Responsive Ads Here

Monday, 12 March 2018



Oleh Bonefasius Zanda
Guru SMA Katolik Regina Pacis

Momen rohani melalui pelayanan Sakramen Tobat seperti yang terjadi di SMA Katolik Regina Pacis Bajawa, pekan ini, seperti menggelitik saya. Melalui momen rohani ini pertobatan merujuk pada metanoia dan literasi yang menyentuh cara berpikir dan menuntut kepekaan.

Perayaan sakramen tobat di Sekolah Katolik ini jika ditelisik,  tak lagi sekedar rutinitas belaka menjelang setiap perayaan besar keagamaan. Sebaliknya mengembalikan semangat  pertobatan sebagai sebuah metanoia berbasis literasi yang mengantarkan personal dari cara berpikir manusiawi menuju cara berpikir  Tuhan.  Karena cara berpikir Tuhan adalah cara berpikir yang sempurna, maka pertobatan memang tidak pernah berhenti sampai kita mati. Pertobatan haruslah merupakan aktivitas literasi berkelanjutan.

Semangat pertobatan di komunitas sekolah ini merupakan upaya yang terus menerus memancarkan wajah Kristus sebagai literat sejati yang rela menderita, wafat dan bangkit untuk menyelamatkan manusia.

Semangat pertobatan (metanoia) harus diakrapi oleh guru dan siswa meski dalam realitas kita masih terus jatuh, namun dengan berliterasi metanoia kita diberi semangat untuk bangkit kembali dari kejatuhan, sebagaimana diteladani Kristus Sang literat sejati.

Pertobatan orang percaya adalah perubahan cara berpikir. Dari cara berpikir anak-anak dunia ke cara berpikir anak Tuhan. Inilah yang disebut sebagai metanoia. Masalahnya, sejauh mana perubahan cara berpikir iru? Jika perubahan cara berpikir belum sampai seperti cara berpikir Tuhan, maka tidak boleh berhenti bertobat.

Cara berpikir yang berdayaguna bertolak dari apa yang didengar.karena iman timbul dari pendengaran, pengaran akan Firman Kristus (Roma 10:17). Dalam hal mendengar firman yang benar akan mencerdaskan roh. Hal ini membangkitkan kepekaan terhadap kehendak Tuhan dan gairah melakukannya. Bertolak dari cara berpikir Tuhan yang sempurna itulah, maka pertobatan memang tidak pernah berhenti sampai kita mati.

Ketika RD Dan Aka, Pr dan Pater Albert, OCD memberi pelayanan sakramen tobat, itu bukan sekedar  rutinitas tanpa makna. Namun sebaliknya, kedua imam ini sebenarnya masuk dalam proses berliterasi metanoia secara mendalam, sehingga terjadi dialektika spiritual antara pelayan dan yang dilayani. Dia aras ini, tugas para imam adalah ikut memancarkan wajah Kristus yang menderita untuk menebus dosa manusia, dan membimbing menuju cara berpikir Tuhan yang sempurna.

literasi metanoia adalah wahana mensuplai kekuatan baru, menjernihkan pikiran, serta membangun sebuah komitmen pribadi yang tangguh terkait pemurnian identitas sebagai individu yang beragama. Artinya individu bergama bukan saja dilegitimasi oleh KTP, tapi lebih daripada itu harus ditunjukkan dalam tutur dan aksi yang mampu memberdayakan diri dan juga sesama dari godaan-godaan yang sempit. 

Itu sebabnya, ajaran moral hendaknya dicintai dan dihayati secara benar. Relasi murid dan guru selalu didasari oleh semangat kerendahan hati untuk saling mendengar, saling belajar,  saling melengkapi satu sama lain. Sehingga terciptalah ruang belajar:" semua murid adalah guru dan semua guru adalah murid".

Selain itu, dapat terjadi pemurnian identitas. Guru mampu menempatkan dirinya dan juga murid mampu menempatkan dirinya pula. Dan niscaya kekerasan dalam dunia pendidikan pasti takan pernah ada. 

