Responsive Ads Here

Friday, 9 March 2018

Wakil Bupati Ngada, Drs. Paulus Soliwoa -  

Kita baru saja meluncurkan media penyuluhan GITA DESA. Penerbitan media ini diharapkan menjadi wahana informasi dan edukasi kepada masyarakat dalam menyukseskan program ‘Go Organik’ yang sudah dicanangkan akhir tahun 2017 lalu.

Masyarakat tentu akan bertanya, mengapa harus organik? Cara paling mudah untuk menciptakan hidup sehat, adalah menciptakan sistem penanaman organik. Organik itu mudah dan murah, karena alam sekitar kita telah menyediakan semuanya, tinggal bagaimana memanfaatkan dan menggunakannya dengan baik. Ketika ketahanan pangan mulai menghadapi berbagai persoalan lingkungan hidup, maka pertanian organik menjadi jawaban solusinya.

Fenomena yang mulai muncul saat ini adalah produksi mulai menurun yang artinya terjadi kejenuhan produktivitas. Ini merupakan petunjuk bahwa efisiensi pemupukan telah menurun. Salah satu penyebab adalah kurangnya perawatan dan pelestarian sumber daya tanah yang menyebabkan kesuburannya merosot secara kimia, fisika maupun biologi tanah.
Atas alasan ini, maka pertanian organik sebagai tawaran solusi bagi masa depan pertanian dan kelestarian lingkungan yang menjamin kesehatan bagi umat manusia. Karena pertanian organik memiliki keuntungan: (1) harga produksi dapat dijual lebih tinggi karena sehat untuk dikonsumsi; (2)  hasil lebih manis dikarenaka unsur hara makro sampai mikro; (3) ramah lingkungan karena penerapannya ramah lingkungan; (4) biaya yang dikeluarkan lebih kecil karena bahan yang digunakan merupakan bahan alami yang ada di sekitar kita.
Ketersediaan pangan organik diharapkan akan mengubah gaya hidup masyarakat dengan gaya hidup sehat. Apa yang disajikan di meja makan kita semuanya berasal dari pertanian. Kalau di lahan pertanian diolah dengan cara-cara yang sehat, tentu yang tersaji di meja makan juga sehat. Sebaliknya jika diolah tidak sehat di lahan pertanian, tentu senyum di meja makan adalah senyum kecut bagi kehidupan itu sendiri.
Karena itu, launching program ‘Go Organic’ harus menjadi titik balik bagi kita secara bertahap kembali ke system pertanian organik yang sudah diwariskan leluhur zaman dulu. Tidak heran usia orang zaman itu menjadi jauh lebih panjang daripada orang zaman sekarang ini.
Namun yang paling penting bahwa program yang sudah kita luncurkan ini harus ditindaklanjuti dan diimplementasikan melalui kerja-kerja ril - mulai dari Dinas Pertanian. Kepada masyarakat perlu ada intervesi sehingga daya terobos akan semakin kuat untuk menyukseskan program ini. Intervensi dari pemerintah dengan memberi kemudahan terkait dengan ketersediaan benih dan pengadaan pupuk organik yang mudah didapat oleh petani.  Kita tidak bisa tunggu untuk bergerak. Aspek anggaran perlu didorong sehingga mendukung program-program yang sudah direncanakan. Kita perlu genjot pertanian karena memang potensi kita pada sektor pertanian ini.
 
Pemimpin Redaksi Majalah Gita Desa  Emanuel Djomba (Kedua dari kanan) menyerahkan Majalah Gita Desa edisi perdana kepada Wabup Paulus Soliwoa didampingi Kadis Pertanian Paskalis Wale Bai (kiri) dan Sekdis Pertanian Hubert Jelalu (Kanan) di Cafe Maidia, Bajawa belum lama ini.
Harus dimulai dari sekarang, dengan terus mengajak masyarakat dan memberi edukasi agar tumbuh kesadaran dan niat baik dalam mengembangkan pertanian yang sehat, yakni yang berbasis organik. Cita-cita komoditi pangan kita ke depan harus dihasilkan dengan cara-cara yang sehat. Kalau dari kebun dan sawah kita pangan diproses secara sehat, maka sudah pasti apa yang kita makan juga sehat.
Kita harus ingat bahwa pasar produk pertanian organik cukup menjanjikan. Permintaan dalam mendukung pariwisata menghendaki produk pertanian seperti beras, sayuran dan buah harus berasal dari pengeloloaan secara organik. Permintaan pangan organic kini terus meningkat. Tak itu saja, pengembangan pertanian berbasis organik bahkan dapat dikembangkan sebagai obyek wisata baru. Ini sebagai bentuk diversifikasi  atraksi wisata baru, yakni agrowisata. Contoh di Wolobobo dan Hedhakela yang ke depan diharapkan menjadi tujuan kunjungan pelancong.

