warga, FMPB melayangkan surat pemberitahuan kepada  kepala desa sekaligus minta kesediaan menerima masyarakat yang tergabung dalam forum ini.

Surat pemberitahuan penyampaian aspirasi yang juga diterima redaksi vigonews.com, Minggu (14/05/2017) petang itu,  ditandatangi Ketua FMPB, Agustinus M. Th. Bhae. Surat tersebut ditembuskan juga kepada Bupati Ngada, Ketua DPRD Ngada, Kepala BPMD PP, Danramil 1625-01, Kapolres Ngada, Camat Bajawa, Babinsa Desa Bowali, Babinkam Desa Bowali, dan tokoh masyarakat desa Bowali.

Sesuai perihal surat tersebut, FMPB akan menyampaikan aspirasi penolakan pembangunan lapangan sepak bola dengan sistem kontrak tanah milik suku Gero yang berlokasi di RT 07, Dusun 04, Boba, Desa Bowali. Kontrak dimaksud menggunakan dana desa tahun anggaran 2017.

Forum ini menduga ada yang tidak beres dengan rencana kontrak lapangan menggunakan dana desa. Karena, ketika pramusrembangdes, program yang diprioritaskan pertama adalah pembangunan infrastruktur jalan yang menghubungkan beberapa kampung dan ke kantong-kantong ekonomi desa, pembangunan deker, pendidikan dan kesehatan. Namun anehnya ketika penetapan malah yang jadi P1 (prioritas satu) kontrak lahan untuk lapangan sepak bola.

Menurut Agustinus, kontrak lahan untuk lapangan sepak bola yang sudah ditetapkan itu terlebih dahulu dilakukan pengusuran lahan dengan biaya yang direncanakan dari dana desa lebih dari Rp 320 juta. Namun mekanisme kontrak hingga saat ini belum pernah dibicarakan. Hanya, dana yang dialokasikan Rp 320 juta itu untuk gusur saja.

Mekanisme kontrak juga tidak dijelaskan, akan seperti apa? Karena dalam ketentuan penggunaan dana desa tidak mengatur hal itu. Kecuali jika ada pihak ketiga mengontrak aset desa itu memang diatur, sebagaimana diatur dalam Permendagri No 1 tahun 2016 tentang pengelolaan aset desa, pasal 1 poin 11. “Tetapi desa mengontrak aset publik – itu sudah kami cari referensinya tidak ada,” katanya.

Selanjutnya, jelas Agustinus, pihaknya juga keberatan berdasarkan pertimbangan, bahwa usai masa kontrak, aset itu tidak bisa menjadi milik desa. Padahal dana desa yang dikeluarkan sangat besar. Tahun pertama saja Rp 320 juta hanya untuk gusur, tahun berikut masih harus keluar dana lagi untuk fasilitas lain yang dikabarkan akan bangun lapangan voli dan kolam renang serta penataan lingkungan sekitar. Air saja susah kok bangun kolam renang.

Kontrak dengan sistem bagi hasil 40 – 60 persen dinilai forum ini, hal yang mustahil. Siapa yang akan menyewa lapangan sepak bola itu?  Lalu perjanjian bagi hasil masuk akal tidak? Bagi warga, lapangan sepak bola bukan urusan yang urgen, karena saat ini latihan sepak bola masih bisa menggunakan lapangan di SDN Radha di desa itu. “Jadi bagi kami pembangunan lapangan sepak bola ini tidak ada hal yang urgen. Kita masih lebih membutuhkan saarana/prasarana jalan, bidang pendidikan, dan kesehatan.

Masyarakat, sebagaimana dikemukakan salah seorang tokoh yang juga panasehat FMPB, Arnoldus Naru, jadi bingung. Ini sisitemnya bagaimana? Semuanya tidak jelas. Kontrak berarti setiap tahun harus mengeluarkan dana desa selama 25 tahun dari rencana kontrak. Atau bagaimana? Kemudian diperoleh informasi nanti ada pembagian hasil dari penyewaan lapangan  60 persen untuk suku Gero (pemilik tanah) dan 40 persen untuk desa.  

“Lapangan sepak bisa menjadi salah satu kebutuhan masyarakat tetapi bukan yang utama. Jadi tidak perlu buru-buru. Apalagi pakai sistem kontrak. Kami lebih bisa terima kalau tanah dibeli sehingga kemudian menjadi aset desa. Bukan kontrak dan setelah desa bangun, besok lusa tidak jadi aset desa. Ini yang untung siapa?,” jelas Arnoldus.

Sesuai surat yang diterima redaksi vigonews.com, 84 warga yang merupakan representase 84 kk menandatangani pernyataan dukungan kepada forum guna menyampaikan aspirasi secara terbuka di kantor desa. Meski begitu, FMPB sudah menyiapkan pernyataan penolakan secara tertulis, dan siap melakukan dialog dengan pemerintah desa. “Siap atau tidak siap, kami tetap akan datang untuk menyampaikan aspirasi ini,” kata Agustinus.

Ketika melayangkan surat, kata Agustinus, Kepala Desa Bowali  Fransiskus Ana Meo berkeberatan untuk melayani FMPB yang akan menyampaikan aspirasi, Senin besok. Malah Fransiskus mempertanyakan legalitas FMPB.  Namun, forum tetap akan melakukan aksi mereka Senin. “Surat tembusan sudah kami sampaikan ke instansi terkait. Jadi diterima atau tidak, Senin kami tetap melakukan aksi untuk menyampaikan aspirasi masyarakat menolak kontrak lahan untuk lapangan sepak bola itu,” jelas Agustinus.

Sehubungan dengan rencana tersebut, redaksi vigonews.com, Minggu petang menghubungi Kepala Desa Bowali,  Fransiskus Ana Meo melalui ponselnya. Namun beberapa kali dihubungi, ponselnya sedang tidak aktif. (ch)***

Foto: Lapangan sepak bola yang ada di SDN Radha, Desa Bowali, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Selama ini jadi tempat untuk orang muda berolah raga.