Oleh karena itu menghidupi literasi di sekolah yang dinafaskan  oleh semangat dan kesadaran metanoia adalah kebutuhan yang tetap dihidupi sepanjang masa. Dan sebuah Lembaga Pendidikan akan tetap menjadi rahim sumber kesejukan bagi guru dan murid yang pada akhirnya akan melahirkan generasi-generasi yang cerdas otak, otot, berintegritas, dan bermoral.***

Siswa SMPN Satap Malafai mengikuti Rekoleksi yang mengangkat tema tentang media sosial, diselingi permainan -   

WOLOMEZE, vigonews.com  - Sekitar 26 Siswa SMPN Satap 2 Wolomeze dan 40 siswa SDI Malafai, Desa Nginamanu Selatan, Kecamatan Wolomeze, Minggu (11/03/2018) mengikuti kegiatan rekoleksi.

Kegiatan rekoleksi yang diselenggarakan Seksi Pewartawan Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM) Kurubhoko itu mengangkat tema “Memperkenalkan Media Sosial Sejak Dini,” kepada para siswa  di desa, sembari memberi edukasi tentang dampak positf dan negatif media sosial.

Dalam sesi rekoleksi yang dipandu oleh tuan Rumah Literasi Cermat (RLC) Ngada Emanuel Djomba, siswa diperkenalkan dengan jenis-jenis media sosial. Para siswa terlihat serius mendengar penjelasan yang diselengi dengan film animasi tentang medsos.

Pada awal sesi, Djomba yang juga Pemimpin Redaksi Majalah Pendidikan & Literasi Cermat itu mengajukan pertanyaan kepada anak-anak desa yang terlihat lugu. Siapa yang di rumah sudah punya hand phone? Terllihat hanya segelintir yang mengacungkan jari.
 
Siswa SDI dan SMPN Satap Malafai
Para siswa juga belum mengenal media sosial secara baik. Apakah ada yang bisa main facebook? Semua siswa tampak bingung! Namun ketika ditanya lagi hingga ketiga kalinya, dua-tiga orang siswa SMP menjawab, ada. Namun tetap tidak ada yang mengacungkan tangan. Beberapa detik setelah suasana agak hening, Faris salah seorang siswa SMP mengatakan: “Ada pa, tetapi hari ini dia tidak datang.”

Tentu saja ini berbeda dengan anak-anak di kota yang sejak SD kelas tinggi hingga SMP sudah fasih bermain di sosial media. Meski jaringan telekomnukasi hari-hari ini sudah mengjangkau daerah terisolir, namun belum banyak siswa di desa yang mengaksesnya. Kalaupun orang tua yang kebetulan punya HP sering mengakses media sosial, anak-anak hanya mengintip dan taunya melihat foto-foto.

Usai memberi rekoleksi menjawab vigonews.com, Emanuel Djomba mengatakan, tema ini sebenarnya relefan diberikan kepada orang tua sehingga mereka punya pemahaman tentang dampak media sosial, agar dapat memberi edukasi kepada anak-anak di rumah. Banyak juga orang tua yang belum paham menggunakan media sosial

“Meski begitu, diberikan kepada siswa SD dan SMP juga tidak salah, untuk mengenalkan jenis media sosial kepada mereka dengan memberi edukasi terkait dampak penggunaannya. Tentu saja metode yang digunakan tidak seperti orang dewasa – rekoleksi diwarnai permainan dan nonton cuplikan film animasi,” beber Djomba.

Untuk siswa SMP, sesi rekoleksi juga diajak untuk menelisik berbagai kasus kejahatan akibat penggunaan media sosial yang serampangan, tak terukur dan tak bijak. Banyak kasus penipuan, kejahatan seksual terjadi karena penggunaan media sosial yang tidak hati-hati. Siswa SMP secara  berkelompok diarahkan untuk membedah berbagai kasus yang terjadi dari klimping media masa.

Melalui momen refleksi siswa kemudian menyadari dampak negatif  penggunaan media sosial membahayakan kehidupan. Karena itu refleksi dari setiap kelompok, mereka berjanji kelak nanti akan menggunakan media dengan hati-hati dan bijaksana. Tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal, dan baru akan menggunakan media sosial pada waktu yang tepat.
 
Siswa melaporkan diskusi 
Bagian akhir siswa diajak dalam refleksi sederhana tentang penggunaan media sosial dalam terang Injil sebagai bentuk pelayanan kepada orang lain. Melalui sikap dan tindakan yang baik penggunaan media sosial juga bagian dari mewartakan kebaikan.

Penggunaan media sosial memudahkan manusia untuk melakukan komunikasi yang berdayaguna antara satu dengan yang lain, dan bukan sebaliknya. Media sosial harus merupakan wahana komunikasi yang mempu mendekatkan yang jauh dan bukan malah menjauhkan yang dekat, bahkan terasing dengan lingkungan sosial.