Kita memang menargetkan tahun 2021 Ngada sudah ‘Go Organic.’  Namun tetap melalui proses dan disain program yang baik sehingga proses implementasinya bisa dilakukan tahap demi tahap. Kalau pun tidak 100 persen pada tahun itu, kita berharap tahun 2021 di akhir masa jabatan kami sudah mencapai target 60 persen masyarakat Ngada ‘Go Organic.’

Terkai dengan peluncuran media edukasi dan informasi dalam mendukung program ‘Go Organic’, ini menjadi salah satu support  agar program ini cepat tersebar dan melalui media masyarakat dapat teredukasi dengan tepat.

Itu sebabnya, saya menghimbau para kepala desa, kelompok tani dan semua instansi terkait, agar secara ril memberi dukungan dengan memanfaatkan media yang ada sebagai sarana untuk mendapatkan informasi penyuluhan. Melalui media ini juga menjadi wahana dalam tukar-menukar informasi tentang berbagai kiat pengembangan pertanian organik dan aspek pembangunan desa lainnya. ***

Disampaikan pada saat peluncuran Majalah GITA DESA
Tanggal 8 Januari 2018


SMPN Satap 3 Wolomeze bagai melewati jalan terjal menuju sekolah berkualitas -  

WOLOMEZE - Menuju sekolah yang berkualitas memang tidak mudah. Tetapi juga tidak terlalu sulit jika ditunjang daya dukung yang memadai.  Persoalannya  adalah masalah tenaga guru dan fasilitas sekolah yang belum lengkap. Inilah jalan terjal SMPN Satap 3 Wolomeze di Ndekondenu, Desa Mainai, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada.

Mendidik lebih dari 100 siswa bukan perkara mudah di tengah masalah tenaga guru. Jumlah siswa sebanyak itu dibagi dalam tiga rombel. Tetapi ironinya hanya satu tenaga guru PNS disekolah ini, yakni kepala sekolah. Sedangkan 10 guru lainnya masih berstatus guru honor.

Bagaimana bisa mengejar kualitas, kalau honor guru sangat kecil. Hari-hari sebelumnya guru honor memang dibuat resah dan gelisah karena janji pemerintah yang konon jadi program prioritas dibayar bernama Bosdik malah jadi prioritas dihapus tanpa bekas. Para guru kemudian seperti harus mengemis dari kemurahan desa dan komite yang di tahun sebelumnya ditiadakan karena pemeintah kasihan beban rakyat sehingga komite bebas tugas.

Kepala SMPN Satap 3 Wolomeze, Galus Dona menjawab vigonews.com, Jumat (09/03/2018),  mengatakan tidak mudah memaksimalkan kualitas pendidikan kalau semua guru honor yang dibayar tidak setimpal dengan beban kerja. Karena itu pihaknya kadang tidak bisa main paksa mengingat honor mereka kecil. Kalau mereka tetap bekerja kerena menyadari bahwa anak bangsa harus mendapat perhatian. "Meski begitu kita mestinya tetap beri perhatian," kata Galus.

Dikatakan Galus, "soal bayar lebih, kita uang dari mana? Dan ketika mereka mau kerja lebih apa jaminan untuk mereka. Jadi bagaimana dengan honor kecil tetapi kita tuntut kerja profesional.”
 
Siswa berargumen saat bedah koran serangkaian kegiatan literasi sekolah
Di bagian lain, Galus mengatakan pihaknya masih terhibur karena masyarakat masih mengerti sehingga menyanggupi bayar komite dan dengan angka lumayan besar untuk ukuran orang di desa. Hal ini bisa mengisi kekurangan dari BOS yang hanya 15% dan dari dana desa sedikit, sehingga honor guru bisa terbayar antara Rp 750 ribu - Rp 1.250.000  setiap guru honor. 