Kepala SMPN Satap Malafai, Wisnu Muwa merespons positif rekoleksi dengan tema mengenalkan media sosial kepada para siswa. “Memang siswa di kampung ini belum banyak tau tentang medsos. Mereka juga belum pernah mengaksesnya. Tetapi mengenalkan kepada mereka menyusul dampaknya perlu disampaikan sejak dini. Sehingga kelak nanti menggunakan mereka akan ingat akan bahaya-baya dan keuntungan penggunaan medsos yang pernah mereka peroleh,” beber Wisnu di Malafai.

Dalam rekoleksi ini hadir Kepala SMPN Satap 2 Wolomeze di Malafai, Wisnu Muwa, Kepala SDI Malafai Ona Ngina Deu, Seksi Pewartaann Paroki MRPM Amatus Noy, para pendamping sekami: Mersi Ida, Maksima Mika, Serina dan Ketua Stasi Malafai Emanuel Pa’i. (AL)***

Friday, 9 March 2018

Perempuan di Marotauk, Desa Sambinasi Barat, bentuk poros Hortikultura dengan dukungan Yayasan CASIRA -  


BAJAWA, vigonews.com –  Dengan dukungan dua yayasan solidaritas internasional, penyuluh pertanian swadaya Mikhael Raga  mengembangkan hortikultura berbasis pertanian organik kepada kelompok perempuan di pantai  utara (Pantura) Ngada, tepatnya di kampung Marotauk, Desa Sambinasi Barat, Kecamatan Riung.

Dua lembaga itu masing-masing Rotary Club dan Casira Group dari Quebec, Kanada. Rotary bekerja sama dengan Yayasan Caritas Keuskupan Agung Ende  menyediakan sarana air bersih, sementara Casira mendorong dan membiayai kelompok masyarakat untuk berkebun. Keduanya adalah lembaga internasional yang bergerak dalam kegiatan solidaritas dengan semboyan ‘Terre Sans Fronsierre – Dunia tanpat Batas.  Melayani siapa saja tanpa membedakan suku agama, ras dan antar golongan.

Mikhael menjawab vigonews.com, Sabtu (10/03/2018) mengatakan, Sambinasi Barat menjadi pilihan setelah melakukan survey bersama tim dari Casira Group 27 Februari lalu. Tim yang berjumlah 26 orang itu kemudian menyetujui membiayai dimulainya pengembangan hortikultura di desa tersebut.
 
Kunjungan dari Yayasan Casira serangkaian survey di Marotauk
Mikhael sebagai penyuluh pertanian swadaya memilih daerah pantai karena di sana minim ketersediaan sayur-mayur dan buah. Ini menjadi proyek kedua di lahan kering setelah proyek yang sama menyasar salah satu kelompok tani di Keluarahan Foa di Kecamatan Aimere, pantai selatan (Pansel) Ngada. Tak dinyana, Mikhael dengan dukungan dua yayasan ini seperti sedang ‘mengepung’ ngada dengan membuka poros selatan – utara kabupaten Ngada. Karakter kedua wilayah ini adalah daerah kering sehingga masyarakat sulit mendapatkan sayuran.

Setelah melakukan survey, Kamis (08/03/2018) selaku penyuluh pertanian swadaya, Mikhael turun lagi ke Sambinasi Barat. Kegiatan kali ini untuk mendampingi 14 KK yang sebagian besar perempuan (ibu rumah tangga) melakukan persiapan lahan dan pembibitan.

Dikatakan, setiap KK menyiapkan lahan pekarangan sekitar 1,5 are dan bersama-sama juga mengerjakan lahan percontohan sekitar 15 are. Jadi total lahan di kelompok tani baru ini – kelompok karena minat, sekitar 36 are.
 
Pemandangan Marotauk, desa Sambinasi Barat
Di atas lahan-lahan keluarga itu akan ditanami berbagai jenis sayur dan buah seperti; tomat, kangkung, terong, cabe, kacang panjang, sawi, semangka. Lebih dulu akan ditanamin sawi dan kangkung darat. Sementara itu, saat ini bibit sayuran sudah disemai yang semuanya dikerjakan oleh perempuan di kampung itu.

Kelompok tani ini, kata Mikhael hampir semua perempuan, karena para bapa/suami mereka beraktivitas sebagai nelayan. “Ini cukup efektif untuk dikerjakan para ibu saja, karena pekerjaan tidak terlalu berat, Paling-paling hanya siap lahan dibantu bapa-bapa. Proses selanjutnya bisa dikerjakan para ibu dengan persediaan air yang sudah dibangun atas biaya Rotary Club,” kata Mikhael.
 
Rombongan Casira di Sambinasi Barat
Pemilihan tempat ini bukan tanpa alasan. Desa Sambinasi Barat yang berada di Pantura Ngada termasuk kawasaan kering dan langka persediaan sayuran dan air bersih terbatas. Sehingga setelah Rotary menyediakan air bersih, Casira menyusul dengan pengembangan hortikultura bagi warga. Dengan begitu kebutuhan pangan seperti sayuran bisa terpenuhi bagi warga di sana.

“Kita berharap, kelompok ini akan menjadi poros horti di Pantura Ngada. Karena di Ngada selatan sudah ada kelompok (poros) horti juga yang dikembangan di kelurahan Foa, Kecamatan Aimere. Selanjutnya dari poros ini akan tumbuh minat masyarakat sekitar untuk mengembangkan hortikultura di setiap pekarangan rumah demi memenuhi kebutuhan keluarga,” jelas Mikhael.
 
Bak air - sarana air bersih yang sudah dibangun oleh Rotary Club bekerja sama dengan Yayasan Caritas Keuskupa Agung Ende
Untuk diketahui, beberapa tahun sebelumnya, poros horti bergerak di pansel Ngada, melibatkan perempuan di Kelurahan Foa yang tergabung dalam kelompok Mawar. Saat ini sekitar 14 anggota kelompok sedang menikmati (panen) kacang panjang, paria jumbo. Sedangkan terung dan tomat sedang dalam proses persemaian. Semangka sedang berbunga dan akan panen sebentar lagi.

Seperti juga di Kelompok Mawar, Foa, Casira juga membantu Saprodi (Sarana produksi) untuk kelompok tani baru di Marotauk, Desa Sambinasi Barat. Kata Mikhael, selama ini produksi hortikultura identik dengan Bajawa, ternyata di kawasan kering pun asal ada sumber air semua bisa dibudidaya. Itu yang mendorongnya untuk mengembangkan lebih lanjut di pantura setelah sukses di pansel.
 
Rombongan berjalan kaki serangkaian reakreasi saat survey di Sambinasi Bara
Ini semacam poros horti untuk mengikat (menyatukan) Ngada dalam pemenuhan pangan secara merata bagi warga. Dan yang lebih penting kata Mikhael, semua pengembangan horti kita berbasis organik. Pangan tersedia tetapi juga sehat untuk dikonsumsi.***

Oleh:  Emanuel Djomba

Wakil Bupati Ngada, Drs. Paulus Soliwoa -  

Kita baru saja meluncurkan media penyuluhan GITA DESA. Penerbitan media ini diharapkan menjadi wahana informasi dan edukasi kepada masyarakat dalam menyukseskan program ‘Go Organik’ yang sudah dicanangkan akhir tahun 2017 lalu.

Masyarakat tentu akan bertanya, mengapa harus organik? Cara paling mudah untuk menciptakan hidup sehat, adalah menciptakan sistem penanaman organik. Organik itu mudah dan murah, karena alam sekitar kita telah menyediakan semuanya, tinggal bagaimana memanfaatkan dan menggunakannya dengan baik. Ketika ketahanan pangan mulai menghadapi berbagai persoalan lingkungan hidup, maka pertanian organik menjadi jawaban solusinya.