Kerja Sama RLC

Dalam meningkatkan kualitas, salah satu kegiatan yang dilakukan SMPN Satap 3 Wolomeze adalan menjalin kerja sama pengembangan literasi di sekolah. Kegiatan ini menghadirkan tuan 'Rumah Literasi Cermat' Emanuel Djomba dan staf Agustinus Lando.

Kepala Sekolah SMPN Satap 3 Wolomeze, Galus Dona, ketika itu minta siswa baru mengikuti kegiatan sebaik-baiknya sehingga kegiatan literasi bermanfaat dan membantu siswa dalam proses pembelajaran, penanaman nilai dan pembentukan karakter.

Staf ‘Rumah Literasi Cermat’ Agustinus Lando memperkenalkan kepada para siswa dalam ber-public speaking yang dilanjutkan dengan latihan public speaking atau berbicara di depan umum.
 
Kegiatan literasi sekolah diwarnai bedah koran
Diselingi permainan edukasi, tuan "Rumah Literasi Cermat" Emanuel Djomba memperkenalkan kegiatan literasi sekolah. Kegiatan ini diwarnai dengan bedah koran, membaca efektif dan menulis kreatif.

Untuk mengembangkan kegiatan literasi disepakati kerja sama antara sekolah ini dengan "Rumah Literasi Cermat" melalui Koran Masuk Sekolah (KMS). (ch)***


Wednesday, 7 March 2018

Esthon bertemu dengan pendukungnya di Ngada -  


BAJAWA, vigonews.com – Calon Gubernur NTT nomor 1, Estho L. Foenay selama dua hari berjumpa langsung masyarakat di kampung halaman mereka, di kabupaten Ngada. Esthon hadir bersama masyarakat di Kelurahan Nangamese, Riung, di Golewa dan Bajawa. Sementara Calon Wakil Gubernur Christian Rotok mengunjungi Manggarai.

“Saya datang mau ketemu langsung  dengan masyarakat di kampung halaman masing-masing. Melihat dan mendengar langsung,” kata Esthon saat mulai pidato politik di Riung, Selasa (06/03/2018).

Esthon sebelumnya diterima dengan tarian adat dan pengalungan dilanjutkan dengan makan sirih pinang bersama para tokoh adat, tokoh masyarakat dan mama-mama di Riung. Hal yang tak dilakukan oleh calon lain. Makan sirih pinang memang menjadi ciri khas Esthon L. Foenay. Itu yang dimaksudkannya calon gubernur punya bibir merah.

Baja Juga:

Diapun berseloroh: “Calon gubernur yang bibir merah itu hanya satu, Esthon Foenay di nomor 1, yang berkumis dan kacamata juga hanya Pa Cris Rotok nomor 1. Dan yang dasi merah putih juga hanya di nomor 1. Jadi pilih saja calon nomor satu.” Ratusan warga yang hadir pun menyambut dengan aplaus.

Lebih lanjut dikatakan Esthon, ada sekitar 2 juta lebih warga NTT punya kebiasaan makan sirih pinang. Ini dari segi bisnis menjanjikan, karena dari rakyat biasa sampai gubernurnya makan sirih pinang – jika saya dipercaya jadi gubernur. Salah satu usaha yang bisa dikembangkan dengan mengangkat potensi lokal, dan masih banyak lagi. Tergantung kreativitas mengembangkannya.

Esthon mulai berhitung. Kalau sehari makan sirih pinang tiga kali – tetapi biasanya lebih – dan satu kumpul sirih pinang harganya Rp 5.000, maka sehari orang yang makan sirih pinang mengeluarkan biaya Rp 15.000. “Nah, kalau sekitar 2 juga warga NTT makan sirih pinang dikalikan Rp 15.000, hitung sudah berapa itu,” kata Esthon sambil mengunyah siri pinang, dan disambut hadirian yang sebagian besar mama-mama itu.

Apa yang dikatakan Esthon rupanya diam-diam mulai dikembangkan oleh masyarakat desa Wangka Selatan. Kepada vigonews.com, Selasa warga desa ini, Yohanes Kuri mengatakan, mulai tahun 2018, desa ini mulai dengan gerakan 1000 pohon sirih/pinang. Saat ini harga sirih pinang di pasaran cukup menjanjikan, dengan 5 - 10 lembar daun sirih saja Rp 5000. Peluang ini yang dilirik oleh masyarakat desa setempat.