Fenomena yang mulai muncul saat ini adalah produksi mulai menurun yang artinya terjadi kejenuhan produktivitas. Ini merupakan petunjuk bahwa efisiensi pemupukan telah menurun. Salah satu penyebab adalah kurangnya perawatan dan pelestarian sumber daya tanah yang menyebabkan kesuburannya merosot secara kimia, fisika maupun biologi tanah.
Atas alasan ini, maka pertanian organik sebagai tawaran solusi bagi masa depan pertanian dan kelestarian lingkungan yang menjamin kesehatan bagi umat manusia. Karena pertanian organik memiliki keuntungan: (1) harga produksi dapat dijual lebih tinggi karena sehat untuk dikonsumsi; (2)  hasil lebih manis dikarenaka unsur hara makro sampai mikro; (3) ramah lingkungan karena penerapannya ramah lingkungan; (4) biaya yang dikeluarkan lebih kecil karena bahan yang digunakan merupakan bahan alami yang ada di sekitar kita.
Ketersediaan pangan organik diharapkan akan mengubah gaya hidup masyarakat dengan gaya hidup sehat. Apa yang disajikan di meja makan kita semuanya berasal dari pertanian. Kalau di lahan pertanian diolah dengan cara-cara yang sehat, tentu yang tersaji di meja makan juga sehat. Sebaliknya jika diolah tidak sehat di lahan pertanian, tentu senyum di meja makan adalah senyum kecut bagi kehidupan itu sendiri.
Karena itu, launching program ‘Go Organic’ harus menjadi titik balik bagi kita secara bertahap kembali ke system pertanian organik yang sudah diwariskan leluhur zaman dulu. Tidak heran usia orang zaman itu menjadi jauh lebih panjang daripada orang zaman sekarang ini.
Namun yang paling penting bahwa program yang sudah kita luncurkan ini harus ditindaklanjuti dan diimplementasikan melalui kerja-kerja ril - mulai dari Dinas Pertanian. Kepada masyarakat perlu ada intervesi sehingga daya terobos akan semakin kuat untuk menyukseskan program ini. Intervensi dari pemerintah dengan memberi kemudahan terkait dengan ketersediaan benih dan pengadaan pupuk organik yang mudah didapat oleh petani.  Kita tidak bisa tunggu untuk bergerak. Aspek anggaran perlu didorong sehingga mendukung program-program yang sudah direncanakan. Kita perlu genjot pertanian karena memang potensi kita pada sektor pertanian ini.
 
Pemimpin Redaksi Majalah Gita Desa  Emanuel Djomba (Kedua dari kanan) menyerahkan Majalah Gita Desa edisi perdana kepada Wabup Paulus Soliwoa didampingi Kadis Pertanian Paskalis Wale Bai (kiri) dan Sekdis Pertanian Hubert Jelalu (Kanan) di Cafe Maidia, Bajawa belum lama ini.
Harus dimulai dari sekarang, dengan terus mengajak masyarakat dan memberi edukasi agar tumbuh kesadaran dan niat baik dalam mengembangkan pertanian yang sehat, yakni yang berbasis organik. Cita-cita komoditi pangan kita ke depan harus dihasilkan dengan cara-cara yang sehat. Kalau dari kebun dan sawah kita pangan diproses secara sehat, maka sudah pasti apa yang kita makan juga sehat.
Kita harus ingat bahwa pasar produk pertanian organik cukup menjanjikan. Permintaan dalam mendukung pariwisata menghendaki produk pertanian seperti beras, sayuran dan buah harus berasal dari pengeloloaan secara organik. Permintaan pangan organic kini terus meningkat. Tak itu saja, pengembangan pertanian berbasis organik bahkan dapat dikembangkan sebagai obyek wisata baru. Ini sebagai bentuk diversifikasi  atraksi wisata baru, yakni agrowisata. Contoh di Wolobobo dan Hedhakela yang ke depan diharapkan menjadi tujuan kunjungan pelancong.

Kita memang menargetkan tahun 2021 Ngada sudah ‘Go Organic.’  Namun tetap melalui proses dan disain program yang baik sehingga proses implementasinya bisa dilakukan tahap demi tahap. Kalau pun tidak 100 persen pada tahun itu, kita berharap tahun 2021 di akhir masa jabatan kami sudah mencapai target 60 persen masyarakat Ngada ‘Go Organic.’

Terkai dengan peluncuran media edukasi dan informasi dalam mendukung program ‘Go Organic’, ini menjadi salah satu support  agar program ini cepat tersebar dan melalui media masyarakat dapat teredukasi dengan tepat.

Itu sebabnya, saya menghimbau para kepala desa, kelompok tani dan semua instansi terkait, agar secara ril memberi dukungan dengan memanfaatkan media yang ada sebagai sarana untuk mendapatkan informasi penyuluhan. Melalui media ini juga menjadi wahana dalam tukar-menukar informasi tentang berbagai kiat pengembangan pertanian organik dan aspek pembangunan desa lainnya. ***

Disampaikan pada saat peluncuran Majalah GITA DESA
Tanggal 8 Januari 2018


SMPN Satap 3 Wolomeze bagai melewati jalan terjal menuju sekolah berkualitas -  

WOLOMEZE - Menuju sekolah yang berkualitas memang tidak mudah. Tetapi juga tidak terlalu sulit jika ditunjang daya dukung yang memadai.  Persoalannya  adalah masalah tenaga guru dan fasilitas sekolah yang belum lengkap. Inilah jalan terjal SMPN Satap 3 Wolomeze di Ndekondenu, Desa Mainai, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada.