Esthon mengajak  warga agar dalam menghadapi pilgub ini tetap bersikap santun. Tetap santun dalam berpolitik, agar NTT hari ini lebih baik dari yang kemarin – dan NTT hari esok lebih baik dari hari ini. “Karena dalam politik kita berkompetisi, namun dalam Tuhan kita bersaudara,” katanya.
 
Esthon dielu-elukan pendukungnya
Di hadapan ratusan warga Riung, Esthon menyampaikan berbagai program pembangunan jika dipercayakan rakyat menjadi gubernur NTT. Dia memberi sinyal bahwa ada program yang sudah baik terus dilanjutkan seperti anggur merah, hanya perlu perbaikan dan evaluasi pelaksanaannya.

Prioritas program lainnya fokus pada masalah infrstaruktur dalam arti luas, pendidikan, kesehatan, pertanian dan peternakan, ekonomi dan pariwisata, termasuk di dalamnya kerajinan dan industry kecil. Beberapa agenda seperti  ruas jalan propinsi ke daerah tujuan wisata Riung dan masalah perbatasannya akan menjadi perhatiannya.  Tentu saja jika dirinya dipercaya oleh rakyat.

Di bagian lain, Esthon menegaskan terkait dengan pembangunan bidang kesehatan, semua puskesmas akan ditingkatkan menjadi puskesmas rawat tinggal, sehingga pasien tidak harus ke kabupaten.

Turut hadir dalam kegiatan kampanye paket nomor 1 ini, anggota DPRD Provinsi NTT dari Partai pengusung PAN Agustinus Lobo, dan Gerindra Maksi Ebu To, Ketua DPW Perindo NTT Joenatan Nuba Tonis, Ketua DPD II PAN Ngada Kristoforus Loko, Ketua Gerindra Ngada Laurensius Nau, dan anggota DPRD Ngada dari Partai pengusung PAN Yosef Tote Lambo dan Gerindra Philipus Nono. (ydp)***

Ketua Tim Pemenangan Paket Esthon-Chris Jonathan Nubatonis bersama Esthon di Ngada -  

BAJAWA, vigonews.com – Ketua Tim Pemenangan Esthon-Chris, paket cagub/cawagub nomor 1, Jonathan Nubatonis menegaskan, “jangan pilih pemimpin pulau.” Hal itu dikemukakannya ketika mendampingi Esthon L. Foenay pada kampanye terbatas di Riung, Kabupaten Ngada, Selasa (06/03/2018).

NTT, kata Nubatonis sudah menjadi korban politik primordial – pemimpin pulau. Saat mau pilih, orang ramai-ramai memilih pemimpin dari pulau masing-masing. Akibatnya kita hanya menjadi konsumen pemimpin. “Setiap daerah mau dia punya, akhirnya ke mana-mana di seluruh NTT ini keluh kesahnya tetap sama dari waktu ke waktu,” kata Nubatonis dalam dialeg Timor yang kental.

Dikatakan, salahnya dimana, sudah 60 tahun usia NTT ini. Sudah delapan jagoan (gubernur) pimpin ini propinsi. Tetapi tetap saja sama. Kemana-mana keluhannya tetap sama.

Baca Juga:
Esthon L. Foenay, Calon Gubernur ‘Bibir Merah’
Esthon di Ngada: ‘Orang Muda Semangat, Orang Tua Rendah Hati & Bijaksana’

Selama berkeliling, kata Nubatonis yang juga Ketua Persehatian Orang Timur (POT) ini, lihat kondisi jalan seperti mau ke neraka saja. Keluh kesah yang didengar juga sama baik di Timor, Sumba, maupun di Flores.

“Lalu kita tanya lagi ini kenapa. Salahnya dimana? Ya, karena setiap daerah mau dia punya. Pilih pemimpin (gubernur) maunya dari pulaunya, bukan yang bisa mengatasi masalah. Dan akhirnya itu dia, keluh kesah tetap saja ada,” papar Nubatonis.

Inilah salahnya. Bukan gubernur yang salah. Mestinya pilih yang punya track record bisa mengatasi masalah. Seperti Esthon yang sudah menunjukkan kerja. Dia pernah jadi wakil gubernur, juga jadi Ketua Bapeda. Jadi, dia tahu persis bagaimana mengatasi masalah NTT ini. Pemimpin itu bicaranya sedikit tetapi kerjanya banyak. Kalau politisi itu bicaranya banyak kerja sedikit.
 