Mendidik lebih dari 100 siswa bukan perkara mudah di tengah masalah tenaga guru. Jumlah siswa sebanyak itu dibagi dalam tiga rombel. Tetapi ironinya hanya satu tenaga guru PNS disekolah ini, yakni kepala sekolah. Sedangkan 10 guru lainnya masih berstatus guru honor.

Bagaimana bisa mengejar kualitas, kalau honor guru sangat kecil. Hari-hari sebelumnya guru honor memang dibuat resah dan gelisah karena janji pemerintah yang konon jadi program prioritas dibayar bernama Bosdik malah jadi prioritas dihapus tanpa bekas. Para guru kemudian seperti harus mengemis dari kemurahan desa dan komite yang di tahun sebelumnya ditiadakan karena pemeintah kasihan beban rakyat sehingga komite bebas tugas.

Kepala SMPN Satap 3 Wolomeze, Galus Dona menjawab vigonews.com, Jumat (09/03/2018),  mengatakan tidak mudah memaksimalkan kualitas pendidikan kalau semua guru honor yang dibayar tidak setimpal dengan beban kerja. Karena itu pihaknya kadang tidak bisa main paksa mengingat honor mereka kecil. Kalau mereka tetap bekerja kerena menyadari bahwa anak bangsa harus mendapat perhatian. "Meski begitu kita mestinya tetap beri perhatian," kata Galus.

Dikatakan Galus, "soal bayar lebih, kita uang dari mana? Dan ketika mereka mau kerja lebih apa jaminan untuk mereka. Jadi bagaimana dengan honor kecil tetapi kita tuntut kerja profesional.”
 
Siswa berargumen saat bedah koran serangkaian kegiatan literasi sekolah
Di bagian lain, Galus mengatakan pihaknya masih terhibur karena masyarakat masih mengerti sehingga menyanggupi bayar komite dan dengan angka lumayan besar untuk ukuran orang di desa. Hal ini bisa mengisi kekurangan dari BOS yang hanya 15% dan dari dana desa sedikit, sehingga honor guru bisa terbayar antara Rp 750 ribu - Rp 1.250.000  setiap guru honor. 


Kerja Sama RLC

Dalam meningkatkan kualitas, salah satu kegiatan yang dilakukan SMPN Satap 3 Wolomeze adalan menjalin kerja sama pengembangan literasi di sekolah. Kegiatan ini menghadirkan tuan 'Rumah Literasi Cermat' Emanuel Djomba dan staf Agustinus Lando.

Kepala Sekolah SMPN Satap 3 Wolomeze, Galus Dona, ketika itu minta siswa baru mengikuti kegiatan sebaik-baiknya sehingga kegiatan literasi bermanfaat dan membantu siswa dalam proses pembelajaran, penanaman nilai dan pembentukan karakter.

Staf ‘Rumah Literasi Cermat’ Agustinus Lando memperkenalkan kepada para siswa dalam ber-public speaking yang dilanjutkan dengan latihan public speaking atau berbicara di depan umum.
 
Kegiatan literasi sekolah diwarnai bedah koran
Diselingi permainan edukasi, tuan "Rumah Literasi Cermat" Emanuel Djomba memperkenalkan kegiatan literasi sekolah. Kegiatan ini diwarnai dengan bedah koran, membaca efektif dan menulis kreatif.

Untuk mengembangkan kegiatan literasi disepakati kerja sama antara sekolah ini dengan "Rumah Literasi Cermat" melalui Koran Masuk Sekolah (KMS). (ch)***


Wednesday, 7 March 2018

Esthon bertemu dengan pendukungnya di Ngada -  


BAJAWA, vigonews.com – Calon Gubernur NTT nomor 1, Estho L. Foenay selama dua hari berjumpa langsung masyarakat di kampung halaman mereka, di kabupaten Ngada. Esthon hadir bersama masyarakat di Kelurahan Nangamese, Riung, di Golewa dan Bajawa. Sementara Calon Wakil Gubernur Christian Rotok mengunjungi Manggarai.

“Saya datang mau ketemu langsung  dengan masyarakat di kampung halaman masing-masing. Melihat dan mendengar langsung,” kata Esthon saat mulai pidato politik di Riung, Selasa (06/03/2018).

Esthon sebelumnya diterima dengan tarian adat dan pengalungan dilanjutkan dengan makan sirih pinang bersama para tokoh adat, tokoh masyarakat dan mama-mama di Riung. Hal yang tak dilakukan oleh calon lain. Makan sirih pinang memang menjadi ciri khas Esthon L. Foenay. Itu yang dimaksudkannya calon gubernur punya bibir merah.

Baja Juga:

Diapun berseloroh: “Calon gubernur yang bibir merah itu hanya satu, Esthon Foenay di nomor 1, yang berkumis dan kacamata juga hanya Pa Cris Rotok nomor 1. Dan yang dasi merah putih juga hanya di nomor 1. Jadi pilih saja calon nomor satu.” Ratusan warga yang hadir pun menyambut dengan aplaus.

Lebih lanjut dikatakan Esthon, ada sekitar 2 juta lebih warga NTT punya kebiasaan makan sirih pinang. Ini dari segi bisnis menjanjikan, karena dari rakyat biasa sampai gubernurnya makan sirih pinang – jika saya dipercaya jadi gubernur. Salah satu usaha yang bisa dikembangkan dengan mengangkat potensi lokal, dan masih banyak lagi. Tergantung kreativitas mengembangkannya.

Esthon mulai berhitung. Kalau sehari makan sirih pinang tiga kali – tetapi biasanya lebih – dan satu kumpul sirih pinang harganya Rp 5.000, maka sehari orang yang makan sirih pinang mengeluarkan biaya Rp 15.000. “Nah, kalau sekitar 2 juga warga NTT makan sirih pinang dikalikan Rp 15.000, hitung sudah berapa itu,” kata Esthon sambil mengunyah siri pinang, dan disambut hadirian yang sebagian besar mama-mama itu.

Apa yang dikatakan Esthon rupanya diam-diam mulai dikembangkan oleh masyarakat desa Wangka Selatan. Kepada vigonews.com, Selasa warga desa ini, Yohanes Kuri mengatakan, mulai tahun 2018, desa ini mulai dengan gerakan 1000 pohon sirih/pinang. Saat ini harga sirih pinang di pasaran cukup menjanjikan, dengan 5 - 10 lembar daun sirih saja Rp 5000. Peluang ini yang dilirik oleh masyarakat desa setempat.

Esthon mengajak  warga agar dalam menghadapi pilgub ini tetap bersikap santun. Tetap santun dalam berpolitik, agar NTT hari ini lebih baik dari yang kemarin – dan NTT hari esok lebih baik dari hari ini. “Karena dalam politik kita berkompetisi, namun dalam Tuhan kita bersaudara,” katanya.
 
Esthon dielu-elukan pendukungnya
Di hadapan ratusan warga Riung, Esthon menyampaikan berbagai program pembangunan jika dipercayakan rakyat menjadi gubernur NTT. Dia memberi sinyal bahwa ada program yang sudah baik terus dilanjutkan seperti anggur merah, hanya perlu perbaikan dan evaluasi pelaksanaannya.

Prioritas program lainnya fokus pada masalah infrstaruktur dalam arti luas, pendidikan, kesehatan, pertanian dan peternakan, ekonomi dan pariwisata, termasuk di dalamnya kerajinan dan industry kecil. Beberapa agenda seperti  ruas jalan propinsi ke daerah tujuan wisata Riung dan masalah perbatasannya akan menjadi perhatiannya.  Tentu saja jika dirinya dipercaya oleh rakyat.

Di bagian lain, Esthon menegaskan terkait dengan pembangunan bidang kesehatan, semua puskesmas akan ditingkatkan menjadi puskesmas rawat tinggal, sehingga pasien tidak harus ke kabupaten.

Turut hadir dalam kegiatan kampanye paket nomor 1 ini, anggota DPRD Provinsi NTT dari Partai pengusung PAN Agustinus Lobo, dan Gerindra Maksi Ebu To, Ketua DPW Perindo NTT Joenatan Nuba Tonis, Ketua DPD II PAN Ngada Kristoforus Loko, Ketua Gerindra Ngada Laurensius Nau, dan anggota DPRD Ngada dari Partai pengusung PAN Yosef Tote Lambo dan Gerindra Philipus Nono. (ydp)***

Ketua Tim Pemenangan Paket Esthon-Chris Jonathan Nubatonis bersama Esthon di Ngada -  

BAJAWA, vigonews.com – Ketua Tim Pemenangan Esthon-Chris, paket cagub/cawagub nomor 1, Jonathan Nubatonis menegaskan, “jangan pilih pemimpin pulau.” Hal itu dikemukakannya ketika mendampingi Esthon L. Foenay pada kampanye terbatas di Riung, Kabupaten Ngada, Selasa (06/03/2018).