Esthon diterima secara adat 
Nubatonis menghimbau, “mari kita hentikan kita punya susah. Supaya waktu naik ke surga tidak susah lagi. Karena surga bukan tempat orang susah – sejahtera dari dunia bukan hanya nanti. Karena itu untuk mengatasi masalah NTT perlu pemimpin yang jujur, punya integritas, sederhana. Bukan pemimpin karena maunya kita, dan dari pulau kita masing-masing.”

Kalau mau ukur kepala daerah, kata Nubatonis, datanglah ke Depnaker dan Imigrasi. Kalau banyak yang pergi merantau cari kerja, artinya karena di daerah tidak disiapkan lapangan kerja. Artinya lagi, pemimpin itu tidak mampu kelolah sumber daya lokal.

“Tetapi kalau kita pilih pemimpin yang tiga tahun pertama masih harus belajar, kemudian dua tahun baru bekerja, maka sampai di akhir masa jabatan kita tinggal liat dia punya foto di kantor gubernur,” seloroh Nubatonis.

“Karena itu, kita juga harus berdoa untuk mendapatkan pemimpin yang baik. Mintalah sama Tuhan sebagai sumber kepemimpinan. Minta sama Tuhan supaya utus orang benar. Hentikan tindakan ‘berdosa’ kita yang selalu memilih pemimpin menurut kita punya mau saja, tanpa minta kepada Tuhan,” kata Nubatonis mengutip Roma, 13.

Turut hadir dalam kegiatan kampanye paket nomor 1 ini, anggota DPRD Provinsi NTT dari Partai pengusung PAN Agustinus Lobo, dan Gerindra Maksi Ebu To, Ketua DPW Perindo NTT Joenatan Nuba Tonis, Ketua DPD II PAN Ngada Kristoforus Loko, Ketua Gerindra Ngada Laurensius Nau, dan anggota DPRD Ngada dari Partai pengusung PAN Yosef Tote Lambo dan Gerindra Philipus Nono. (ydp)***

Esthon L. Foenay kampanye terbatas di tiga tempat  Kabupaten Ngada -  


BAJAWA, vigonews.com – Kampanye Cagub/Cawagub Esthon L. Foenay dan Chritian Rotok di Riung, Selasa (06/03/2018) disambut ratusan warga. Ketua DPD PAN Ngada Kristo Loko membuka pertemuan terbatas itu dengan pidato politik.

“Kita sedang cari pemimpin. Karenanya pilihan tiga partai pengusung – Gerindra, PAN dan Perindo – jatuh pada pasangan Esthon-Chris,” kata Kristo.

Ada yang mengatakan, mereka sudah agak tua! Kata Kristo, anak muda memang punya semangat, tapi orang tua punya kerendahan hati dan kebijaksanaan. “Karena itu NTT perlu kehadiran pemimpin yang bijaksana, rendah hati  dan apa adanya. Tokoh yang dituakan,” beber Kristo.

Baca Juga:
Jonathan Nubatonis: ‘Jangan Pilih Pemimpin Pulau’
Esthon L. Foenay, Calon Gubernur Bibir Merah

Kristo menganalogikan, NTT tidak sedang mencari pemimpin seperti pelari, pemimpin seperti pilot, pemimpin seperti pembalap. Tetapi sedang mencari pemimpin yang rendah hati, bijaksana, jujur dan memiliki integritas tinggi sehinga dapat melayani rakyat NTT. Pemimpin yang berjalan dalam kesederhanaan, bukan pencitraan.

Pada kesempatan itu, Kristo menitipkan penyelesaian masalah perbatasan Ngada – Manggarai Timur dan juga jalan dari ibu kota kabupaten Ngada menuju Riung, dan jalan provinsi Waepana Mbazang. Karena di Riung ada potensi pariwisata yang dapat membawa manfaa ekonomi bagi masyarakat lokal.

Di bagian lain Kristo meyakinkan, dari  data yang dibeberkan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) terakhir terkait dengan Cagub Cawagub NTT periode 2018-2023 paket nomor 1 Esthon-Chris masih menempati posisi teratas sebesar 22,23%. Karena itu kita menjatuhkan pilihan pada paket nomor satu.

"Kalau Esthon-Chris menjadi gubernur karena menang di Sumba dan Timor, semantara kita di Riung kalah, maka kita tidak bisa datang ke pa Gubernur dengan kepala tegak. Ketika pak Eston menang di Riung, pada saatnya kita tidak pernah ragu dan malu menyampaikan aspirasi kita kepada gubernur kita pak Esthon," pinta Kristo Loko.
 
Pendukung Esthon-Chris di Riung
Calon Gubernur NTT Eston Foonay dalam orasi politiknya menyampaikan, dirinya bersama calon wakil gubernur Kristian Rotok ingin membangun NTT berbasis potensi dan karakteristik kewilayahan. Menurut mantan wakil gubernur NTT ini, konteks Riung kabupaten Ngada ini, apabila dirinya bersama Kristian Rotok mendapat kepercayaan sebagai Gubernur dan wakil gubernur NTT periode 2018-2023 maka yang dilakukan pertama adalah peningkatan infrastruktur jalan provinsi dan perhatian destinasi wisata 17 pulau Riung.

Oleh karena itu, dirinya berharap kepada masyarakat  Riung agar bisa memberikam dukungan dan menjatuhkan pilihan pada paket nomor 1 Esthon-Chris. Ketua Gerindra NTT ini berharap masyarakat NTT mampu mengedepankan rasionalitas pilihan pada paket yang  memahami sistem birokrasi dan memiliki hati untuk bangun NTT.

Semantara itu Anggota DPRD PAN Provinsi NTT Agustinus Lobo dalam orasi politiknya menyampaikan pentingnya memenangkan gubernur dan wakil gubernur yang searah dengan partai pengusung. Dalam kaitannya dengan penyerapan aspirasi masyarakat dan keputusan anggaran pasti gubernur akan memperhatikan kepentingan  dari anggota DPRD partai pengusung. Sehingga DPRD Provinsi PAN yang juga putra asli Ngada ini kembali berharap kepada pemilih di Riung untuk memenangkan paket Esthon-Chris.

"Kita harus menangkan paket Nomor satu Esthon-Chris, agar dalam memperjuangkan nasib rakyat kedepan akan jauh lebih mudah. Karena kami dilegislatif  dengan eksekutif dari sisi visi perjuangan partai sama," kata Agus Lobo.

Turut hadir dalam kegiatan kampanye paket nomor 1 ini, anggota DPRD Provinsi NTT dari Partai pengusung PAN Agustinus Lobo, dan Gerindra Maksi Ebu To, Ketua DPW Perindo NTT Joenatan Nuba Tonis, Ketua DPD II PAN Ngada Kristoforus Loko, Ketua Gerindra Ngada Laurensius Nau, dan anggota DPRD Ngada dari Partai pengusung PAN Yosef Tote Lambo dan Gerindra Philipus Nono. (ydp)***

Kasat Lantas Polres Ngada berkunjung ke SMPN 1 Bajawa


BAJAWA, vigonews.com –  Anak SMP belum diperbolehkan mengendarai sepeda motor sendiri. Karena itu, orang tualah  harus mengantar anak-anak ke sekolah. Demikian dikemukakan Kasatlantas Polres Ngada,  AKP. Sudirman S.sos, saat mengunjungi SMPN 1 Bajawa, Rabu (07/03/2018).

Dikatakabn Sudirman,  perlu adanya kesadaran orang tua dalam mengijinkan kendaraan bermotor bagi anaknya. Ada usia-usia tertentu yang diijinkan namun di usia SMP orang tua sangat dianjurkan untuk tidak mengijinkan anaknya mengendarai kendaraan bermotor ke sekolah.

Sudirman mengharapkan orang tua untuk menghantar anaknya ke sekolah.
"Jika ke sekolah minta bapa mama antar, kamu jangan bawah sendiri motor, dalam berkendaraan perlu diketahui etika berkendara," tandas Sudirman kepada ratusan siswa di sekolah itu.

Sementara, Kepala SMPN 1 Bajawa Maria C. Imelda menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kasatlantas dan Anggota yang hadir. "Kami menyampaikan terima kasih Bapak Kasatlantas sudah datang untuk membantu pihak sekolah dalam hal mengatasi masalah remaja berkaitan dengan tata tertib  berlalu lintas, pejalan kaki, anak -anak yang sudah bisa bersepeda motor, lebih-lebih anak sekolah,” katanya.
 