NTT, kata Nubatonis sudah menjadi korban politik primordial – pemimpin pulau. Saat mau pilih, orang ramai-ramai memilih pemimpin dari pulau masing-masing. Akibatnya kita hanya menjadi konsumen pemimpin. “Setiap daerah mau dia punya, akhirnya ke mana-mana di seluruh NTT ini keluh kesahnya tetap sama dari waktu ke waktu,” kata Nubatonis dalam dialeg Timor yang kental.

Dikatakan, salahnya dimana, sudah 60 tahun usia NTT ini. Sudah delapan jagoan (gubernur) pimpin ini propinsi. Tetapi tetap saja sama. Kemana-mana keluhannya tetap sama.

Baca Juga:
Esthon L. Foenay, Calon Gubernur ‘Bibir Merah’
Esthon di Ngada: ‘Orang Muda Semangat, Orang Tua Rendah Hati & Bijaksana’

Selama berkeliling, kata Nubatonis yang juga Ketua Persehatian Orang Timur (POT) ini, lihat kondisi jalan seperti mau ke neraka saja. Keluh kesah yang didengar juga sama baik di Timor, Sumba, maupun di Flores.

“Lalu kita tanya lagi ini kenapa. Salahnya dimana? Ya, karena setiap daerah mau dia punya. Pilih pemimpin (gubernur) maunya dari pulaunya, bukan yang bisa mengatasi masalah. Dan akhirnya itu dia, keluh kesah tetap saja ada,” papar Nubatonis.

Inilah salahnya. Bukan gubernur yang salah. Mestinya pilih yang punya track record bisa mengatasi masalah. Seperti Esthon yang sudah menunjukkan kerja. Dia pernah jadi wakil gubernur, juga jadi Ketua Bapeda. Jadi, dia tahu persis bagaimana mengatasi masalah NTT ini. Pemimpin itu bicaranya sedikit tetapi kerjanya banyak. Kalau politisi itu bicaranya banyak kerja sedikit.
 
Esthon diterima secara adat 
Nubatonis menghimbau, “mari kita hentikan kita punya susah. Supaya waktu naik ke surga tidak susah lagi. Karena surga bukan tempat orang susah – sejahtera dari dunia bukan hanya nanti. Karena itu untuk mengatasi masalah NTT perlu pemimpin yang jujur, punya integritas, sederhana. Bukan pemimpin karena maunya kita, dan dari pulau kita masing-masing.”

Kalau mau ukur kepala daerah, kata Nubatonis, datanglah ke Depnaker dan Imigrasi. Kalau banyak yang pergi merantau cari kerja, artinya karena di daerah tidak disiapkan lapangan kerja. Artinya lagi, pemimpin itu tidak mampu kelolah sumber daya lokal.

“Tetapi kalau kita pilih pemimpin yang tiga tahun pertama masih harus belajar, kemudian dua tahun baru bekerja, maka sampai di akhir masa jabatan kita tinggal liat dia punya foto di kantor gubernur,” seloroh Nubatonis.

“Karena itu, kita juga harus berdoa untuk mendapatkan pemimpin yang baik. Mintalah sama Tuhan sebagai sumber kepemimpinan. Minta sama Tuhan supaya utus orang benar. Hentikan tindakan ‘berdosa’ kita yang selalu memilih pemimpin menurut kita punya mau saja, tanpa minta kepada Tuhan,” kata Nubatonis mengutip Roma, 13.

Turut hadir dalam kegiatan kampanye paket nomor 1 ini, anggota DPRD Provinsi NTT dari Partai pengusung PAN Agustinus Lobo, dan Gerindra Maksi Ebu To, Ketua DPW Perindo NTT Joenatan Nuba Tonis, Ketua DPD II PAN Ngada Kristoforus Loko, Ketua Gerindra Ngada Laurensius Nau, dan anggota DPRD Ngada dari Partai pengusung PAN Yosef Tote Lambo dan Gerindra Philipus Nono. (ydp)***