Sosialisasi UU No 22 tahun 2009
Maria Imelda berharap, mudah-mudahan anak-anak mengerti dan mengimplementasikan serta manyampaikan hal penting ini kepada orang tua di rumah sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap anak-anak spensa.

Kanit Dikiyasa Satlantas Polres Ngada, Aipda. Khaerudin dalam wawancara disela-sela kegiatan, berharap jalinan mitra ini terus dibangun agar ada kerjasama antara pihak SMPN 1 Bajawa dengan pihak Kepolisian Resort Ngada untuk menangani kenakalan remaja di jalan raya.

Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polisi Resort Ngada (Polres) mengunjungi SMPN 1 Bajawa untuk melakukan sosialisasi  Kasatlantas POLRES Ngada AKP. Sudirman S.sos.

Hadir bersama dengan Kasatlantas dalam kunjungan itu Kanit Dikiyasa, Aipda. Khaerudin, Bripka Dorothea Longa, Brigpol Messy A. Maakh.  Dalam arahannya Akp. Sudirman menjelaskan UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. sebagaimana diatur dalam Undang-Undang dimaksud. (Uno Ignatio)***

Esthon L Foenay mengunjungi Dojo SMAK Regina Pacis Bajawa -  


BAJAWA, vigonews.com – Esthon L. Foenay bertandang ke SMAK Regina Pacis, Bajawa, Rabu (07/03/2018) petang. Penampilannya yang sederhana dan penuh kesahajaan, Esthon tiba di Recis diterima hangat oleh Kepala Sekolah Rinu Romanus, para guru dan para siswa.

Kehadirannya jauh dari kesan hiruk pikuk sebagai calon gubernur yang kini sedang dalam masa kampanye. Tak ada atribut partai melekat pada dirinya. Esthon hadir  lebih sebagai  Ketua Umum Persaudaraan Bela Diri Kempo (Perkami) NTT.  Dia bercengkrama penuh keramahan di Dojo SMA Katolik Regina Pacis Bajawa. 

Esthon, jauh dari kesan formal ketika berada di komunitas SMAK Regina Pacis ini. Diselingi jok-jok segar, dia  bincang-bincang santai. Namun sesekali dia bicara soal yang penting, tentu saja berkaitan dengan kapasitasnya sebagai Ketua Umum Persaudaraan Bela Diri Kempo (Perkami) NTT dan pembinaan generasi muda.

“Kempo NTT ini terbaik di Indonesia. Baru-baru ini tim kempo NTT sempat dikirim ke Amerika Serikat. Bahkan salah satu atlet kempo asal Manggarai mampu mengalahkan atlet kempo Amerika,” urai Esthon.

Menurut Esthon, dalam bela diri ini setiap pribadi dididik untuk hidup sehat, disiplin, kuat dalam iman, pengetahuan dan karakter.

Sementara, Kepsek Rinu Romanus dalam sapaanya menyampaikan terima kasih karena sudah mengunjungi Recis dengan berbagai motivasi agar gerakan bela diri Kempo masuk sekolah tetap dirawat dan terus di hidupi.

“Dan jika nanti Tuhan merestui, Bapak Eston untuk memimpin NTT, jadilah pemimpin universal – tanpa membeda-bedakan, inklusif serta bijaksana dalam menghadapi berbagai komplektisatas kebutuhan masyarakat dengan baik,” pesan Roamnus.

Romanus berharap   pada Esthon jika terpilih agar mengembangkan semangat literasi untuk pembentukan sumber daya manusia para generasi harus diperhatikan dengan baik dengan tidak mempersoalkan antara sekolah swasta ataupun Negeri.

Dan acara persaudaraan ini di tutup dengan guyon oleh Eston "Bae sonde bae, Recis Bajawa lebih bae.” Dalam bela diri, orang Bajawa sekali pukul tiga kali terbaik.

Perlu diketahui bahwa Kempo di Ngada berdiri sejak tahun 1995 yang di inisiasi oleh simpai Ansel dan simpai Beni Jawa. Sedangkan di Recis Bajawa, masuk 12 September 2018 dan berjalan hingga saat ini.(Boy Zanda)***